
Seorang gadis bernama Jillian Prisa Nararya, tba-tiba kehilangan kehormatannya karena diambil paksa oleh laki-laki tidak dikenal, tepat di malam anniversary hubungannya dengan Jordan. Jillian begitu terpukul dan merasa tidak pantas untuk meneruskan hubungannya bersama Jordan, terlebih saat mendapati kalau dirinya hamil. Namun saat Jillian jujur tentang kemalangan yang menimpanya dan meminta Jordan untuk pergi dari hidupnya, Jordan justru berrsedia menikahi Jillian, karena begitu tulus mencintai Jillian.
Meskipun awalnya menolak karena takut Jordan menyesali keputusannya, tapi akhirnya Jordan berhasil meyakinkan Jillian, bahwa dirinya serius untuk menikahi Jillian.
Namun malang, tepat di malam sebelum pernikahan mereka dilaksanakan, Jordan mengalami kecelakaan hingga menyebabkan dirinya meninggal dunia. Jillian begitu terpukul saat kehilangan Jordan, dan harapannya untuk menikah dengan Jordan pun pupus sudah.
Kedua orangtua Jordan yang menginginkan cucu di dalam kandungan Jillian yang mereka anggap anak Jordan ternyata memutuskan untuk menikahkan Jillian dengan kakak Jordan yang bernama Jeffran Nicholas Smith.
Meskipun Jillian dan Jeffran sama-sama menolak dinikahkan, tapi pada akhirnya pernikahan mereka tetap terjadi. Hingga Jillian menemukan kenyataan mengejutkan bahwa Jeffran, laki-laki yang sudah resmi menjadi suaminya, ternyata adalah laki-laki yang sudah menghancurkan masa depan dan merusak semua impiannya. Bagaimana jadinya nasib pernikahan mereka, jika dilandasi perasaan terpaksa dan kebencian?
**************************
Episode 1
Gadis berambut panjang berdiri dibawah guyuran hujan deras di sebuah taman yang sepi di salah satu sudut Kota Jakarta. Tidak peduli malam semakin gelap, serta angin kencang juga air hujan yang membuat badannya semakin menggigil. Dia hanya ingin menyembunyikan tangisnya yang tidak bisa dia hentikan karena beratnya beban yang dia pikul saat ini.
Hatinya teriris pilu, mendapati kenyataan bahwa dia sudah kehilangan kehormatannya lebih dari sebulan yang lalu, karena diambil paksa oleh seseorang yang tidak dikenalnya. Malam anniversary yang seharusnya dia lewati dengan indah bersama kekasihnya yang merupakan kakak angkatannya di kampus, dan sudah bersamanya selama 2 tahun itu, berubah menjadi malam penuh petaka baginya.
'Bagaimana aku memberitahu kedua orangtuaku? Aku juga tidak mungkin bisa melanjutkan hubunganku dengan Jordan. Dia pasti kecewa dan tidak mau menerima perempuan yang sudah kotor sepertiku. Apalagi sekarang aku.. hamil..' Tubuhnya roboh hingga terduduk di atas tanah yang basah, membuat pakaiannya menjadi kotor.
Wajahnya perlahan mendongak, saat dirasakannya air hujan tidak lagi membasahi tubuhnya yang memang sudah basah kuyup. Ternyata bukan karena hujan yang sudah berhenti, melainkan ada seorang pria yang berdiri dihadapannya seraya memegang payung dan memandangnya dengan raut khawatirnya.
"Jee.. Akhirnya aku menemukanmu, Sayang." Tangis perempuan yang bernama lengkap Jillian Prisa Nararya itu semakin menjadi, saat dilihatnya laki-laki yang dicintainya berada tepat di hadapannya.
"Jordan.." Lirih Jillian dengan tatapan sendunya.
Jordan Abraham Smith, laki-laki tampan blasteran Inggris-Indonesia yang sudah 2 tahun ini menjadi kekasihnya, perlahan berjongkok lalu memegang bahu Jillian dengan sebelah tangannya. Tatapan khawatir dan penuh kasih sayang itu masih sama, membuat Jillian merasakan sesak di dadanya.
"Sayang, ayo kita ke apartemenku. Kamu harus mengeringkan dan mengganti bajumu. Nanti aku antar pulang." Jillian masih bergeming, enggan menuruti permintaan Jordan yang sebenarnya membuat hatinya haru.
"Jordan.. Lupakan aku.. Kita tidak bisa bersama lagi, aku tidak layak untukmu." Ucap Jillian lirih.
Sebelah tangan Jordan kini menangkup pipi Jillian yang semakin basah karena air mata yang mengalir deras.
"Jelaskan padaku apa alasanmu, agar aku bisa mengerti. Kamu selalu menghindariku selama beberapa minggu ini, aku tidak tahu apa salahku hingga kamu memintaku melupakanmu." Jawab Jordan begitu lembut, membuat hati Jillian semakin terenyuh dan merasa bersalah.
"Tidak ada yang salah denganmu, justru aku yang salah." Jillian menundukkan kepalanya, tidak kuasa memandang wajah Jordan yang begitu dicintainya.
"Jelaskan padaku di apartemenku, kamu bisa sakit kalau terus-terusan memakai baju basah. Apalagi anginnya cukup kencang." Akhirnya Jillian mengangguk pasrah menuruti Jordan yang kemudian memapahnya menuju mobil Jordan yang terparkir di depan taman.
Sesampainya di apartemen Jordan, Jillian segera membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya yang basah dengan pakaian yang dibeli Jordan di mall yang terletak tidak jauh dari apartemennya.
Jordan menyajikan secangkir jasmine tea hangat dan sepiring cheese cake di hadapan Jillian yang duduk di atas sofa ruang tamunya. Wajah Jillian terlihat begitu pucat, semakin membuat Jordan merasa khawatir akan keadaan kekasihnya itu.
"Makanlah Sayang, aku yakin kamu belum mengisi perutmu kan? Maaf hanya ada ini di lemari es-ku. Apa kamu menginginkan makanan lain, biar aku pesankan?" Jillian hanya menggeleng pelan, mendengar tawaran Jordan. Sungguh dirinya tidak memiliki selera makan saat ini. Tapi perutnya yang berbunyi tentu mengisyaratkan kebalikannya.
Jordan tersenyum tipis mendengar suara perut Jillian yang lumayan kencang itu, hingga akhirnya Jillian memilih menyuapkan potongan cheese cake ke dalam mulutnya, setelah terlebih dahulu menyesap jasmine tea-nya.
"Pelan-pelan Sayang.. Jika kamu masih belum kenyang, cheese cake-nya masih ada kok." Ucap Jordan yang langsung diangguki Jillian.
Hanya berselang beberapa menit saja, cheese cake dihadapan Jillian sudah tandas tak bersisa.
"Jordan, apa aku boleh minta lagi?" Pertanyaan Jillian yang terdengar ragu, disambut Jordan dengan senyuman di wajah tampannya.
"Uweeek..Uweeekk.." Jordan bergegas mendekati Jillian yang menunduk di depan wastafel. Perlahan tangannya memijat pelan tengkuk Jillian, agar Jillian bisa mengeluarkan isi perutnya. Sama sekali tidak ada rasa jijik melihat kekasihnya memuntahkan semua makanan yang sudah dimakannya, Jordan justru terlihat begitu khawatir dengan keadaan Jillian.
"Sudah lega?" Jillian hanya mengangguk pelan, lalu mengikuti langkah Jordan yang kemudian memapahnya kembali menuju sofa. Jordan mendudukkan Jillian di atas sofa, lalu duduk disebelah Jillian. Jordan menyodorkan secangkir jasmine tea yang masih tersisa setengah itu, dan langsung diteguk Jillian hingga tandas.
"Sebaiknya kita ke dokter ya, sepertinya kamu masuk angin, Sayang." Jillian menggeleng cepat menolak tawaran Jordan. Mual dan muntah memang sudah dirasakannya selama beberapa hari ini, dan itu bukan karena masuk angin, melainkan karena dirinya yang sedang berbadan dua.
"Jordan.. Ada yang harus aku bicarakan." Lirih Jillian seraya menatap dalam netra Jordan yang berwarna hazel.
"Katakan, apa yang ingin kamu bicarakan." Kali ini Jordan menghadapkan tubuhnya ke arah Jillian dengan kedua tangan menggenggam erat tangan Jillian.
"Aku mau kita putus." Jordan berusaha bersikap tenang, meskipun lagi-lagi harus mendengar kalimat yang tidak ingin didengarnya dari mulut Jillian.
"Kenapa?" Suara tenang dan lembut dari mulut Jordan, membuat Jillian tidak tega. Namun keputusannya sudah bulat untuk mengakhiri hubungannya dengan Jordan.
"Kamu berhak bahagia dengan gadis lain, sedangkan aku tidak mungkin bersamamu lagi." Akhirnya air mata Jillian kembali jatuh melalui kedua sudut matanya.
"Aku hanya bisa bahagia bersamamu, Sayang. Kenapa kamu terus mendorongku untuk pergi dari kamu? Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Tolong beri aku penjelasan!" Suara yang awalnya lembut itu, sedikit meninggi karena tidak sabar menunggu penjelasan Jillian.
"Aku tidak layak untukmu, Jordan.." Lirih Jillian seraya menundukkan kepalanya menghindari tatapan Jordan yang mengintimidasi.
"Tapi kenapa Sayang?" Tanya Jordan semakin tidak sabar.
"Karena aku sudah kotor. Aku diperkosa.." Jordan begitu terkejut mendengar perkataan Jillian, hingga melepas genggaman tangannya dari kedua tangan Jillian. Matanya tampak menatap Jillian dengan pandangan tidak percaya, bahkan kepala Jordan menggeleng beberapa kali.
"Katakan kalau kamu hanya bercanda.." Pinta Jordan dengan nada memelas.
"Apa mungkin aku bercanda mengenai hal sebesar ini Jordan." Nada suara Jillian yang meninggi menyadarkan Jordan kalau kekasihnya itu memang mengatakan hal yang sebenarnya. Namun hati dan pikirannya menolak untuk percaya. Berharap kalau Jillian hanya sedang mengerjainya saja.
"Siapa yang melakukannya?" Kedua bahu Jillian tampak bergetar, saat Jordan mengguncangnya sedikit keras.
"Aku sungguh tidak mengenalnya Jordan.. Saat itu aku menunggumu menjemputku di dekat kampus, untuk merayakan hari anniversary kita. Tapi kamu tidak juga datang, bahkan sampai malam kamu tetap tidak datang. Tiba-tiba sebuah mobil sport hitam berhenti di depanku, seorang laki-laki yang terlihat mabuk keluar dan langsung menarikku untuk masuk ke dalam mobilnya. Aku berteriak, menendang kakinya dan meronta sekuat tenaga, tapi dia membekapku dan kekuatanku tidak sebanding dengan tenaganya yang besar. Hingga dia berhasil mendorongku masuk ke dalam mobilnya." Isak Jillian terdengar semakin keras, sebelum dia kembali melanjutkan ceritanya. Sementara Jordan pun menangis meskipun tanpa suara.
"Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, aku terus berusaha membuka pintu mobil dan menyuruhnya untuk menghentikan mobilnya dengan mencoba mengambil alih kemudi. Hingga akhirnya mobil itu berhenti saat menabrak sebuah pohon di pinggir jalan. Kepalaku membentur jendela mobil hingga kepalaku terasa pusing sekali. Laki-laki itu memanfaatkan kesempatan dengan menurunkan sandaran kursi mobil, lalu mengikat dan mengangkat kedua tanganku diatas kepala. Saat itu kepalaku terasa semakin pusing, badanku pun lemas, hingga akhirnya dia menindih tubuhku.." Tangis Jillian kembali pecah, tubuhnya bergetar hebat, dengan tangan sesekali memukul dadanya yang sesak. Jordan yang menahan isaknya sejak tadi, kini menangis sesenggukan. Dipeluknya tubuh Jillian dengan erat, hingga air matanya tumpah di bahu kekasih yang begitu dicintainya itu.
"Maafkan aku, seharusnya saat itu aku tidak terlambat menjemputmu. Jika saja aku tidak terlambat, semua kejadian buruk ini tidak akan terjadi." Sesal Jordan semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku akan tetap bersamamu.." Lirih Jordan lalu menatap dalam netra Jillian yang memerah, tanpa melepas pelukannya dari tubuh Jillian.
"Tapi aku hamil, Jordan.." Ucapan Jillian bagaikan petir yang menyambar, seketika pelukan Jordan terlepas, diiringi air mata yang mengalir semakin deras.
*************************
IG : zasnovia
Akhirnya Novel ke-5 launching juga, meskipun sebenarnya novel ke-4 masih on-going.. 🤭
Semoga berkenan mampir & suka ya sama alurnya.. ☺️
Terima kasih banyak ya atas Like, Rate bintang 5, Favorit dan Comment-nya, selalu menjadi semangat dan motivasi lebih untukku menulis..🥰
Semoga selalu sehat, bahagia, banyak rezeki dan sukses selalu ya semuanya. Love u all ❤️❤️❤️❤️❤️