
HOTEL - JEJU ISLAND
Sall menggeliat malas dengan masih menutup matanya, saat Sanchia menyibak tirai yang menghalangi cerahnya sinar matahari yang masuk. Sall yang terlihat sangat terganggu, menarik selimutnya untuk menutupi wajahnya, agar tidak silau.
Sanchia menggelengkan kepalanya, lalu naik ke atas tempat tidur dan kembali merebahkan tubuhnya disamping Sall.
"Honey, bangun dong! Katanya mau kasih kejutan buat Kevin, tinggal 1 jam lagi lho."
"Sebentar lagi ya Sweetheart, aku benar-benar masih mengantuk."
"Padahal aku sudah siap. Ya sudah, tidak ada morning kiss ya hari ini."
Seketika Sall membuka selimut yang menutupi wajahnya, lalu mata yang sedetik yang lalu masih tertutup, kini sudah terbuka dengan lebar. Sall memasang ekspresi yang sangat memelas, seolah meminta Sanchia membatalkan apa yang dikatakannya tadi.
"Sweetheart, aku mau morning kiss, pleaseee..."
Sanchia terkekeh geli melihat ekspresi Sall yang terlihat sangat menggemaskan itu.
"Kalau aku beri morning kiss, kamu mau bangun kan, Honey?"
Sall segera menganggukan kepalanya dengan sangat meyakinkan, membuat Sanchia mengulas senyum lembutnya seraya mengikis jarak wajahnya dengan wajah Sall. Namun sebelum Sanchia mengecup bibir Sall, Sall malah sudah lebih dulu menautkan bibirnya di bibir Sanchia yang sedikit terbuka. Mencium Sanchia dengan lembut, namun semakin lama berubah sangat menuntut.
Sanchia mendorong pelan dada Sall, dan memandang wajah Sall yang sudah berubah sendu dengan pandangan dalam namun berkabut. Sanchia tahu pasti apa yang diinginkan suaminya, tapi dokter belum memberinya lampu hijau, karena saat ini kandungan Sanchia masih sangat lemah.
Sall memalingkan wajahnya ke arah lain, menyadari kesalahannya yang hampir saja lepas kontrol. Sall segera beranjak dari tempat tidurnya hendak menuju kamar mandi.
"Aku mandi dulu ya Sweetheart."
Sanchia memandangi Sall yang berjalan menuju kamar mandi. Namun belum sampai Sall di pintu kamar mandi, Sanchia memanggil Sall, sehingga Sall mengurungkan niatnya.
"Honey, sabar ya, tunggu kandunganku kuat dulu. Jika Dokter sudah mengizinkan, kamu akan kuberi bonus." Sanchia mengedipkan matanya, menggoda sang suami yang kini terkekeh geli.
"Benar ya, akan kutagih janjmu."
**************************
2 jam kemudian..
Kevin masih saja bertanya-tanya, kemana mobil yang dikendarai Leon ini akan membawanya. Nieva, sang istri yang duduk disebelahnya, hanya mengulas senyum manisnya setiap kali Kevin bertanya kemana tujuan mereka saat ini.
"Kenapa kepulangan kita ke Indonesia, tiba-tiba diundur? Dan kemana sebenarnya tujuan kita ini?"
Leon yang bosan mendengar gerutuan Kevin, mulai menimpali dengan ekspresi kesal.
"Kevin, kenapa kamu cerewet sekali dari tadi. Kita akan menuju villa yang dibeli Sall. Sebelum pulang ke Indonesia, kalian harus menginap disana dulu."
"Hah, Sall membeli villa? Kenapa tidak dari kemarin-kemarin saja dia membelinya, kan kita jadi bisa menginap lebih lama disana?"
"Kak Sall membolehkan kok, kalau kita mau mengundur kepulangan kita lebih lama."
"Wah benarkah? Hmm, tapi tidak, aku sudah terlalu lama cuti dari perusahaan. Untung saja ada Daniel yang menggantikan tugasku selama aku cuti."
"Baiklah, semua tergantung kamu. Bahkan Papa dan Mama pun menyerahkan keputusan padamu."
Kevin mengerutkan keningnya, karena tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Nieva. Namun belum sempat bertanya, perkataan Leon dan pemandangan di luar, membuat Kevin mengurungkan niatnya.
"Kita sudah sampai."
"Wow.. Indahnya."
Mobil yang dikendarai Leon, masuk lebih dulu ke halaman villa, disusul mobil yang dikendarai Sall dengan Sanchia, Papa Leonard dan Mama Annesya di dalamnya. Tentu saja beberapa mobil yang berisi beberapa anak buah Sall pun, mengikuti di belakangnya.
Semua orang yang berada di dalam mobil, segera keluar dari dalam mobil mereka masing-masing. Kevin, Nieva, Papa Leonard, dan Mama Annesya mengedarkan pandangan mereka ke seluruh sudut bagian depan villa. Mereka mengagumi design villa yang megah dan langsung menghadap laut itu.
"Indah sekali Sall."
Mama Annesya mulai memuji villa yang dipilih Sall itu. Sall yang saat ini sedang merangkul bahu Sanchia, kini tangannya yang lain mulai menggenggam tangan Mama Annesya dan mengajaknya masuk ke dalam villa.
"Ayo Ma, kita masuk."
"Ayo Sall."
Sebelah tangan Mama Annesya menggenggam tangan Sall, dan tangan yang lainnya menggenggam tangan Papa Leonard.
Sanchia dan Papa Leonard yang melihat tingkah Sall yang selalu bersikap manja kepada Mama Annesya, mengulas senyum bahagianya. Begitupun Nieva, Kevin dan Leon yang mengulas senyum tulus di wajah mereka. Mereka sangat paham, Sall yang sudah kehilangan kedua orangtuanya, selalu ingin merasakan kasih sayang dari mertuanya, yang sudah dia anggap orangtuanya sendiri.
Saat mereka semua hendak masuk, pintu depan villa tiba-tiba terbuka yang seketika menampakan wajah Leroy dengan beberapa anak buah Sall yang berdiri berjejer, menyambut sang tuan rumah tiba.
"Sall, mereka semua menunggu di ruang keluarga."
Leroy segera memimpin jalan agar Sall dan yang lainnya segera mengikutinya. Karena Sall sebagai pemilik villa pun, belum mengetahui dimana letak ruang keluarga di villa miliknya itu.
"Silahkan masuk."
Leroy membuka pintu dari sebuah ruangan yang terlihat luas dengan beberapa sofa di sisi kanan dan kirinya, lengkap dengan perapian dan sebuah piano yang ada di sudut ruangan. Namun bukan itu yang membuat mereka semua tersenyum, tapi beberapa orang yang tampak duduk di atas sofa, dengan posisi berseberangan.
Berbeda dengan semua orang, Kevin terlihat membelalakan matanya melihat siapa orang-orang di hadapannya itu.
"Eo..Mma.. Ap..Pa.."
Kedua orang yang dipanggil Kevin terlihat berdiri seraya mengulas senyum lebar di wajah mereka. Bahkan 4 orang anak kecil dan remaja di samping mereka juga ikut berdiri dan berjingkrak senang.
"Hyeong.."
"Oppa.."
Keempat anak itu yang merupakan saudara tiri Kevin, kini menghambur ke pelukan Kevin, dan terlihat begitu bahagia bertemu dengannya. Sementara itu, Eomma dan Appa Kevin, terlihat meneteskan air mata haru melihat semua anak-anak mereka berpelukan.
Kevin tentu belum sepenuhnya sadar dari rasa terkejutnya, karena melihat kedua orangtuanya yang sudah lama bercerai, dengan keempat adik tiri yang merupakan anak dari Eomma dan Appa-nya dari pasangan mereka saat ini, tentu sangat mengejutkan baginya.
************************
Sall yang kini berada di atas tempat tidur kamar utama, sesekali terlihat melamun, di sela-sela obrolannya bersama Sanchia. Sanchia tentu bisa merasakan ada yang berbeda dari orang yang paling dicintainya itu, sehingga dengan hati-hati, Sanchia mencari tahu apa yang sedang dirasakan Sall saat ini.
"Honey, apakah ada yang mengganggu pikiranmu?"
Sall yang tersadar dari lamunannya, segera menolehkan wajahnya yang dihiasi senyum manis ke arah Sanchia, lalu menggelengkan kepalanya perlahan.
"Hmm, tidak. Aku hanya teringat kedua orangtuaku. Aku merindukan mereka, Sweetheart."
Sanchia menyentuh lembut kepala Sall, lalu menyandarkannya di bahunya yang terbuka.
"Apa kamu mempunyai photo-photo kenangan bersama kedua orangtuamu, Honey?"
"Semuanya ada di Inggris, dan hanya sedikit. Aku dan kedua orangtuaku sangat jarang menghabiskan waktu bersama, terlebih Daddy yang sangat sibuk dengan urusan klan dan perusahaannya. Mommy adalah seorang yang sangat baik dan keibuan, aku lebih sering menghabiskan waktu dengan Mommy dibanding Daddy. Tapi kegiatan sosial Mommy selalu membuatnya lebih sering menghabiskan waktu di luar. Tapi setelah Mommy meninggal, aku baru tahu kalau Mommy bukan hanya melakukan kegiatan sosial, tapi juga pengobatan untuk penyakit leukimianya. Dia tidak ingin aku dan Daddy mengetahui penyakit yang dideritanya."
Sanchia merengkuh kepala Sall, saat tangis Sall pecah. Sall meluapkan perasaannya dengan menangis sesenggukan di bahu Sanchia. Elusan tangan Sanchia di punggung Sall, perlahan menenangkan hati Sall, namun Sall masih belum bisa menghentikan tangisnya yang terlalu deras.
Sall kini menatap netra Sanchia dengan sangat dalam, di sela-sela tangisnya yang mulai mereda.
"Aku tidak ingin.. Anak kita.. Bernasib.. Sama.. Sepertiku.."
Sall mengatakan perasaannya dengan terbata-bata, sementara Sanchia menghapus perlahan air mata yang membasahi kedua pipi Sall.
"Tidak akan Honey, kita berdua akan menjaganya bersama-sama dengan segenap kemampuan kita. Dan kita harus selalu jujur, jika ada sesuatu yang buruk menimpa kita. Jangan bersikap seolah bisa menyelesaikan segala masalah seorang diri. Kita akan selalu bersama menghadapi apapun, seburuk apapun itu."
"Kamu benar Sweetheart."
"Deal?"
Sanchia menyodorkan kelingkingnya, yang disambut tautan kelingking Sall yang kini saling melingkar.
"Deal.."
Sanchia tersenyum melihat wajah Sall yang kini sudah bisa mengulas senyumnya, walaupun begitu tipis. Sall tiba-tiba menarik tangan Sanchia, untuk beranjak dari tempat tidur.
"Ikut aku, Sweetheart. Ada sesuatu yang ingin aku tunjukan padamu."
*************************
Image Source : Instagram Toni Mahfud & Im Jin Ah
Hai readers terkasih & Author2 hebat tercinta..
Terima kasih banyak ya atas comment, like, Vote, Rate bintang 5 & Favorit-nya.
Meskipun novel ini masih jauh dari kata baik, karena aku sendiri masih belajar menulis.
Mampir juga yuk, ke novel pertamaku "Star on A Dark Night", ga kalah seru lho dari novel ini. Deuh kepedean 😅
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊 #staysafe #stayhealthy
Love u all.. ❤❤❤❤️❤
IG : @zasnovia #staronadarknight