The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 6 Rahasia Mansion Sall



Matahari senja yang teduh dan indah, berbanding terbalik dengan suasana hati Sall yang buruk, sejak pertemuan Sanchia dengan seniornya saat kuliah yang bernama Austin. Sall menjalankan mobil sportnya dengan kecepatan tinggi, membuat beberapa anak buahnya kesulitan mengejar Big Boss-nya itu.


Sedangkan Sanchia yang duduk di sebelah Sall, justru terlihat tenang dan santai.  Sesekali Sanchia memandang wajah Sall yang begitu emosi itu, dengan ekspresi datar. Sanchia jelas paham, kenapa Sall bersikap aneh seperti itu. Tapi Sanchia terlihat tidak peduli dan tidak mau ambil pusing dengan tingkah laki-laki yang dibencinya itu.


*************************


FLASHBACK ON


Mata Sall berkilat tajam, memandang laki-laki di hadapan Sanchia. Laki-laki tampan berwajah perpaduan Korea-Eropa yang menatap Sanchia dengan ekspresi bahagia itu, membuat Sall seketika mengepalkan tangan dan mengeraskan rahangnya.


"Sanchia benarkah ini kamu? Sudah lebih dari 5 tahun kita tidak bertemu. Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di hari pertama, aku kembali ke Indonesia."


Sanchia memandang tidak percaya ke arah laki-laki yang merupakan senior sekaligus teman lamanya itu.


"Iya Kak Austin, aku juga tidak menyangka akan bertemu denganmu disini."


'Kebetulan sekali, aku bertemu Kak Austin Bagaimana caranya, agar aku bisa meminta bantuan pada Kak Austin tanpa sepengetahuan si brengsk Sall? Jika aku gegabah, aku khawatir Sall akan menyakiti Kak Austin.'* Batin Sanchia.


"Sanchia, ini siapa?"


Austin bertanya seraya memandang Sall dengan ekspresi datar, yang langsung dibalas Sall dengan ekspresi menantang, lengkap dengan tatapan mata berkilat tajam. Tapi Austin seolah tidak terpengaruh dan hanya tersenyum tipis pada Sall.


"Dia.."


"Saya calon suaminya."


Sall memotong perkataan Sanchia, lalu menarik pelan tangan Sanchia untuk pergi meninggalkan Austin, yang masih terkejut dengan jawaban Sall. Sedangkan Sanchia hanya bisa mendengus kesal dengan tingkah Sall, namun tidak bisa berbuat apa-apa, karena mungkin tingkahnya yang gegabah akan membuat Austin berada dalam masalah.


Terlebih saat Sanchia melihat beberapa anak buah Sall yang masih memperhatikan Austin, sebelum tiba-tiba Austin berteriak cukup kencang.


"Sanchia, mampirlah ke resort-ku, tempat kita berlibur dengan teman-teman dulu."


Sall semakin menarik sekaligus mencengkeram pergelangan tangan Sanchia yang mulai memerah, namun emosi Sall membuatnya tidak peduli, sekalipun Sanchia meringis kesakitan.


FLASHBACK OFF


*************************


Sanchia memicingkan matanya saat mobil sport milik Sall memasuki gerbang raksasa, dimana terlihat jelas beberapa ratus meter di hadapan mereka, terdapat sebuah mansion yang indah dan sangat mewah, dikelilingi taman yang terhampar luas. Sanchia jelas mengenal sekali mansion yang terletak di daerah pesisir pantai tercantik di Pulai Bali ini, karena Sanchia-lah yang mendesign mansion yang diminta khusus oleh seorang wanita bangsawan Inggris, yang memiliki beberapa bisnis di Bali, kepada perusahaannya 5 tahun yang lalu.


Saat itu atasan Sanchia memutuskan untuk mempercayakan design mansion itu pada Sanchia, setelah client-nya itu melihat dan menyukai beberapa design yang dibuat Sanchia sebelumnya. Untuk pembangunan mansion itu, bahkan Sanchia harus rela bolak-balik Bandung-Bali selama 4 bulan, dari mulai pengembangan design, pembangunan, sampai dengan selesai. Tapi Sanchia puas dengan hasilnya kerja kerasnya bersama semua tim dari perusahaannya, karena ternyata sang client begitu menyukai hasilnya. Bahkan sampai memberikan bonus yang sangat besar untuk Sanchia dan juga timnya.


Sall kembali menarik Sanchia dari lamunan, dengan membukakan pintu mobilnya, tepat di depan sebuah mansion yang sangat besar dan mewah.


Ekspresi Sanchia terlihat biasa saja, saat Sall merentangkan tangannya, seolah sedang memberikan sebuah kejutan kepada Sanchia.


”Sanchia, mulai hari ini, kita akan pindah dari villa ke mansion ini. Mansion ini adalah milik Ibuku, yang sengaja dibangun untuk tempat berlibur keluargaku di Bali. Aku juga baru mengetahuinya dari orang kepercayaan Ibuku."


Sanchia memandang wajah Sall seketika, dan baru menyadari kemiripan Sall dengan wanita bangsawan yang dulu menjadi client-nya. Sanchia memasuki pintu utama mansion yang mengarah ke sebuah aula yang sangat luas, saat Sall mempersilahkannya masuk. Alangkah terkejutnya Sanchia, saat mendapati beberapa pelayan  juga pengawal di villa Sall, kini sudah berada di dalam mansion yang akan ditinggalinya itu.


”Sanchia, ayo kita naik ke lantai 2 dan melihat kamar kita.”


”Kamar kita?”


”Iya kamar kita Sanchia.”


Sall malah sengaja menggoda Sanchia dan membuatnya semakin salah paham. Entah kenapa menggoda Sanchia kini sudah menjadi hobi barunya Sall dan selalu memberinya kebahagiaan tersendiri.


”Aku tidak mau satu kamar denganmu.”


Sanchia menantang Sall yang justru terlihat tenang dengan senyum tipis terulas di wajahnya.


”Jadi kamu maunya bagaimana Sanchia?”


”Aku mau kita tidur di kamar terpisah.”


”Kenapa begitu Sanchia?”


Senyum jahil terpampang di wajah Sall, membuat Sanchia merasa geram dengan sikap Sall yang semakin menyebalkan menurutnya.


”Karena kita bukan suami istri.”


”Kalau begitu, kenapa kita tidak menikah saja?”


Sall mengerling manja pada Sanchia yang semakin tidak bisa menahan rasa kesalnya.


”Tidak mau, aku tidak mau menikah dengan laki-laki sepertimu.”


Sall sesungguhnya sudah ingin tertawa menanggapi kemarahan Sanchia, tapi Sall menahannya sekuat tenaga, untuk semakin menggoda gadis yang dicintainya itu.


”Benarkah?”


Tiba-tiba Sall menggendong tubuh Sanchia ala bridal style, lalu menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai 2. Meskipun Sall harus berusaha menahan keseimbangan tubuhnya, karena Sanchia terus saja meronta dan memberontak, ingin melepaskan diri dari gendongan Sall. Pemandangan romantis sekaligus lucu itu, tentu saja menjadi tontonan beberapa pelayan dan para pengawal yang ada di ruangan itu.


Tepat di depan sebuah kamar yang pintunya terbuka, Sall segera menurunkan Sanchia yang tidak hentinya memberontak. Sanchia mendengus kesal seraya merapihkan bajunya yang berubah kusut.


”Sanchia, ini kamarmu dan kamarku tepat di sebelah kamarmu.”


Sall menunjuk dua kamar yang bersebelahan yang merupakan kamar Sanchia dan juga kamarnya. Wajah Sanchia memerah menahan malu, karena sudah salah paham pada Sall. Sedangkan Sall mengulum senyumnya, dan berusaha terlihat kesal karena Sanchia sudah menuduhnya yang bukan-bukan.


Tapi Sanchia sama sekali tidak ada niat meminta maaf pada Sall, sehingga dia lebih memilih untuk masuk ke kamarnya. Namun saat Sanchia hendak menutup pintunya, Sall menahan daun pintu itu dengan tangannya.


”Mandilah dulu. Semua barangmu sudah ada di kamar ini. Setelah kamu shalat maghrib, kita makan malam di lantai 1 ya.”


Sanchia tidak berniat menjawab, dia hanya menaikan sedikit sudut bibirnya, namun sikap Sanchia malah menarik senyum di bibir Sall.


'Kamu selalu terlihat cantik Sanchia, bagaimanapun ekspresimu.' Puji Sall dalam hati.


Selesai mandi, Sanchia mengedarkan pandangannya ke semua sudut kamar, lalu berjalan menuju balkon kamarnya. Pandangannya mengarah ke segala arah, seolah mencari sesuatu yang sangat penting.


’Aku masih ingat beberapa detail design mansion ini, karena memang mansion ini cukup berkesan untukku. Aku ingat ada satu ruangan di lantai 1, yang merupakan jalan keluar rahasia dari mansion ini. Ruangan itu memiliki pintu tersembunyi yang menyerupai dinding, dimana pintu itu menuju sebuah koridor panjang yang berakhir di sebuah rumah di tepi pantai yang sepi. Tapi dimana ya ruangan itu? Aku harus segera menemukannya, dan keluar dari sini. Semoga Sall tidak mengetahui tentang keberadaan ruangan rahasia itu.’ Batin Sanchia.


*************************