
LONDON, INGGRIS
Gerbang mansion yang kokoh dan tinggi menjulang, menyambut kedatangan beberapa mobil sport yang ditumpangi Sall, Sanchia dan seluruh anak buah Sall. Pandangan kagum Sanchia terlihat jelas saat mobil bergerak melewati deretan pohon palm, dan juga taman bunga yang berwarna-warni.
Sall yang duduk di sebelah Sanchia seraya mendekap Shawn yang tertidur sejak tiba di airport tadi, tersenyum puas melihat reaksi Sanchia. Sall memang sengaja membuat halaman mansion-nya sesuai dengan selera Sanchia yang menyukai taman dan bunga.
"Apa kamu menyukainya Sweetheart?"
"Aku benar-benar menyukainya, Honey."
"Syukurlah.. Aku yakin, kamu juga akan menyukai design mansionnya."
Senyuman Sanchia hilang sesaat setelah pandangannya menyapu mansion yang berdiri megah dari dalam mobil yang sudah terparkir manis tepat di depan mansion. Sanchia turun setelah Sall yang masih menggendong Sall, membukakan pintu untuk Sanchia.
Mansion bertingkat empat lantai dan bergaya modern, dengan design kaca disekelilingnya membuat mata Sanchia terbelalak. Seketika pandangan Sanchia diarahkan pada Sall yang sedang tersenyum jahil menatap istrinya yang memasang raut penuh tanya. Seolah tahu dengan isi pikiran Sanchia, Sall merangkul bahu istrinya dan mengajaknya masuk ke dalam mansion.
"Tenang saja Sweetheart, kacanya anti peluru, dan bisa kita atur untuk berubah ke mode gelap. Semua ruangan juga kedap suara, jadi tidak perlu takut akan ada yang mengintip kita saat sedang berduaan."
Plak..
Pukulan ringan di bahu Sall, membuat Sall semakin lebar mengulas senyum jahilnya. Sall tahu Sanchia yang begitu menyukai design mansion bergaya klasik, belum tentu menyukai design mansion mereka saat ini, tapi entah kenapa Sall begitu menyukai dan ingin tinggal di salah satu mansion miliknya itu.
Sall menggiring Sanchia menuju kamar pribadi mereka di lantai 2, setelah menyerahkan Shawn kepada dua babysitter-nya untuk ditidurkan di kamar sebelah kamar pribadi mereka.
Untung saja kamar di seluruh mansion masih normal dengan tidak menggunakan kaca di sekelilingnya, hanya bagian dinding ke arah balkon saja yang menggunakan kaca panjang untuk jendela dan juga pintunya.
Design kamar yang bergaya modern minimalis pun, cukup sesuai dengan selera Sanchia. Meskipun sebenarnya boleh dibilang design kamarnya terlalu maskulin, apalagi dengan perpaduan warna hitam dan abu muda yang sangat mencolok. Namun Sanchia sangat menyukai design ruangan walk in closet-nya yang didominasi warna gold dan silver, terlebih dengan segala isinya yang sangat memanjakan mata.
Sanchia memandang pemandangan kolam renang di bawahnya dari dalam kamar. Sall yang berdiri di belakang Sanchia, mulai mengikis jarak dengan Sanchia dan menyelusupkan kedua tangannya ke dalam baju Sanchia, lalu mengelus pelan perut Sanchia. Bibirnya sesekali menciumi rambut dan pipi Sanchia bergantian.
"Aku mau semua dinding kacanya dipasangi tirai, dan ubah semua kacanya ke mode gelap jika sudah sore apalagi malam."
"Tenang saja Sweetheart, aku pastikan aman kok. Tidak akan ada yang bisa menembus keamanan mansion ini, karena aku sudah memberikan pengamanan yang sangat ketat berteknologi tinggi.
"Aku hanya tidak mau berkenalan dengan hantu Inggris."
Sall terkekeh geli mendengar perkataan Sanchia yang terdengar lucu menurutnya.
"Jadi ternyata ini masalahnya, hihihi.."
Cubitan Sanchia di lengan Sall, seketika menghentikan kekehan Sall, namun tidak dengan ekspresinya yang masih saja mengulas senyum jahilnya.
************************
Tidur lelap Sall terusik saat Sanchia yang tertidur dalam dekapannya mengigau dan mengucapkan kata-kata yang tidak jelas. Namun Sall masih menangkap jelas satu nama yang begitu malas dia dengar.
'Alrico?' Tanya Sall dalam hati.
"Sweetheart, apa kamu bermimpi buruk?"
Sanchia baru terbangun saat Sall mengelus dan menepuk pelan lengannya, dengan air mata yang keluar dari kelopak matanya.
"Syukurlah cuma mimpi."
Sall mendekap erat tubuh Sanchia dan berusaha menenangkan istrinya itu dengan mengelus lembut punggung Sanchia.
"Kamu mimpi apa Sweetheart, ceritakanlah.."
Sanchia memundurkan sedikit tubuhnya dan menatap netra Sall yang sedang mengharap jawaban.
"Hmm, aku mimpi seseorang menimang bayi kita lalu membawanya pergi."
Sall memperhatikan tangan Sanchia yang berpindah mengelus perutnya, sehingga membuat Sall paham bahwa yang dimaksud Sanchia adalah bayi yang berada dalam kandungannya.
"Siapa yang melakukannya?"
"Dia.. Dia.."
Raut wajah Sanchia yang berubah cemas membuat Sall paham, kalau Sanchia enggan menceritakan siapa yang berada dalam mimpi buruknya.
"Alrico kan?" Raut wajah datar Sall berhasil membuat Sanchia terkejut seketika.
"Bagaimana kamu tahu?"
"Kamu menyebut namanya saat mengigau tadi. Tapi kamu tidak usah khawatir Sweetheart, aku akan melindungi kalian semua, tidak akan aku biarkan siapapun membawa kalian pergi."
"Iya Honey.."
Sanchia menyelusupkan kembali kepalanya ke dalam dekapan dada bidang Sall. Namun pertanyaan Sall kembali membuat Sanchia mendongakkan kepalanya menatap netra jernih milik suaminya itu.
"Sweetheart, bisakah kamu ceritakan apa yang kamu dan Alrico bicarakan saat di farewell party kita? Aku menunggumu bercerita, tapi kamu seolah tidak berniat untuk menceritakannya padaku."
"Bukan begitu Honey, tapi apa yang kami bicarakan bukanlah sesuatu yang penting."
"Bukan masalah penting atau tidak penting Sweetheart, tapi aku tidak ingin kamu menutupi hal sekecil apapun dariku Sweetheart."
FLASHBACK ON
Kedatangan Alrico dan Catherine mengejutkan beberapa orang yang berada di farewell party Sall dan Sanchia. Kebersamaan mereka memicu banyak tanda tanya, terutama di kepala Sall, Sanchia, Leon dan Leroy. Namun mereka berusaha untuk tidak menanyakan hal itu pada Alrico dan Catherine.
"Sanchia, Sall.. Selamat untuk kepindahan kalian ke Inggris. Semoga kalian betah disana. Oh iya, Om Leonard yang mengundangku datang, saat kemarin aku menghubunginya untuk meminta maaf."
Seketika pandangan Sall dan Sanchia mengarah kepada Papa Leonard yang menganggukkan kepalanya, seolah mengerti dengan ekspresi penuh tanya yang ditunjukan oleh anak dan menantunya. Sanchia dan Sall kembali mengalihkan pandangan mereka pada Alrico yang masih setia memasang senyuman di wajahnya.
"Oh terima kasih sudah datang dan mendoakan kami."
Perkataan Sanchia membuat senyum di wajah Alrico semakin mengembang, dan Sall sangat tidak menyukainya. Namun Sall berusaha untuk menahan dirinya, meskipun dia sebenarnya ingin sekali membawa istrinya pergi dari sana.
"Silahkan menikmati hidangannya, kami tinggal dulu ya. Kami harus berpamitan pada tamu yang lain."
*'Bagus Sweetheart, kamu mengerti apa yang aku inginkan*' Sorak Sall dalam hati.
Sanchia menggamit lengan Sall dan menyapa tamu yang lain, meninggalkan Alrico dan Catherine yang langsung menempati kursi yang sudah tersedia. Leon dan Leroy pun memilih masuk ke kamar yang disediakan untuk mereka, berusaha menenangkan hati mereka masing-masing.
Beberapa saat kemudian, Sanchia terlihat berbisik pada suaminya, lalu masuk ke dalam mansion, meninggalkan Sall yang sedang mengobrol dengan beberapa kerabat Sanchia. Melihat hal ini, Alrico mengatakan pada Catherine untuk pergi ke toilet, setelah memastikan Sall sedang sibuk meladeni obrolan kerabat-kerabat Sanchia.
Sanchia yang sedang berjalan di koridor mansion yang menuju ke ruang tamu, tidak menyadari kalau Alrico mengikutinya diam-diam dari belakang. Tiba-tiba Sanchia dikejutkan dengan tangan yang menarik sebelah tangannya dan menahan tubuh Sanchia di dinding koridor.
"Alrico, apa yang kamu lakukan?"
Sanchia memberontak dan berusaha menendang kaki Alrico, namun Alrico seketika menghindar seraya terkekeh kecil.
"Diamlah Chia, aku hanya ingin berbicara denganmu."
"Bicaralah. Tapi lepaskan tanganmu."
Alrico melepaskan kungkungannya dan menatap dalam netra Sanchia.
"Chia.. Aku yakin tidak ada yang mencintaimu melebihi aku. Aku akan selalu menunggumu, tidak peduli berapa lama yang kamu butuhkan untuk menyadarinya, aku yakin pada akhirnya kamu akan kembali padaku."
"Ternyata kamu belum berubah Al.."
"Jangan memaksaku berubah, karena perasaanku tidak akan pernah berubah sedikitpun."
"Bukankah kamu sudah bersama Catherine, kenapa kamu masih saja memelihara perasaanmu padaku?"
"Dia yang mencintaiku, tapi aku sama sekali tidak mencintainya."
"Jangan menyakitinya jika memang kamu tidak mencintainya. Lagipula Brandon dan Jared tidak akan membiarkan kamu bersama Catherine, mereka pasti tidak rela sepupu dan kakaknya bersama orang jahat sepertimu."
Alrico terkekeh geli mendengar perkataan Sanchia, membuat Sanchia kesal dengan sikap Alrico yang meremehkan perkataannya.
"Aku tidak butuh Catherine, dia yang mengejarku. Lagipula masih banyak cara untuk mendapatkanmu. Suatu saat, kamu sendiri yang akan mencariku, dan aku pastikan saat itu kamu akan selamanya bersamaku."
Alrico meninggalkan Sanchia yang masih mencerna apa yang dikatakan Alrico padanya. Tanpa Sanchia ketahui, Alrico berpapasan dengan Sall di ujung koridor menuju taman. Sall merasakan ada yang tidak beres saat Alrico menyeringai padanya. Sall mempercepat langkahnya, dan Sall bisa menebak kalau Alrico baru saja menemui istrinya, saat pandangannya pada Sanchia yang terlihat bingung seraya menundukkan kepalanya.
FLASHBACK OFF
************************
Cup..
Sall mengecup lembut kening Sanchia, lalu beralih mencium pipi kanan, pipi kiri, hidung, dagu dan berakhir dengan ciuman dalam di bibir ranum Sanchia.
"Akulah yang paling mencintaimu. Tidak ada yang perlu kamu ragukan dariku. Laki-laki gila itu tidak akan pernah berhasil membuatmu pergi dariku, tidak peduli apapun cara yang dia lakukan. Aku akan selalu melindungimu dan anak-anak kita."
Sanchia menganggukkan kepala bersamaan dengan menetesnya air mata dari kelopak matanya. Namun Sall langsung menghapus air mata Sanchia dan menciumi perlahan kelopak mata Sanchia yang tertutup, seraya memeluk tubuh Sanchia dengan erat.
*************************
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Maaf aku baru bisa kembali setelah lebih dari seminggu sibuk dengan kerjaan di real life..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight