MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 102 (OVERPROTECTIVE)



Pagi telah datang, sinar matahari sudah masuk ke dalam kamar Irene dan Daniyal yang masih tertidur pulas karena pertempuran panas mereka semalaman.


Hari ini adalah jadwal pemeriksaan Irene, dan Daniyal menyuruh Tiko dan Elif untuk mengosongkan jadwal mereka hari ini.


Irene yang terkena sinar matahari itu segera membuka kedua matanya secara perlahan, lalu dia melihat ke luar jendela yang sudah sangat terang.


“Yaampun aku terlambat!” ucap Irene yang langsung berdiri dan membuat Daniyal terkejut.


Tentu saja Daniyal terkejut karena pergerakan Irene yang membuat seolah-olah ada gempa saat itu.


“Yaampun sayang kenapa kamu tidak pernah biasa aja kalo bangun? Aku kira ada gempa tau!” ucap Daniyal yang masih menutup kedua matanya.


“Ini gara-gara kamu tau! Semalam kamu terlalu bersemangat sampai kita harus begadang!” ketus Irene yang sudah turun dari tempat tidur.


“Lagi pula hari ini tidak ada pekerjaan kan? Kita bisa santai sayang, pemeriksaanmu juga masih nanti siang.” Ucap Daniyal.


“Aku kan belum masak buat sarapan, udah sana kamu tidur lagi aja, bangunnya nunggu aku selesai bikin sarapan!” ucap Irene.


Namun sebelum Irene berjalan keluar dari kamarnya, Daniyal sudah menarik tangannya dan membuat Irene kembali terjatuh di pelukan Daniyal.


“Bukankah aku sudah bilang kalau kamu tidak di ijinkan untuk memasak sampai anak kita lahir.” Ucap Daniyal.


Daniyal memang mengatakan kepada Irene kalau dia tidak ingin melihat Irene melakukan pekerjaan apapun di rumah, Daniyal juga sudah menyuruh koki pribadinya untuk kembali memasak untuknya dan juga Irene, bahkan Daniyal meminta koki pribadinya untuk memasak makanan yang sehat untuk Irene.


“Tapi bukannya kamu menyukai masakanku? Nanti kalo rasanya berbeda dengan masakanku bagaimana?” tanya Irene.


“Ga apa-apa, aku tidak masalah akan hal itu, aku ga tega ngeliat kamu kesana kemari memegang peralatan dapur dan kompor yang menyala dan juga minyak yang kadang mengenai tanganmu.” Ucap Daniyal.


“Ya namanya juga memasak itu sih hal biasa.” Ucap Irene.


“Jangan membantah lagi Iren, pokoknya aku ga suka kalo kamu memasak!” tegas Daniyal.


“Haah, baiklah tapi aku mau mandi jadi lepaskan aku.” Ucap Irene.


“Kalau begitu ayo kita mandi bareng saja.” Ucap Daniyal.


Irene tau betul kalau mandi bersama Daniyal tentu tidak akan benar-benar mandi, jadi Irene dengan segera berlari sekuat tenaga menuju kamar mandi sebelum suaminya bangun dan memaksa masuk.


“Yaampun Irene! Kamu ini lagi hamil bisa-bisanya berlari seperti itu!!” teriak Daniyal.


Namun Irene tidak perduli dan segera melakukan ritual mandinya dengan santai dan sesekali dia bersenandung menikmati pancuran air shower yang membasahi seluruh tubuhnya.


Setelah selesai mandi, Irene segera keluar dari kamar mandi dan dia terkejut saat melihat Daniyal yang sudah berada di depan pintu kamar mandi dengan tatapan tajam dan kedua tangan yang di silangkan di dadanya membuat Irene gugup sampai menelan salvilanya.


“SS-sayang…” ucap Irene dengan gagap.


“Apa kamu tau kesalahanmu Irene?” tanya Daniyal dengan tajam.


“Tau, aku berlari tadi.” Ucap Irene.


“Kamu tau kalo kamu sedang hamil lalu kenapa kamu berlari hah?! Kalo kamu jatuh gimana? Mau dapet piring?” tanya Daniyal.


“Hah? Kok bisa dapet piring?” tanya Irene bingung.


“Karena kalau kamu jatuh berarti sudah tiga kali jatuh dan kamu akan mendapatkan piring!” ketus Daniyal.


“Yaampun kamu ini lagi ngelawak ya? Hahahaha, plis deh jangan ngelawak sayang kamu benar-benar kaku saat melawak.” Ejek Irene.


“Apa?! Berani sekali kamu!!” ucap Danyal sambil menggelitik tubuh Irene yang membuat Irene berteriak sambil tertawa karena merasa geli.


“Ampun kak ampun hahaha..” ucap Irene.


“Jangan lari lagi, aku ga mau kamu dan anak kita kenapa-kenapa.” Ucap Daniyal.


“Iya, iya maaf ya sayang karena aku sering sekali bandel.” Ucap Irene.


Tok..tok..tok.. Tiba-tiba saja pintu kamar mereka di ketuk dan membuat keduanya sama-sama menoleh ke arah pintu.


“Kakak mandi saja, biar aku yang membuka pintu, itu pasti bi Sumi.” Ucap Irene.


“Baiklah, aku mandi dulu kalo ada tamu suruh tamunya menungguku.” Ucap Daniyal yang langsung mengangguk.


Irene segera mengganti baju handuknya dengan pakaiannya dan segera membuka pintu kamar.


“Bi Sumi? Ada apa bi?” tanya Irene.


“Sarapan sudah siap nyonya, bibi kira nyonya dan tuan masih tidur.” Ucap bi Sumi.


“Udah bangun kok bi, kak Daniyal juga lagi mandi, ntar lagi dia menyusul.” Ucap Irene.


“Baiklah, ayo kita turun nyonya biar bibi bantu.” Ajak bi Sumi sambil mengulurkan tangannya kepada Irene.


Semenjak Daniyal dan bi Sumi mengetahui tentang kehamilan Irene, keduanya sama-sama overprotective dan bi Sumi juga selalu menjemput Irene di kamarnya untuk membantu Daniyal membawa Irene turun ke bawah.


Bahkan Daniyal berniat untuk membuat lift di rumahnya, namun karena Irene menolak habis-habisan barulah Daniyal mengurungkan niatnya itu, karena menurut Irene hal itu sangat berlebihan toh selama dia hati-hati dia


tidak akan kenapa-kenapa.


Irene tersenyum ke arah bi Sumi dan membalas uluran tangan bi Sumi untuk menggandengnya dan membantunya menuruni tangga.


Irene tidak akan menolak bantuan apapun yang di tawarkan kepadanya karena dia sudah membantah pembuatan lift jadi sebagai balasannya dia akan menuruti semua orang yang mau membantunya.


“Apa yang di masak koki hari ini bi?” tanya Irene.


“Sayur nyonya, ada banyak jenis sayur yang di sajikan untuk anda, anda tinggal memilih mana yang anda sukai.” Ucap bi Sumi.


“Hanya sayur? Apa tidak ada hal yang lain seperti sambal atau tumisan pedas?” tanya Irene.


“Anda masih hamil muda nyonya, sebaiknya makanan pedas di hindari dulu untuk saat ini, anda juga tidak boleh makan makanan yang ada bahan pengawetnya.” Ucap bi Sumi.


“Tapi susu hamil juga ada pengawetnya bi.” Ucap Irene.


“Tapi kalo yang itu beda nyonya, itu memang di khususkan untuk ibu hamil jadi pasti ada takaran sendiri untuk pengawetnya.” Jelas bi Sumi.


“Bagaimana bibi tau? Apakah bi Sumi pernah bekerja di pabrik susu?” tanya Irene bercanda.


“Nyonya, semenjak hamil anda jadi sering sekali bercanda ya?” tanya bi Sumi.


“Hehe, soalnya dokter bilang aku ga boleh stress bi jadi aku sering bercanda aja deh biar si dede juga seneng.” Ucap Irene.


Bi Sumi hanya tersenyum mendengar ucapan Irene dan akhirnya setelah melakukan perjalanan yang panjang keduanya sudah berada di tangga terakhir.


Sebenarnya Irene benar-benar masih bisa berjalan menuruni tangga dengan cepat, tapi bi Sumi tetap kekeh menyuruh Irene berjalan satu per satu secara perlahan dan akhirnya mereka bahkan bisa memakan waktu lima menit hanya untuk menuruni tangga.


“Yaampun bi, aku sampe capek di pertengahan jalan loh sangking lamanya berjalan.” Ucap Irene.


“Yang sabar nyonya, hanya Sembilan bulan aja kok.” Balas bi Sumi.


“Hanya sembilan bulan? Hanya bi? Yaampun aku bisa tua di tangga bi…” rengek Irene yang membuat bi Sumi tertawa.