The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 59 Menunggu jawaban



Di sebuah meeting room berukuran cukup luas, Sanchia duduk dengan menyilangkan kakinya seraya mengarahkan tatapan tajamnya pada seorang laki-laki yang duduk jauh diseberangnya, karena terpisahkan sebuah meja bundar berukuran besar. Shuga, laki-laki itu tidak hentinya mengulas senyum dengan tatapan sendu penuh kerinduan ke arah Sanchia, sejak Sanchia datang ditemani 6 orang anak buahnya beberapa saat yang lalu.


"Langsung saja.. Apa yang kamu inginkan? Aku datang menemuimu, bukan karena aku ingin bertemu denganmu, tapi aku hanya terganggu dengan beberapa sniper yang kamu tempatkan di gedung-gedung sekitar Rumah Sakit. Aku tidak mau ada yang terluka."


"Kamu baru saja datang, dan apa yang kamu katakan, membuatku semakin mengagumimu Sanchia."


"Sudah jangan bertele-tele, cepat katakan apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?"


Shuga melebarkan senyumnya, sama sekali tidak tersinggung dengan sikap Sanchia yang ketus dan dingin. Shuga berdiri lalu menghampiri Sanchia dan duduk berdekatan dengan perempuan yang begitu dirindukannya itu.


"Tolong dengarkan aku, sekali ini saja.."


"Katakan, apa yang harus aku dengarkan?"


Shuga menghela nafas panjang, lalu kembali menatap netra Sanchia dengan begitu dalam.


"Beberapa minggu yang lalu ada klan yang meminta bantuanku untuk membalas dendam pada musuhnya yang sedang berada di Korea, dan aku menyanggupinya. Tapi aku begitu terkejut, saat orang kepercayaanku menunjukan photomu dan juga profilmu. Aku sempat tidak percaya orang yang aku rindukan selama ini, sudah berubah menjadi seorang Ketua Mafia yang kuat, meskipun kamu sudah menyerahkan posisimu pada adik iparmu."


Shuga menjeda perkataannya, dan tanpa Sanchia duga, Shuga tiba-tiba menggenggam tangan Sanchia yang terasa hangat. Seketika Sanchia menarik paksa tangannya dari genggaman tangan Shuga yang begitu erat, namun sia-sia, karena genggaman tangan Shuga malah semakin erat menggenggam tangan Sanchia.


"Tolong maafkan kesalahanku."


Shuga menundukan kepalanya, dan alangkah terkejutnya Sanchia, saat tiba-tiba air mata Shuga menetes tepat di sela-sela tangan Sanchia yang digenggam Shuga.


"Aku begitu bodoh, karena saat itu malah percaya dengan perkataan Dhiany yang menjelek-jelekanmu. Justru cintaku yang mulai dalam padamu, membuatku sangat kecewa saat Dhiany menunjukan photo-photomu bersama beberapa laki-laki yang berbeda di hotel, dan mengatakan kalau mereka semua adalah kekasihmu. Aku terlalu bodoh, karena percaya begitu saja pada Dhiany tanpa bertanya lebih dulu padamu."


Sanchia berusaha menarik kembali tangannya yang digenggam oleh Shuga, namun Shuga masih tidak berniat melepaskan tangan Sanchia.


Kali ini Sanchia mulai angkat bicara, karena mulai penasaran siapa sebenarnya beberapa laki-laki yang dimaksud oleh Shuga.


"Kamu pasti sudah tidak menyimpan photo itu kan, padahal aku cukup penasaran tentang laki-laki yang kamu maksud."


"Aku masih menyimpan photo-photo itu sampai saat ini. Aku tidak kunjung bisa melupakanmu, meskipun perasaan benciku semakin kuat, jadi beberapa tahun yang lalu aku putuskan untuk mencari tahu semua profil laki-laki yang bersamamu."


"Lalu apa yang kamu dapat?"


"Semua laki-laki itu adalah teman-temanmu di sebuah club beladiri, dan kamu tidak ada hubungan special dengan satu pun diantara mereka. Dhiany meminta seorang photographer profesional untuk mengedit photo-photo itu seolah benar-benar asli."


Tawa Sanchia lepas begitu saja, seolah cerita Shuga yang menyedihkan itu, terdengar begitu lucu di telinganya.


"Jadi karena itu semua orang berubah membenciku. Dan aku baru mengetahuinya setelah belasan tahun berlalu. Sungguh konyol sekali."


Tiba-tiba Sanchia menghempas kasar genggaman tangan Shuga, sehingga akhirnya tangan Sanchia terlepas juga.


"Sanchia, aku benar-benar minta maaf karena malah mempercayai Dhiany juga beberapa teman palsumu. Saat itu aku terlalu emosi dan termakan hasutan Dhiany. Setelah mengetahui kenyataannya, aku langsung mencari tahu tentang kamu. Aku begitu bangga, karena kamu sudah menjadi arsitek yang hebat. Tapi saat itu aku masih belum bisa kembali ke Indonesia. Tolong maafkan aku Sanchia."


"Hmm, kamu memintaku datang karena mengharap maafku kan?"


Shuga menganggukkan kepalanya tanpa ragu, sedangkan Sanchia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi seraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Aku akan memaafkanmu, tapi jangan pernah lagi menggangguku."


β€ŒRaut terkejut sempat ditangkap Sanchia di wajah Shuga yang kini berubah sendu. Shuga mengalihkan pandangannya seraya menghapus sisa air mata di sudut matanya.


"Tapi maaf Sanchia, kali ini aku tidak berniat melepaskanmu lagi. Sudah cukup aku menyesal selama bertahun-tahun karena kehilanganmu. Aku akan melakukan apapun, agar kamu bisa selalu bersamaku, sampai akhir hidupku."


Sanchia berdiri dari duduknya dan menghunuskan tatapan tajamnya ke arah Shuga yang masih menatapnya sendu.


"Apa kamu gila? Aku sudah menikah, aku bahkan sedang mengandung. Kamu mengharap maafku, tapi kamu malah membuatku semakin membencimu, Shuga."


Tiba-tiba Shuga berdiri dan memeluk Sanchia dengan sangat erat, tidak peduli Sanchia terus meronta dan melepaskan diri, Shuga malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Mungkin kamu belum tahu atau lupa, suamiku adalah seorang Ketua Klan Mafia terbesar di Inggris, dan aku hanya akan menghabiskan sisa hidupku bersamanya, bukan dengan kamu atau laki-laki lain."


Seketika Shuga melonggarkan pelukannya di tubuh Sanchia, namun bukannya melepas pelukannya, tubuh Shuga justru merosot ke lantai dengan kedua tangan memegang tangan Sanchia.


Posisi Shuga yang tiba-tiba bersimpuh dihadapannya, tentu membuat Sanchia terkejut. Tubuhnya mundur selangkah memberi jarak antara dia dan Shuga, yang kini menunduk tanpa melepas pegangan tangannya dari tangan Sanchia.


"Aku mohon.. Beri aku kesempatan, hidupku sungguh berantakan sejak berpisah denganmu. Aku benar-benar tidak bisa kehilanganmu lagi, Sanchia."


Shuga mendongakkan kepalanya dan memandang netra Sanchia begitu dalam. Tangisnya kembali luruh, seolah rasa sakit di hatinya semakin mendominasi dan ingin dia luapkan.


"Tolong tanya hatimu, apakah dulu kamu juga mencintaiku? Andai saat itu tidak ada yang menghancurkan kedekatan kita, apakah kamu akan menerima cintaku? Tolong jawab dengan jujur pertanyaanku Sanchia!"


"Cih..Untuk apa membahas masa lalu, semuanya sudah berlalu dan sudah tidak berguna. Apapun jawabanku, tidak akan mengubah apapun. Sudahlah Shuga, lepaskan aku, aku harus pulang. Aku sudah maafkan kesalahanmu, tapi tolong jangan pernah mengganggu kehidupanku lagi. Biarkan aku bahagia dengan kehidupanku yang sekarang."


Shuga perlahan berdiri dengan genggaman tangan yang semakin erat, seolah tidak peduli dengan pergelangan tangan Sanchia yang semakin memerah.


"Aku akan melepaskanmu, tapi tolong beri aku jawaban.. Apakah dulu kamu juga mencintaiku? Dan jika saat itu tidak ada yang berusaha memisahkan kita, apa kamu akan menerima cintaku?"


Sanchia mengalihkan pandangannya ke arah lain, karena pandangan penuh harap dari Shuga terasa mengusik perasaannya.


'Kenapa Shuga harus mengungkit lagi apa yang sudah berlalu? Aku benar-benar tidak ingin membahasnya lagi. Aku tidak mau mengatakan perasaanku saat itu, aku sungguh tidak ingin dia tahu.' Batin Sanchia.


"Sanchia, tolong jawab yang jujur, jangan membohongiku. Aku hanya ingin tahu jawabanmu, tolong Sanchia."


"Sudahlah Shuga, semua hanya cerita di masa SMA, sebenarnya apa yang kamu harapkan dari jawabanku. Jawabanku tidak akan mengubah apapun. Kamu benar-benar membuang waktuku Shuga."


Sanchia kembali menghempas genggaman tangan Shuga dengan sangat keras, sampai akhirnya bisa terlepas. Sanchia segera membalikan badannya hendak menuju pintu keluar yang berada di belakangnya, namun tiba-tiba Shuga mengalungkan tangannya di leher Sanchia dan mendekapnya dari belakang.



Sesaat kemudian Sanchia memegang dan memelintir tangan Shuga, dan menendang perut Shuga sampai terhempas di lantai. Shuga sama sekali tidak marah dengan apa yang dilakukan Sanchia, Shuga justru mengulas senyumnya, membuat Sanchia merasa muak. Sebenarnya Shuga bisa refleks menahan serangan Sanchia, tapi Shuga khawatir akan menyakiti Sanchia yang saat ini sedang mengandung.


Dengan tanpa membuang waktu, Sanchia berlari dan meraih handle pintu untuk bisa segera keluar dari ruangan itu. Namun jejeran bodyguard bertampang sangar adalah pemandangan pertama yang Sanchia lihat, begitu pintu terbuka.


Salah satu bodyguard itu mendorong pelan lengan Sanchia agar kembali masuk ke dalam ruangan, dan menutup kembali pintu ruang meeting tersebut. Sanchia menghela nafas kasar seraya melirik Shuga yang masih terduduk di lantai, namun dengan menyandarkan punggungnya di dinding ruangan.


"Aku masih menunggu jawabanmu, Sanchia. Aku tidak akan berhenti, sampai kamu mengatakan yang sebenarnya.."


*************************


Image Source : Google Kill it (Edited)


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean πŸ˜…


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung πŸ˜„


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❀❀❀❀️❀


IG : @zasnovia #staronadarknight