The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 109 Welcome to the World



KNIGHT GROUP HOSPITAL


Suasana Rumah Sakit milik Knight Group Company yang senyap, mendadak sibuk karena kedatangan sang pemilik Rumah Sakit yang panik karena istrinya hendak melahirkan. Terlebih Papa Leonard, Mama Annesya dan anak buah Sall yang ikut menemani, menambah riuh keadaan Rumah Sakit dini hari itu.


Direktur Rumah Sakit sekaligus jajarannya langsung bergegas datang, demi memberikan pelayanan paling bagus untuk Boss tertinggi mereka. Apalagi kali ini, mereka harus melakukan upaya terbaik di moment special Sall dan juga istrinya. Dokter Margareth yang bertindak sebagai Dokter utama dalam persalinan Sanchia nanti, akan didampingi dokter dan tenaga medis terbaik, agar persalinan berjalan lancar tanpa hambatan.


Masih teringat jelas di benak seluruh Dokter dan petinggi Rumah Sakit, saat Sanchia dan Sall begitu terpukul kehilangan bayi Sairish hampir 11 bulan yang lalu. Dan kali ini mereka ingin ambil bagian dalam moment luar biasa di keluarga Knight, yang pastinya sangat membahagiakan itu.


Di ruang VVIP Rumah Sakit, Sall terlihat mengelus lembut pinggang dan punggung Sanchia yang menurut Sanchia terasa sakit dan panas. Sesekali Sall memegangi tangan Sanchia saat berjongkok dan berjalan pelan untuk mempercepat pembukaan yang baru mencapai pembukaan 2. Papa Leonard dan Mama Annesya pun bergantian mengambilkan makanan ringan dan air minum untuk Sanchia, agar Sanchia tidak lemas & dehidrasi saat melahirkan.


"Honey.. Sakiiiitt.. Bisakah mereka mempercepat pembukaannya?"


Untuk ke sekian kalinya Sall berteriak memanggil Dokter Margareth, karena tidak tega melihat Sanchia yang terus meringis kesakitan. Dokter Margareth langsung bergerak mengecek pembukaan jalan lahir Sanchia.


"Sudah pembukaan 7 Nyonya Sanchia, sabar ya.. Kami akan segera memindahkan anda ke ruang persalinan. Siapkan diri anda Tuan Sall, sebentar lagi istri anda akan berjuang melahirkan anak anda."


Hati Sall bergetar begitu mendengar ungkapan Dokter Margareth, rasa gugup yang menyerangnya sejak tadi, semakin bertambah. Namun dia berusaha mengurangi kegugupannya dengan menarik nafas panjang seraya menatap wajah Sanchia yang sudah bersimbah peluh.


"Sabar ya Sweetheart.. Kamu harus kuat, demi anak kita."


Sungguh tidak tega Sall melihat keadaan istrinya yang kesakitan dan sesekali membuang nafasnya dengan perlahan. Namun Sall tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengurangi rasa sakit yang dirasakan istrinya, sehingga Sall hanya bisa menggenggam tangan Sanchia dengan erat, dan membiarkan Sanchia meremas tangannya saat perutnya terasa semakin sakit.


Setelah dipindahkan ke ruang persalinan, rasa gugup Sall bertambah berkali-kali lipat. Namun Sall terus berusaha menguatkan istrinya yang mulai lemah dan kelelahan.


"Tekanan darahnya terlalu rendah, apa Nyonya Sanchia yakin akan melahirkan secara normal?"


"Iya Dok.. Saya ingin mengejan sekarang, rasanya sakiiiitt.."


"Sebentar lagi Nyonya, sabar pembukaannya belum sempurna."


Sall meremas rambutnya dengan sebelah tangan, ikut merasa tidak sabar seperti Sanchia. Apalagi melihat keadaan istrinya yang sudah sangat mengkhawatirkan dengan peluh dan air mata di wajahnya. Sall mengelap wajah Sanchia dengan tissue, namun tiba-tiba cairan ketuban Sanchia pecah bersamaan dengan pembukaan jalan lahir yang sudah sempurna.


"Ayo Nyonya, mulai mengejan..Push Nyonya.."


"Aaaaa..."


Sanchia mulai mengejan, bersamaan dengan kuku-kukunya yang menancap di pergelangan tangan Sall sampai meninggalkan bekas dan mengeluarkan darah. Sall sama sekali tidak peduli dengan rasa sakit yang dirasakannya, dia tahu kalau rasa sakit yang dirasakan istrinya berkali-kali lipat jauh lebih sakit dari dirinya. Sall terus saja mengelus dahi dan pelipis Sanchia seraya mengatakan kata-kata yang menguatkan dan menenangkan.


"You can do it, Sweetheart (Kamu bisa melakukannya, Sweetheart)."


Sementara di luar ruang persalinan, Papa Leonard dan Mama Annesya tampak begitu cemas, berjalan mondar-mandir, menunggu kabar bahagia dari dalam ruangan di hadapan mereka. Tidak jauh berbeda dengan Papa Leonard dan Mama Annesya, Leon dan Leroy pun tampak ikut cemas menunggu kelahiran calon keponakan mereka. Sampai akhirnya suara tangis yang samar, terdengar dari dalam ruang persalinan.


"Alhamdulillah.." Ucap Papa Leonard, Mama Annesya, Leon dan Leroy secara bersamaan.


Di dalam ruang persalinan, Sall mencium lembut kening Sanchia, seraya meneteskan air mata yang ditahannya sejak tadi. Rasa lega, haru, syukur dan bahagia bercampur menjadi satu, diungkapkannya dalam satu kalimat yang begitu tulus terdengar di telinga Sanchia.


"Anak kita sudah lahir, Sweetheart.. Cantik sekali, mirip seperti kamu. Terima kasih Sweetheart.. I love you so much.." Sanchia tersenyum tipis, memandang wajah Sall dengan sendu. Sesaat kemudian, pandangan Sanchia dan Sall beralih pada sang bayi cantik di sebelah mereka.


"Welcome to the world, Baby.." Ujar Sall dengan penuh rasa bahagia.


Sall mengadzani Putrinya yang berada di dalam box tidur, sesekali sang bayi menggeliat mendengar suara merdu Daddy-nya yang terdengar menenangkan. Sampai akhirnya suara adzan Sall diakhiri dengan ciuman di kening Putrinya, yang langsung melengkungkan senyum manisnya pada Sang Daddy.


"Bayi kita tersenyum, Sweetheart. Terima kasih karena sudah berjuang dan bertaruh nyawa demi anak kita." Sanchia menganggukkan kepalanya seraya mengulas senyum.


'Aku tidak akan pernah menyakiti wanita yang sudah berjuang dan bertaruh nyawa untuk melahirkan anakku. Aku berjanji akan membahagiakan dan melindunginya seumur hidupku.' Tekad Sall dalam hati, seraya menghapus sisa air mata di pipinya.


Moment indah dihadapannya, lagi-lagi berhasil membuat Sall merasa terharu, saat melihat bayi perempuannya berusaha mencari sumber makanannya untuk pertama kali. Sall merasa takjub melihat Putrinya yang begitu bersemangat menyes*p makanannya, meskipun dengan mata yang masih setengah terbuka. Dan semua moment berharga itu terekam jelas oleh camera yang sudah Leon siapkan dibantu pihak Rumah Sakit, tentunya atas instruksi Sall.


Tiba-tiba pikirannya teringat pada kedua orangtuanya yang sudah meninggal. Rasanya sesak sekali karena Sall tidak bisa berbagi kebahagiaan dengan kedua orangtuanya. Terlebih Sall teringat sang Mommy yang sudah berjuang melahirkannya dengan susah payah.


'Mommy, terima kasih karena sudah melahirkan Sall ke dunia, hingga Sall bisa bertemu istri yang luar biasa bernama Sanchia. Dan sekarang Mommy sudah jadi seorang Nenek, karena aku sudah mempunyai bayi yang sangat lucu.. I love you, Mommy..' Ungkap Sall dalam hati.


*************************


RUANG VVIP - KNIGHT GROUP HOSPITAL


2 hari kemudian..


Bayi perempuan berbaju pink yang tertidur lelap di dalam box bayinya, kini terlihat dikerubungi beberapa anak batita dan beberapa orang dewasa. Binar kagum dan bahagia, terpancar jelas dari wajah-wajah itu, bahkan pujian serta doa tidak henti keluar dari mulut mereka.


Sahabat-sahabat Sanchia dan Sall sengaja mengatur janji agar datang bersamaan, sehingga mereka bisa sekalian berkumpul di moment berharga milik Sall dan Sanchia ini. Sahabat dengan jarak terdekat ada Bryllian, Zivara dan si kembar Bradley dan Briley. Brandon, Sharon dan putra mereka Zeroun langsung terbang dari Korea begitu mendengar Sanchia melahirkan. Kevin, Nieva dan Keiva yang baru pulang dari Inggris ke Indonesia beberapa minggu yang lalu pun, segera terbang kembali menuju London, demi melihat keadaan Sanchia dan baby-nya.


Sementara Sall duduk di tepi tempat tidur Sanchia, seraya mengelus lembut pelipis Sanchia dan memandangi anaknya yang tidak terganggu sama sekali dengan orang-orang disekitarnya.


"Siapa namanya Sall?" Tanya Bryllian yang mewakili rasa penasaran semua orang di ruangan itu.


"Masih aku pikirkan, aku bingung memilih nama terbaik dari nama-nama yang sudah aku kumpulkan bersama Sanchia. Akan aku beritahu saat acara Aqiqah nanti."


"Baiklah.." Jawab Bryllian singkat diikuti anggukkan kepala yang lainnya.


"Cantik.." Ujar Bradley & Zeroun bersamaan, seraya menyentuh pipi baby Sall & Sanchia dengan jari-jari mereka. Namun tiba-tiba Shawn mengangkat dan menjauhkan tangan Bradley dan Zeroun dari pipi adiknya.


"Don't touch her.. (Jangan menyentuhnya..)"


Sikap Shawn membuat semua orang dewasa tertawa, namun tidak dengan Bradley & Zeroun yang terlihat merengut kesal ke arah Shawn. Tapi Shawn hanya memasang raut tidak berdosanya, lalu memegang sebelah tangan adiknya dengan kedua tangan.


*************************


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight