The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 54 Kemarahan Ratu Mafia



Apa yang dilihatnya hanyalah mimpi buruk, itulah yang Sanchia harapkan saat ini. Sanchia menghapus air mata yang mengalir di pipinya dengan kasar, sedangkan Sall sudah menghempaskan tubuh Dhiany hingga terjatuh membentur lantai dengan kerasnya. Sall berdiri dan berjalan cepat menghampiri Sanchia yang masih berdiri mematung di tempatnya. Ekspresinya begitu khawatir, karena jelas Sanchia terlihat kecewa juga marah dengan apa yang dilihatnya. Sall sungguh tidak ingin Sanchia berpikir macam-macam tentangnya, apalagi menganggap kalau Sall tergoda oleh rayuan Dhiany.


Saat Sall hendak menyentuh dan memeluk tubuh Sanchia, istrinya itu seketika menghindar, dengan tatapan yang menghunus tajam tepat di netra Sall yang jernih. Sall tahu pasti, keadaannya sangat terancam, Sanchia tidak akan mudah memaafkannya kali ini. Namun Sall bertekad, tidak akan menyerah menjelaskan dan meminta maaf, sampai akhirnya Sanchia bisa mengetahui hal yang sebenarnya terjadi.


"Aduh Sall, rupanya Sanchia memergoki kita, jadi kamu sampai terkejut dan menghempaskan tubuhku. Sanchia sudah terlanjur mengetahui apa yang kita lakukan, sebaiknya tidak usah ditutupi lagi."


Dhiany mencoba berdiri, namun dia mengurungkan niatnya karena beberapa bagian tubuhnya terasa sakit akibat terbentur tadi. Sehingga dia memilih duduk di lantai dengan menyilangkan dan memamerkan kakinya yang jenjang. Sall menggeram seolah hendak meluapkan kemarahannya, tangannya mengepal dan rahangnya mengeras menahan emosinya yang sulit dikendalikan."


"Heh, ular betina.. Aku tidak mungkin tergoda olehmu. Kuperingatkan sekali lagi, pergi dari sini, dan jangan tunjukan dirimu dihadapan kami lagi. Jika kamu tetap nekad, maka aku akan memberimu pelajaran."


"Sall.. Tidak usah berpura-pura seperti itu lagi, kita tunjukan perasaan kita di hadapan Sanchia. Lambat laun juga, dia akan mengetahui tentang hubungan kita ini."


"Kamu benar-benar sakit jiwa, Dhiany." Hardik Sall dengan luapan emosinya.


Sall terdengar sedikit frustasi dengan apa yang dikatakan Dhiany, hal itu jelas-jelas semakin memancing kemarahan Sanchia. Sall memasang wajah penuh penyesalan, tapi Sanchia seakan tidak peduli. Sanchia sedang tidak ingin meluapkan kemarahannya pada Sall, setidaknya bukan untuk saat ini. Sanchia lebih memilih menghampiri Dhiany yang sesekali meringis menahan rasa sakit, karena kakinya yang membentur lantai.


Uluran tangan Sanchia kini mengarah pada Dhiany yang mendongak dan langsung membalas uluran tangan itu tanpa ragu. Tapi baru saja Dhiany menggenggam tangan Sanchia, sedetik kemudian Sanchia langsung menghempaskan tangannya sehingga lagi-lagi Dhiany terjatuh di lantai dengan posisi yang sama seperti sebelumnya.


Tatapan Dhiany berubah tajam, menghunus netra Sanchia yang masih terlihat datar dan tanpa ekspresi.


“Sanchia, kamu apa-apaan sih? Bukannya membantu, kamu malah membuatku jatuh untuk kedua kalinya.”


Sanchia membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke wajah Dhiany yang terlihat menantangnya, dengan secepat kilat, sanchia menjambak sejumput rambut Dhiany yang tergerai indah.


“Lalu aku harus membantumu? Kamu sudah bermain-main dengan orang yang salah Dhiany, akan aku tunjukkan, siapa aku sesungguhnya.”


Dhiany meronta dan berusaha melepas genggaman tangan Sanchia di rambut panjangnya, namun semakin kuat Dhiany berusaha melepaskan diri, maka semakin kuat jambakan tangan Sanchia di rambutnya. Dhiany tampak meringis kesakitan, namun Sanchia tidak berniat melepas jambakannya, terlebih kini kakinya sudah menahan paha Dhiany yang sejak tadi  menendang-nendang kaki Sanchia.


"Hai wanita bodoh, kamu pikir aku takut."


Sikap menantang yang ditunjukan Dhiany, semakin membuat Sanchia naik pitam. Kini tangan Sanchia yang lain, mencengkeram dagu Dhiany dengan sangat kuat.


"Kita buktikan.. Apa setelah ini, kamu akan takut padaku atau tidak."


Seringai tipis muncul di wajah Sanchia, tatapan tajam netra Sanchia terlihat menguar aura kebencian yang sangat kuat. Sall tidak berniat menginterupsi apa yang dilakukan oleh Sanchia, karena hal itu akan berakibat buruk bagi dirinya. Sall tidak ingin Sanchia menganggap, kalau dirinya membela Dhiany, jika berusaha menghentikan apa yang dilakukan istrinya itu. Sall hanya mengawasi Sanchia agar tidak melakukan hal yang berlebihan dan juga mengantisipasi terjadinya hal yang buruk. Karena meskipun Sanchia memiliki kemampuan bela diri yang bagus, tapi saat ini Sanchia sedang hamil. Sall tidak ingin hal buruk kembali menimpa istri tercintanya itu.


“Lerooooyy…”


Teriakan Sanchia yang terdengar sampai ke aula mansion, seketika membuat Leroy datang secepat kilat. Bukan hanya Leroy, suara Sanchia sukses mengumpulkan Leon dan seluruh anak buah Sall yang beberapa waktu yang lalu terlihat sedang berkumpul di aula lantai 1, dan ruang tamu lantai 2. Mereka sungguh ingin tahu, hal apa yang membuat Nyonya Muda mereka marah, sampai mengeluarkan teriakan yang sangat dahsyat seperti itu.


“Leroy, bawa perempuan ini ke ruang bawah tanah.”


“A..Apa maksudmu Sanchia?”


Leroy dibantu Leon, segera membawa Dhiany menuju ruang bawah tanah. Meskipun Dhiany meronta dan memohon untuk dilepaskan, Leroy dan Leon seolah tidak peduli. Karena mereka yakin, jika Sanchia sudah berubah buas, maka yang dilakukan wanita itu, sudah sangat berlebihan dan tidaklah main-main.


“Diamlah, kamu sendiri yang mencari masalah dengan Ratu Mafia. Maka terimalah penderitaanmu."


Perkataan savage Leroy, yang ditanggapi tawa kecil Leon, seketika membuat tenggorokan Dhiany tercekat. Matanya membulat sempurna, seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


“A..Apaaa? Ratu.. Ma..Fia?”


*************************


Sanchia merebahkan dirinya di atas tempat tidur, dengan posisi membelakangi Sall, yang saat ini masih berjuang keras untuk mendapat maaf dari Sanchia. Setiap kali Sall memeluknya dari belakang, detik itu pula Sanchia menghempaskan tangan Sall dengan sangat kasar.


"Sweetheart sudah dong, jangan marah lagi. Kamu jelas tahu, kalau wanita gatal itu yang menggodaku. Aku sama sekali tidak tergoda dengan rayuannya. Aku bahkan mengusirnya, dan menyuruhnya untuk tidak menampakan dirinya lagi di hadapan kita. Tolong Sweetheart, aku benar-benar minta maaf, karena terlambat mencegahnya untuk.."


Sanchia membalikan badannya seketika, sehingga mengejutkan dan menghentikan perkataan Sall yang belum selesai.


Tanpa mengatakan sepatah katapun, tiba-tiba tangan Sanchia mendarat di perut Sall dan mencubit serta memelintirnya begitu kuat, sampai Sall meringis kesakitan.


"Aaaaaaawwww.."


"Ini hadiah dariku dan anak kita, dia juga tidak mau mempunyai Daddy payah yang tidak bisa menolak rayuan wanita lain."


***********************


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight