
“Kak, kakak jangan menatap kak Abizar begitu, dia bisa kabur.” Ucap Aleena yang menyadari kalau kakaknya sedang memberikan serangan batin kepada Abizar.
Mendengar ucapan Aleena membuat semua orang beralih menoleh menatap Irene yang masih menatap Abizar dengan tajam.
“Iren, kenapa kamu menatap Abizar dengan tajam begitu?” tanya Gilang.
“Tidak ada pi, aku akan bersiap ke pesta, kau jangan dekat-dekat dengan adikku!” tegas Irene kepada Abizar.
“Iren, gimana dia ga dekat-dekat, dia kan bertanggung jawab untuk menjaga Aleena jadi dia harus brada dekat dengannya.” Ucap Gilang.
“Kak Iren kenapa sih? Kok jadi kakak yang sensi begitu?” tanya Nancy.
Irene hanya menggelengkan kepala lalu segera menaiki tangga dan menuju ke kamarnya untuk bersiap berangkat ke pesta ulang tahun modelnya.
“Kalian berangkat dulu, jangan menunggu Irene pasti dia akan lama.” Ucap Gilang.
“Baiklah pi kalau begitu Aleena berangkat dulu.” Pamit Aleena.
“Mari om..” sambung Abizar.
Gilang hanya menganggukkan kepala mengiyakan Aleena dan Abizar untuk pergi, sedangkan Nancy, Ratu dan Queen tersenyum sambil melambaikan tangan kepada kakaknya.
“Selamat bersenang-senang kak!!” seru semuanya secara bersamaan.
Belum saja Aleena dan Abizar berangkat, mobil Daniyal memasuki halaman rumah Herlambang dengan mobil sport berwarna merahnya.
Setelah memarkirkan mobilnya di depan pintu rumah, Daniyal segera keluar dari mobilnya dan melihat Aleena dan Abizar yang baru saja mau masuk ke dalam mobil.
“Kak Dani, kakak mau jemput kak Iren?” tanya Aleena kepada Daniyal.
“Iya, bukankah hari ini ada pesta ulang tahun? Aku di sini untuk menemani Iren ke sana.. Kalian mau berangkat?” balas Daniyal.
“Iya kak, aku mau berangkat duluan sama kak Abizar.” Jawab Aleena.
“Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan.” Ucap Daniyal yang langsung masuk ke dalam rumah dan menyapa Gilang dan yang lainnya.
“Kak Daniyal! Kakak tampan sekali…” seru Queen sambil menghampiri Daniyal.
“Hai Queen, jadi selama ini aku tidak tampan?” tanya Daniyal.
“Tampan sih, tapi sekarang lebih berwibawa kak, kalo dulu sedikit menyeramkan.” Balas Queen sambil memamerkan gigi putihnya.
“Dasar kamu ini bisa aja deh!” ucap Daniyal sambil tertawa.
“Dani, sambil menunggu Irene ayo makan malam dulu.” Ajak Gilang.
“Engga usah om, ntar di sana pasti Daniyal makan juga kan.” Jawab Daniyal.
“Jangan panggil aku om, kamu dan Irene sebentar lagi akan menikah jadi panggil aku papi, sama seperti yang lain.” Sahut Gilang.
“Iya baiklah papi, Daniyal akan mencoba untuk membiasakan diri.” Ucap Daniyal.
“Baguslah, kalo kamu ga mau makan kamu bisa duduk di sini saja, papi mau lanjut makan dulu tadi kepotong gara-gara Aleena.” Jelas Gilang yang di balas anggukan oleh Daniyal.
Sudah hampir setengah jam Daniyal menunggu Irene yang tak kunjung keluar juga, bahkan sampai semua orang menyelesaikan makan malam mereka.
“Loh, kak Iren belum selesai juga?” tanya Nancy.
“Belum, mungkin dia masih berdandan.” Jawab Daniyal.
“Bentar ya kak, aku panggil dulu kak Iren.” Ucap Nancy sambil berjalan menaiki tangga.
Sampai di depan pintu kamar Irene, Nancy baru mau mengetuk pintu kamarnya, tiba-tiba saja Irene sudah membuka pintu dan hampir saja tangan Nancy mengenai wajahnya.
“Yaampun Nancy! Kamu mau mukul aku?” tanya Irene.
“Ih kak Iren ga gitu tau, kakak lama amat sih, kak Daniyal nungguin tuh dari tadi.” Ucap Nancy.
“Kak Daniyal? Mau ngapain dia nunggu aku?” tanya Irene heran.
“Tapi aku tidak memberitahunya kalau aku akan pergi ke pesta ulang tahun.”
“Ya mungkin kak Aleena yang memberitahunya, udah ayo cepetan ke bawah.” Ucap Nancy lalu segera meninggalkan Irene.
Irene akhirnya segera menuruni tangga karena ingin melihat Daniyal yang sedang menunggunya.
“Dia benar-benar ada di sini, tapi dia tau dari mana kalau aku akan ke pesta?” gumam Irene.
“Kak, kakak di sini?” tanya Irene.
“Hai Iren, kamu cantik sekali malam ini.” Puji Daniyal.
“Terimakasih kak, tapi kakak di sini beneran mau jemput aku?” tanya Irene.
“Tentu saja, emang kenapa?”
“Sepertinya aku tidak pernah memberitahu kakak tentang pesta ini, apa kakak mengetahuinya dari Aleena?”
“Engga, aku tau sendiri kok.” Ucap Daniyal dengan santai.
“Maksudnya kak?” tanya Irene yang tidak mengerti maksud dari Daniyal.
“Aku kan punya Tiko, dia yang memberitahuku tentang semua jadwalku karena aku tau kalau kamu pasti tidak akan memberitahuku tentang semua yang kamu lakukan, jadi aku menyuruh Tiko untuk mencari tahu jadwalmu.” Jelas Daniyal.
“Kak Tiko? Tapi aku tidak pernah bertemu dengannya jadi dia tau jadwalku dari mana?”
“Kamu meremehkan kemampuan Tiko? Dia bahkan bisa mengetahui hal sekecil apapun tanpa terlihat siapapun.” Ucap Daniyal.
“Benarkah? Ternyata dia hebat sekali.” Puji Irene.
“Sudahlah ayo sebaiknya kita segera berangkat, karena sudah hampir satu jam kita di sini.” Ajak Daniyal.
Dan akhirnya Irene dan Daniyal pun segera berangkat ke pesta ulang tahun modelnya setelah berpamitan kepada Gilang.
Di dalam mobil, Irene dan Daniyal hanya diam seribu bahasa karena mereka berdua masih merasa canggung terlebih setelah acara pertunangan, mereka berdua langsung di sibukkan dengan pekerjaan di perusahaannya dan itulah yang membuat keduanya tidak pernah bertemu.
“Lama sekali tidak bertemu denganmu.” Ucap Daniyal mencairkan suasana.
“Hm, kita sama-sama sibuk kak jadi tentu saja jarang bertemu.” Balas Irene.
“Kapan kamu ada waktu? Bukankah kita harus membicarakan tentang pernikahan kita?” tanya Daniyal.
Irene sedikit terkejut saat Daniyal mengatakan tentang hal itu, karena dia tidak pernah berfikir kalau Daniyal akan perduli dengan pernikahan mereka.
“Em, kapanpun kak Daniyal senggang aku bisa mengatur ulang jadwalku mengikuti jadwal kak Daniyal.” Jawab Irene.
“Baiklah, aku akan mengatur jadwal untuk lusa, aku juga akan mengajakmu melihat rumah yang akan kita tempati setelah menikah.” Jelas Daniyal.
“Baiklah kalau begitu kak..” balas Irene.
Mereka kembali terdiam di sepanjang jalan sampai akhirnya mereka sampai di sebuah hotel berbintang yang sudah di dekorasi dengan megah.
“Kita sudah sampai, tunggu di sini ya aku akan membantumu keluar.” Ucap Daniyal yang di balas anggukan oleh Irene.
Daniyal lebih dulu keluar dari mobil, lalu dia membukakan pintu mobil Irene dan membantunya untuk keluar dari mobil.
Ada banyak sekali media yang meliput acara tersebut, lalu dengan mesra Daniyal menggenggam tangan Irene dan membuat media meliput hubungan romantis antara keduanya.
Namun baru saja beberapa langkah memasuki hotel tersebut, tiba-tiba banyak kerumunan yang sedang berkumpul di tengah lobby.
“Ada apa ini kak? Kenapa ramai sekali?” tanya Irene kepada Daniyal.
“Aku juga ga tau, kamu tunggu sini ya aku akan melihat situasi di sana.” Ucap Daniyal.
“Tunggu kak! Aku ikut kak Daniyal aja.” Ucap Irene.
Dan akhirnya Daniyal membiarkan Irene untuk mengikutinya dari belakang namun tetap di genggam erat oleh Daniyal.