
Malam ini adalah pesta ulah tahun Siska, sang model terkenal. Pesta tersebut di rayakan dengan sangat megah, bahkan media meliput acara ulang tahun tersebut, dan itulah kenapa Irene menyuruh Abizar tetap menemaninya di acara ulang tahun tersebut.
“Maaf ya, kamu jadi harus lembur karena aku..” ucap Aleena kepada Abizar.
“Tidak apa, memang sudah seharusnya aku menjagamu dan itulah tugasku.” Ucap Abizar.
“Mereka memang selalu mengkhawatirkan aku.” Ucap Aleena.
“Sudah jangan menyalahkan mereka, mereka begitu karena sangat menyayangimu.” Ucap Abizar.
“Lebih baik kamu sekarang cepat bersiap dan ganti pakaian agar tidak terlambat, aku juga akan bersiap agar tidak membuatmu malu.” Lanjutnya.
“Kenapa kamu bilang begitu kak? Aku tidak akan malu denganmu!” ketus Aleena yang kesal dengan ucapan Abizar.
Sedangkan di tangga, Irene mendengar semua percakapan pasangan kekasih itu dengan menggelengkan kepala dan menghela nafas panjang.
“Kamu sebaiknya cepat ke atas dan aku akan mengurus kekasihmu ini Aleena..” ucap Irene tiba-tiba yang membuat Aleena dan Abizar terkejut melihatnya.
“Kakak! Jangan berisik papi bisa denger!” ucap Aleena dengan khawatir.
“Tidak perlu khawatir, semua orang ada di kamarnya masing-masing jadi tidak perlu bisik-bisik!” ketus Irene.
“Nih, aku membawakan pakaian untukmu, kamu bisa mandi dan mengganti pakaian di kamar tamu.” Ucap Irene sambil memberikan stelan jas kepada Abizar dan menunjuk kamar tamu yang ada di pojok ruangan.
Irene dan Abizar memang sedikit canggung, karena usia mereka hanya berbeda tiga tahun, Abizar lebih tua di bandingkan Irene, sedangkan Abizar berhubungan dengan adiknya, dan sampai saat ini Irene sangat jarang berbicara dengan Abizar karena dia bingung harus memanggil Abizar apa.
“Kalian berdua ini sama-sama kaku ya? Santailah sedikit kak, kamu bisa memanggilnya kakak karena dia lebih tua darimu.” Ucap Aleena yang menyadari ketegangan di antara mereka.
“Tapi dia akan menjadi adik iparku kalau dia berhubungan denganmu!” ucap Irene tidak mau mengalah.
“Yah, bahkan kau sudah menjadi kakak iparku sekarang!” gumam Abizar mengingat kalau Irene sudah bertunangan dengan kakaknya.
“Apa? Tadi kamu bilang apa kak?” tanya Aleena.
“Ah engga kok, kalo gitu aku ganti baju dulu ya.” Ucap Abizar sambil membelai lembut rambut Aleena di hadapan Irene.
Aleena dan Irene yang melihat hal itu sama-sama terkejut dan mematung di tempatnya melihat Abizar berjalan ke kamar tamu.
Irene melotot melihat adegan seperti tadi, dia mengalihkan pandangannya ke arah Aleena yang saat ini sedang tersipu malu sampai wajahnya benar-benar berwarna merah merona.
“Hei! Beraninya kamu menyentuh adikku di hadapanku! Aleena jangan tersipu malu seperti itu kamu hampir gosong!” ucap Irene yang saat ini menutup wajah Aleena dengan kedua tangannya.
Namun Aleena masih menundukkan kepalanya dan tersenyum malu seperti orang gila, akhirnya Irene mendorong adiknya untuk menaiki tangga.
“Tidak bisa di biarkan! Kamu tidak boleh dekat-dekat dengannya!”ketus Irene.
“Yaampun kak, apa kak Dani tidak pernah melakukan hal itu padamu?” tanya Aleena kepada sang kakak.
“Tidak! Dan tidak akan pernah karena aku merinding bahkan hanya membayangkannya saja!” ketus Irene sambil membuka pintu kamar Aleena.
“Yaampun kak, aku yakin di saat kamu sudah benar-benar mencintai kak Dani, kamu tidak akan pernah ingin berada jauh darinya.” Ucap Aleena.
“Berisik! Sekarang mandilah!” tegas Irene yang langsung menutup pintu kamar Aleena tanpa mendengar ucapan Aleena.
Aleena terkejut karena sang kakak menutup pintu kamar setelah mendorongnya masuk dan hampir mengenai hidung mancungnya.
“Ih dasar ratu es! Hampir saja hidungku patah.” Ucap Aleena sambil memegang hidung mancungnya dengan lembut.
“Gila! Mereka benar-benar sudah bucin! Apa aku harus melaporkannya kepada papi? Ah tidak, kasihan mereka kalau harus di sidang sama papi.” Irene terus saja berbicara sendirian sampai akhirnya dia sampai di kamarnya.
“Oke Iren jangan memikirkan hal yang tidak perlu! Mereka sudah besar dan tau mana yang baik dan tidak, sebaiknya aku mandi aja dari pada stress!”
Akhirnya Irene mengalah dan memutuskan untuk mandi agar tidak terus menerus memikirkan sang adik.
Setelah mandi, seperti biasa Irene turun ke bawah lebih dulu karena dia harus menata meja makan untuk makan malam.
Irene melihat Abizar keluar dari kamar tamu dengan memakai jas berwarna merah maroon yang tadi dia berikan kepadanya.
“Jangan macam-macam dengan adikku!” itu adalah satu kata yang keluar dari mulut Irene saat melihat Abizar.
Abizar hanya membalas ucapan Irene dengan senyuman, sedangkan Irene segera berjalan ke arah dapur.
Beberapa menit kemudian, satu per satu adik Irene turun dan menyapa Irene di dapur, semua orang terkejut melihat penampilan Abizar yang berbeda dari biasanya.
“Wah, kak Abizar kenapa tampan sekali memakai jas seperti itu?” ucap Nancy.
“Siapa yang kamu bilang tampan!? Tidak sama sekali!” ketus Irene.
“Tentu saja kak Iren tidak menganggap kak Abizar tidak tampan karena ada kak Dani yang lebih tampan di bandingkan siapapun.” Sahut Queen.
“Ah kamu benar juga Queen..” sambung Ratu.
“Apa kalian tidak mau makan? Kenapa kalian malah menggodaku?!” ketus Irene.
“Hahaha, lihatlah wajah kak Iren memerah!” goda Nancy.
Nancy tertawa keras karena sudah berhasil menggoda kakaknya, begitu juga dengan yang lainnya yang ikut tertawa karena sudah menggoda kakak tertua mereka.
“Ada apa sih kalian semua tertawa begitu keras, apa ada hal yang menyenangkan?” tanya Gilang yang baru saja masuk ke ruang makan.
“Tidak ada pi, mereka bahagia karena sudah mengejekku!” jelas Irene.
“Sudahlah jangan mengejek kakak kalian terus! Kalian tidak akan bisa makan jika dia tidak mengijinkannya.” Ucap Gilang.
“Oh iya ngmong-ngomong dimana Aleena?” tanya Gilang saat menyadari kalau salah satu anaknya tidak ada di meja makan.
“Aleena sedang bersiap di kamarnya, dia akan menghadiri pesta ulang tahun seniornya.” Jawab Irene.
“Kamu tidak ikut datang? Bukankah model itu dari agensimu juga?” tanya Gilang.
“Aku datang tapi papi tau kan, sorotan utama datang di detik-detik terakhir.” Jelas Irene dengan senyum percaya diri di wajahnya.
Saat mereka berbincang, akhirnya Aleena yang sudah selesai bersiap menuruni tangga membuat semua perhatian Abizar tertuju padanya.
Bahkan semua orang yang ada di meja makan pun ikut keluar dan melihat Aleena saat mendengar suara langkah kaki menuruni tangga.
“Wah! Kak Aleena cantik sekali!!” puji Queen.
Semua mata tertuju kepadakecantikan Aleena malam ini, namun tidak dengan Irene,tatapan matanya justru tertuju kepada Abizar yang sedang melihat Aleena dengan kagum.
Sampai akhirnya Abizar menoleh ke arah Irene dan terkejut saat melihat Irene sudah memberi tatapan tajam kepada Abizar.
“Kak, kakak jangan menatap kak Abizar begitu, dia bisa kabur.” Ucap Aleena yang menyadari kalau kakaknya sedang memberikan serangkan batin kepada Abizar.