The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 7 Pergi



Langit malam bertabur bintang seolah menjadi penyejuk hati Sall yang galau dan tidak tenang sejak siang tadi. Bagaimana tidak, lagi-lagi Leon memberi kabar pengurusan dokumen untuk keberangkatan Sanchia ke Inggris, tidak berjalan lancar. Sall meminta agar Leon membuat dokumen identitas dengan nama Sunny, namun Leon tetap menyarankan Sall agar Sanchia memakai identitas orang lain yang sedang sakit parah atau hilang, dan lagi-lagi Sall menolak jika harus mengubah wajah Sanchia yang begitu dicintainya.


Di balkon kamarnya, Sall menyesap segelas wine untuk menenangkan pikirannya yang kalut. Sesungguhnya Sall tidak ingin berlama-lama di Indonesia, tapi ternyata Inggris bukanlah negara yang mudah dikelabui dengan beberapa dokumen palsu atau suap dengan jumlah besar, yang tentunya bisa dipenuhi Sall.


Selain kabar tidak menyenangkan itu, Leon juga memberikan kabar tentang keluarga Sanchia, yang sudah ditunggu oleh Sanchia beberapa hari ini.


Mata Sall tiba-tiba terpaku pada sosok yang sejak beberapa jam ini menari-nari dalam pikirannya. Sanchia terlihat berjalan dari arah bangunan sederhana yang terpisah dari mansion utama. Sall pikir, bangunan itu adalah paviliun tempat beristirahat, karena Sall baru mengetahui beberapa ruangan yang ada di mansionnya itu. Tanpa membuang waktu, Sall segera turun menghampiri Sanchia yang mulai memasuki lantai 1 mansion utama.


"Sanchia, kamu dari mana?"


Kemunculan Sall yang tiba-tiba, membuat Sanchia gelagapan. Terlebih Sanchia khawatir kalau Sall mengetahui ruangan rahasia, yang berhasil ditemukannya beberapa jam yang lalu. Tapi Sanchia berusaha mengulas senyum manisnya untuk menghilangkan kecurigaan Sall yang terlihat begitu jelas.


"Langitnya indah Sall, aku hanya berjalan-jalan menikmati malam yang indah."


"Seharusnya kamu memintaku menemanimu, aku akan dengan senang hati melakukannya."


Sanchia kembali memutar otak untuk membuat Sall percaya dengan apa yang dikatakannya.


"Aku pikir, kamu sedang tidak ingin diganggu, karena ekspresi wajahmu terlihat berbeda sejak siang tadi."


Perkataan Sanchia yang sebenarnya hanyalah basa-basi, ternyata diartikan lain oleh Sall. Senyum Sall terulas begitu manis, karena mengira kalau perkataan Sanchia adalah bentuk perhatian terhadap keadaan Sall.


Perlahan, Sall menarik tangan Sanchia menuju pinggir kolam renang, dan mendudukan Sanchia dan dirinya pada kursi yang terletak di pinggir kolam renang.


"Kamu bisa merebahkan tubuhmu dan menatap langit yang bertabur bintang."


"Hmm, iya. Tapi sekarang aku ingin kembali ke kamar, karena anginnya terlalu dingin dan kencang."


Sanchia berdiri dari duduknya dan hendak pergi meninggalkan Sall yang tiba-tiba menahan tangannya.


"Sebentar, ada yang ingin aku sampaikan tentang keluargamu."


Sanchia mendudukkan dirinya kembali dengan tatapan tidak sabar ke arah Sall yang tengah menarik nafasnya pelan. Sall membuka sweaternya lalu menyampirkannya ke bahu Sanchia, agar Sanchia tidak kedinginan. Sesaat Sanchia terpana dengan tindakan Sall, tapi Sanchia kembali memasang ekspresi seriusnya, menunggu apa yang akan disampaikan Sall padanya.


Perlahan Sall mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya, lalu menunjukan sebuah video yang menarik tetesan air mata di pipi Sanchia.


"Kamu lihat kan, senyuman di wajah kedua orangtuamu. Sekarang mereka sudah bisa menerima kepergianmu."


Sanchia menghunuskan tatapan tajamnya ke arah Sall yang malah memasang wajah tanpa dosa, saat mengatakan kalimat menyakitkan pada Sanchia. Beberapa saat kemudian, Tanpa sadar, Sanchia mengusap layar ponsel Sall, yang menunjukkan Papa Leonard dan Mama Annesya yang sedang menikmati teh di taman belakang mansion. Rasa rindu yang begitu besar, membuat tetesan di pipi Sanchia mengalir semakin deras, sampai akhirnya Sall menunjukkan video yang lain kepada Sanchia.


"Nieva, adikmu.. Kini sedang hamil. Ini video saat mereka keluar dari ruangan Dokter Kandungan."


Sanchia tersenyum di sela-sela tangisnya, memandang kebahagiaan Nieva dan Kevin yang terlihat begitu berbinar melihat photo hasil USG di tangan mereka.


Sall merengkuh bahu Sanchia dan mengelusnya pelan, entah kenapa Sanchia merasa sedikit tenang dan tanpa sadar malah menyandarkan kepalanya di bahu Sall.


"Masih ada satu video bonus untukmu. Mungkin saja kamu, ingin tahu kabar sahabatmu."


Beberapa saat kemudian, Sall kembali menunjukan sebuah video yang benar-benar tidak diduga sebelumnya oleh Sanchia.


"Satya, sahabatmu, akan menikah sebulan lagi dengan Sasa, tunangannya. Ini video saat Satya dan Sasa melakukan Konferensi Pers pada saat acara pertunangan mereka."


Sanchia memandang wajah Satya yang terlihat bahagia saat menjawab pertanyaan dari beberapa awak media. Senyum Sanchia seketika terbit, tidak ada rasa kecewa apalagi sakit hati saat melihat kebahagiaan Satya dan Sasa saat ini.


Sanchia akui, masih ada sedikit perasaan cinta untuk Satya yang merupakan anak dari sahabat orangtuanya itu, tapi Sanchia sadar kalau cinta tidak bisa dipaksakan.


"Aku tidak menyangka, seorang Ketua DS Scorpion ternyata rela melepas Klan-nya demi bersama seorang gadis."


"Apa maksudmu Sall?"


"Kabarnya sudah menyebar di dunia bawah, Satya sudah menyerahkan Klan-nya pada sahabatnya, Larry. Dan alasannya sangat jelas, demi seorang gadis, dia ingin hidup sebagai pengusaha biasa. Tapi dia lupa, musuhnya masih berkeliaran di luar sana. Apa kelak dia bisa melindungi keluarganya? Tapi baguslah, musuhku berkurang satu. DS Scorpion tidak akan lagi sama seperti sebelumnya."


Senyum sinis terpampang di wajah Sall yang mengarah tepat ke kolam renang, Sanchia melirik sekilas ke arah Sall seraya mengerutkan keningnya.


"Jika kamu mencintai seorang gadis, dan gadis itu memintamu menjadi orang biasa, bukan Ketua Klan Mafia, apa kamu rela melepas Klan-mu?"


"Tidak, aku tidak akan pernah melepas Klan-ku. Aku yang akan membawa dia masuk ke dalam duniaku. Lagipula hal itu tidak akan pernah terjadi, karena gadis yang aku cintai, adalah seorang Ketua Mafia. Dia tidak mungkin memintaku jadi orang biasa."


Entah kenapa wajah Sanchia memerah setelah mendengar perkataan Sall. Terlebih kerlingan mata Sall sedikit menggoda dan menggelitik hatinya saat ini.


'Kenapa aku merasa senang saat dia berkata seperti itu?' Tanya Sanchia dalam hati.


"Untuk apa?"


"Hmm.. Karena sudah memberi tahuku tentang keadaan keluargaku."


Sesungguhnya Sall terkejut dengan ucapan terima kasih dari Sanchia, karena Sall pikir Sanchia akan marah dan menyalahkannya yang sudah memisahkan Sanchia dengan keluarga yang dicintainya.


"Sall, aku mau ke kamar ya."


Sanchia segera beranjak, karena Sall tidak menanggapi ucapan terima kasihnya yang setengah tulus itu.


"Aku antar ke kamar ya!"


Anggukan kepala dari Sanchia menuntun tangan Sall untuk menggenggam tangan Sanchia yang dingin dan menuntunnya menuju kamar yang terletak di lantai 2.


Sesampainya di dalam kamar, Sall segera mendudukan Sanchia di pinggir tempat tidur, lalu membawakan segelas air hangat dari dispenser yang terletak di sudut kamar.


"Minumlah.."


Sanchia menerima gelas yang diulurkan Sall dan segera meneguk isinya sampai tandas.


"Sall, apa kamu bisa keluar? Aku ingin menenangkan diriku."


Tatapan mata Sanchia terlihat sendu, tapi kali ini Sall tidak berniat menuruti permintaan Sanchia.


"Hmm, izinkan aku menemanimu. Aku tidak akan mengganggumu, aku hanya akan duduk di sofa."


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Sanchia, sesungguhnya Sanchia ingin mendorong keluar Sall dari kamarnya, tapi Sanchia merasa hal itu akan sia-sia saja. Sanchia tahu, Camera CCTV tersembunyi dan beberapa camera micro sudah terpasang hampir di semua sudut kamarnya. Jadi Sall masih tetap bisa mengawasinya, sekalipun Sanchia memaksa Sall keluar dari kamarnya. Saat ini, Sanchia hanya berusaha bersabar dan menunjukan bahwa dia tidak tahu apa-apa, sampai dia bisa melarikan diri dari mansion Sall.


'Terserah maumu Sall, aku hanya ingin tidur dan melupakan kerinduanku pada orang-orang yang aku sayangi. Aku juga ingin mengistirahatkan tubuhku, agar besok aku bisa melarikan diri dari sini.' Batin Sanchia.


Sanchia merebahkan dirinya di atas tempat tidur, setelah selesai membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan piyama. Matanya yang lelah dan perih karena menangis, kini mulai dipejamkan, berusaha tidak peduli meskipun tatapan Sall masih setia mengarah padanya.


Selang 15 menit kemudian, Sanchia sudah masuk ke alam mimpi. Sall yang menyadari nafas Sanchia yang mulai teratur, kini mendekat dan membungkuk menghadap wajah Sanchia yang terlelap dengan posisi menyamping. Tiba-tiba Sanchia membalikan badannya, memunggungi Sall yang seketika memberengut karena kecewa.


'Kalau malam ini aku tidur disebelahnya, apa dia akan terbangun dan marah ya? Aku benar-benar ingin memeluknya. Dia bersedih karena aku, tapi aku tetap tidak bisa mengembalikannya pada keluarganya.' Batin Sall.


Akhirnya Sall memutuskan untuk naik ke atas tempat tidur dengan sangat hati-hati dan merebahkan dirinya tepat disebelah Sanchia. Matanya tidak henti memandangi wajah Sanchia yang tertidur begitu lelapnya, sembab masih tersisa dengan bibir Sanchia yang memucat. Ingin sekali Sall mengelus rambut dan memeluk Sanchia, tapi Sall menahan dirinya karena tidak ingin Sanchia terbangun dan kesal padanya.


'Beberapa hari ini, aku merasa Sanchia lebih penurut. Dia jarang melawan, malah sepertinya Sanchia mulai menikmati suasana mansion. Para pelayan bilang, kalau Sanchia suka sekali berjalan-jalan di sekitar mansion saat aku tidak ada, dia juga beberapa kali meminta lilin aromatherapy untuk mandi, dan juga minta disiapkan sepatu sport untuk gym. Baguslah, dia mulai membiasakan diri, seolah mansion ini adalah tempat tinggalnya sendiri.' Batin Sall.


Sall dengan sangat hati-hati mendekatkan wajahnya ke wajah Sanchia, lalu mendaratkan bibirnya di kening Sanchia dengan sangat lembut, beberapa detik kemudian, bibirnya beralih pada bibir mungil Sanchia yang tidak lagi pucat.


************************


Sinar matahari yang masuk melalui jendela kamar Sanchia, menghangatkan punggung Sall. Matanya mengerjap, saat menyadari kalau dia tidak sengaja tertidur disebelah Sanchia. Tapi saat matanya terbuka sepenuhnya, Sall tidak mendapati Sanchia di atas tempat tidurnya. Sall mengedarkan pandangannya, dan turun dari tempat tidur menuju kamar mandi. Namun gadis yang dicarinya tidak ada disana, begitupun saat Sall memasuki walk in closet, Sanchia masih tidak juga ditemukannya.


Sall segera mencari Sanchia di semua sudut lantai 2, Sall juga menghubungi Leroy, Kepala Pengawal untuk mencari Sanchia di semua sudut mansion. Nihil, semua anak buah Sall tidak bisa menemukan Sanchia dimanapun.


"Aaaarrrgggh.. Periksa semua CCTV, temukan Sanchia secepatnya.!"


Hanya perlu beberapa menit saja, sampai Leroy memberinya sebuah rekaman CCTV. Terlihat Sanchia masuk ke dalam ruangan yang Sall pikir sebuah paviliun itu, 2 jam yang lalu. Sall segera menuju tempat itu, diikuti semua anak buahnya.


Sebuah ruangan peristirahatan biasa dan berkesan sangat sederhana. Sall memandang sebuah sofa yang mengarah ke sebuah lukisan, dilengkapi sebuah perapian di sebelah kanannya. Anak buahnya menyebar ke ruangan sebelahnya, dimana terdapat meja makan dengan 4 buah kursi kayu yang terlihat begitu antik, juga beberapa kamar sederhana.


Sebagai seorang Arsitek, Sall tentu tidak aneh dengan ruang rahasia di sebuah mansion. Kemungkinan Sanchia melarikan diri melalui jalan rahasia sangatlah besar, sehingga Sall begitu merutuki kebodohannya yang tidak tahu apa-apa tentang mansionnya.


"Cari di semua sudut ruangan, mungkin ada pintu rahasia yang membuatnya bisa keluar dari sini."


Semua anak buah Sall mengetuk-ngetuk dinding untuk mencari keberadaan ruangan lain di balik ruangan sederhana itu. Tapi mereka tidak menemukan apa-apa, meskipun sudah membolak-balik lukisan, meja bahkan peralatan di kamar mandi.


Tiba-tiba Sall masuk ke dalam perapian setinggi hampir satu setengah meter di hadapannya, dengan membungkukan badannya. Sekuat tenaga Sall mendorong dinding perapian yang berwarna hitam itu, namun sia-sia. Sall hampir menyerah, saat tidak sengaja tangan kanannya menyentuh sebuah cermin di dinding sebelah kanan perapian, dan seketika terbukalah sebuah pintu yang mengarah ke sebuah lorong yang sangat gelap.


'Sanchia.. Kenapa saat ini aku merasa telah dikhianati oleh gadis yang aku cintai?'


"Aaaarggghh.. Kejar dia, temukan secepatnya. Kalau kalian tidak menemukannya, ku bunuh kalian semua."


*************************