
MANSION SALL & SANCHIA - LONDON, INGGRIS
Matahari baru beranjak naik, namun Sall dan Sanchia sudah kembali ke mansion mereka di London dengan menggunakan helicopter. Sanchia sudah begitu rindu pada Shanaya dan Shawn, meskipun hanya semalam Sall dan Sanchia menginap di Newquay. Sall tentu saja tidak dapat mencegah keinginan istrinya, meskipun rasa kantuk masih sangat dirasakannya.
Sall memanggil Leon dan Leroy untuk datang ke mansion malam nanti, untuk membahas misi mereka malam tadi. Tapi hanya Leroy yang menyanggupinya. Sedangkan Leon bahkan tidak mengangkat teleponnya.
Sesungguhnya Sall merasa sedikit aneh dengan sikap Leon yang tidak biasa mengabaikan panggilan telepon darinya. Tapi kali ini Sall tidak ambil pusing, Sall berpikir mungkin Leon sengaja tidur sampai siang hari, karena hari ini hari minggu. Sehingga akhirnya Sall pun membatalkan instruksinya pada Leroy.
Sanchia dan Sall terlihat bermalasan di atas tempat tidur sambil bercanda dengan Shanaya dan Shawn. Ternyata bukan hanya Sall dan Sanchia yang merasa gemas pada Shanaya, tapi juga Shawn. Anak laki-laki berusia 1 tahun itu terus saja menciumi pipi gembul Shanaya. Bahkan Shanaya selalu tersenyum setiap kali Shawn menciumnya, bayi mungil itu pun akan menggenggam jari Shawn dengan sangat kuat.
"Shawn, apa kamu menyayangi adik Shanaya?"
"Tentu saja Daddy." Jawab Shawn yakin, diikuti bibirnya yang kembali mendarat di pipi Shanaya.
"Jaga adikmu ya, kalian harus saling menyayangi selamanya." Ujar Sall seraya mengelus lembut puncak kepala Shawn.
"Shawn janji sayang Shanaya selamanya." Perkataan Shawn yang disertai anggukan mantap, menarik senyuman lebar di wajah Sall dan Sanchia. Kini keduanya memberikan ciuman kasih sayang pada Shawn juga Shanaya.
"Daddy dan Mommy sayang Kakak Shawn dan Adik Shanaya." Sanchia mengelus pipi Shawn dan menatap Shawn dengan penuh kasih sayang.
Shawn merentangkan kedua tangannya meminta pelukan, yang langsung dibalas pelukan erat dari kedua orangtuanya.
*************************
HOTEL KNIGHT - BIRMINGHAM, INGGRIS
Di salah satu kamar president suite hotel Knight, terlihat Leon dengan Leandra tertidur di atas tempat tidur yang sama. Mereka berdua sama-sama masih memegang ponsel mereka masing-masing. Nampaknya pertempuran game mereka semalam begitu sengit, sehingga mereka bahkan tidak sengaja tertidur di atas ranjang, tempat mereka bermain game semalam.
Drrtt..Drrtt..Drrtt..
Leandra terlonjak kaget, saat ada panggilan masuk ke ponselnya. Lebih terkejut lagi saat matanya terpaku pada sosok Leon yang tertidur begitu damainya. Leandra mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha mengumpulkan kesadaran yang belum lengkap.
Setelah mengingat semua kejadian semalam, Leandra hanya menggigit bibirnya. Dia tidak menyangka bisa menghabiskan malam bersama pria yang bahkan tidak dia kenal. Leandra perlahan menuruni tempat tidur, mengambil jaketnya, lalu berjalan mengendap-endap menuju pintu.
"Janice.." Langkah Leandra terhenti, saat Leon yang baru terbangun, tiba-tiba memanggilnya.
Leandra masih enggan menolehkan kepalanya ke arah Leon, tapi sungguh tidak mungkin memaksa membuka pintu dan lari dari kejaran Leon.
"Kamu masih belum bisa mengalahkanku Janice. Kamu sudah janji akan menemaniku sarapan, makan siang dan menonton di bioskop, jika kamu tidak bisa mengalahkanku." Perkataan Leon yang terdengar sangat datar itu, berhasil membuat Leandra membalikkan badannya.
Terlihat Leon menyandarkan punggungnya pada headboard seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Ah Tuan Leon.. Aku harus mandi, berganti pakaian, dan memakai perlengkapan skin care dan make-up. Tidak mungkin kan, aku sarapan, makan siang dan menonton bioskop dengan pakaian ini. Sudah kotor, Tuan Leon." Leon tersenyum simpul mendengar perkataan Leandra yang seringkali terdengar seperti rajukan.
"Kita sarapan di kamar, lalu aku akan meminta orang untuk membawakan pakaian, perlengkapan skin care dan make-up untukmu." Jawab Leon masih sama datarnya.
"Aku tidak bisa memakai pakaian, skin care dan make-up sembarangan, Tuan Leon." Ujar Leandra seraya menghentak-hentakan kakinya.
"Tinggal sebutkan pakaian, skin care dan make-up seperti apa, yang biasa kamu pakai. Aku akan meminta orang membawakannya." Leandra menghampiri Leon dengan bibir mengerucut.
"Tuan Leon, Mama dan Papaku pasti marah karena semalam aku tidak pulang. Dan mereka bisa lebih murka lagi, kalau aku tidak cepat pulang. Please Tuan Leon, izinkan aku pulang." Leandra menggesek-gesekan kedua tangannya, memohon agar Leon bersedia melepaskannya.
"Baiklah.. Aku akan mengantarmu pulang." Leandra terlihat terkejut mendengar perkataan Leon yang tidak terduga.
"Tidak..Tidak..Orangtuaku bisa membunuhku, jika aku pulang diantar laki-laki." Ekspresi khawatir terlihat jelas di wajah Leandra, membuat Leon yakin kalau Leandra sedang tidak mengada-ada.
"Baiklah.. Aku tidak akan mengantarmu. Janice.. Kenapa kamu bisa bahasa Indonesia dengan sangat lancar. Apa salah satu orangtuamu asli Indonesia?"
"Hmm, bukan.. Kedua orangtuaku orang Inggris." Ekspresi bohong di wajah Leandra jelas sekali terlihat. Lagi-lagi Leandra membohongi Leon, tapi Leon tetap berusaha bersikap biasa, untuk menghindari kecurigaan Leandra.
"Janice, kamu boleh pulang, tapi temani aku sarapan ya. Meskipun waktu sarapan sudah lewat, tapi tidak apa, kita sarapan di rooftop hotel. Oh iya, aku akan meminta orang untuk membawakan pakaian untukmu." Leandra hanya mengangguk lemah, rasanya melawan pun akan sia-sia. Karena dia yakin, kalau Leon tidak akan melepaskannya begitu saja.
*************************
"Janice, terima kasih karena kamu sudah mau menemaniku dari malam tadi."
"Ssssttttt.. Jangan keras-keras, jika ada yang mendengar, mereka akan berpikir kalau aku adalah perempuan malam yang menghabiskan malam dengan menemanimu di atas ranjang."
"Lho, bukankah kita berdua memang menghabiskan malam berdua, di atas ranjang." Leandra membekap mulut Leon yang begitu vulgar.
"Mungkin lebih baik aku lakban saja mulutmu ini. Tuan Leon." Leon terkekeh, meskipun telapak tangan Leandra masih menghalangi mulutnya. Leon lalu melepas perlahan tangan Leandra dari mulutnya.
"Panggil aku Leon.."
"Baiklah, Leon..Hmm, aku minta maaf sudah masuk ke dalam kamarmu tanpa izin. Aku benar-benar sedang menjalankan tugas penting. Dan aku tidak menyangka, kalau aku justru mengikuti orang yang salah. Sekali lagi aku minta maaf ya Leon." Leon mengulas senyum tipisnya, lalu memegang tangan Leandra yang berada di atas meja.
"Tidak apa.. Aku justru berterima kasih, karena akhirnya ada teman yang bisa menemaniku bermain game semalaman. Aku sebenarnya ingin mengenalmu lebih jauh, bisakah lain waktu kita bertemu lagi?" Leandra menarik tangannya dari genggaman tangan Leon.
"Maafkan aku, sesungguhnya aku akan pergi jauh beberapa hari lagi."
"Kemana?" Leon terlihat tidak rela mendengar perkataan Leandra sebelumnya.
"Ke suatu negara yang jauh dari sini. Aku tidak bisa mengatakannya padamu."
Leon mengalihkan pandangannya, menghindari tatapan mata Leandra yang juga terlihat sendu seperti dirinya. Sejujurnya, keduanya merasa nyaman dan ada perasaan tidak biasa di hati mereka. Namun ternyata keadaan seolah tidak memberi mereka kesempatan untuk bersama, setidaknya untuk saat ini.
"Setidaknya berikan aku nomormu." Permintaan Leon segera dibalas gelengan kepala yang mantap dari Leandra.
"Sejujurnya aku tidak percaya dengan hubungan apapun yang berasal dari pertemuan yang kilat. Tapi jika suatu saat kita bertemu lagi, maka aku akan percaya, kalau kita ditakdirkan untuk menjadi lebih dekat.." Leon mengangguk lemah, mendengar penuturan Leandra. Harapannya untuk lebih dekat dengan Leandra terasa semakin jauh.
"Baiklah.. Semoga suatu saat kita bisa bertemu lagi ya Janice.." Leandra mengangguk seraya tersenyum begitu manis pada Leon yang masih memasang raut sendunya.
Leon dan Leandra sudah menyelesaikan sarapan mereka yang terlambat, mereka berdua beranjak memasuki lift yang akan membawa mereka ke lobby hotel. Leon sudah memesankan taksi untuk Leandra, karena Leandra masih berkeras tidak ingin Leon antar.
Di dalam lift khusus yang hanya bisa digunakan oleh anggota keluarga Knight, Leon dan Leandra seolah sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Tapi tiba-tiba Leon menggenggam erat tangan Leandra, sehingga Leandra mendongakkan kepalanya ke arah Leon.
"Aku berharap Tuhan mentakdirkan kita untuk bertemu lagi, Janice.. Dan selama kita menunggu waktu yang tepat itu, tolong ingatlah aku. Aku yang berharap untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersamamu lagi." Leandra berniat menanggapi perkataan Leon, namun tiba-tiba bibir Leon menempel lembut di bibir Leandra. Sebelah tangan Leon mulai melingkar di pinggang Leandra, mengikis jarak diantara keduanya. Sementara tangan lainnya menekan tengkuk Leandra, memperdalam ciumannya mereka.
Keduanya menutup mata, Leandra sama sekali tidak menolak, bahkan mulai menikmati ciuman Leon. Meskipun Leandra begitu kaku dan tidak bisa merespon, karena ciuman itu adalah ciuman pertama bagi Leandra. Tanpa Leandra tahu, kalau ciuman itu juga adalah yang pertama bagi Leon.
'Sepertinya aku jatuh cinta.' Ungkap Leon dalam hatinya.
************************
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight