
Pintu lift terbuka, Irene segera berjalan keluar dari lift tersebut. Irene sadar kalau dirinya tidak luput dari pandangan para karyawan wanita yang ada di sana.
“Kenapa semua orang menatapku seperti itu?” gumam Irene saat melihat tatapantajam para karyawan wanita.
Ah, mungkin karena dia baru keluar dari lift khusus CEO dan mereka adalah penggemar Daniyal makanya mereka menatap Irene dengan tajam seperti itu pikirnya.
Akhirnya Irene memutuskan untuk berjalan melihat terus ke depan tanpa sadar di sebelahnya ada seseorang yang sedang berjalan mundur sambil menggooda para karyawan wanita dan akhirnya terjadilah tabrakan tanpa sengaja di lobby trsebut.
“Aw!” ucap Irene lalu menatap tajam ke arah orang yang ada di sebelahnya.
“Ah sorry,… Waw!!” ucap laki-laki tersebut yang baru sadar akan kecantikan Irene.
“Kalo jalan ke depan bukan ke belakang!” ketus Irene.
“Mungkin emang takdirnya aku berjalan mundur agar bertabrakan denganmu dan akhrinya berkenalan, Roy…” ucap laki-laki tersebut sambil menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Yap! Roy, sahabat baik Tommy dan Daniyal, sang Casanova. Melihat hal itu membuat Irene semakin menatap tajam ke arah Roy lalu melewatinya begitu saja tanpa membalas jabatan tangannya.
“Crazy!” ketus Irene setelah berjalan beberapa langkah melewati Roy.
Roy yang mendengar hal itu hanya bisa mematung sambil tersenyum senang karena merasa ada wanita aneh yang mampu menolak pesonanya.
“Menarik! Tapi, sepertinya aku pernah melihatnya tapi di mana ya?” gumam Roy yang akhirnya berjalan ke receptionist.
“Hai cantik!” sapa Roy dengan gaya khasnya.
“Tuan Roy..” balas receptionist tersebut.
“Kamu semakin cantik saja… Tita.” Ucap Roy dengan genit.
“Saya Dina tuan..” balas receptionist tersebut.
“Hah? Tapi di tanda pengenalmu Tita.” Ucap Roy sambil menunjuk ke arah pin pengenal yang terpasang di baju
receptionist tersebut.
“Ah ini karena saya lupa membawa pin pengenal saya jadi saya meminjam milik teman, tapi bagaimana bisa anda
melupakan saya tuan, anda sudah sering melihat saya.” Protes receptionist tersebut.
“Ha.. ha.. ha, maaf mungkin aku terlalu banyak pekerjaan, ngomong-ngomong siapa wanita cantik yang tadi aku
tabrak itu?” tanya Roy mengalihkan pembicaraan.
“saya juga kurang tau tuan, tapi sepertinya dia salah satu putri dari keluarga Herlambang yang terkenal cantik-cantik itu tuan.” Ucap receptionist tersebut.
“Keluarga Herlambang? Apa mungkin… ey, tidak mungkin bukan?” gumam Roy bicara pada dirinya sendiri.
“Maaf tuan, anda tadi bicara apa?” tanya receptionist yang kurang jelas mendengar ucapan Roy.
“Ah tidak ada, sampai bertmu lagi, Tita.” Ucap Roy yang langsung pergi begitu saja.
“Dina tuan, Dina…” ucap receptionist tersebut sambil menghela nafas panjang.
Sedangkan Roy segera masuk ke dalam lift khusus untuk menuju ke ruangan sahabatnya dan bertanya tentang putri tuan Herlambang.
“Tuan Roy?” ucap Tiko yang terkejut saat melihat Roy yang keluar dari lift.
Karena Tiko mengetahui kalau ada seseorang yang menaiki lift khusus makanya dia keluar untuk melihat siapa yang berani naik ke atas, dan ternyata sahabat tuannya lah yang berani menaiki lift.
Karena memang di dalam lift khusus tidak di pasang kamera cctv karena yang masuk ke dalam hanyalah orang-orang terpercaya dan Daniyal tidak mengijinkan untuk memasang kamera cctv di sana.
“Hai Tiko, kamu semakin tampan saja..” ucap Roy yang terus saja berjalan menuju ruangan Daniyal.
“Anda juga sangat tampan tuan..” balas Tiko sambil membungkukkan tubuhnya.
“Kalau tuan Roy baru saja masuk, berarti dia tadi berpapasan dengan nona Irene dong?” gumam Tiko sambil menoleh ke arah Roy yang sekarang sudah membuka pintu ruangan Daniyal.
“Hai my best friend!!” seru Roy.
Daniyal yang sangat hafal dengan suara sahabatnya yang satu ini segera membuka kedua matanya dan bangkit dari tidurnya.
“Roy? Sejak kapan kamu kemari? Ah tidak! Sejak kapan kamu berada di perusahaanku?” tanya Daniyal.
Daniyal takut jika Roy mengetahui tentang Irene dan akhirnya dia akan mengadukannya kepada Tom sebelum dia dan Irene bertunangan dan menikah.
Karena Daniyal berencana untuk menutupi pertunangannya, setelah acara pernikahannya barulah dia akan mengundang kedua sahabatnya itu.
“Kenapa kamu sepertinya ketakutan begitu? Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan ya?” tanya Roy.
“Tidak ada, untuk apa aku menyembunyikan sesuatu darimu?” tanya Daniyal berusaha untuk menutupi rasa khawatirnya.
“Aku dari tadi di perusahaanmu, biasalah aku masih menggoda para karyawan wanitamu, kenapa kamu pintar sekali memilih karyawan perempuan?” ucap Roy.
“Cih! Makanya kamu ikut saat pemilihan karyawan agar bisa memilih yang cantik!” ucap Daniyal.
“Kamu tau sendiri kalau semuanya masih di atur oleh kakak dan papaku! Mereka berdua tidak pernah mempercayai
aku.” Ucap Roy.
“Bagaimana mereka mau mempercayai kamu? Kamu ini penjahat ke*amin tau! Mereka tidak akan mempercayimu.” Ucap Daniyal.
“Kamu ini sama saja dengan mereka!” ketus Roy dengan kesal.
“Ah iya aku tadi tidak sengaja menabrak seorang wanita cantik! Dia benar-benar bagaikan dewi Daniyal!” seru Roy dengan antusias.
Mendengar ucapan Roy membuat Daniyal terkejut, namun dia tetap mempertahankan wajahnya agar tidak terlihat
kalau dia terkejut mendengarnya.
“Lalu?”
“Dia sepertinya keluar dari lift khususmu, lalu aku bertanya kepada receptionist di lobby, dan dia bilang kalau wanita itu putri tuan Herlambang.” Ucap Roy.
“Tapi aku sepertinya pernah melihatnya di suatu tempat, tapi di mana ya?” lanjut Roy sambil mengingat kembali siapa wanita yang tadi dia tabrak.
“Tidak perlu di cari, wanita itu tidak akan menyukai laki-laki buaya sepertimu!” ketus Daniyal.
“Lalu dia menyukai siapa? Menyukaimu?” tanya Roy.
“Apa?! Gila ya! Engga lah!” ucap Daniyal dengan berteriak.
“Yaelah biasa aja kali Dan, lu kayak gitu nanti suka beneran baru tau rasa lu!” ucap Roy.
“Lu ngapain sih di sini? Ga punya kerjaan ya?” tanya Daniyal.
“Ih tunggu dulu kek! Jawab dulu dia siapa Dan, kalo ga ada hubungan apa-apa sama kamu ya kenalin sama aku lah..” ucap Roy.
“Aku ga buka ajang perjodohan, udah sana lu pulang!” ketus Daniyal.
“Yaelah jahat banget lu Dan! Yah it’s oke lah nanti aku akan mencari siapa wanita itu sendiri, selama bukan Irene
Herlambang sepertinya tidak masalah bukan? Aku tidak ingin kalau Tommy murka haha.” Ucap Roy yang langsung keluar dari ruangan Daniyal.
Mendengar ucapan sahabatnya membuat Daniyal terdiam, asal bukan Irene Herlambang? Daniyal mengira kalau Roy tidak melihat dengan jelas wajah Irene waktu itu karena hari sudah malam, tetapi apa yang akan dia katakan jika wanita itu adalah Irene Herlambang, dan terlebih lagi dia yang akan menjadi istrinya.
Sedangkan Roy yang sudah masuk ke dalam lift tiba-tiba teringat kalau tujuannya ke sini untuk menyambut Daniyal yang sudah kembali bekrja di perusahaan dan ingin mengajaknya berkumpul malam ini, namun dia melupakan semuanya karena Irene.
“Sial! Kenapa aku bodoh sekali, ah nanti saja aku akan menghubunginya lewat telfon.” Gumam Roy yang akhirnya
memutuskan untuk pulang karena tidak ingin membuat sahabatnya kesal.