The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 45 Tolong, bertahanlah..



HOTEL - JEJU ISLAND


Sanchia duduk di atas sofa seraya menatap beberapa jenis makanan Korea yang dipesan Sall melalu layanan kamar. Sebenarnya makanan-makanan yang terkenal enak itu, sama sekali tidak menggugah selera Sanchia sama sekali. Bahkan Sanchia sudah ingin muntah begitu mencium wangi bulgogi dan samgyetang yang menggoda bagi kebanyakan orang.


Tapi ada keinginan kuat yang membuat Sanchia harus memaksakan dirinya memakan semua makanan itu. Kali ini dia bertekad untuk menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Sanchia mencampur bibimbap yang ada di hadapannya dengan sangat bersemangat, meskipun telur setengah matang yang berada di tengah bibimbap, sempat membuatnya menutup hidung karena baunya yang tercium sangat amis.


'Ada apa sebenarnya dengan tubuhku? Aku merasa penyakit asam lambungku lebih sering kumat beberapa minggu terakhir ini. Terlebih rasa tertekan saat disekap Alrico, membuatku tidak enak makan dan tidur. Berat badanku pasti berkurang banyak. Tapi sekarang aku butuh tenaga untuk berlatih. Aku harus memakan semuanya, agar aku bisa melatih diriku supaya lebih kuat lagi.' Tekad Sanchia dalam hati.


Sanchia memakan semua makanannya dengan sangat bersemangat, meskipun sesekali Sanchia harus mendorong semua makanannya dengan meminum banyak air. Dan akhirnya semua makanan itu habis tidak bersisa.


Setelah mengistirahatkan perutnya selama hampir setengah jam, Sanchia mengganti bajunya dengan baju olahraga, dan menghubungi beberapa anggota klan Ble Asteri untuk bertemu di tempat gym dan latihan beladiri yang ada di hotel itu.


10 menit kemudian, Sanchia sudah berada di tempat latihan beladiri hanya bersama dengan 2 orang anggota klan. Karena ternyata beberapa diantara anggota klan, sedang dalam tugas menjaga Papa Leonard, Mama Annesya dan Nieva.


Anggota klan yang bernama Sadam dan Jade begitu bersyukur, karena keadaan Sanchia baik-baik saja. Mereka sempat kecewa karena tidak ikut dilibatkan dalam upaya penyelamatan Sanchia, namun Kevin mengatakan kalau tugas mereka adalah memastikan keselamatan Papa Leonard, Mama Annesya dan Nieva. Sedangkan penyelamatan Sanchia sudah cukup ditangani anak buah Sall dengan dibantu anak buah Brandon Wang.


"Keputusan Kevin sudah benar, kalian bertanggungjawab untuk menjaga keselamatan kedua orangtuaku juga adikku. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri jika terjadi hal yang buruk pada keluargaku. Terima kasih ya."


Sadam dan Jade mengangguk pelan, mencoba menutupi rasa haru karena Sanchia mengucapkan rasa terima kasih pada mereka. Mantan Ketua Ble Asteri itu memang sangat dirindukan oleh hampir semua anggota klan, meskipun dibawah kepemimpinan Kevin, begitu banyak perubahan yang membuat Klan Ble Asteri semakin maju. Mereka ingin Sanchia memimpin kembali bersama Kevin, namun mereka berpikir hal itu tidak mungkin, terlebih setelah Sanchia menikah dengan Sall yang nyatanya adalah Ketua klan Mafia terbesar di Inggris.


"Bantu aku berlatih. Aku ingin mengasah kembali dan meningkatkan kemampuanku. Kejadian penculikan yang kualami, membuatku sadar, kalau kemampuan beladiriku belumlah cukup untuk melindungi diriku sendiri."


Sadam dan Jade segera membantu Sanchia berlatih beladiri. Tidak ada satupun dari mereka yang mengetahui kehamilan Sanchia, termasuk Sanchia sendiri. Karena Kevin pun belum mengatakan apapun pada anggota klan mereka.


'Aku harus berlatih lebih keras, agar aku bisa lebih kuat untuk dapat melindungi diriku sendiri. Aku tidak ingin hamil dan memiliki anak dalam waktu dekat, karena saat aku hamil, aku bisa menjadi lebih lemah. Dan dengan kemampuanku sekarang, aku takut tidak bisa melindungi bayi dalam kandunganku nanti.' Batin Sanchia.



Sanchia terus berlatih dengan kedua partnernya, hingga sebuah panggilan masuk di ponselnya, mengalihkan perhatiannya. Sanchia segera mengangkat panggilan masuk yang ternyata berasal dari Sall, suaminya.


"Iya Honey.."


"Kamu dimana? Ini aku bawakan buah asam jawanya."


Tiba-tiba mata Sanchia berbinar mendengar nama buah yang benar-benar diinginkannya itu.


"Aku segera ke kamar, terima kasih Honey. Muaaach.."


Sanchia segera memutus panggilan dari Sall dan segera mengakhiri sesi latihannya


"Sadam..Jade..Terima kasih, karena sudah menemaniku berlatih. Aku akan kembali ke kamar.."


"Sama-sama Nona Sanchia." Jawab mereka bersamaan.


Sanchia segera kembali ke kamarnya, disusul Sadam dan Jade yang juga kembali ke kamar mereka masing-masing.


Beberapa saat kemudian, Sanchia sudah berada di kamarnya. Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, menandakan Sall sedang berada di dalamnya untuk membersihkan diri. Sanchia melihat 1 kotak karton di atas meja, yang mana ukurannya hampir sama dengan mejanya. Karena sudah bisa menebak isinya, Sanchia segera membuka kotak karton itu dengan sangat bersemangat.


Air liurnya hampir menetes, saat melihat buah yang diinginkannya berada di depan mata. Buah asam jawa yang masih mentah dan pastinya berasa asam itu, mulai menggoda lidahnya. Sanchia segera membawa beberapa dan mencucinya di wastafel yang berada di luar kamar mandi, lalu mendudukan dirinya di atas sofa dan mulai memakan buah asam jawa itu dengan sangat bersemangat.


Sall keluar dari kamar mandi dengan memakai celana panjang santainya, namun dengan bagian atas tubuh yang terbuka. Netranya tiba-tiba membulat sempurna, saat melihat Sanchia yang mengenakan baju olahraga dengan sisa keringat di pelipis dan juga rambutnya yang terlihat sedikit basah.


"Sweetheart apa kamu habis berolahraga?"


"Iya, aku baru selesai berlatih beladiri dengan Sadam & Jade."


Sall segera menghampiri Sanchia dengan langkah lebarnya, dan duduk di sebelah Sanchia seraya memegang kedua bahu Sanchia dengan erat.


"Ya ampun Sweetheart, tolong berolahraga atau latihan beladiri dulu selama beberapa bulan ini ya, aku mohon Sweetheart."


Sanchia melihat jelas air mata yang mulai menggenang di kelopak mata Sall yang jernih,  Sanchia menghentikan acara makannya dan menatap dalam manik mata Sall yang terlihat seperti akan menangis itu.


"Kamu kenapa Honey? Kenapa terlihat begitu khawatir dan panik?"


"Tolong Sweetheart, jangan berolahraga atau latihan beladiri dulu ya, hal itu sangat berbahaya."


"Berbahaya bagaimana sih? Justru aku sedang meningkatkan kemampuanku, agar aku bisa lebih siap menghadapi setiap kondisi yang membahayakan nyawaku."


"Tolooooong.. Turuti apa yang aku minta. Tolong Sweetheart, aku mohon padamu."


"Aku tidak mengerti, kenapa aku harus melakukannya. Tapi aku akan mencoba menuruti keinginanmu itu."


Senyum Sall mengembang di wajahnya yang begitu segar, dikecupnya kening Sanchia dengan sangat lembut, menyalurkan rasa cinta dan syukurnya, karena sang istri mau menuruti permintaannya.


Kini arah pandang Sall tertuju pada sekitar 10 buah asam jawa, yang sudah tidak ada isinya.


"Kamu membeli sangat banyak, aku bahkan tidak bisa menghabiskannya."


"Aku membeli banyak bukan untuk kamu habiskan sekaligus Sweetheart. Aku bahkan membeli buah asam jawa full 1 mobil box sebagai persediaan, Sweetheart."


"Apaaaa?"


*************************


Sall dan Sanchia baru saja selesai menikmati makan malam mereka. Kini mereka duduk di atas tempat tidur, seraya merebahkan diri. Obrolan malam mereka masih berkisar tentang buah asam jawa yang dibeli Sall. Sanchia masih tidak habis pikir, suaminya itu membeli buah asam jawa segar, langsung dari perusahaan yang mengimport rempah dan bahan-bahan pembuat jamu dari Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, Sall membeli 1 mobil box berisi full buah asam jawa segar yang masih mentah dan berasa asam.


Memang ada buah asam jawa kemasan di supermarket, namun kebanyakan sudah matang dan berasa manis, sehingga Sall yakin kalau Sanchia tidak akan menyukainya. Beruntung Leon mendapatkan informasi tentang keberadaan perusahaan import khusus rempah & bahan jamu itu di pulau Jeju, sehingga Sall bisa langsung meluncur ke perusahaan itu. Harga tinggi yang ditawarkan Sall juga cerita  ngidam istrinya yang ingin memakan buah asam jawa yang segar, membuat sang pemilik perusahaan dengan ikhlas dan senang hati melepas 1 mobil box berisi salah satu bahan produksinya.


"Honey, terima kasih ya sudah membelikan buah asam jawa yang begitu banyak dan mahal untukku. Maafkan aku yang merepotkan ini, aku pun tidak tahu, kenapa aku begitu menginginkan buah ini, Honey.."


"Tidak apa-apa Sweetheart. Selagi aku bisa, maka aku akan memenuhi semua keinginanmu."


Sanchia mencium lembut bibir Sall, lalu melepas ciumannya seraya menatap penuh arti wajah suami yang sangat dicintainya itu.


 


"Terima kasih karena sudah menjadi suami yang begitu baik untukku. Aku pun akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu."


"Kamu sudah menjadi istri yang baik untukku, dan aku yakin, kelak kamu akan menjadi ibu yang baik bagi anak-anak kita."


Wajah Sanchia berubah sendu, dan hal itu tertangkap jelas oleh netra Sall. Namun Sall seketika mencium lembut bibir Sanchia dan mulai mengeksplor bibir manis Sanchia yang sedikit terbuka. Sall dan Sanchia saling bertukar saliva menyalurkan kerinduan, karena selama sebulan ini tidak bertemu dan saling menahan rindu.


Namun tiba-tiba Sanchia merasakan sakit di perutnya, sehingga Sanchia melepas pertautan bibirnya dengan bibir Sall, dan tanpa mengatakan apapun langsung beranjak menuju kamar mandi dengan terburu-buru.


Sall terlihat begitu khawatir menunggu Sanchia yang tak kunjung keluar dari kamar mandi. Beberapa menit kemudian, Sanchia keluar dengan wajah pucat dan sebelah tangan memegang perutnya.


"Sepertinya aku haid."


"A..Apa maksudmu Sweetheart?"


"Aku haid, ada bercak darah yang keluar."


Hati Sall bagai tersambar petir, pikirannya kalut bahkan raut wajah panik tidak dapat Sall sembunyikan dari Sanchia. Sall segera menelpon Leon untuk menyiapkan mobil. Lalu tanpa menghiraukan Sanchia yang terlihat bertanya-tanya, Sall segera menggendong Sanchia keluar dari kamar mereka.


"Honey, kita mau kemana? Kenapa kamu menggendongku?"


"Kita akan ke Rumah Sakit, Sweetheart."


"Tapi kenapa? Aku tidak apa-apa, aku hanya haid, Honey."


"Tolong jangan bicara apapun lagi, Sweetheart. Cukup turuti aku ya, aku mohon. Aku takut sesuatu yang buruk terjadi, Sweetheart."


'Baby.. Tolong bertahanlah, Daddy tidak mau kehilangan kamu. Tolong kuatlah, demi Daddy!' Doa Sall dalam hati.


Hari ini sudah dua kali Sanchia melihat ekspresi sedih di wajah suaminya. Kali ini pun, air mata Sall kembali jatuh di pipinya. Lidah Sanchia kelu, dia memilih diam dan tidak bertanya lagi pada Sall yang terlihat begitu sedih dan panik. Meskipun Sanchia tidak mengerti apa yang sebenarnya tengah terjadi.


*************************


Image Source : Instagram Im Jin Ah


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Mampir juga yuk ke Novel pertamaku "Star on A Dark Night" kalau belum baca, hihi..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight