
Pandangan Sall mengarah pada seorang anak blasteran berusia 10 tahun, yang kini menatapnya dengan raut datar dan sedikit dingin. Entah kenapa Sall merasakan aura kemarahan dari wajah anak laki-laki dihadapannya. Begitupun dengan Sanchia yang berdiri tepat disebelah Sall.
"Terima kasih banyak, karena kamu sudah menolong dan menggagalkan penculikan kedua anak kami." Ungkap Sanchia tulus seraya mendekat dan duduk di tepi tempat tidur Drake.
Pandangan Drake masih terlihat dingin, namun kepalanya sedikit mengangguk diikuti suaranya yang terdengar sedikit serak saat berbicara.
"Saya mau pulang."
"Beristirahatlah dulu. Tubuhmu mendapat banyak luka, kami akan merawatmu sampai sembuh." Ujar Sall, ikut mendekat dan berdiri disebelah istrinya.
"Tidak usah, saya tidak butuh belas kasihan kalian." Sall dan Sanchia terkejut sekaligus merasa tertohok dengan perkataan Drake yang terdengar kasar. Terlebih saat Drake berusaha menyeret tubuhnya untuk menuruni tempat tidur. Namun Sall menahan tubuh kecil Drake dengan kedua tangan kekarnya, agar tetap berada di atas tempat tidur.
"Jangan keras kepala, lukamu masih sangat baru, kamu harus beristirahat." Perkataan Sall yang terdengar dingin, berhasil menghentikan pergerakan Drake yang kini memilih diam.
"Kami akan membawakanmu makanan, pasti kamu lapar. Setelah itu, kamu harus meminum obat yang diberikan dokter ya." Sentuhan lembut tangan Sanchia di lengan Drake, sedikit mengejutkan Drake yang sudah lama tidak menerima perhatian dari siapapun. Perlahan dipalingkannya pandangan ke arah lain, memilih mengalihkan perasaan rapuh yang mulai merayapi hatinya saat ini. Namun panggilan Sanchia kembali mengalihkan pandangannya.
"Drake, maafkan aku, apa mendiang orangtuamu adalah orang asing?" Sanchia bertanya dengan sangat hati-hati, tidak ingin Drake menjadi sedih saat mengingat kedua orangtuanya.
"Ayahku orang Irlandia dan Ibuku orang Indonesia. Tadi aku hanya menyelamatkan anak-anak yang butuh pertolongan. Setelah beristirahat sebentar, aku akan pergi dari sini." Sall dan Sanchia kembali terhenyak, menyadari betapa keras kepalanya anak laki-laki dihadapan mereka ini. Namun daripada berdebat, Sall dan Sanchia memilih mengangguk dan mengiyakan, sebelum akhirnya pergi dari kamar itu.
*************************
Sall dan Sanchia merebahkan tubuh mereka yang terasa lelah dan penat di atas tempat tidur. Mereka baru saja selesai membaca profil Drake berdasarkan informasi yang didapat Arthur dari orang-orang di sekitar Drake. Sall dan Sanchia merasa perasaan mereka bagaikan diaduk-aduk saat membaca informasi itu. Keduanya merasakan kesedihan atas nasib Drake, namun di sisi lain mereka juga begitu kagum pada kemandirian Drake. Bagi Sall dan Sanchia, Drake bukanlah hanya sekedar anak berusia 10 tahun, takdir membuatnya tumbuh lebih cepat & lebih dewasa dari umurnya.
'Drake Alexander. Berusia 10 tahun. Kedua orangtuanya bernama Davey Alexander asal Irlandia dan Nilam Andita asal Jakarta-Indonesia. Keduanya bertemu saat berlibur di Bali. Mereka memutuskan menikah dan merintis bisnis di Bali sampai menjadi pengusaha restaurant sukses di Bali. Namun keduanya jatuh miskin, setelah Davey ditipu oleh rekan bisnis yang juga sahabat karibnya. Selama lebih dari setahun, Davey, Nilam dan Drake menempati sebuah rumah sederhana di pinggiran Kuta. Drake dan Nilam hidup dengan berjualan makanan sederhana di pantai Kuta. Namun karena penyakit ginjal yang dideritanya, juga menanggung beban hutang yang masih banyak, akhirnya Davey meninggal setelah dirawat 1 minggu di Rumah Sakit. Seminggu kemudian, Nilam yang sudah terlihat depresi, memilih mengakhiri hidupnya dengan menenggak sebotol obat tidur. Sejak saat itu, Drake hidup sebatang kara, dengan karakter yang berubah dingin dan tidak percaya pada orang lain. Terlebih orang kaya yang seringkali memanfaatkan dan merendahkan orang lain. Drake berjuang keras demi hidupnya tanpa meminta bantuan oranglain, dia bekerja dengan jujur, namun selalu membatasi pergaulannya dengan orang lain.'
Sanchia menghadapkan wajahnya ke arah sang suami yang bersiap menutup matanya dengan posisi terlentang.
"Drake adalah anak yang baik, dia hanya bersikap waspada terhadap kita, Honey.. Aku kasihan padanya kalau dia tetap tinggal sebatangkara di Bali." Ujar Sanchia yang langsung diangguki oleh Sall, seraya menghadapkan wajahnya ke arah sang istri.
"Kita ajak saja dia ke Bandung, Sweetheart." Jawab Sall dengan entengnya.
"Kamu jelas tahu, kalau hal itu akan sangat sulit dilakukan. Dia bahkan sangat menjaga jarak dari kita, bagaimana mungkin dia mau ikut dengan kita begitu saja." Sanchia tentu saja merasa sangsi dengan ide Sall, meskipun sebenarnya dia pun berharap Drake mau ikut bersama mereka ke Bandung.
"Kita akan meyakinkannya sampai dia bersedia untuk ikut dengan kita. Entah kenapa, aku merasa instingku begitu kuat saat melihatnya, aku merasa dia akan tumbuh menjadi pribadi yang bisa dipercaya. Dia bisa menjadi sahabat serta pelindung bagi anak-anak kita. Aku yakin, kalau aku tidak salah menilai." Sanchia sedikit terkejut mendengar perkataan suaminya, namun hati kecilnya juga membenarkan apa yang diyakini oleh suaminya.
"Baiklah, aku akan berusaha meyakinkannya." Sall tersenyum mendengar jawaban Sanchia, dan langsung mendaratkan kecupan lembutnya di kening Sanchia.
"Terima kasih Sweetheart."
"Sama-sama Honey." Jawab Sanchia lalu mencium sekilas bibir Sall.
*************************
(Warning.. Khusus area dewasa. Selain umur 21+ dan sudah menikah, dilarang ngintip ya..)
Beberapa bulan kemudian..
Entah kenapa pemandangan matahari terbenam, selalu menjadi moment yang tidak pernah Sanchia dan Sall lewatkan jika sedang berlibur ke negara manapun. Tidak berbeda dengan kali ini, kedua pasangan suami istri itu begitu romantis menikmati pemandangan favorit mereka seraya berenang di kolam renang private di salah satu hotel terbaik di Kota Dubai.
Sall terlihat memeluk tubuh Sanchia dari belakang, keduanya sesekali saling mencumbu dengan tubuh tertutupi air sampai sebatas dada Sanchia.
Liburan kali ini, Sall dan Sanchia tidak ditemani anak-anak, Shawn dan Shanaya memilih berlibur ke Bandung sekaligus menjemput Drake yang akhirnya akan ikut pindah ke London bersama mereka. Memang tidak mudah meyakinkan Drake untuk ikut ke Bandung apalagi pindah ke London. Tapi ketulusan hati Sall dan Sanchia juga seluruh keluarganya, membuat Drake akhirnya yakin dan bersedia menjadi bagian dari keluarga besar Sall dan Sanchia. Terlebih Drake sangat menyukai kebersamaannya bersama Shawn, Shanaya juga Keiva.
Sanchia pada awalnya tidak yakin membiarkan Shawn dan Shanaya bersama keluarganya di Bandung, sementara dia dan Sall berlibur. Namun Sall terus meyakinkannya, kalau anak mereka akan baik-baik saja dengan keluarga besar mereka. Sesungguhnya Sall pun merasa sangat bahagia bisa berlibur hanya berdua dengan Sanchia, bukan karena tidak ingin diganggu anak-anak, tapi Sall merasa sudah terlalu lama dia dan Sanchia tidak menikmati moment-moment romantis hanya berdua saja. Sehingga di kesempatan kali ini, Sall ingin menikmati setiap waktu dan moment dengan hal-hal yang tidak akan pernah mereka lupakan di dalam hidup mereka.
"Sweetheart, naik yuk.. Kita lanjutkan di bathtub dan kamar." Bisik Sall di telinga Sanchia, yang membuat tubuh Sanchia meremang seketika. Apalagi bisikan sensual itu diakhiri Sall dengan menciumi telinga, leher dan bahu Sanchia.
Keduanya segera naik ke pinggir kolam renang, namun sebelum Sanchia sempat melangkah, Sall segera menggendong tubuh Sanchia ala bridal style, hingga Sanchia terpekik kaget.
Sall melabuhkan bibirnya di bibir Sanchia di sepanjang jalan menuju kamar tidur dan kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi, tampak pemandangan yang berhasil mengejutkan Sanchia. Bathtub penuh dengan kelopak mawar kini tampak tersaji didepan mata. Padahal sebelumnya Sanchia yakin sekali, kalau bathtub mereka masih kosong. Tanpa tahu kalau Sall sudah meminta pihak hotel menyiapkan segalanya saat mereka sedang berenang.
Sebetulnya kamar tidur dan kamar mandi mereka memang sudah dihias begitu indah saat pertama kali Sall dan Sanchia datang ke hotel itu, namun Sanchia tidak menyangka kalau Sall akan memanjakannya, bahkan sampai hari ke-3 mereka disana.
Setelah memasuki bathtub dengan posisi Sall dibelakang tubuh Sanchia, Sall kembali melanjutkan aksinya dengan mendaratkan bibirnya di telinga, bergerak menuju leher dan bahu Sanchia. Bibir nakalnya tentu saja begitu rajin menyesap dan meninggalkan jejak-jejak kepemilikan di area-area yang dilewatinya.
Merasa sudah tidak tahan untuk menuju menu utama, Sall memilih menggendong Sanchia keluar dari bathtub tanpa melepas pertautan bibir mereka. Keduanya kembali melanjutkan aksi mereka hingga sampai ke menu utama di beberapa spot andalan mereka di kamar mandi.
Seolah belum puas menjelajahi semua spot kamar mandi dengan berbagai adegan favorit mereka dalam waktu yang lama, Sall beralih menggendong tubuh indah istrinya menuju tempat tidur yang kembali menjadi saksi pertempuran mereka selanjutnya.
(Nahloh.. Travelling kan biarpun di skip & tidak detail, hehe..)
*************************
Makan malam romantis di atas rooftop hotel, dengan pemandangan langit berbintang yang indah, disuguhi hiasan serta hidangan yang memanjakan lidah, ditemani seseorang paling special dan berharga, tentunya menjadi moment paling sempurna bagi Sall dan juga Sanchia. Keduanya tidak henti mengulas senyum di wajah mereka yang rupawan. Suara merdu berisi ucapan terima kasih, pujian dan ungkapan cinta tidak hentinya keluar dari mulut Sall dan Sanchia.
Sall berkali-kali mencium lembut punggung tangan Sanchia, di sela-sela makan malamnya. Setelah puas menikmati hidangan, Sall mengajak Sanchia berdiri di tepi rooftop seraya mengagumi pemandangan Dubai yang penuh kerlap-kerlip lampu berwarna-warni. Sall menelusupkan kedua tangan kekarnya di pinggang Sanchia, lalu membalik tubuh Sanchia agar menghadapnya.
"Terima kasih untuk segalanya, Sweetheart.." Ucap Sall tulus dan penuh cinta.
"Honey, sudah berapa puluh kali kamu mengucapkan terima kasih padaku malam ini. Aku juga sangaaaattt berterima kasih padamu. Terima kasih untuk semua yang telah kamu berikan untukku. Aku merasa hidupku begitu lengkap dan sempurna karena kehadiranmu di hidupku." Balas Sanchia tidak kalah tulus dan penuh cinta seperti Sall.
"Sweetheart, sepertinya itu lebih layak menjadi dialogku." Protes Sall membuat Sanchia tergelak kecil.
"Aku beruntung memilikimu, Honey.." Lirih Sanchia dengan tatapan yang berubah sendu.
"Aku lebih beruntung memilikimu, Sweetheart.." Ungkap Sall tidak mau kalah.
"Aku mencintaimu, Honey.." Sanchia kembali mengungkapkan perasaan cintanya terhadap Sall, dan langsung dibalas ciuman lembut di bibir Sanchia.
"Aku lebih mencintaimu, Sweetheart.. Aku tidak bisa hidup tanpamu."
Sebuah ciuman lembut kembali berlabuh di bibir ranum Sanchia, yang langsung membalas pagutan Sall dengan sesapan dan lum**tan yang sangat menuntut. Tangan Sanchia yang sudah melingkar di leher Sall, sesekali beralih meremas rambut bagian belakang Sall.
Menyadari ciuman Sanchia yang berubah sangat liar, dan juga hasrat Sall yang mulai tidak bisa dikendalikan, Sall berinisiatif menggendong Sanchia untuk kembali ke kamar dan melanjutkan kegiatan favorit mereka disana.
Sanchia yang paham betul dengan gelagat Sall yang terlihat mati-matian menahan hasrat selama di dalam lift, malah sengaja bertingkah sensual dengan menggigiti bibirnya, memainkan rambut sehingga menampakkan lehernya yang mulus, hingga menurunkan sedikit tali gaunnya. Tentu saja Sall semakin tidak tahan, namun Sanchia menahan tubuh Sall agar tidak terlalu menempel padanya, meskipun mereka hanya berdua di dalam lift VVIP itu.
"Sweetheart.. Kamu benar-benar minta dihukum ya?" Ujar Sall membuat Sanchia tergelak.
"Hukum aku seumur hidup, karena aku sangat menyukainya.." Ucap Sanchia dengan nada sensual, seraya keluar dari pintu lift yang terbuka. Sanchia berniat berjalan lebih dulu, tapi Sall menahan lembut tangan Sanchia.
"Sweetheart, kamu sungguh membuatku gila.. Tapi aku rela menjadi gila karenamu di seumur hidupku. I Love you, Sweetheart.." Ungkap Sall yang dibalas senyuman manis Sanchia.
"Dan aku akan selalu membuatmu tergila-gila padaku. Meskipun sesungguhnya aku pun sudah menjadi gila karena cintamu." Jujur Sanchia hingga memancing binar bahagia di wajah Sall, disusul ciuman lembut Sall di bibir merah Sanchia.
-TAMAT-
*************************
Alhamdulillah akhirnya tamat juga The Killer Knight VS The Mafia Queen season 1.
Masih ada Bonus Chapter ya 1 Eps..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya dari semua readers juga Author-author kece yang sangat baik hati mendukung kisah Sall & Sanchia ini.
Kisah anak-anak Sall & Sanchia yaitu Shawn & Shanaya akan lanjut di novel baru "Forbidden Love of The Mafia King" ya.. Kalau berkenan, mampir ya..
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight