The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 19 H-7



MANSION SANCHIA


Suasana malam ini terasa lebih panas dari biasanya bagi Sall, padahal di luar sedang turun hujan yang begitu deras, disertai angin yang cukup kencang. Tentu rasa panas yang dirasakan Sall bukan karena cuaca, tapi karena Papa Leonard memanggilnya ke ruang keluarga setelah selesai makan malam. Masih dengan wajah-wajah yang sama seperti tadi pagi, namun kali ini tidak ada tangis atau senyum bahagia, hanya tatapan serius yang mereka perlihatkan pada Sall dan juga Sanchia.


Sall memandang Sanchia dengan tatapan penuh tanya, mencari tahu tujuan Papa Leonard memanggilnya bersama Sanchia. Tapi Sanchia hanya mengangkat bahu, menandakan dirinya tidak tahu menahu dengan tujuan Papanya kali ini.


"Sanchia, apa ada yang ingin kamu katakan tentang Sall?"


Deg..


Detak jantung Sall dan Sanchia berpacu dengan cepat, seolah akan melompat dari tempatnya. Semua pikiran buruk mulai berputar silih berganti dalam otak mereka. Lidah Sanchia kelu, tatapan memohon bantuan yang ditujukan pada Sall, hanya dibalas Sall dengan ekspresi khawatir.


'Apa harus secepat ini kebohonganku dan Sanchia terbongkar? Apakah sekarang aku harus mengakui semuanya?' Tanya Sall dalam hati.


"Nak Sall, apa ada yang ingin kamu katakan?"


Netra Papa Leonard yang terlihat menuntut penjelasan, membulatkan tekad Sall untuk mengatakan yang sebenarnya, meskipun terasa sangat berat bagi Sall.


"Mr. Leonard.. Sebenarnya saya.."


"Papa, aku mencintai Sall, dan aku menerima semua kelebihan dan kekurangan dia. Sanchia tidak peduli dengan semua kesalahan dan masa lalu Sall, karena Sanchia yakin, Sall akan bisa membahagiakan Sanchia, Pa. Sanchia harap, Papa dan Mama bisa merestui kami untuk menikah secepatnya."


Papa Leonard, Mama Annesya, Nieva dan Kevin terkejut dengan perkataan Sanchia yang tanpa jeda. Namun sedetik kemudian, tawa mereka lepas secara bersamaan. Bahkan Papa Leonard sampai memegangi perutnya karena merasa lucu.


Sall dan Sanchia saling berpandangan dengan tatapan bingung, merasa aneh dengan reaksi yang ditunjukan keluarga Sanchia, yang diluar dugaan.


"Papa tidak menyangka, Putri Papa begitu tidak sabar untuk menikah. Sampai-sampai kamulah yang meminta restu pada kami, bukannya Nak Sall, Hahaha.."


Lagi-lagi Papa Leonard, Mama Annesya, Nieva dan Kevin kembali tertawa dengan puasnya. Terlebih ekspresi Sall dan Sanchia yang terbengong-bengong, membuat mereka semakin tidak bisa menahan tawa.


"Kenapa semuanya tertawa? Sebenarnya apa yang ingin Papa dengar dari kami?"


"Ya itu, yang kamu katakan barusan. Papa ingin tahu tentang hubungan kalian berdua. Karena kamu sudah mengatakannya dengan sangat jelas dan terbuka, sekarang giliran Papa bertanya pada Nak Sall."


Sanchia yang sudah menyadari arah pembicaraan Papa Leonard, kini menutupi wajahnya yang memerah dengan tangan kirinya. Namun senyum Sall justru terbit dengan begitu lebarnya.


'Rupanya takdir masih berpihak padaku dan Sanchia, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.' Tekad Sall dalam hati.


Sall menggenggam tangan kanan Sanchia yang berada di atas paha Sanchia dengan sangat lembut.


"Mr. Leonard.. Saya sangat mencintai Putri anda dengan setulus hati saya. Saya berjanji akan melindungi dan membahagiakan Putri anda seumur hidup saya. Saya sangat berharap, anda dan juga Mrs. Annesya akan memberikan restu pada saya dan Putri anda untuk menikah secepatnya."


Jantung Sall berdetak semakin cepat, karena Papa Leonard tidak juga menjawab permintaan Sall meskipun waktu sudah berlalu beberapa belas detik.


"Nak Sall.. Apa Nak Sall tahu tahapan  yang harus dilakukan, jika ingin menikahi Sanchia?"


"Saya tahu Mr. Leonard. Saya juga sudah membahasnya dengan Putri anda, saya akan melakukan semuanya, begitu anda memberikan restu."


Papa Leonard menganggukan kepalanya beberapa kali, lalu memandang begitu dalam pada manik mata Sall dengan tiba-tiba.


"Kami menyukai Nak Sall dan sangat berterima kasih dengan apa yang Nak Sall lakukan terhadap Putri kami. Kami merestui hubungan Nak Sall dengan Sanchia, dan mengizinkan kalian untuk bisa menikah secepatnya."


Sedetik kemudian Sall menghampiri Papa Leonard dan Mama Annesya dengan begitu bersemangat dan bersimpuh seraya memegang tangan Papa Leonard  juga Mama Annesya dengan begitu erat.


"Terima kasih banyak, karena sudah memberi kami restu untuk menikah."


Air mata Sall mengaliri pipinya tanpa bisa ditahan. Rasa haru semakin menyeruak, saat Sanchia ikut bersimpuh di depan kedua orangtuanya dengan air mata yang juga mengalir deras di pipinya.


Papa Leonard dan Mama Annesya memeluk Sall dan Sanchia bergiliran, dengan penuh kasih. Entah kenapa Papa Leonard dan Mama Annesya begitu terharu dengan apa yang dilakukan Sall. Mereka semakin menyukai Sall, dan rasa sayang mereka pada calon menantunya, tumbuh begitu cepat dan besar. Kevin dan Nieva yang melihat pemandangan mengharukan dihadapan mereka, hanya bisa saling memeluk dengan mata berkaca-kaca.


Setelah drama sedih dengan adegan sungkeman yang berlangsung lebih dari 15 menit itu selesai, Papa Leonard kembali berfokus pada rencana pernikahan Sall dan Sanchia.


"Jadi kapan kalian akan menikah?"


"Seminggu lagi Mr. Leonard."


"Apaaa?"


"Bukankah kamu harus khitan dulu? Dan penyembuhannya membutuhkan waktu yang cukup lama.


Pertanyaan Kevin berhasil membuat wajah Sall merah padam, namun dengan tenang Sall menjelaskan rencananya.


"Aku sudah membuat janji dengan seorang Dokter Spesialis Bedah kenalanku, jadi besok aku sudah bisa khitan. Dokter itu mengatakan kalau penyembuhannya bisa lebih cepat dari yang biasanya. Jadi aku bisa mengucapkan kalimat Syahadat, dalam keadaan sudah khitan. Aku juga sudah mengurus semua dokumen yang diperlukan untuk menikah. Dan untuk persiapan pernikahan, Leon asistenku akan mencari WO terbaik untuk mengurusnya."


(Belum tau aja Sall, kalau masa penyembuhan khitan itu lama,hihi...)


"Mantap Kakak Ipar, kamu memang sudah mempersiapkannya dengan matang."


Senyum bahagia merekah begitu sempurna di wajah semua orang yang berada di ruang keluarga itu, namun rasa lega begitu memenuhi hati Sall dan Sanchia malam ini. Tangan mereka saling menggenggam, seolah tidak ingin lagi terlepas.


*************************


Di salah satu kamar mewah dan luas yang terdapat di mansion Sanchia, Sall terlihat merebahkan tubuhnya dengan punggung bersandar pada 2 bantal yang ditumpuk, dengan selimut navy menutupi tubuhnya sampai dada. Sall meringis, setelah beberapa jam berlalu, sejak Sall di khitan di Rumah Sakit. Leon yang menemani Sall di kamar yang terkunci, merasa bingung karena tidak tahu harus berbuat apa.


"Apa Tuan merasa kesakitan?"


"Rasanya ngilu.. Dari tadi aku takut tanganku menimpanya tanpa sengaja."


"Bukankah Dokter memasang penutup khusus berbahan keras yang berbentuk seperti masker tadi? Supaya kalau tertekan pun, tidak akan mengenai junior anda Tuan."


"Oh iya, benar juga. Aku harus bersabar selama seminggu ini. Aku malu sekali, saat Mr. Leonard dan Kevin menjemputku di Rumah Sakit. Tadinya aku tidak mau pulang kesini, tapi aku tidak mungkin menolak permintaan calon mertuaku."


"Tidak apa-apa Tuan, itu adalah bentuk perhatian dari Mr. Leonard pada calon menantunya. Terlihat sekali kalau Mr. Leonard sangat menyukai anda Tuan. Bahkan Mr. Leonard sudah meminta anda memanggilnya Papa."


"Iya, kamu benar. Mr. Leonard sudah begitu menyukaiku dan percaya padaku, tapi aku justru semakin merasa bersalah padanya."


"Berhentilah merasa bersalah Tuan, buktikan saja semua yang Tuan katakan pada Mr. Leonard. Bahagiakan Nona Sanchia dan juga keluarganya, maka semua kesalahan Tuan tidak akan berarti lagi."


Sall hanya mengangguk pelan, meskipun jauh di lubuk hatinya, masih belum sepenuhnya yakin dengan apa yang dikatakan Leon.


Tok..Tok..Tok..


Terdengar ketukan di pintu kamar yang ditempati Sall. Tapi Leon yang hendak berjalan menuju pintu, menghentikan langkahnya, saat Sall memanggil namanya.


"Leon.. Jika Sanchia yang datang, jangan biarkan dia masuk ya. Aku tidak mau dia melihatku seperti ini."


Leon mulai terlihat bingung dengan permintaan Sall, terlebih saat suara Sanchia terdengar begitu jelas, meminta dibukakan pintu. Setelah lebih dari puluhan detik berlalu, Leon masih berdiri di tempatnya. Sampai tiba-tiba, lemari buku di salah satu dinding itu tiba-tiba bergerak ke samping, dan menampakan Sanchia yang membawa nampan berisi makanan dan segelas orange juice.


"Kenapa kalian tidak membukakan pintunya? Aku pikir kalian tertidur."


Sall dan Leon masih memandang Sanchia tidak percaya, terlebih pintu rahasia di belakang Sanchia yang masih terbuka, memperlihatkan suasana kamar khas perempuan berwarna putih dan pink.


"Kamu memang sesuatu Babe.. Kenapa semua mansion yang kamu design ada pintu rahasianya?"


Sanchia hanya tersenyum nakal, menanggapi ekspresi wajah Sall yang terlihat malu dan tidak nyaman.


**************************


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


(IG : @zasnovia #staronadarknight)