
MANSION SALL & SANCHIA - LONDON, INGGRIS
Pagi yang cerah dengan sinar matahari yang bergerak naik, menghangatkan tubuh Papa Leonard dan Mama Annesya yang sedang menikmati sarapan mereka di taman belakang. Keduanya sesekali berbincang tentang anak-anak, menantu dan tentunya cucu-cucu mereka yang sangat menggemaskan.
Namun terselip kekhawatiran dari keduanya, karena merasa ada sesuatu yang janggal dengan sikap Sall kepada Leon. Selama beberapa hari ini, Sall terlihat acuh tak acuh pada Leon. Meskipun tidak terlihat marah, tapi Sall seringkali mengabaikan keberadaan Leon.
Papa Leonard dan Mama Annesya pun merasa heran, karena Marlon alias Marry sudah lama tidak mampir ke mansion. Papa Leonard dan Mama Annesya menyukai Marry yang selama beberapa lama sempat menjadi bodyguard yang diutus Sall untuk menjaga mereka setelah Sall dan Sanchia pindah ke Inggris. Apalagi Marry adalah sahabat sekaligus orang kepercayaan Sall, sudah tentu Papa Leonard dan Mama Annesya memperlakukannya begitu baik, sama seperti mereka memperlakukan Leon dan Leroy sahabat baik Sall.
Tampak Sall menggendong Shawn yang terlihat memainkan rubiknya, sementara Sanchia berjalan di sebelah Sall seraya menggendong Shanaya.
"Eh cucu-cucu Grandpa dan Grandma sudah bangun."
Tangan Papa Leonard terentang meminta Shawn untuk berpindah dalam pelukannya, dan Shawn pun begitu bersemangat memeluk Grandpa-nya yang begitu memanjakannya itu. Sall dan Sanchia lalu duduk berhadapan dengan Papa Leonard dan Mama Annesya yang mulai sibuk mengajak Shawn bercanda. Sayangnya Shanaya malah tertidur, sehingga akhirnya ditidurkan di dalam stroller yang diantarkan babysitter-nya.
"Grandpa, kita main lagi."
"Siap, nanti kita main lagi, tapi kamu harus sarapan dulu sekarang." Jawab Papa Leonard, setelah dua orang pelayan meletakkan makanan untuk sarapan Shawn, Sall dan juga Sanchia. Shawn segera membuka mulutnya, menerima suapan dari sang Grandma yang bergegas mengambil semangkuk oatmeal buah kesukaan Shawn.
"Anak pintar.. Makan makanan bergizi ya, supaya sehat dan cepat tinggi." Ujar Mama Annesya, membuat Shawn semakin bersemangat melahap makanan yang disuapkan Grandma-nya itu.
Shawn dan Sanchia pun ikut menikmati sarapan mereka yang berbeda menu. Sanchia memilih memakan salad buah lengkap dengan susu kedelai untuk memperlancar ASI-nya. Sedangkan Sall begitu lahap memakan roti cokelat dan secangkir espresso untuk memulai harinya.
"Sall.. Apa yang terjadi denganmu dan Leon?"
Pertanyaan Papa Leonard seketika menghentikan Sall yang sedang menyesap espresso-nya, setelah menghabiskan setangkup roti cokelatnya.
"Hanya sedikit masalah Pa, bukan masalah besar." Jawab Sall, tidak ingin membuat kedua mertuanya khawatir.
"Kalian sudah dewasa, bagaimanapun Leon adalah sahabatmu yang sudah seperti saudaramu sendiri. Selesaikan masalah kalian, jangan memelihara emosi yang membuat hubungan persaudaraan kalian jadi rusak."
"Iya Pa.." Jawab Sall seraya menganggukkan kepalanya mendengar nasehat Papa Leonard.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba Leon dan Leroy muncul dengan masing-masing membawa nampan berisi sepiring nasi goreng, secangkir jasmine tea dan segelas air putih.
"Bolehkah kami bergabung?" Tanya Leroy dengan mengulas senyum tipisnya.
"Tentu saja." Jawab Sanchia dan Mama Annesya bersamaan.
"Duduklah Leroy, Leon.. Rasanya sudah lama tidak sarapan bersama." Papa Leonard mencoba mencairkan suasana, terlebih melihat Sall yang terus saja menghunuskan tatapan tajamnya pada Leon yang terlihat pasrah. Leroy dan Leon segera duduk di kursi sebelah Papa Leonard.
"Hai keponakan Uncle yang tampan.. Wah hebat sekali, kamu menghabiskan makananmu. Kamu bisa cepat tinggi seperti Daddy-mu." Puji Leroy pada Shawn yang baru saja menghabiskan suapan terakhirnya.
"Aku mau cepat tinggi dan kuat Uncle." Respon Sawn yang begitu bersemangat, membuat suasana menjadi begitu cair dan penuh senyuman.
"Grandpa.. Grandma, ayo kita bermain." Ajak Shawn seraya menarik tangan Papa Leonard dan Mama Annesya.
"Baiklah, ayo kita bermain di ruang bermain ya." Jawab Papa Leonard antusias.
"Shawn, tidak lari-lari dulu ya, kamu baru saja makan."
"Baiklah, aku juga sudah selesai sarapan. Aku harus menidurkan Shanaya di kamarnya. Honey, aku tinggal dulu ya." Sall mengangguk menanggapi perkataan Sanchia, lalu mencium pipi Sanchia sebelum pergi bersama Shanaya yang tertidur di dalam stroller-nya.
Tinggallah Sall bersama Leon dan Leroy yang sudah menghabiskan sarapan mereka. Wajah Sall datar dengan tatapan yang masih saja belum berubah memandang Leon, membuat Leon menghela nafas panjang seraya merangkai kata di dalam otaknya.
"Sall.. Aku benar-benar minta maaf, tidak pernah terbersit sedikitpun untuk mengkhianati klan apalagi persahabatan kita. Jujur aku sempat menutupinya dari kamu, tapi bukan untuk mengkhianati klan, aku hanya lupa sesaat karena seorang gadis. Aku sudah putuskan untuk melupakan gadis itu, apalagi ternyata dia adalah anak bungsu dari Juan Abraham Laren, ketua klan terbesar di Perancis yang mengundangmu kemarin. Setelah aku selidiki, klan-klan kecil yang pernah kita kalahkan, meminta bantuan klan Perancis itu untuk melawan kita. Tapi sepertinya klan Perancis itu sudah mengetahui kekuatan Toddestern, karena sekarang mereka semua sudah kembali ke Perancis." Sall menangkap raut sedih di wajah Leon saat mengatakan kalimat terakhirnya.
"Lalu fakta apa lagi yang kamu dapatkan tentang gadis itu?" Leon tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya, terlebih Sall terlihat menuntut jawaban yang bisa memuaskannya.
"Gadis itu bernama Leandra Janicia Laren, tapi dia mengenalkan dirinya sebagai Janice. Juan Abraham Laren mempunya dua orang anak, kakak Leandra bernama Leticia Janica Laren. Setelah aku selidiki dengan meretas ponsel Leandra, seharusnya yang menjalankan misi untuk mengikutiku adalah Leticia, tapi Leticia mengalami kecelakaan motor sehari sebelumnya, sehingga akhirnya Leandra meminta untuk menggantikan tugas Leticia dibantu anak buah Ayahnya."
Sall tidak merespon penjelasan Leon yang begitu panjang, matanya masih memperhatikan raut wajah Leon yang sendu, sedih dan terlihat berantakan.
"Apa kamu benar-benar sudah jatuh cinta pada gadis itu?" Jantung Leon terasa melompat dari tempatnya, pertanyaan Sall benar-benar tidak diduganya sama sekali.
"A..Aku.. akan melupakan gadis itu." Jawab Leon terbata-bata.
Sall berdiri lalu memasukkan kedua tangan ke masing-masing saku celananya, seraya memandang Leon yang masih bingung dengan reaksi Sall.
"Jika suatu saat kamu bertemu lagi dengan gadis itu, dan perasaanmu masih sama, taklukan dia dengan orangtuanya. Tapi jika kamu tidak bisa melakukannya, maka kamu harus melupakannya." Leon masih mencerna perkataan Sall, tanpa menyadari Sall sudah berjalan masuk ke dalam mansion.
"Semangat Bro.." Tepukan tangan Leroy di bahu Leon, kembali menarik kesadaran Leon.
"Leroy.. Apa Sall baru saja memberiku restu untuk bersama Leandra? Apa aku tidak salah dengar?"
"Kamu tidak salah dengar Bro.. Hanya saja aku tidak yakin kamu bisa menaklukan Ayahnya Leandra, hahaha.." Leroy berlari meninggalkan Leon dengan tawa yang begitu lepas, tanpa mempedulikan ekspresi Leon yang kesal dengan ejekan sahabatnya itu.
"Si**an.. Bukannya mendukung, malah menjatuhkan semangatku." Gumam Leon lalu mengejar Leroy yang mempercepat langkah kakinya.
*************************
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight