The Killer Knight VS The Mafia Queen

The Killer Knight VS The Mafia Queen
Episode 62 Persahabatan



MARKAS BESAR WANG EAGLE - JEJU ISLAND


Sall sedang berada di Markas Besar Wang Eagle, klan mafia milik Brandon. Sall begitu berterima kasih pada sahabatnya itu, karena sudah begitu banyak membantu selama Sall, Sanchia dan seluruh keluarga juga klannya berada di Jeju, Korea Selatan. Sall datang tentunya tidak dengan tangan kosong, sejumlah cek (cheque) dengan nilai fantastis, dan seperangkat perhiasan berlian untuk Sharon istri dari Brandon sudah disediakan Sall. Namun Brandon menolak secara halus pemberian sahabatnya itu.


"Brandon, aku sungguh-sungguh berterima kasih padamu. Tolong jangan tolak pemberianku ini."


"Sall, kamu sudah mengucapkan terima kasih berkali-kali padaku. Selama ini kamu sudah memberiku banyak keuntungan Sall, apa kamu tidak sadar? Kamu dengan semua keluarga & anggota klanmu menginap lebih dari sebulan di hotelku dan menggunakan fasilitas-fasilitas terbaik, menyewa beberapa helikopterku, membayar anak buahku dengan harga tinggi bahkan lebih dari gaji yang aku berikan untuk mereka, membeli kapal pesiar dariku, bahkan membeli villa dariku juga. Kamu sudah membuat uang di rekeningku bertambah banyak Sall, hahaha.."


Sall ikut tertawa menanggapi apa yang dikatakan Brandon, tapi hal itu tentu tidak membuat niatnya berubah. Karena Sall memang sengaja menyiapkan hadiah-hadiah itu untuk membalas kebaikan Brandon.


"Tapi itu berbeda Bro, ini benar-benar tanda terima kasihku padamu, terimalah. Mungkin suatu saat, aku akan memerlukan bantuanmu lagi."


"Tidak Sall, aku tidak bisa menerimanya. Tapi aku yakin, suatu saat aku pasti akan memerlukan bantuanmu. Seperti menyuplai senjata canggih dan racun terkuat misalnya, hahaha.."


Lagi-lagi tawa Sall lepas bersama dengan Brandon, sahabatnya itu memang tidak memerlukan uang, tapi senjata buatan Sall yang sudah terkenal canggih dan racun buatan Sanchia yang begitu beragam dan kuat, tentunya cukup menarik perhatian Brandon.


"Baiklah, aku akan memasok senjata dan racun terkuat untuk klanmu Bro. Tidak perlu ragu meminta bantuanku, apapun itu. Tapi hadiah untuk Sharon tolong kamu terima ya, karena hadiah ini sengaja dipesan oleh Sanchia jauh-jauh hari khusus untuk Sharon."


"Baiklah, khusus untuk 1 set perhiasan berlian ini, aku akan menerimanya. Terima kasih ya Sall, sampaikan juga terima kasihku pada Sanchia, Sharon pasti akan sangat menyukai perhiasan indah ini. Aku juga berterima kasih, karena kamu bersedia menyuplai senjata dan racun untuk klanku. Business is Business Bro, aku akan membayar mahal untuk senjata dan racun darimu."


"Baiklah-baiklah.. Pokoknya aku akan menyuplai semua yang kamu butuhkan, dengan banyak bonus dan discount."


"Hahaha..Sama saja kalau begitu. Aku harap kerjasama juga persahabatan kita akan terus berlanjut sampai kita mempunyai anak dan cucu ya.."


"Aku juga berharap begitu. Aku yakin anak-anak kita kelak, bisa bersahabat dengan baik."


"Tentu saja, anakmu, anakku, anak Bryllian, dan anak Kevin pasti semuanya bisa bersahabat dan bahkan menjadi saudara. Aku harap kita bisa menjaga hubungan persahabatan kita selamanya ya."


"Aamiin.. Aku yakin kita bisa melakukannya."


Sall mengulurkan kepalan tangannya dan langsung disambut kepalan tangan Brandon, yang kemudian saling beradu.


Drrtt..Drrtt..Drrtt..


Brandon tampak melirik ponselnya yang ternyata merupakan panggilan video dari Bryllian. Brandon langsung mengangkatnya tanpa membuang waktu. Tampaklah Bryllian dengan pakaian santai dan topinya, dengan latar pohon-pohon hijau, yang sepertinya merupakan taman di sebuah hotel.



"Hai Bry.. Kamu sedang dimana?"


"Aku sedang di Bali bersama dengan Vara, Bradley dan Briley. 2 minggu lagi, kami akan pindah ke Inggris, jadi kami akan berlibur sepuasnya di Bali dan Raja Ampat sebelum berangkat ke Inggris."


"Wah jadi kali ini kalian benar-benar akan pindah ya, aku pikir akan ditunda lagi. Nanti aku akan mengunjungi kalian di Inggris, setelah anakku cukup besar ya. By the way Bry, disini juga sedang ada Sall."



"Benarkah? Mana, aku ingin berbicara dengannya."


Brandon langsung menghadapkan ponselnya tepat di depan Sall, dan Sall langsung melambaikan tangannya pada Bryllian yang tampak di layar ponsel Brandon.


"Wow Sall, kamu benar-benar keren, bisa memporak-porandakan Markas Besar SK. Brandon jadi tidak perlu repot-repot mengeluarkan banyak tenaga dan biaya untuk melibas klan itu, karena kamu sudah membantu Brandon memusnahkan saingannya, hahaha.."


Brandon ikut tertawa dengan apa yang dikatakan oleh Bryllian, sedangkan Sall hanya tersenyum simpul seraya menggelengkan kepalanya. Memang benar Klan milik Shuga itu adalah salah satu saingan klan Brandon sebagai klan terbesar di Korea. Tapi selama ini Brandon tidak ada niatan untuk menghancurkan klan Shuga, karena klan Shuga tidak pernah secara terang-terangan mengusik klannya.


"Bry, aku sangat berterima kasih, karena kamu dan klanmu Chrysos Dragon sudah sangat membantu klan Ble Asteri."


"Hei Bro..Kita kan bersahabat, dan jangan lupa, adik iparmu Kevin, sudah seperti saudara kandungku. Jadi kamu tidak usah sungkan seperti itu. Lagipula sepertinya aku akan memerlukan bantuanmu Sall."


"Bantuan apa Bry? Katakan saja!"


"Aku ingin membeli salah satu mansion yang kamu design di Inggris, letaknya di dekat Watergate Bay. Aku dan Vara sangat menyukainya, dan ingin sekali membeli mansion itu. Aku harap kamu bisa menjualnya padaku."


"Maksudmu mansion yang mana? Karena ada beberapa yang aku bangun disana. Cukup kirimkan detailnya, aku akan memberikannya untukmu."


"Apa maksudmu, kamu benar-benar akan memberikannya untukku?"


"Tentu saja, bantuanmu padaku jauh lebih besar daripada sebuah mansion."


"Wah, keren sekali sahabatku ini, tapi maaf aku tidak bisa menerimanya."


"Kalau kamu menolaknya, maka kamu bukan sahabatku."


"Waduh, kenapa kamu bilang seperti itu Bro.. Aku hanya menganggap hadiahmu terlalu berlebihan, jika kamu memberikannya begitu saja padaku."


"Bantuanmu padaku sangatlah besar Bry. Jadi terimalah pemberianku. Hadiahku benar-benar tidak seberapa."


"Hmm, baiklah, aku akan menerimanya. Terima kasih banyak Sall.. Jika kamu memerlukan bantuanku lagi, tidak perlu sungkan ya."


"Tentu saja Bry. Suatu saat, aku pasti akan merepotkanmu lagi, hahaha.."


Bryllian tertawa lepas mendengar perkataan Sall, begitupun dengan Brandon. Perbincangan diantara mereka pun semakin seru, bahkan mereka mengundang Kevin dalam obrolan seru mereka. Mereka tidak hentinya bercanda dan tertawa, bahkan sampai mereka membahas hal-hal yang tidak terlalu penting dan membuat mereka lupa waktu.


**********************


Hari sudah menjelang petang, saat Sall memarkirkan mobil sport-nya tepat di depan villa. Raut wajahnya yang seharian ini terlihat ceria, kembali keruh saat Sall memasuki pintu utama villa. Sejak kemarin, Sall selalu menghindari Sanchia, bahkan Sall pun memilih tidur di kamar lain, demi menghindari percakapan apapun dengan istrinya. Selain karena hatinya masih terlalu sakit, Sall juga tidak ingin menyakiti istrinya, jika tiba-tiba emosinya kembali memuncak. Sall sama sekali tidak ingin mendengar penjelasan apapun dari Sanchia, karena menurut Sall, apa yang dia lihat sudah cukup menunjukkan apa yang Sanchia rasakan.


Sall baru saja tiba di depan pintu kamar yang ditempatinya sejak semalam, namun langkahnya terhenti saat tiba-tiba Sanchia memeluknya dari belakang.


"Honey.. Kamu dari mana saja? Aku mencarimu sejak pagi, tapi katanya kamu pergi."


"Aku baru pulang dari Markas Brandon. Hmm, Sanchia, aku mau mandi dulu ya, rasanya badanku sudah benar-benar lengket."


Panggilan "Sweetheart" yang hilang dari kalimat Sall, membuat dada Sanchia sesak. Sanchia paham kalau Sall masih sangat marah padanya. Terlebih saat Sall melepas perlahan tangan Sanchia yang melingkar di pinggangnya, dan langsung membuka pintu kamarnya. Namun seolah tidak rela ditinggal oleh Sall ke dalam kamar, pSanchia segera menahan lengan Sall, sehingga Sall urung melangkah menuju kamarnya.


"Honey, tolong dengarkan penjelasanku, jangan mendiamkanku seperti ini. Semuanya tidak seperti apa yang kamu pikirkan."


"Iya, nanti aku akan mendengar penjelasanmu, tapi tolong biarkan aku mandi dulu ya, badanku terasa lengket. Oh iya, beberapa jam yang lalu, aku sudah meminta anak buahku untuk mengantar perempuan tawananmu ke Markas Besar laki-laki itu. Aku pikir mereka perlu bertemu. Jadi kamu tidak perlu repot-repot memikirkan balasan apa yang layak untuk perempuan itu, aku yakin laki-laki itu punya cara yang tepat untuk mengatasi perempuan itu. Sudah ya, aku mandi dulu."


Sall masuk dan langsung mengunci pintu kamarnya. Sementara Sanchia masih mencerna apa yang dikatakan oleh Sall, Sanchia sama sekali tidak tahu kalau Dhiany dibawa ke Markas Besar Shuga. Saat ini yang ada di pikiran Sanchia adalah, apa yang akan terjadi pada Dhiany setelah bertemu Shuga, karena Shuga terlihat menyimpan dendam yang sangat besar terhadap Dhiany.


Sanchia memilih beranjak menuju kamarnya, sambil menunggu Sall selesai mandi untuk kemudian mendengar penjelasannya. Tanpa Sanchia tahu, kalau Sall tidak berniat mendengar penjelasan Sanchia, karena sesaat setelah Sanchia masuk ke dalam kamarnya, Sall pun keluar dari kamar dengan menggendong sebuah tas berisi beberapa pakaian ganti. Malam ini Sall memutuskan untuk menginap di kapal pesiar miliknya, pikirannya sangat perlu ditenangkan saat ini. Sedangkan melihat istrinya, justru membuat hatinya semakin sakit dan sesak.


Tapi sebelum pergi, Sall sudah meminta Leon dan Leroy untuk memberikan penjagaan yang ketat pada istrinya. Sedangkan Sall hanya ditemani oleh 4 orang anak buahnya.


*************************


KAPAL PESIAR


Sall merebahkan tubuhnya di atas sofa seraya menengadahkan kepalanya menikmati pemandangan langit malam yang berhias bintang-bintang. Langit yang indah ternyata tidak berhasil mengalihkan pikirannya dari istrinya yang dia tinggal di villa. Sudah beratus-ratus kali Sall membiarkan panggilan masuk dari Sanchia, dan sama sekali tidak berniat untuk mengangkatnya. Pesan masuk dari Sanchia pun tidak dibuka sama sekali, hanya panggilan video dari Leon yang akhirnya mau dia angkat. Leon terlihat sedang berada di Ruang kerja Sall, dikelilingi beberapa berkas perusahaan yang harus ditanda tangani oleh Sall.


"Sall.. Dhiany sudah mati. Orang kepercayaan Shuga yang bernama Dawson menembaknya tepat di kepala."


Sall lalu mendudukkan dirinya, lalu mengambil kaleng minuman bersoda, dan meneguknya perlahan.


"Aku pikir laki-laki itu yang akan melakukannya."


"Shuga mengalami patah kaki dan tangan, bahkan dia belum sadar sampai saat ini, karena kamu hajar habis-habisan. Mana bisa dia menembak Dhiany."


"Lalu kenapa si Dawson itu langsung menembak Dhiany tanpa perintah dari laki-laki itu?"


"Rupanya ada drama di baliknya Sall. Dawson adalah mantan pacar Dhiany saat Dhiany baru saja tiba di Korea beberapa tahun yang lalu. Dawson-lah yang membiayai hidup mewah Dhiany selama tinggal di Korea. Tapi Dhiany malah mengkhianatinya dan memilih menjadi simpanan seorang Pengusaha kaya. Jadi Dawson begitu dendam pada Dhiany."


"Hmm, rupanya kita mengantarkan perempuan itu pada orang yang paling tepat."


"Iya, kamu benar Sall..Dhiany langsung mendapatkan karmanya, tanpa harus mengotori tangan kita."


"Iya benar.. Leon, katakan pada Sanchia dan semua orang di villa, 2 hari lagi merekan akan pulang ke Indonesia. Kamu dan Leroy pun harus memastikan semuanya tiba di Indonesia dengan selamat. Sedangkan aku akan langsung pulang ke Inggris, kamu tahu kan kalau seminggu lagi aku harus memimpin meeting dengan seluruh management."


"Bukankah kamu bisa melakukan video conference seperti biasanya? Tidak perlu datang langsung kan?"


"Tidak, kali ini aku akan datang dan memastikan semua perusahaanku berjalan dengan baik."


"Sall.. Apa kamu sedang berusaha menghindar dari Sanchia? Jangan lari dari masalah Sall, ini seperti bukan dirimu."


"Ya, aku pun merasa begitu Leon. Tapi aku memang harus melakukannya."


"Kamu akan menyesalinya Sall."


Sall mengulas senyum sinisnya seraya mengalihkan pandangannya ke arah laut yang terbentang luas.


"Mungkin saja Sanchia yang sedang menyesali pertemuannya denganku."


*************************


Image Source : Instagram Cha Eun Woo, Toni Mahfud & Kim Myung Soo (Edited)


Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..


Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.


Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.


Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ceritanya ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy


Love u all.. ❤❤❤❤️❤


IG : @zasnovia #staronadarknight