
Daniyal sedang membaca berkas-berkas perusahaan di ruangannya, namun pikirannya terbagi karena mengingat apa yang sudah dia lakukan tadi kepada istrinya.
“Arrgghh!! Kenapa aku mendorong Iren tadi!? Bodoh!” ketus Daniyal sambil menjambak rambutnya sendiri.
“Aku tidak bisa seperti ini, aku terlalu mengkhawatirkan Abizar sampai memperlakukan wanita yang sudah mengurusku dengan baik seperti itu, aku tidak bisa seperti ini terus aku harus mempertahankan hubungan ini dan membuat Abizar melupakan pembalasan dendamnya.
Daniyal memutuskan untuk membeli hadiah untuk Irene sebelum pulang, dia juga akan meminta maaf kepada Irene karena sudah memperlakukannya dengan dingin.
Tiba-tiba saja Tiko masuk ke dalam ruangan Daniyal dengan wajah sedikit khawatir dan membuat Daniyal mengerutkan keningnya.
“Ada apa Tiko?” tanya Daniyal.
“Anu tuan, ada nona Sherly di depan.” Jawab Tiko.
“Apa?! Ngapain dia di sini?” tanya Daniyal.
Sebelum Tiko menjawab pertanyaan dari Daniyal, wanita yang di maksud sudah lebih dulu berjalan masuk ke dalam ruangan Daniyal dengan wajah cerianya.
“Daniyal! Aku datang…” ucap Sherly yang berlari menghampiri Daniyal.
“Sherly! Kamu sedang apa di sini? Bukankah kamu harusnya berada di Korea?” tanya Daniyal.
“Aku meminta Brams untuk memindahkan aku ke rumah sakit cabang yang ada di Indonesia, Bram juga bilang kalau dia akan pindah ke sini juga.” Jelas Sherly.
“Apa? Brams juga akan pindah ke sini? Kalian berdua ini sengaja pindah bersama-sama ya?” tanya Daniyal kesal.
“Hihihi, aku ingin merebutmu dan Brams ingin merebut Irene jadi bersiaplah.” Ucap Sherly asal.
“Gila! Tiko bawa wanita ini keluar dari ruanganku!” tegas Daniyal.
“Baik tuan..” ucap Tiko yang langsung menarik lengan Sherly.
Namun Sherly segera menepis tangan Tiko dan akhirnya dia melepaskan genggaman tangannya kepada Sherly.
“Kamu ini kasar sekali Tiko! Gimana pun juga aku pernah hampir menjadi istri dari majikanmu tau!” ketus Sherly.
“Maaf nona Sherly, untungnya anda dan tuan Daniyal tidak jadi bersama.” Ucap Tiko dengan santai.
“Apa?! Dasar kurang ajar!” ketus Sherly tidak suka.
Tiko hanya cuek tidak memperdulikan ucapan Sherly, sedangkan Daniyal hanya memijat keningnya yang pusing melihat keduanya sedang bertengkar seperti itu.
“Apa mau kamu Sherly? Kenapa kamu datang kemari?” tanya Daniyal.
“Aku ingin kamu mengajakku ke rumahmu karena aku ingin menyapa Irene dan membuatnya sedikit ketakutan karena aku akan mengatakan kalau aku akan merebutmu darinya.” Ucap Sherly.
“Jangan membuat masalah Sherly! Kamu akan membuat Irene menjadi banyak pikiran!” ketus Daniyal.
“Kenapa? Kalau memang benar kamu ternyata masih menyukaiku aku tidak akan segan untuk merebutmu.” Ucap Sherly.
“Pergilah aku semakin pusing melihatmu di sini!" ketus Daniyal.
"Baiklah tapi tolong temani aku ke mall sebentar ya, aku akan menemui sahabatku yang tinggal di sini, aku ingin membeli beberapa hadiah untuknya." ucap Sherly.
"Kalau begitu baiklah, aku juga ingin memberikan hadiah kepada istriku." sahut Daniyal.
Dengan senang hati akhirnya Sherly mengangguk dan tersenyum lebar, setidaknya Daniyal mau menemaninya ke mall pikirnya.
Sesampainya di mall, Daniyal dan Sherly berjalan bersama masuk ke dalam dan tujuan utamanya adalah toko perhiasan.
"Kamu ngapain ke sini Sherly?" tanya Daniyal.
"Lah kamu kan mau beliin hadiah buat Irene, ya apa lagi hadiah yang cocok buat istri seorang Daniyal Bramantio selain perhiasan?" tanya Sherly.
Daniyal berfikir sejenak dan menganggukkan kepala karena menurutnya ucapan Sherly memang benar, dia tidak pernah memberikan apapun kepada Irene selama ini.
Akhirnya Daniyal dan Sherly memilih perhiasan untuk Irene, sedangkan Irene yang mengikuti Daniyal menjadi salah paham akan hal itu.
"Wah irinya, andai saja aku yang berada di posisi Irene.." seru Sherly yang membuat Daniyal menatapnya dengan tajam.
Sherly yang melihat tatapan tajam Daniyal hanya bisa menghela nafas panjang dan kembali melihat-lihat perhiasan.
"Ayo, bukankah kamu mau membeli hadiah untuk temanmu?" tanya Daniyal.
"Aku beliin perhiasan juga deh, lagian udah lama banget kita ga ketemu jadi aku harus memberikan hadiah spesial untuknya." ucap Sherly.
Daniyal hanya menganggukkan kepala dan menunggu Sherly untuk memilih perhiasan yang akan dia berikan kepada sahabatnya.
Drtt,, drtt.. tiba-tiba saja hp Daniyal bergetar menandakan kalau ada pesan masuk.
Dengan segera Daniyal membuka pesan tersebut dan membaca isi pesannya yang berasal dari BI Sumi.
Bi Sumi mengatakan kalau Irene sudah sampai di rumah dan mengatakan kalau Irene membawa belanjaan.
"Iren berbelanja? Tapi Iren seringkali belanja di supermarket sebelah, apa dia melihatku dan Sherly?" gumam Daniyal yang tetap menatap layar hpnya.
"Ada apa Daniyal? Apa ada kerjaan mendadak?" tanya Sherly.
"Iya, Sherly maaf aku akan menyuruh Tiko menjemputmu di sini, aku harus segera perg... Kamu pilihlah salah satu perhiasan biar aku yang membayarnya sebagai tanda terimakasih karena sudah membantuku memilih hadiah untuk Irene." ucap Daniyal.
Belum Sherly menjawab ucapan Daniyal, Daniyal sudah berlari meninggalkan Sherly sendirian di sana.
Sherly hanya menghela nafas panjang melihat kepergian Daniyal yang sudah jauh.
"Pasti tentang Irene sampe segitunya, kayaknya dulu waktu kita pacaran gapernah sampe segitunya ya?" gumam Sherly.
Daniyal yang sudah sampai di rumahnya segera keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah.
Daniyal bertemu dengan bi Sumi di ruang tamu, namun Daniyal hanya diam saja dan melanjutkan perjalanannya untuk menaiki tangga, namun tangan Daniyal di pegang oleh bi Sumi dan membuat Daniyal menoleh ke arah bi Sumi.
"Bibi, ada apa?" tanya Daniyal.
"Tuan, ada yang mau bibi bicarakan sama tuan Daniyal." ucap bi Sumi.
"Ada apa bi?"
"Duduklah dulu ya tuan." ajak bi Sumi.
Akhirnya Daniyal hanya menuruti ucapan bi Sumi dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu di sebelah bi Sumi.
"Ada apa bi? Apa ada sesuatu yang terjadi kepada Irene?" tanya Daniyal.
"Engga kok tuan ga ada apa-apa sama nyonya Iren kok.." ucap bi Sumi.
"Terus ada apa bi? Kok bibi serius amat."
"Tuan, bibi mau tanya sebenarnya tuan masih mau bersama dengan nyonya Irene apa engga?" tanya bi Sumi.
"Loh kenapa bibi bilang begitu? Emang ada apa bi?" tanya Daniyal.
"Jawab dulu tuan!" tegas bi Sumi.
"Tentu saja tidak bi! Aku tidak akan pernah meninggalkan Irene." tegas Daniyal.
"Kalau begitu tuan harus berubah, jangan dingin dengan nyonya Irene, tuan harus lebih memperhatikan nyonya Irene dan bersikap lembut kepadanya." ucap bi Sumi.
"Ada apa bi? Bibi jujur sama Daniyal sekarang!" tegas Daniyal.
"Sebenarnya, nyonya Irene sepertinya sedang hamil tuan." ucap bi Sumi.
Tentu saja mendengar ucapan bi Sumi membuat Daniyal terkejut bukan main, bagaimana tidak? Daniyal sama sekali tidak merasakan kalau sang istri sedang hamil.