
Gelapnya malam yang dingin dan basah, sudah berganti pagi yang cerah dan menghangatkan. Senyum Sall kembali terbit, setelah semalaman hatinya begitu khawatir dan menyesal dengan sikapnya yang begitu kasar pada Sanchia. Bagaimana tidak, Leon memberinya sesuatu yang membuatnya begitu bahagia.
Sebuah layout mansion lengkap dengan design awal yang disertai nama Arsitek yang merancangnya, sudah Leon dapatkan dari orang kepercayaan mendiang Ibunya Sall. Dan tentu saja, tanpa membuang waktu, layout dan design itu kini sudah berpindah tangan pada Sall.
Awalnya Sall begitu terkejut, saat melihat nama "Sanchia Arelia Ric terpampang jelas pada design awal mansion itu, seolah puzzle yang membuatnya bingung sejak kemarin, kini sudah mulai terpecahkan. Sanchia memang mengetahui layout mansion milik Sall, karena dia lah yang merancangnya.
Tapi sekarang, bukan itu yang terpenting, dan bukan itu pula yang membuat senyum Sall merekah begitu indah dan lebar. Tapi sebuah fakta yang terlihat jelas, bahwa Sall bisa masuk ke dalam kamar Sanchia tanpa harus meminta Sanchia membukakan pintu kamarnya lagi.
'Andai aku mengetahui layout mansion ini sejak beberapa hari yang lalu, pasti aku bisa masuk ke dalam kamar Sanchia dan memandangi wajahnya secara langsung setiap malam, dan kejadian kaburnya Sanchia pun tidak akan pernah terjadi.' Keluh Sall dalam hati.
Sejak semalam, Sall memang berjalan mondar-mandir dengan ekspresi khawatir dan bersalah, setelah Sanchia mengunci kamarnya, menahan pintu dengan sofa dan menutupi semua camera yang ada di kamarnya. Sesekali Sall mengetuk pintu dan meminta Sanchia membukakan pintu kamarnya dengan suara yang memelas dan penuh penyesalan. Tapi Sanchia yang sudah terlalu kecewa, memilih menutup telinganya dengan kapas dan membenamkan dirinya ke dalam selimut, memaksakan dirinya untuk segera terlelap.
Kini Sall sudah berada di kamar Sanchia dan menatap wajah Sanchia yang masih terlelap dalam tidurnya yang tenang. Bagaimana bisa Sall masuk tanpa Sanchia membukakan pintu kamarnya? Ternyata berdasarkan layout mansion yang dibuat Sanchia, terdapat sebuah pintu rahasia yang menghubungkan antara Kamar Utama milik Sall dengan kamar Sanchia. Sebuah pintu yang tersembunyi di balik dinding kayu estetik, yang seolah hanya berupa hiasan di kamar Sall yang begitu indah dan mewah.
(Kalau di Star on A Dark Night, seperti pintu rahasia dari kamar Bryllian dan Vara yang menghubungkan langsung dengan kamar si kembar Bradley dan Briley).
Sall menaiki tempat tidur dan merebahkan dirinya di samping Sanchia, dengan menghadapkan wajahnya tepat di depan wajah Sanchia yang cantik.
"Maafkan aku.." Lirih Sall, namun berhasil membangunkan Sanchia dari tidurnya, tanpa membuka mata.
"Maafkan aku, karena sudah begitu kasar padamu dan tidak sengaja menyakiti hatimu. Kemarin aku terlalu marah, karena merasa dibohongi selama beberapa hari ini dengan sikap penurutmu, yang ternyata hanya topeng agar aku tidak curiga dengan rencanamu melarikan diri."
Sall menjeda perkataannya seraya menutup matanya yang mulai panas dan perih.
"Aku kecewa.. Kamu meninggalkanku dan malah pergi menemui laki-laki brengs*k itu. Aku mencarimu, aku berniat menemukanmu, bukan hanya karena aku ingin menghukummu. Tapi aku begitu khawatir akan keselamatanmu, saat mengetahui si brengs*k itu adalah seorang pelaku pemerkosaan di luar negeri, dengan kelainan seksual yang selalu memperkosa gadis dalam keadaan tidak sadar dan menyakiti korbannya sampai hampir meninggal. Tapi dia selalu bebas dengan menggunakan uangnya untuk menyuap para penegak hukum."
Perkataan Sall kembali terjeda, saat air matanya luruh tanpa bisa ditahannya lagi.
"Hatiku sakit, saat melihat keadaanmu kemarin. Aku merasa gagal melindungimu. Aku akui aku memang egois, tapi aku tidak seperti si brengs*k itu, yang begitu tega hendak menyakiti dan merusakmu dengan cara yang sangat pengecut. Maafkan aku yang gagal melindungimu. Aku janji, mulai sekarang aku akan selalu melindungimu. Aku mencintaimu.. Aku benar-benar mencintaimu, Sanchia."
Mata Sanchia terbuka tiba-tiba, membuat Sall terkejut dan seketika menghentikan tangisnya. Perlahan Sanchia menghapus air mata Sall dengan ibu jarinya.
"Jangan menangis lagi.. Maafkan aku, karena sudah membuatmu begitu marah dan kecewa. Aku sadar, sudah menyakiti hatimu, tapi aku terpaksa melakukannya. Kamu pun pasti tahu alasannya."
Sall menganggukan kepala disertai tatapan sendunya. Sanchia menatap dalam manik mata Sall yang masih berkaca-kaca.
"Maafkan aku.. Maafkan aku yang begitu bodoh, karena masuk dalam perangkap laki-laki brengs*k itu. Terima kasih karena sudah menyelamatkanku.."
Senyum manis Sall terbit dan merekah begitu lebar, setelah mendengar ucapan permintaan maaf sekaligus terima kasih dari Sanchia. Hatinya menghangat dan kebahagiaan serasa melingkupi hatinya yang sempat terluka. Perlahan namun pasti, Sall mencium lembut bibir Sanchia dengan sepenuh hatinya.
Sall sesungguhnya sedang menahan dirinya sekuat tenaga untuk tidak memeluk tubuh Sanchia dan ******* bibir Sanchia saat ini. Karena Sall tidak ingin Sanchia berpikir, kalau dirinya juga sama brengs*knya seperti Austin.
"Aku menunggumu, untuk membuka hatimu.. Aku akan sabar, menunggumu mencintaiku."
'Sepertinya aku memang sudah mulai mencintaimu Sall.' Lirih Sanchia dalam hati.
"Dan aku menunggu bibir ini, menciumku lebih dulu. Sebagai tanda, kamu memang sudah mencintaiku."
'Aduh.. Bagaimana kalau dia tahu, aku sudah menciumnya lebih dulu? Dia pasti akan menyadari kalau aku sudah mulai mencintainya. Ah kenapa aku harus menciumnya sih? Pasti semua camera merekam kelakuanku kemarin, bagaimana bisa aku menciumnya sebelum aku pergi?' Rutuk Sanchia dalam hati.
Sanchia dengan tiba-tiba mengubah posisinya menjadi duduk, lalu menurunkan dirinya dari atas tempat tidur dan melangkahkan dirinya dengan sangat terburu-buru menuju kamar mandi. Namun sebelum tubuhnya masuk ke dalam kamar mandi, Sanchia membalikkan badannya seraya memandang wajah Sall.
"Sall tolong keluarlah, aku mau mandi."
Tanpa menjawab, Sall tersenyum lalu menurunkan dirinya dari tempat tidur, dan berjalan menuju pintu kamar Sanchia. Kali ini Sall memilih menggeser sofa yang menghalangi pintu kamar Sanchia, dan mengembalikannya ke tempat semula, sebelum akhirnya membuka kunci pintu dan melangkahkan dirinya keluar dari kamar Sanchia.
Sanchia memasuki kamar mandi setelah mengunci terlebih pintu kamarnya, tapi akhirnya menyadari kalau yang dilakukannya adalah hal yang sia-sia, karena Sall masih tetap bisa masuk melalui pintu rahasia yang berada di ruangan Walk in closet.
*************************
Selang 30 menit kemudian, Sanchia sudah selesai mandi, berpakaian juga berdandan, saat pintu kamarnya diketuk oleh Sall. Sanchia membukakan pintu kamarnya yang seketika menampakan wajah sumringah Sall dengan sebuah buket bunga mawar berukuran besar di tangannya.
"Terimalah.."
Sanchia tersenyum manis seraya menerima buket bunga mawar dari Sall, lalu memeluknya tanpa malu dengan menutup matanya sambil tersenyum.
Tentu saja hal ini semakin membahagiakan Sall yang memang sedang sangat bahagia. Bagaimana tidak, Sall sudah menemukan "fakta" tentang apa yang dicurigainya beberapa puluh menit yang lalu.
Sanchia meletakkan buket bunga mawarnya di atas tempat tidur, bersamaan dengan tertutupnya pintu kamar oleh Sall. Sanchia menoleh ke arah Sall yang kini sudah berdiri tepat dihadapannya. Sanchia menatap penuh tanya ke arah Sall yang tidak hentinya mengulas senyum bahagianya.
Tanpa berniat menjelaskan apapun, Sall melingkarkan kedua tangannya di pinggang Sanchia lalu menautkan bibirnya di bibir Sanchia dengan begitu lembut. Awalnya Sanchia terkejut, tapi saat bibir Sall mulai ******* bibirnya, Sanchia mulai menikmati dan membalas ciuman Sall. Senyum Sall semakin merekah, menyadari Sanchia mulai membuka dirinya. Ciuman Sall kini berubah menuntut, terlebih saat akhirnya Sanchia melingkarkan tangannya di leher Sall, dan mengizinkan Sall mengeksplor seluruh bagian mulut Sanchia.
Pertautan bibir mereka baru berhenti saat nafas Sanchia mulai tersengal, namun Sall masih tidak rela melepas tubuh Sanchia dari pelukannya. Bahkan hidung Sall masih menempel di hidung Sanchia, sehingga nafas Sall yang sedikit memburu, begitu terdengar jelas di telinga Sanchia.
"Tolong katakan, kalau kamu juga mencintaiku Sanchia.."
Sanchia yang terkejut kini menjauhkan wajahnya dari wajah Sall, meskipun masih tidak bisa lepas dari pelukan Sall.
"Aku..Aku.."
"Tolong, kali ini jujurlah pada hatimu. Apa kamu mencintaiku?"
Tatapan mata Sall yang terlihat sangat memohon, kini memandang dalam tepat di manik mata Sanchia yang masih terlihat ragu.
"Sanchia?"
Namun Sanchia masih terlihat enggan menjawab pertanyaan Sall yang sudah begitu tidak sabar. Perlahan Sall melonggarkan pelukannya sampai akhirnya terlepas. Sall membalikan dirinya dengan hati yang kembali teriris perih, namun langkahnya terhenti saat tiba-tiba kedua tangan Sanchia melingkar di pinggangnya dan memeluknya dari belakang.
"Tolong jangan pergi.. Aku.. Aku mencintaimu."
Sall seketika memegang kedua tangan Sanchia dan melepasnya pelan. Sall membalikkan badannya seraya memeluk tubuh Sanchia dengan erat, seolah tidak berniat melepasnya lagi.
"Terima kasih Sanchia. Aku benar-benar mencintaimu."
Bibir Sall kembali mendarat sempurna di bibir Sanchia yang manis, sekarang Sall dan Sanchia tidak ingin lagi menahan perasaan yang sempat mereka tahan dan sembunyikan. Sall dan Sanchia hanya ingin mencurahkan perasaan, saling mencintai, meskipun mereka tidak tahu apa yang akan mereka hadapi kedepannya. Saat ini, mereka hanya ingin jujur pada diri mereka sendiri, bahwa mereka memang saling mencintai.
*************************