The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 63 Berubah



KAPAL PESIAR - JEJU ISLAND


Sepanjang malam ini, nampaknya akan menjadi malam yang sangat panjang bagi Sall. Rasa kantuk tidak juga hinggap di matanya, meskipun Sall sudah merebahkan dirinya sejak beberapa jam yang lalu di dalam kamar yang terdapat di kapal pesiar. Berkali-kali Sall menerima pesan dari Leon, kalau Sanchia memaksa ingin  keluar untuk mencari keberadaan Sall. Namun tentu saja, Leroy sudah meningkatkan penjagaan, agar Sanchia tidak bisa pergi meninggalkan villa, apalagi mencari Sall di waktu selarut ini.


Bukan itu saja, Leon mengabarkan kalau Sanchia menolak untuk memakan menu makan malamnya, bahkan segelas juice dan makanan ringan pun tidak ada yang disentuhnya sama sekali. Padahal saat ini waktu sudah menunjukan pukul 2 dini hari. Sall begitu cemas dengan keadaan Sanchia dan bayi yang dikandungnya, dia tidak mau ada hal buruk terjadi pada istri dan juga anaknya. Meskipun egonya masih senantiasa mendominasi pikirannya saat ini.


Sebetulnya Sall mengaktifkan beberapa micro camera yang ada di kamar pribadinya dengan Sanchia, dan mengawasi keadaan Sanchia dari kejauhan. Camera yang sengaja Sall pasang untuk memastikan keadaan dan keselamatan Sanchia saat dibutuhkan. Namun Sall berpikir, dengan melihat Sanchia, dia akan luluh dan tidak akan tahan berjauhan dengan istrinya itu.


Drrtt.. Drrtt.. Drrtt..


Sall langsung mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan masuk dari Leon.


"Sall, Sanchia terus menerus mengurung diri di kamar. Bi Mona bahkan tidak diizinkan masuk, meskipun hanya untuk mengantarkan makanan dan minuman. Sall pulanglah..Kasian istrimu, terutama anak yang ada dalam kandungan istrimu. Dia bisa kelaparan dan kehausan. Apa kamu tega membiarkan anak kalian kekurangan gi.."


Sall segera menutup panggilan telepon dari Leon itu, dan segera meminta anak buahnya untuk mengarahkan kapal pesiar mereka ke dermaga pantai. Sambil menunggu kapal pesiarnya sampai ke dermaga, Sall mulai mengaktifkan beberapa micro camera yang ada di kamar pribadinya dengan Sanchia. Dan Sanchia sama sekali tidak mengetahui keberadaan camera micro ini, bahkan Sanchia tidak mau ada  camera CCTV di kamar mereka.


Beberapa camera Micro itu Sall tempatkan di beberapa pajangan yang terdapat di kamarnya. Namun anehnya tidak ada gambar yang muncul di monitor tab-nya, saat Sall mengaktifkan semua camera itu. Monitornya gelap, meskipun status cameranya aktif. Tanpa Sall tahu, Sanchia sudah menutupi semua camera itu tanpa terkecuali.


'Mungkin ini resiko, memiliki istri yang instingnya terlalu kuat. Bahkan dia bisa menemukan semuanya tanpa terkecuali.' Keluh Sall dalam hati.


Sesampainya di dermaga, Sall segera mengendarai mobil sportnya dengan kecepatan tinggi. Sedangkan empat orang anak buahnya mengikuti dengan mobil lain dari belakang, tentunya dengan mengimbangi kecepatan Big Boss mereka.


*************************


VILLA SALL - JEJU ISLAND


Sesampainya di villa, Sall segera berlari menuju kamar pribadinya dan Sanchia. Diikuti Leon, Leroy dan Bi Mona yang segera membawa makanan dan minuman untuk Sanchia. Hati Sall begitu khawatir dengan keadaan Sanchia dan bayi dalam kandungan Sanchia. Sall segera membuka pintu kamar dengan menempelkan sidik jarinya, dan bergegas membuka pintu kamar untuk melihat keadaan Sanchia. Sall meminta Bi Mona meletakkan makanan dan minuman di atas meja dan memintanya untuk keluar, begitupun Leon dan Leroy. Sall ingin memastikan sendiri keadaan istrinya itu, yang kemungkinan sedang tidur.


Alangkah terkejutnya Sall, saat mendapati Sanchia yang tertidur meringkuk tanpa selimut, dengan wajah yang terlihat sangat pucat. Seketika Sall langsung naik ke atas tempat tidur, dan perlahan menumpu kepala Sanchia dengan lengannya, dan memeluk tubuh Sanchia dengan tangannya yang lain.


Sanchia perlahan membuka matanya yang sayu, karena merasa tidurnya sedikit terusik. Seketika air matanya merembes keluar membasahi pipinya.


"Honey, kamu kemana saja? Tega sekali kamu meninggalkanku di villa. Bahkan kamu menyuruhku pulang ke Indonesia, tapi kamu sendiri pulang ke Inggris, hiks..hiks.."


Sall mengusap air mata yang terus menerus keluar dari kelopak mata Sanchia, tapi anehnya Sall tidak bisa berkata sepatah katapun pada istrinya itu.


"Honey, maafkan aku yang sudah membuat kamu marah dan kecewa. Aku tahu, aku salah. Tapi aku melakukannya karena tidak ingin kamu juga banyak orang terluka. Orang yang Shuga cari adalah aku, jadi aku ingin berusaha menyelesaikan masalah ini sendiri. Maafkan aku, Honey.. Aku benar-benar bersalah."


Lagi-lagi Sall tidak mengucapkan apapun, dan malah memejamkan matanya. Sesungguhnya Sall sedang berusaha menahan emosinya yang kemungkinan bisa meluap, mendengar penjelasan Sanchia.


"Honey, tolong maafkan aku. Aku sungguh tidak bisa kamu diamkan begini."


Sall membuka matanya dan memandang Sanchia yang masih menangis dengan tatapan sendunya.


"Sudahlah, jangan menangis lagi. Lebih baik kamu makan ya. Kasian tubuhmu juga anak kita. Dia pasti sudah sangat kelaparan sekarang."


Sall lalu perlahan beranjak dari tempat tidur, mengambil makanan yang berada di atas meja, lalu membawanya ke tempat tidur.


Sanchia mendudukkan dirinya, memandangi Sall yang kini mulai menyendokkan makanan, dan hendak menyuapkannya pada Sanchia.


"Apa kamu memaafkanku?"


Tatapan memelas dari Sanchia, tentu membuat Sall tidak tega. Apalagi Sanchia terlihat enggan memakan makanannya, jika Sall belum memberinya jawaban yang memuaskan.


Sanchia tersenyum manis dan mulai membuka mulutnya untuk memakan makanan yang Sall sodorkan. Namun hati kecilnya tetap merasa, kalau Sall belum benar-benar memaafkannya. Jelas masih terlihat ada sesuatu yang mengganjal di hati Sall saat ini. Tapi Sanchia akan mencari tahu hal itu nanti. Kali ini Sanchia nampaknya harus cukup puas dengan kepulangan Sall ke villa, yang menandakan kalau Sall masih peduli pada keadaannya juga bayi yang sedang dikandungnya.


*************************


Pagi ini, Sall mulai membereskan semua barang-barangnya juga barang-barang Sanchia. Sall sudah memutuskan untuk ikut pulang ke Indonesia, dan tidak jadi pulang ke Inggris sendirian. Sall menyadari, meskipun hatinya masih belum sepenuhnya sembuh, tapi dirinya mempunyai kewajiban dan tanggung jawab sebagai suami dan calon ayah, untuk menjaga dan melindungi Sanchia juga anak mereka. Kali ini Sall akan lebih mengesampingkan perasaan juga egonya, demi kebaikan keluarganya.


Sanchia yang baru selesai mandi, dan masih mengenakan bathrobe-nya, menghampiri Sall yang begitu terlihat sibuk memasukan baju-bajunya ke dalam koper.


"Honey, kamu akan ikut pulang ke Indonesia kan?"


"Iya, aku akan ikut pulang ke Indonesia."


Jawaban yang terbilang datar dari Sall, ternyata mampu membuat Sanchia tersenyum senang. Sall berusaha untuk tidak memandangi Sanchia yang terlihat menggoda karena hanya mengenakan bathrobe saja. Tidak seperti biasanya, dimana Sall akan langsung mengambil kesempatan untuk menggoda atau bahkan menerkam istrinya. Sanchia pun menyadari hal itu, sikap Sall terasa jauh berbeda, dan membuatnya yakin kalau Sall masih belum benar-benar memaafkannya.


Sall mendudukkan dirinya di atas sofa, lalu menyandarkan kepala dan punggungnya yang terasa lelah dan pegal di sandaran sofa, seraya memejamkan matanya. Sanchia tiba-tiba mendudukkan dirinya di atas pangkuan Sall, dan langsung menciumi leher Sall, dengan tangan yang mulai bergerilya di tubuh Sall. Tentu saja hal ini mengejutkan Sall, sekaligus membuat gairahnya naik tanpa bisa dikendalikan. Namun beberapa saat kemudian, Sall terlihat menahan tangan Sanchia dan mengangkat perlahan kepala Sanchia, agar berhenti menciuminya. Kilasan kejadian saat Sanchia mengatakan perasaannya pada Shuga, yang langsung dibalas pelukan posesif dari Shuga, membuat Sall tidak berselera melanjutkan adegan mesranya dengan Sanchia.


"Pakailah bajumu, kita sarapan di bawah. Aku sudah sangat lapar."


Perkataan Sall bagaikan hantaman batu di dalam hati Sanchia. Baru kali ini Sall menolaknya, setelah Sanchia mengesampingkan rasa malunya untuk menggoda suaminya lebih dulu. Tapi Sanchia berusaha menyembunyikan rasa malu dan kecewanya dengan mengulas senyum terpaksanya.


Seolah mengetahui rasa malu dan kecewa yang dirasakan istrinya, Sall langsung menggendong Sanchia yang berada di pangkuannya ke ruang walk in closet, untuk segera berganti baju. Saat Sall hendak beranjak keluar,  perkataan Sanchia menghentikan langkah Sall seketika.


"Honey.. Bolehkan aku meminta sesuatu?"


Sall refleks membalikkan badannya dan memandang Sanchia, merasa penasaran dengan apa yang akan diminta oleh Sanchia kali ini.


"Kamu mau minta apa?"


"Bisakah kita pulang ke mansion kita di Bali?"


*************************


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight