The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 18 One Step Closer



MANSION SANCHIA - BANDUNG


Sanchia berkumpul bersama Papa Leonard, Mama Annesya, Nieva dan juga Kevin di ruang keluarga. Tidak lupa Sall ikut bergabung, meskipun Sall lebih banyak diam, setelah Sanchia mengenalkan Sall sebagai penolongnya yang bersedia menampungnya, setelah berhasil melarikan diri dari kawanan penjahat yang menculiknya. Sall malah mengutuki Leon dalam hati, yang memilih menunggu di ruang tamu mansion, karena harus berkomunikasi dengan beberapa petinggi perusahaan properti milik Sall yang ada di Inggris.


Papa Leonard memandang Sall yang terlihat gelisah dan tidak nyaman sejak tadi.


"Nak Sall, bahasa Indonesia anda sangat lancar ya. Saya pikir anda tidak bisa berbahasa Indonesia tadi."


"Iya Mr. Leonard, saya mempelajari beberapa bahasa agar memudahkan saya dalam pekerjaan saya. Karena saya juga sering bekerjasama dengan pengusaha-pengusaha asal Indonesia yang berada di Eropa."


"Wah anda hebat sekali ya. Saya benar-benar tidak menyangka Sanchia akan ditolong oleh idolanya. Karena saya tahu pasti, Sanchia begitu mengagumi anda sebagai seorang Arsitek terkenal yang menjadi panutannya."


Sall seketika memandang Sanchia penuh tanya, karena Sanchia sama sekali tidak pernah mengatakan apapun mengenai hal yang dikatakan Papa Leonard. Sedangkan Sanchia mencoba menghindari pandangan Sall karena malu.


"Benarkah itu Mr. Leonard? Sanchia tidak pernah mengatakan apapun soal ini."


Tawa Papa Leonard pecah, terlebih saat melihat wajah Sanchia yang memerah, disertai kedipan mata ke arah Papa Leonard. Seolah meminta Papa Leonard untuk berhenti bercerita.


"Lupakan.. Sepertinya Putriku akan menceritakannya sendiri pada Nak Sall. Saya hanya ingin berterima kasih karena Nak Sall sudah menolong Sanchia, dan membuatnya tidak terlantar di Bali. Saya tidak tahu bagaimana jadinya, jika Putri saya tidak bertemu dengan Nak Sall. Terima kasih Nak Sall."


Papa Leonard memegang bahu Sall, meluapkan rasa terima kasihnya yang begitu dalam dan tulus. Tapi sikap Papa Leonard justru membuat hati Sall teriris.


'Andai saja Papa Sanchia tahu, kalau akulah yang telah menculik dan menyekap anaknya selama ini, dia pasti akan membunuhku, bukan malah berterima kasih padaku seperti ini.' Batin Sall.


Mama Annesya yang berada di sebelah Papa Leonard, kini beralih duduk di sebelah Sall, sehingga kini Sall diapit oleh Sanchia dan Mama Annesya.


"Nak Sall.. Sejak Sanchia dinyatakan meninggal, hidup kami semua hancur. Seperti tidak akan ada lagi kebahagiaan dalam hidup kami. Kami menjalani hidup dengan berpura-pura baik-baik saja, padahal hati kami sudah hancur berkeping-keping. Tapi Nak Sall telah mengembalikan kebahagiaan kami. Terima kasih karena sudah menjaga Putri kami dengan baik."


Mama Annesya memeluk tubuh Sall diiringi derai tangis yang tidak bisa ditahannya. Hati Sall bagai diremas begitu kuat dan dihantam palu berkali-kali melihat Mama Annesya justru berterima kasih padanya, seseorang yang sudah mengambil kebahagiaan mereka.


Tangan Sall kini mengelus pelan punggung Mama Annesya seraya menahan perasaannya sekuat tenaga. Air mata yang sudah menggenang di kelopak matanya, berusaha ditahannya mati-matian karena tidak ingin membuat keluarga Sanchia curiga.


Sanchia tentu paham dengan apa yang dirasakan Sall, tapi Sanchia tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya uluran tangannya yang kini mengusap pelan lengan Sall, berusaha menyalurkan ketenangan untuk kekasihnya yang sedang mengalami pergolakan hati yang begitu dahsyatnya.


Setelah Mama Annesya melepas pelukannya dari Sall yang tidak bisa berkata apapun, kini giliran Nieva, adik Sanchia yang mulai mencurahkan perasaannya.


"Kak Sall.. Aku baru bertemu kembali dengan Kak Sanchia setelah bertahun-tahun berpisah. Dulu kami tinggal di Spanyol, tapi saat Kak Sanchia berusia 15 tahun dan aku 10 tahun, kami berpisah. Kak Sanchia tinggal bersama Mama dan Papa di Indonesia, sedangkan aku di Spanyol. Kami baru bertemu 8 tahun kemudian. Aku begitu bahagia Kak Sall. Tapi kebahagiaanku itu tidak lama, karena kawanan penjahat itu menculik Kak Sanchia dan membuatnya seolah meninggal. Hidup kami semua benar-benar gelap sejak saat itu. Tapi sekarang, Kak Sall membawa Kak Sanchia pada kami. Terima kasih banyak Kak Sall."


Kevin merangkul bahu Nieva yang bergetar karena tangisnya, mencoba menenangkan Nieva yang terlihat lemah karena sedang hamil.


"Sudah ya, kalian jangan menangis lagi. Kan sekarang aku sudah kembali, Sall mengerti dengan semua rasa terima kasih kita. Tapi jangan membuatnya tidak nyaman dengan sikap kita yang berlebihan ya. Mama, aku mau makan, Sall juga pasti sudah lapar."


"Oh iya Sayang.. Mama akan meminta pelayan menyiapkan makan siang untuk kita."


Sall akhirnya bisa sedikit bernafas lega, karena Sanchia berhasil mengalihkan topik pembicaraan yang sejak tadi membuat hatinya sakit.


Selesai makan siang yang diwarnai canda tawa, Sanchia mengajak Sall berjalan-jalan di taman belakang mansion, yang di design sendiri olehnya.


"Papa dan Mama menyuruhmu menginap, mereka sepertinya begitu menyukaimu."


Senyum sumringah dan perkataan Sanchia tidak mengubah ekspresi muram di wajah Sall. Helaan nafas panjang justru keluar dari mulut Sall, yang membuat Sanchia mengerutkan keningnya.


"Kenapa Honey?"


Sanchia mendekatkan wajahnya ke wajah Sall, dan berbisik pelan dengan menatap begitu dalam pada manik mata Sall yang sendu.


"Honey.. Kita sudah membahas ini, kita harus melakukan sandiwara ini jika ingin keluargaku memberi kita restu. Kecuali jika memang kamu ingin menyerah, maka akuilah semua yang telah kamu lakukan."


Sanchia berjalan cepat meninggalkan Sall yang kini berlari kecil dan menarik tangan Sanchia, agar menghentikan langkahnya.


"Babe, tolong jangan seperti ini. Mengertilah dengan apa yang aku rasakan."


Sanchia membalikan tubuhnya menghadap Sall, tangannya mengusap pipi Sall, yang kini memegang tangan Sanchia dan menciumnya dengan lembut.


"Aku begitu mengerti apa yang kamu rasakan. Tapi kita harus berjuang, agar kita bisa bersatu. Tolong lakukan demi kebersamaan kita."


"Iya Babe, aku akan melakukannya. Aku ingin kita mendapat restu untuk menikah secepatnya."


Senyum Sanchia merekah begitu indah, lalu disandarkan kepalanya di dada Sall, yang seketika memeluk Sanchia dengan begitu erat.


Tanpa mereka sadari ada 4 pasang mata, yang sejak tadi mengawasi mereka dari kejauhan.


"Ma, sepertinya kita akan segera memiliki menantu. Putri kita sudah menemukan Pangerannya."


"Benar Pa.. Mama setuju sekali jika Sanchia menikah dengan Sall. Dia adalah laki-laki yang paling tepat untuk menjaga anak kita."


"Nieva setuju dengan Mama dan Papa.. Sangat jelas sekali, Kak Sall begitu mencintai Kak Sanchia. Begitupun dengan Kak Sanchia.. Bukankah begitu Sayang?"


Kevin yang mendapat pertanyaan dari Nieva, seketika menganggukan kepalanya.


"Matanya jelas menunjukan cinta yang begitu besar."


Papa Leonard mengangguk setuju dengan perkataan Kevin, diikuti perkataan yang sedikit mengejutkan Mama Annesya, Nieva dan juga Kevin.


"Kita akan tanya hubungan mereka, malam ini juga. Jika mereka memang menjalin hubungan, Papa akan tanya keseriusan Sall pada Sanchia."


*************************


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


(IG : @zasnovia #staronadarknight)