
Pagi ini, Sanchia dan Nieva berada di salah satu kamar tamu yang ada di villa. Mereka terlihat duduk di atas sofa seraya membereskan banyak oleh-oleh untuk seluruh keluarga dan seluruh anggota Klan yang akan kembali ke Indonesia nanti sore. Sanchia sebenarnya merasa sedih dan berkali-kali menyeka air matanya yang menetes tanpa bisa ditahan. Nieva sesekali mengelus lengan dan memeluk Sanchia, agar Kakaknya itu berhenti menangis.
"Sudahlah Kak Sanchia, kita hanya harus berpisah selama sebulan saja. Bahkan Kakak bisa langsung pulang, jika Dokter sudah mengizinkan."
"Aku juga tidak tahu Nieva, kenapa air mataku tidak mau berhenti menetes. Rasanya aku ingin ikut pulang dengan kalian."
"Tidak Kakak, kami semua tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa Kakak dan calon keponakanku. Bersabarlah Kak, waktu sebulan tidaklah lama."
"Iya Nieva."
Sanchia kembali menangis keras, membuat Nieva menggeleng heran dengan sikap Kakaknya yang semakin sensitif semenjak hamil. Tentu saja hal ini sangat bertolak belakang dengan karakter Sanchia sebelum menikah, yang sangat acuh tak acuh dan cenderung dingin.
'Aku tidak menyangka, Kak Sall bisa membuat Kak Sanchia berubah sedrastis ini. Apalagi kehamilan Kakak, membuatnya semakin sensitif dan gampang sekali menangis.' Batin Nieva.
Beberapa saat kemudian, Sall masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Namun Sanchia dan Nieva yang menyadari kedatangan seseorang segera mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu kamar.
"Lho apa yang terjadi dengan Kakakmu, Nieva?"
"Kak Sanchia tidak apa-apa kok Kak Sall, hanya sedikit sedih saja, karena tidak bisa ikut pulang sama-sama ke Indonesia."
Sall menghampiri Sanchia yang duduk berhadapan dengan Nieva, lalu duduk di sebelah istrinya. Sall mengusap pelan pipi Sanchia yang masih basah karena air matanya.
"Sweetheart, hanya sebentar, nanti juga kita akan pulang ke Indonesia. Semua demi kebaikanmu dan anak kita."
"Iya Honey, maafkan aku yang terlalu cengeng. Aku juga tidak tahu, kenapa aku gampang sekali menangis akhir-akhir ini."
Sall tersenyum tipis melihat Sanchia yang masih menahan isakannya, lalu mencium lembut puncak kepala Sanchia. Sall jelas menyadari perubahan sikap Sanchia ini. Apalagi setelah kemarin mendapat nasihat dari Mama Annesya, tentang banyak hal yang harus dan tidak boleh dilakukan oleh perempuan yang sedang hamil, sikap Sanchia lebih sensitif dan takut bersikap salah.
Sall ingat sekali, Mama Annesya mengingatkannya juga untuk tidak melakukan hal buruk selama Sanchia hamil. Mama Mertuanya itu mengingatkan secara terang-terangan, kalau Sall sama sekali tidak boleh menyakiti binatang dan manusia, juga tidak boleh membunuh binatang apalagi manusia.
Pesan ini juga pernah diberikan Mama Annesya pada Kevin, oleh karena itu saat penyelamatan Sanchia, Kevin hanya melawan musuh-musuhnya dengan melumpuhkan musuhnya sesaat, tanpa memberi mereka luka parah apalagi membunuhnya. Dan jika keadaan mendesak, maka Kevin meminta rekannya untuk membantunya.
"Kak Sanchia, semuanya sudah selesai dikemas, tinggal minta beberapa orang untuk memasukannya ke mobil."
"Baiklah, terima kasih ya Nieva."
"Sama-sama Kak, ku kembali ke kamar dulu ya."
"Baiklah Nieva.."
Nieva keluar dari kamar tamu itu, meninggalkan Kakak dan Kakak iparnya agar lebih leluasa. Sall yang kini terlihat memandang Sanchia dengan penuh arti, dibalas ekspresi heran oleh Sanchia.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu, Honey?"
"Aku bahagia karena kita akan segera mempunyai anak. Kamu pun semakin cantik setelah hamil Sweetheart."
"Sebentar lagi perutku akan membesar, wajahku akan menjadi chubby, dan berat badanku akan naik drastis. Kamu pasti akan menyesali perkataanmu itu."
Sall menggeleng yakin, lalu sebelah tangannya mengelus lembut pipi Sanchia.
"Tidak peduli berat badanmu bertambah, aku akan semakin mencintaimu, sweetheart."
"Apa kamu yakin?"
"Tentu saja Sweetheart. Kamu bisa mempercayai kata-kataku."
Sanchia mengulas senyum manisnya karena bahagia, pipinya merona mendengar apa yang Sall katakan padanya. Ungkapan cinta dari suaminya selalu jadi sumber keceriaan dan kekuatan bagi Sanchia setiap harinya. Entah kenapa, di masa kehamilannya ini, Sanchia semakin manja dan selalu ingin diperhatikan oleh Sall.
************************
"Sanchia, ada apa kamu memanggilku?"
Sanchia menolehkan kepalanya, dan mendapati Kevin yang duduk di sebelahnya. Sanchia menghela nafas dalam, sebelum memulai bercerita pada Kevin.
"Aku mendapat ancaman dari Ketua Klan yang dulu pernah aku hancurkan. Awalnya, klan kita pernah diserang habis-habisan saat sedang melakukan perjalanan ke luar kota oleh klan yang tidak aku kenal, dan banyak anggota klan kita yang terluka parah. Beruntung, kita berhasil menyelamatkan diri ke tempat yang aman saat itu. Seminggu kemudian, setelah aku mengetahui siapa mereka, aku bersama anggota klan langsung menyerang juga memporak-porandakan markas mereka, dan membuat semua anggota klan itu terluka parah, seperti apa yang mereka lakukan pada anggota klan kita."
Sanchia, terlihat menarik nafas dalam-dalam, lalu melanjutkan kembali ceritanya dengan menatap Kevin dengan sangat serius.
"Semalam, dia bilang akan membalaskan dendamnya padaku. Dia memang tidak menyebutkan klan kita, dan aku yakin kalau dia juga tahu, kalau aku sudah bukan Ketua Ble Asteri lagi, tapi aku tetap khawatir kalau dia akan menyerang dan menghancurkan klan kita."
"Apa mungkin orang itu tahu kalau kamu sudah menikah dengan Ketua Mafia Terkuat di Inggris, The Killer Knight?"
"Entahlah Kevin, aku pun belum mengatakan apapun pada Sall mengenai hal ini. Saat ini aku sangat khawatir pada kalian yang akan kembali ke Indonesia, sedangkan aku tidak bisa ikut pulang dan tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi saat ini, aku sedang hamil. Aku tidak boleh menyakiti apalagi membunuh orang lain."
Ekspresi Sanchia bertambah muram, Rasa khawatir dan ketakutan semakin melingkupi hatinya saat ini.
"Sanchia serahkan semuanya pada kami, kamu cukup fokuslah pada kehamilanmu."
"Iya Kevin, aku percayakan semua padamu. Aku juga akan meminta bantuan pada Bryllian dan Larry, agar mereka dan klannya bisa membantu klan kita."
"Tenanglah Sanchia, aku akan menghubungi Bryllian dan Larry untuk membantu klan kita. Kamu tidak perlu memikirkan hal ini."
"Baiklah Kevin, aku yakin kamu bisa menjaga dan melindungi klan kita dengan sangat baik. Kevin, ambillah cardlock ini. Di paviliun belakang mansion, ada sebuah ruangan rahasia, aku menyimpan persediaan senjata dan berbagai jenis racun buatanku disana. Nanti aku pun akan meminta bantuan Sall untuk mengirimkan berbagai jenis senjata buatannya ke Indonesia."
Kevin yang sudah menerima cardlock dari tangan Sanchia, langsung memasukannya ke dalam saku kemejanya.
"Ok Sanchia.. Serahkan semua urusan ini padaku. Kamu harus fokus pada kehamilanmu, jangan terlalu banyak pikiran. Kamu pun harus bisa menjaga diri dan minta Sall untuk memberikan penjagaan yang ketat."
"Aku akan selalu menjaga istriku, tidak perlu kamu ingatkan, Kevin."
Sanchia dan Kevin menolehkan kepala mereka ke sumber suara, tampak Sall yang berjalan dengan memasukan kedua tangannya ke saku celananya. Sall memandang tajam Sanchia yang kini mulai khawatir dengan aura kemarahan yang sangat mengintimidasi di wajah suaminya itu.
*************************
Image Source : Instagram Im Jin Ah
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight