The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 139 About Shawn



Setelah memadatkan jadwal dan pekerjaannya selama seminggu ini, Sall langsung memboyong istri, anak-anak, pelayan dan para pengawalnya ke Indonesia dengan private jet-nya. Liburan panjang setelah berkutat dengan project-project penting selama 4 tahun tanpa pulang ke Indonesia, dirasa menjadi pilihan terbaik saat ini.


Kota yang menjadi pilihan pertama untuk dikunjungi adalah Bali, tempat dimana pertama kali Sall dan Sanchia saling menunjukkan dan mengungkapkan perasaan cinta mereka. Sall berkeinginan untuk menunjukkan pada anak-anak mereka, bahwa di tempat itulah semua kebahagiaan mereka bermula. Meskipun ada beberapa hal yang akan tetap menjadi rahasia, entah jika kelak Shawn dan Shanaya sudah dewasa.


Sall bukan hanya menyiapkan liburan panjang untuk istri dan anak-anaknya, Sall juga sudah mengatur agar anak buahnya bisa menjemput Papa Leonard, Mama Annesya, Nieva, Kevin dan Keiva dengan private jetnya menuju Bali esok hari. Sall dan Sanchia ingin mereka semua bisa berlibur bersama di Bali sebelum pulang ke Bandung bersama-sama.


Sanchia berdiri menyilangkan tangan di sebuah kamar yang menghadap ke sebuah taman yang indah. Sekilas Sanchia terlihat sedang mengawasi Shawn dan Shanaya yang sedang bermain kejar-kejaran di taman, tapi sesungguhnya Sanchia sedang larut dalam kenangannya di tempat ini.


Sepasang tangan kokoh yang melingkar di pinggang Sanchia, mengejutkannya dari lamunan yang cukup lama. Kecupan hangat di leher Sanchia pun, benar-benar menyadarkan Sanchia sepenuhnya.


"Apa yang kamu pikirkan Sweetheart?" Tanya Sall, mengeratkan pelukan dengan tidak henti menciumi leher dan bahu Sanchia yang terbuka.


"Menurutmu aku sedang memikirkan apa?" Sanchia memiringkan wajahnya ke arah Sall, dan malah balik bertanya.


"Hmm, sepertinya kamu sedang mengenang awal kisah kita di mansion ini." Tebak Sall seraya menatap dalam netra Sanchia yang jernih.


"Iya, tebakanmu tepat sekali Honey, di kamar inilah kamu menyekapku. Aku begitu tersiksa saat itu, aku terluka, tapi tidak mempunyai kekuatan untuk melarikan diri. Saat itu, aku benar-benar membencimu, Honey." Sall mengecup lembut bibir Sanchia yang mengerucut saat bercerita, senyum di wajah sendunya mengembang, meskipun tipis nyaris tidak terlihat.


"Maafkan aku yang dulu, karena mencintaimu dengan cara yang salah. Aku bersikap egois dengan membuatmu berada disampingku tanpa peduli perasaanmu. Maafkan aku Sweetheart." Sanchia tersenyum mendengar ungkapan permintaan maaf suaminya yang bukan pertama kalinya itu. Sanchia membalikkan badannya, lalu mendongak menatap wajah suaminya yang masih sendu.


"Aku mengatakannya bukan ingin mendengar perkataan maafmu Honey. Aku hanya sedang mengenang awal pertemuan kita dulu. Dan setiap kali aku mengingatnya, aku selalu tersenyum. Aku bersyukur bertemu denganmu, meskipun awalnya kamu sangat menyebalkan." Sall terkekeh geli, lalu mengecup gemas bibir Sanchia.


"Tapi akhirnya kamu luluh dengan pesonaku, Sweetheart." Lirih Sall seraya memandang Sanchia dengan tatapan menggoda.


"Iya, aku akui, kamu berhasil meluluhkan hatiku saat itu. Akupun tidak mengerti, kenapa begitu cepat aku jatuh cinta padamu." Ungkap Sanchia jujur.


"Karena pesonaku terlalu kuat untuk bisa kamu tolak." Ekspresi Sall yang penuh percaya diri langsung dibalas Sanchia dengan ekspresi jengah.


"Hah, narsis sekali." Ujar Sanchia. Sall lagi-lagi terkekeh karena gemas melihat raut wajah Sanchia.


Tiba-tiba teriakan melengking Shanaya mengalihkan perhatian Sall dan juga Sanchia.


"Dad..Mom.. Aku dan Kak Shawn mau ke pantai ya, Uncle Arthur akan mengantar kami." Sall memandang ke arah Arthur Personal Assistant-nya yang sudah berdiri dan membungkukan badan di belakang Shawn dan Shanaya. Sall terdiam beberapa saat, seolah sedang berpikir, namun sentuhan tangan Sanchia menyadarkannya.


"Jika kamu khawatir akan keselamatan Shawn dan Shanaya, lebih baik kita menemani mereka dan ikut berjalan-jalan di tepi pantai. Sekaligus mengenang kenangan indah kita dulu." Sall tersenyum, lalu menautkan jemarinya di sela-sela jemari Sanchia.


"Baiklah.. Ayo kita mengenang kenangan indah kita." Jawab Sall seraya menggenggam erat tangan Sanchia, lalu menghampiri Shawn dan Shanaya yang terlihat menunggu dengan tidak sabar. Arthur segera mengangguk paham, saat Sall memberinya kode agar bersiap bersama beberapa pengawal untuk ikut bersama mereka.


"Ayo Shawn, Shanaya.. Kita berjalan-jalan bersama di tepi pantai. Daddy akan mengajari kalian banyak hal baru kali ini."


"Yeaaayy.. Asyiiiikk.." Jawab Shawn dan Shanaya bersamaan.


*************************


Shawn dan Shanaya terlihat begitu bersemangat saat Daddy Sall mengajak mereka melakukan beberapa jenis water sport yang ada di Bali. Memang batasan umur yang diperbolehkan untuk melakukan water sport adalah 7 tahun, tapi Shawn dan Shanaya begitu penasaran dan sangat berani untuk mencoba beberapa diantaranya. Sehingga Sall sebagai orangtua mereka, meyakinkan pihak pengelola water sport untuk mengizinkan kedua anaknya untuk mencoba beberapa water sport yang dirasa tidak terlalu berbahaya, dan tentunya ditemani kedua orangtua mereka.


Akhirnya Shawn dan Shanaya bisa mencoba banana boat, rolling donut dan jet ski, ditemani oleh Sall dan Sanchia. Sebenarnya Shawn dan Shanaya sudah seringkali melihat Sall bermain jet ski saat mereka berlibur di resort mereka yang ada di Inggris, tapi saat itu Sall belum mengizinkan mereka untuk ikut.


Sall dan Sanchia sesungguhnya sangat ingin melakukan water sport favorit mereka yaitu parasailing, flyboard dan flying fish, tapi mereka khawatir Shawn dan Shanaya menjadi penasaran dan merengek ingin mencoba, sedangkan olahraga itu sangat berbahaya untuk anak kecil.


Keseruan mereka baru berakhir menjelang petang hari, ekspresi puas terpampang di wajah Shawn dan Shanaya, begitupun dengan Sall dan Sanchia. Keempatnya memutuskan mengisi perut mereka di sebuah restaurant khas Bali, sebelum mereka kembali ke mansion.


"Apakah kalian puas dengan water sport tadi?" Tanya Sall penasaran.


"Tentu saja Dad, aku begitu excited mencobanya. Aku juga penasaran untuk mencoba flyboard, keren sekali melihat mereka bisa terbang seperti itu." Jawab Shawn seraya memakan sate lilitnya. Sedangkan Shanaya mengangguk-anggukan kepalanya tanpa mengeluarkan sepatah katapun, karena mulutnya penuh dengan ice cream.


Flyboarding adalah sebuah olahraga dengan perangkat seperti papan pijakan yang terhubung oleh pipa sepanjang 18 meter ke turbin Jet Ski dan dilengkapi dengan nozzle untuk membuang air laut dengan kekuatan tinggi. Karena kuatnya, papan ini dapat mengangkat tubuh sampai ke udara.


Sall dan Sanchia saling berpandangan, merasa sudah mengambil keputusan tepat karena tidak melakukan water sport favorit mereka. Karena kedua anaknya itu ternyata terlalu berani untuk ukuran anak seusia mereka, pastinya Sall dan Sanchia akan mendengar rengekan mereka dalam waktu yang lama untuk mengobati rasa penasaran mereka.


"Kalian bisa melakukannya kalau umur kalian sudah besar ya." Jawab Sall singkat.


"Ayo habiskan makanan kalian, kita akan segera kembali ke mansion." Ujar Sanchia berusaha mengalihkan pembicaraan. Sanchia dan Sall sangat paham sifat Shawn yang selalu ingin mendapatkan apa yang dia mau saat itu juga, sehingga mengalihkan perhatiannya adalah cara yang tepat dibanding dengan menolaknya secara gamblang.


"Mom, Dad. Aku ingin pergi ke toilet." Shanaya memegangi perutnya yang sakit, membuat Sanchia paham dan segera menggandeng tangan Shanaya tanpa membuang waktu.


"Ayo Sayang kita ke toilet. Mommy ke toilet dulu ya." Sanchia dan Shanaya segera pergi menuju toilet setelah dibalas anggukan singkat Sall dan Shawn.


"Dad, bolehkah aku mencoba flyboard besok?" Sall sedikit tersedak mendengar pertanyaan Shawn yang ternyata masih berkutat dengan keinginannya mencoba flyboard.


"Tapi aku berani mencobanya Dad.. Aku pasti bisa melakukannya." Sall sebenarnya tahu betul karakter Shawn yang kuat dan senang mencoba hal baru. Shawn begitu cerdas dan mempunyai otak yang boleh dibilang jenius di usianya yang baru menginjak 5 tahun, tapi Sall menganggap Shawn tetaplah anak kecil yang harus diperlakukan sesuai dengan umurnya.


"Daddy takut dimarahi Mommy ya, kalau mengizinkanku mencobanya?" Diamnya Sall ternyata diartikan lain oleh Shawn, dan Sall tidak sepenuhnya membantah perkataan Shawn. Sall juga takut dengan reaksi Sanchia, yang pastinya melarang keras Shawn untuk mencoba permainan itu di usianya yang masih kurang dari batasan yang diperbolehkan.


Kedatangan Sanchia dan Shanaya yang baru kembali dari toilet, membuat Sall bernafas lega karena terbebas dari rengekan dan bujukan Shawn. Sebenarnya Sall bisa saja menolak dan melarang tegas keinginan Shawn itu, tapi berkaca dari dirinya sendiri, anak cenderung membangkang dan marah jika keinginannya dilarang. Sall tidak ingin Shawn melakukannya diam-diam tanpa seizinnya atau Sanchia, dengan meminta orang lain membantunya.


"Ada apa ini? Kenapa ekspresi Shawn terlihat kesal begitu?" Tanya Sanchia pada suaminya.


"Tanyakan saja pada Shawn." Saat mendengar perkataan Daddy-nya, Shawn langsung menggelengkan kepala beberapa kali.


"Tidak ada apa-apa Mom, aku hanya ingin segera pulang." Shawn terlihat segan untuk berkata jujur pada Mommy-nya, mungkin Shawn takut akan diceramahi Mommy-nya dalam waktu yang lama. Hal itu justru membuat Sall menahan tawanya karena merasa lucu dengan sikap Shawn yang berubah dihadapan Mommy-nya.


"Bukankah kamu ingin.." Perkataan Sall seketika terhenti, karena Shawn membekap mulut Daddy-nya dengan tangan kecilnya.


"Aku tadi hanya meminta diizinkan bermain suatu game oleh Daddy, Mom.."


"Game?" Sanchia memicingkan matanya, sedikit tidak percaya dengan perkataan Putranya yang masih membekap mulut Daddy-nya.


"Tolong lepaskan tanganmu dari mulut Daddy, Sayang.. Tidak baik bersikap seperti itu." Shawn refleks melepas bekapan tangannya dari mulut Sang Daddy, setelah mendengar perintah ibunya.


"Maaf Dad, Mom.." Shawn menundukkan kepalanya karena merasa bersalah. Sanchia memandangi suaminya, seolah meminta penjelasan. Namun Sall hanya memberi kode, agar Sanchia tidak bertanya lagi.


*****************************


Selepas makan malam dan mengucapkan selamat tidur kepada Shawn dan Shanaya, Sall dan Sanchia bergegas naik ke atas tempat tidur untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah. Sanchia sudah membenamkan dirinya kedalam pelukan sang suami dan mencari posisi ternyaman sebelum menutup matanya yang sudah mengantuk. Tapi perkataan Sall berhasil menghentikan niatnya.


"Sweetheart, aku khawatir dengan perkembangan Shawn." Sanchia mendongak dan menatap dalam netra Sall yang sedang memandangnya.


"Kenapa?" Ekspresi Sanchia berubah khawatir karena pernyataan suaminya yang menggantung.


"Shawn terlalu dewasa untuk ukuran anak seusianya, dia bahkan sudah lancar berbicara bahasa Indonesia dan Inggris di usia 1 tahun. Dia sekarang sudah menguasai banyak sekali bahasa asing kan. Dia cerdas, kuat, bisa mempelajari sesuatu dengan cepat, tapi dia cepat merasa bosan dengan permainan anak-anak. Dia justru suka meretas, berlatih beladiri dan senjata, suka bermain dengan hewan buas, dan belajar banyak hal yang tidak dipelajari anak seusianya. Aku bangga, tapi aku juga khawatir Sweetheart. Kalau dia akan melakukan hal berbahaya di luar kendali kita." Ungkap Sall penuh kekhawatiran, namun dibalas Sanchia dengan senyum teduhnya yang menenangkan. Jari lentik Sanchia mengelus lembut pipi dan dagu Sall yang ditumbuhi rambut-rambut halus.


"Dia mempunyai role model yang hebat dan memiliki semua kemampuan itu, wajar saja dia tumbuh menjadi anak yang sangat istimewa, Honey." Sall tersenyum tipis, namun kekhawatiran masih enggan pergi dari wajahnya yang tampan.


"Shawn dan Shanaya mungkin masih belum mengerti tentang kehidupan kita sebagai mafia, tapi keputusan kita untuk tidak menutupi kehidupan yang penuh resiko dan berbahaya dari anak-anak, terkadang masih membuatku ragu. Sesungguhnya aku juga sama khawatirnya denganmu. Tapi aku sangat percaya padamu Honey, kamu akan mampu menjaga dan melindungi mereka dengan semua kemampuan dan kekuatanmu. Aku pun akan selalu membantumu Honey.. Jadi jangan terlalu khawatir." Keresahan Sall tiba-tiba berkurang banyak, setelah mendengar perkataan Sanchia yang sangat menenangkan. Sesaat kemudian Sall mencium lembut bibir Sanchia yang merekah.


"Terima kasih karena selalu menenangkanku, Sweetheart.. Aku akan selalu berusaha menjadi Daddy terbaik untuk Shawn dan Shanaya, juga suami terbaik untukmu Sweetheart. I love you so much.." Ungkap Sall. Kali ini giliran bibir Sanchia yang lebih dulu mendarat di bibir kissable Sall selama beberapa lama.


"I love you more Honey.." Keduanya pun mengeratkan pelukan, mengungkapkan perasaan cinta yang semakin memenuhi hati mereka.


*************************


Ketukan di pintu kamar Sall dan Sanchia, berhasil mengejutkan kedua pasangan suami istri itu dari tidur lelapnya. Suara Arthur yang sedikit berteriak dari luar pintu, terdengar panik dan tidak sabaran, membuat Sall segera bergegas membuka pintu.


"Ada apa Arthur?" Tanya Sall tegas, namun ikut khawatir melihat ekspresi Arthur yang panik.


"Tuan Muda Shawn menghilang, Tuan.." Perkataan Arthur sukses membuat terkejut Sall juga Sanchia yang baru turun dari tempat tidur.


*************************


Hai..Hai.. Alhamdulillah bisa up lagi di hari libur..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight