
Nancy masih terduduk di bawah sambil menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya dan juga menangis meratapi nasibnya yang sial bertemu dengan orang yang salah.
Buk!! Buk!! Buk!! Suara pukulan berdatangan dari jauh hingga membuat semua orang yang ada di sana mengalihkan pandangannya dari Nancy dan para wanita berteriak ketakutan.
“Apa-apaan ini! Siapa kamu!” teriak Joey.
Laki-laki yang memukul semua orang yang menghalanginya langsung melepaskan jaket kulitnya dan memakaikannya ke tubuh Nancy yang hanya memakai dalaman.
Nancy yang mendapat perlakuan seperti itu langsung menoleh ke arah orang yang memakaikan jaket kepadanya.
“Aiden!?” ucap Nancy yang terkejut karena Aiden ada di sana.
“Berdirilah nona, kamu tidak pernah duduk di lantai seperti ini.” Ucap Aiden sambil menjulurkan tangannya kepada Nancy.
Nancy langsung menggenggam tangan Aiden dengan kencang dan menangis, bahkan Nancy memeluk tubuh Aiden karena merasa lega sudah di selamatkan.
“Ah jadi dia adalah bodyguardmu? Bagus sekali dia bisa sampai di sini, pasti kamu yang menyuruhnya mengikuti kita bukan!?” bentak Joey.
“Jangan membentak nona Nancy! Laki-laki sepertimu tidak pantas membentaknya!” ketus Aiden yang sudah berjalan mendekati Joey sambil mengepalkan kedua tangannya.
Buk!! Satu tinjuan mendarat di pipi Joey hingga membuat pipinya langsung membiru bahkan bibirnya mengeluarkan darah.
“Jo!” teriak Tika yang langsung berlari membantu Joey berdiri.
Melihat hal itu membuat Nancy tersenyum sinis, Nancy segera memakai jaket Aiden dengan benar lalu berjalan menghampiri Joey dan Tika.
PLAK!! Belum saja rasa sakit bekas tinjuan Aiden mereda, Nancy sudah memberi Joey tamparan hingga membuatnya semakin merasa sakit.
“Kau!” teriak Tika yang mau menampar Nancy namun di tepis oleh Nancy.
PLAK!! Nancy memberikan tamparan kepada Tika hingga membuat Tika meringis kesakitan.
“Ambil kunci mobil dari Joey, itu adalah mobilku, sejak awal dia hanyalah laki-laki matre yang mendekatiku karena aku memiliki uang yang banyak.” Ucap Nancy.
Aiden segera menganggukkan kepala lalu merogoh paksa kantung jaket Joey yang sudah tidak memiliki tenaga untuk menepisnya.
Setelah mendapatkan kunci mobilnya, Aiden dan Nancy segera pergi dari tempat itu meninggalkan semua orang yang sudah terkapar di lantai.
“Hei wanita jal*ng! akan aku pastikan kalau video setengah telanj*ngmu akan menyebar di dunia luas!” teriak Joey.
Mendengar ucapan Joey membuat Nancy menoleh ke belakang untuk melihat Joey kembali.
“Silahkan saja! Aku juga akan memastikan kalau video itu akan menghilang secepatnya sebelum di lihat banyak orang!” ketus Nancy yang langsung berjalan kembali.
Nancy benar-benar merasa lega setelah memberi pelajaran kepada semua orang yang sudah menghinanya, dia tidak akan pernah membiarkan orang-orang tersebut menginjak-injak dirinya setelah ini.
Sesampainya di parkiran mobil, Aiden segera membuka pintu mobil milik Nancy yang tadi dia bawa, namun Nancy bingung karena dia juga harus membawa mobilnya yang selama ini di pakai Joey.
“Aku naik mobil sendiri aja ya Aiden.” Ucap Nancy.
“Jangan nona, aku sudah menelfon pihak perusahaan untuk mengambil mobil anda di sini, mungkin mereka akan segera datang.” Jelas Aiden.
“Ah begitu? Baiklah.” Ucap Nancy yang langsung masuk ke dalam mobilnya.
Di dalam mobil Nancy terus saja terdiam memikirkan kejadian memalukan tadi, dia benar-benar tidak menyangka kalau dirinya akan di permalukan seperti tadi, Nancy juga berfikir bagaimana jika keluarganya mengetahui tentang hal ini.
Tanpa sadar Nancy meneteskan air mata dan menangis dalam diam, sedangkan Aiden yang dari tadi fokus menyetir baru sadar jika majikannya sedang menangis.
Aiden segera mengambilkan tisu di samping pintu mobilnya dan memberikannya kepada Nancy untuk mengelap air matanya.
“Silahkan nona.” Ucap Aiden sambil memberikan kotak tisu.
“Dan terimakasih juga karena sudah membantuku tadi.” Sambung Nancy.
“Sudah kewajibanku sebagai bodyguard nona.” Balas Aiden.
“Bagaimana kamu tau kalau aku ada di tempat itu? Bukankah tadi kamu tidak boleh mengikutiku sama kak Iren?” tanya Nancy.
“Iya memang, tapi aku seperti memiliki tanggung jawab kepada nona dan aku melihat kalau nona tidak membawa kunci mobil nona.”
“Saat melihat anda di jemput oleh seseorang, aku berinisiatif mengikuti nona dan sampailah aku di tempat itu.” Jelas Aiden.
“Wah memang papi ga pernah salah pilih orang! Terimakasih banyak, aku berhutang budi kepadamu.” Ucap Nancy.
“Tidak nona, tuan Gilang memberikan aku begitu banyak gaji dan bonus melebihi apapun, dan aku hanya bisa mempertaruhkan hidupku untuk menjaga anaknya.” Jelas Aiden.
Nancy hanya bisa tersenyum sambil menganggukkan kepalanya mendengar ucapan dari Aiden, jika saja dia tidak memiliki bodyguard mungkin dia bisa lebih di permalukan lagi tadi.
Di tengah-tengah keheningan, Aiden yang dari tadi sebenarnya penasaran akan sesuatu akhirnya memberanikan diri untuk mengungkapkan isi pikirannya.
“Em,, nona, bisakah aku bertanya sesuatu?” tanya Aiden.
Nancy yang tadinya melihat ke luar jendela langsung menoleh ke arah Aiden sambil menarik nafas panjang.
“Haah… Silahkan, aku tau dari tadi kamu memiliki banyak sekali pertanyaan.” Ucap Nancy.
“Maaf kalau pertanyaanku menginggung nona, tapi apa dia selalu melakukan hal itu kepada nona? Apa nona selalu di permalukan seperti itu?” tanya Aiden.
Nancy menghela nafas panjang beberapa kali sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari Aiden.
“Tidak sering, tapi hampir setiap bertemu dengannya pasti selalu ada kesalahanku yang membuatnya kesal dan mempermalukan aku.” Jelas Nancy.
“Lalu? Kenapa nona masih bertahan?”
“Karena aku menyukainya, setiap berfikir mau meninggalkannya aku kembali terfikir kepada kebaikannya kepadaku sebelum kita kuliah.” Jelas Nancy.
“Apa dulu dia tidak begitu?”
“Tidak, dia adalah orang yang sangat baik, tulus dan mau melakukan apapun untuk membuatku bahagia, tapi setelah kita lulus SMA dan mulai kuliah, dia berubah tapi aku masih berfikir kalau dia pasti bisa berubah, dan ternyata engga.” Jelas Nancy.
Aiden menganggukkan kepala setelah mendengar penjelasan dari Nancy, dia tau kalau jatuh cinta itu tidak semudah yang di lihat orang lain.
“Oh iya, apa papi dan yang lain tau tentang hal ini?” tanya Nancy dengan ragu.
“Aku memberitahu nona Irene, tapi dia bilang kepadaku untuk menyembunyikan hal ini dulu dari siapapun karena dia yang akan mengurusnya.” Jelas Aiden.
“Haah, baiklah kalau begitu aku takut kalau darah tinggi papi kumat kalau tau aku di peralukan seperti tadi.” Ucap Nancy.
“Jujur saja, sekarang saja aku malu kepadamu karena tadi kamu melihat semuanya.” Lanjut Nancy.
“Tidak perlu malu nona, anggap saja aku hanya patung.” Ucap Aiden yang bermaksud membuat candaan untuk Nancy.
Nancy hanya menatap wajah Aiden dengan tatapan yang aneh lalu tertawa karena kegaringan candaannya.
“Kamu kayaknya ga bisa bercanda deh, ga lucu tau!” ucap Nancy.
“Ya kan namanya juga usaha non.” Balas Aiden.
Mendengar ucapan dari Aiden membuat Nancy tertawa sambil menggelengkan kepalanya, setidaknya Nancy sedikit terhibur dengan ke garingan Aiden saat itu dan bisa melupakan kejadian memalukan tadi untuk sesaat.
Sedangkan Aiden tersenyum tipis melihat majikannya itu tertawa karena ketidaklucuannya, namun di hati Aiden dia merasa kasihan dengan Nancy yang ternyata tidak memiliki kehidupan yang lancar masalah pertemanan dan percintaan.