
Acara pertunangan pun selesai, para tamu undangan segera pulang setelah memberi selamat kepada Daniyal, Irene dan keluarga mereka.
“Haah, akhirnya selesai juga..” ucap Nancy yang langsung bernafas lega.
“Apa selelah itu? Padahal kamu hanya duduk di sini Nancy.” Sahut Irene sambil tersenyum melihat adiknya yang kelelahan.
“Duduk juga butuh tenaga tau kak..” ucap Nancy sambil memanyunkan bibirnya seperti anak kecil.
Di tengah-tengah obrolan kakak adik tersebut, tiba-tiba saja Daniyal menyapa Tommy dan Roy yang sedang berjalan mendatangi mereka.
“Hai Tom, Roy, kalian tidak menyapaku saat datang dan sekarang kalian baru menyapaku?” tanya Daniyal.
“Cih! Kamu ini percaya diri sekali, aku di sini untuk menyapa Irene bukan menyapa dirimu!” ketus Tommy.
“Aduh kalian berdua ini jangan mulai deh, aku malu tau!” sahut Roy yang menarik tubuh Tommy ke belakang dan dirinya segera mengulurkan tangan kepada Irene dengan senyum di wajahnya.
“Selamat atas pertunangan anda calon kakak ipar..” ucap Roy dengan ramah membuat Irene kebingungan.
“Apa kamu adalah adik atau saudara kak Daniyal sampai kamu memanggilku kakak ipar?” tanya Irene.
“Ah tidak, aku dan Daniyal hanya berteman, tapi kamu adalah calon kakak iparku karena aku akan menikah dengan salah satu adikmu.” Ucap Roy sambil melirik ke arah Nancy.
Semua orang yang ada di sana terkejut mendengar ucapan Roy, begitu juga dengan Irene, bahkan sangking terkejutnya dia sama sekali tidak membalas uluran tangan Roy dan perhatiannya sepenuhnya menoleh ke arah Nancy.
“Apa? Kamu akan menikah Nancy? Kenapa kamu tidak mengatakan apapun kepadaku dan kepada papi?” tanya Irene dengan tatapan tajam.
“Hah? Apaan sih kak, aku ini ga akan menikah untuk waktu dekat ini karena aku masih kuliah, apa kakak lupa?” ucap Nancy.
“Lalu kenapa dia mengatakan kalau dia akan menikahimu?” tanya Irene.
“Kakak lebih percaya dengan kata-kata buaya ini?” tanya Nancy.
“Apa? Aku buaya? Aku ini manusia tau!” ucap Roy.
“Nancy, jangan begitu ga sopan!” ketus Irene.
“Maaf kak, habisnya kakak tidak percaya denganku, aku bahkan tidak mengenalnya jadi bagaimana aku bisa menikahinya?” ucap Nancy.
“Roy jangan bercanda terus! Minta maaf lah!” ketus Daniyal.
“Maafkan temanku yang tidak tau diri ini Iren, dia menyukai adikmu dan sekarang dia jadi menggila.” Ucap Tommy.
“Jangan perdulikan dia lagi, selamat atas pertunanganmu, kalau kamu tidak bahagia dengannya kamu bisa langsung menghubungiku dan aku akan segera datang untuk menjemputmu.” Ucap Tommy sambil mengulurkan tangannya kepada Irene.
“Benarkah? Kalau begitu aku akan sering menghubungimu Tom.” Ucap Irene bermaksud untuk menggoda Daniyal.
Irene membalas uluran tangan Tommy, namun belum saja tangan itu sampai di tempatnya tiba-tiba saja Daniyal sudah menepis tangan Tommy dan dirinya menggenggam tangan Irene sebagai gantinya.
“Berani lu pegang-pegang! Kan aku udah bilang kalo aku ga akan memberimu kesempatan untuk menyentuh sehelai rambutnya satu pun!” ucap Daniyal dengan senyum sinisnya.
“Tapi tanganku sudah memegang tangannya Daniyal..” balas Tommy dengan senyum penuh kemenangan.
Daniyal menoleh ke arah tangan kiri Tommy yang sudah menggenggam tangan kiri tunangannya itu, Daniyal tidak menyukai ekspresi wajah Tommy yang terkesan mengejek dirinya.
“Lepas!” ketus Daniyal sambil menepis tangan Tommy dengan kasar.
“Biasa aja kali Dan!” ketus Tommy.
“Stop!! Jangan mulai deh, ayo Tom sebaiknya kita pulang sebelum kamu dan Daniyal bertengkar!” ketus Roy yang langsung menarik tangan Tommy dan memasukkannya ke dalam mobil.
Setelah memastikan Tommy duduk dengan nyaman, Roy kembali masuk ke dalam dan berdiri tepat di depan Nancy yang masih duduk di tempatnya.
“A-apa lagi?” tanya Nancy yang terkejut melihat Roy sudah berada di hadapannya saat itu.
Semua orang benar-benar terkejut dengan sikap Roy, begitu juga dengan Nancy yang hanya bisa mematung di tempatnya.
“Apa dia gila kak Dani? Bagaimana bisa dia mencari tahu nomerku kalau namaku saja dia tidak tau.” Ucap Nancy kepada Daniyal.
“Entahlah, dia memang sedikit gila! Ah bukan sedikit lagi, dia sangat gila!” ucap Daniyal yang di balas tawa oleh Irene.
Nancy hanya menggelengkan kepala lalu beranjak dari tempat duduknya.
“Kamu mau kemana Nancy?” tanya Irene.
“Aku mau ke papi di depan kak, aku mau minta ijin sama papi kalo aku mau keluar.” Jawab Nancy.
“Kamu mau keluar? Emang ga capek?” tanya Irene.
“Engga, lagian kak Aleena sudah berangkat syuting, Ratu dan Queen juga sudah berada di kamarnya masing masing, sedangkan aku mulai bosan berada di sini.” Protes Nancy.
“Setidaknya ganti dulu pakaianmu.” Ucap Irene.
“No! Kalo papi ga bolehin gimana? Kan capek udah ganti baju ujung-ujungnya ga boleh.” Ucap Nancy.
Irene hanya diam saja sambil menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya itu, Nancy memang sulit di atur sejak dulu dan itu yang membuat Irene dan Gilang pusing.
“Dia memang selalu susah di atur..” ucap Irene.
“Biarlah, namanya juga anak muda ya begitu, kayak ga pernah muda aja deh.” Ucap Daniyal.
“Iya kak Dani benar, ayo kak masuk ke dalam dulu, kakak juga belum makan kan?” ajak Irene.
“Baiklah, tapi aku tidak bisa berlama-lama karena aku harus mengurus perusahaan.” Ucap Daniyal.
“Tenang saja, aku juga harus kembali ke perusahaan kok.” Balas Irene.
“Apa?! Kalian akan ke perusahaan? Setelah acara pertunangan kalian?! No! kalian sebaiknya beristirahat sambil membicarakan pernikahan kalian.” Ucap Gilang yang tidak sengaja mendengar pembicaraan Irene dan Daniyal
saat berjalan masuk ke dalam.
“Yaampun papi, ngagetin aja deh! Di mana Nancy? Bukankah dia bilang mau berpamitan kepada papi?" Tanya Irene.
"Iya, dia sudah berangkat tad! Jangan mengalihkan pembicaraan! Kamu tadi bilang mau ke perusahaan?" tanya Gilang dengan tegas.
"Emang kenapa kalo kami mau ke perusahaan? Kami masih banyak pekerjaan papi..” ucap Irene.
“Kalian itu lelah jadi kalian harus beristirahat agar tidak sakit.” Ucap Gilang.
“Pi, aku dan kak Daniyal yang merasakannya, kami juga sudah dewasa dan kami tau kalau kami lelah kami akan beristirahat.” Ucap Irene dengan lembut.
“Tapi Iren,, bagaimana bisa kalian masih memikirkan pekerjaan di saat seperti ini?” tanya Gilang.
“Aduh papi stop ya, aku dan kak Daniyal sama sekali tidak lelah, aku ke dalem dulu ya kasian kak Daniyal kelaperan.” Ucap Irene yang langsung menarik lengan Daniyal dan membawanya ke dalam rumah.
Sedangkan Daniyal yang tangannya di tarik hanya bisa membungkukkan tubuhnya kepada Gilang lalu dia berjalan mengikuti Irene masuk ke dalam.
Sesampainya di dalam Irene terus saja memegang lengan Daniyal tanpa sadar, sampai akhirnya Daniyal berdehem dan Irene baru tersadar.
“Ah maaf kak, aku lupa, tadi aku mau kita cepat-cepat pergi dari papi.” Ucap Irene sambil melepaskan tangannya.
“Tidak masalah, aku kira kamu memang mencari kesempatan untuk memegang tanganku.” Goda Daniyal.
“Apa? Engga lah apaan sih kak!” ucap Irene yang berjalan ke arah pelayan yang sedang berlalu-lalang untuk memberikan dia dan Daniyal makanan.
Sedangkan Daniyal hanya tersenyum sinis melihat Irene yang selalu salah tingkah dengan ucapannya.