MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 98 (SHERLY LAGI!)



Setelah melakukan spa dan juga merawat rambutnya, Irene kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju supermarket terdekat.


Sesampainya di sana dia segera belanja kebutuhan sehari-hari lalu membeli susu hamil sesuai dengan tujuan utamanya.


Irene di landa kebingungan saat melihat banyak sekali merk dan rasa susu hamil yang ada di sana, Irene tidak tau mana yang terbaik untuknya dan akhirnya dia memilih susu yang paling mahal dengan berbagai rasa.


“Aku ga tau yang mana yang enak jadi aku cobain semua aja deh.” Gumam Irene dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


Setelah membeli cukup banyak belanjaan, Irene memutuskan untuk berkeliling supermarket sebentar lalu pulang.


Tetapi saat dia mau melangkahkan kaki ke parkiran mobil, dia melihat mobil Daniyal masuk ke dalam mall yang letaknya berdempetan dengan supermarket saat ini sedang dia kunjungi.


“Kak Daniyal? Ngapain dia di sini?” gumam Irene.


Akhirnya Irene memutuskan untuk tetap di sana untuk melihat kemana perginya Daniyal dan bersama siapa dia ke mall itu.


Beberapa menit kemudian, Irene yang awalnya sangat penasaran seketika mematung, kedua matanya terbuka lebar, wajahnya memerah karena menahan rasa marahnya saat melihat Sherly yang keluar dari mobil suaminya itu.


“Sherly? Bukankah dia ada di Korea? Terus kenapa sekarang dia sedang bersama suamiku!?” gumam Irene yang menahan sesak di dadanya.


Irene segera menaruh belanjaannya ke dalam mobil lebih dulu, namun kedua matanya masih menatap Daniyal dan Sherly yang berjalan masuk ke dalam mall agar tidak kehilangan jejak mereka.


Setelah menutup kembali pintu mobilnya, Irene segera berjalan dengan langkah cepat agar tidak kehilangan Daniyal dan Sherly, dia terus mengikuti kedua orang itu dengan sangat hati-hati agar tidak ketahuan oleh mereka.


Sampai akhirnya mereka berdua masuk ke dalam toko perhiasan, Irene semakin kesal melihatnya, Irene berpikir kalau Daniyal pasti akan membelikan perhiasan untuk Sherly.


“Kakak!” seru seseorang membuat Irene terkejut dan hampir terjatuh.


Irene segera menutupi wajahnya sambil menoleh ke asal suara, lalu dia kembali terkejut saat melihat Nancy sedang berdiri di belakangnya.


“Yaampun Nancy, kamu ngagetin kakak aja sih?!” ketus Irene.


“Lagian kak Iren ngapain di sini kak? Pake acara ngumpet segala lagi.” Ucap Nancy.


“Sstt,, diamlah kamu pergi saja sana.” Ucap Irene.


Namun bukan Nancy namanya jika dia menuruti ucapan sang kakak, Nancy malah mencari sesuatu yang di lihat sang kakak, namun kedua matanya tidak menemukan apapun.


Sedangkan Irene yang awalnya ketakutan kalau Nancy akan menyadari keberadaan Daniyal dan Sherly seketika langsung menghela nafas panjang dan langsung bersikap seperti biasa lagi.


“Udah ah ayo kita pulang aja kak, kakak lagi liatin apa sih di sini!” ketus Nancy.


Irene akhirnya memutuskan untuk mengalah dan menuruti ucapan Nancy, dia tidak ingin kalau adiknya melihat suaminya bersama wanita lain dan membuat Nancy membencinya.


“Baiklah ayo kita pulang saja.” Ucap Irene.


“Kakak naik mobil sendiri? Mau pulang ke rumah papi kak? Papi pasti seneng banget soalnya kakak jarang sekali pulang ke rumah akhir-akhir ini.” Ucap Nancy.


Ya, memang benar kata adiknya itu, Irene memang jarang sekali pulang ke rumah papinya karena terlalu sibuk dan juga dia sudah memiliki pekerjaan lain di rumahnya.


“Nanti deh aku pasti akan main ke sana sama kak Daniyal.” Ucap Irene.


Irene akhirnya mengikuti Nancy dan Aiden berjalan menuju parkiran, namun sebenarnya perhatian Irene masih tetap ke arah Daniyal yang saat ini sudah tidak terlihat entah kemana.


Perasaanya benar-benar tidak karuan, Irene penasaran apa yang akan di lakukan suaminya dengan mantan kekasihnya itu, apa Daniyal akan pulang terlambat nanti? Di pikiran Irene saat itu hanyalah hal-hal buruk yang tidak ingin dia inginkan.


“Kak, kakak kenapa ngeliat belakang terus sih? Sebenarnya ada siapa sih di sana kak? Kak Daniyal?” tanya Nancy.


“Hah?! Apaan sih kamu, kak Daniyal ada di perusahaannya lah ngapain dia ada di sini!” ucap Irene berbohong karena dia terkejut dengan pertanyaan Nancy yang tiba-tiba itu.


“Benarkah? Terus kenapa kak Iren ada di sini?” tanya Nancy.


“Tadi aku ke supermarket buat belanja kebutuhanku dan kak Daniyal, tapi aku seperti melihat kenalanku jadi aku mengikutinya eh ternyata aku salah orang.” Jelas Irene berbohong.


Nancy awalnya sedikit ragu dengan ucapan kakaknya, tapi akhirnya dia percaya dan segera pergi bersama Aiden setelah mengantar Irene ke mobilnya.


Irene melihat mobil Nancy yang masih ada di parkiran membuat Irene tidak bisa kembali masuk ke dalam mall dan harus segera pulang ke rumah.


Akhirnya dengan terpaksa Irene benar-benar pulang ke rumah siang itu karena kepalanya juga terasa sangat pusing.


Irene tidak melihat ada bi Sumi di depan, biasanya jika siang hari bi Sumi akan menyapu atau menyiram bunga namun hari itu Irene tidak melihat bi Sumi di halaman depan.


Mungkin karena Irene pulang terlalu siang dan itulah sebabnya kenapa bi Sumi tidak ada di depan dan Irene berjalan masuk ke dalam rumah begitu saja.


Tanpa sengaja, saat Irene sedang berjalan masuk ke dalam, dia bertabrakan dengan bi Sumi yang sedang menyapu ruang tamu saat itu.


Hari itu Irene sudah terjatuh dua kali dan perutnya terasa kram seperti tadi pagi, namun dia masih bisa menahannya.


“Yaampun nyonya Irene, maaf bibi ga lihat nyonya Iren..” ucap bi Sumi yang segera membantu Irene berdiri.


Bi Sumi melihat belanjaan Irene yang berantakan, dia segera membereskan belanjaan tersebut dan terkejut saat melihat susu hamil yang banyak sekali.


“Nyonya, kenapa nyonya membeli susu hamil?” tanya bi Sumi sambil menatap wajah Irene dengan rasa penasaran.


“Ah engga apa-apa bi pengen beli aja.” Ucap Irene berbohong.


“Jangan bohong sama bibi nyonya, nyonya Iren hamil?” tanya bi Sumi.


Irene tentu saja tidak bisa mengelak lagi, dia sudah seperti maling yang ketangkap basah, kalaupun berbohong buktinya sudah sangat jelas.


Akhirnya Irene mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan dari bi Sumi membuat bi Sumi menjatuhkan kotak susu yang ada di tangannya dan tubuhnya seketika melemas.


“Bagaimana ini? Kenapa nasib nyonya Irene seperti ini?” gumam bi Sumi.


“Bi, bibi baik-baik aja?” tanya Irene.


“Maaf nyonya, bibi baik-baik saja kok.” Ucap bi Sumi yang kembali tersenyum dan membantu Irene merapihkan belanjaannya.


Irene sebenarnya merasa aneh dengan sikap bi Sumi yang tiba-tiba seperti itu, tapi dia berusaha untuk tidak berpikiran apa-apa dan segera berjalan ke kamarnya untuk beristirahat.


Sedangkan bi Sumi yang melihat Irene berjalan menaiki tangga hanya bisa menatap punggung Irene dengan rasa kasihan.