
Dan tiba saatnya di mana puncak permainan mereka di mulai, Daniyal menatap kedua mata Irene lebih dulu dan setelah Irene memberikan persetujuannya akhirnya Daniyal mencoba untuk memasukkan adik kecilnya ke dalam
inti dari Irene secara perlahan.
“Ini akan sangat sakit karena ini pertama kalinya untukmu, kalau tidak bisa di tahan beritahu aku.” Ucap Daniyal.
“Hem..” Ucap Irene dengan singkat.
Secara perlahan Daniyal mencoba untuk mendorong miliknya, sedangkan Irene sedang berusaha untuk menahan rasa sakitnya dengan menggigit bibir bawahnya sendiri sambil memejamkan kedua matanya.
“Shit! Sempit sekali!” Batin Daniyal.
Daniyal membatin sambil melihat ekspresi wajah Irene, dan dia hanya bisa menghentikan gerakannya sebentar membuat Irene membuka kedua matanya dan menatap wajah Daniyal.
“K-kenapa berhenti?” tanya Irene.
“Kamu kesakitan.” Jawab Daniyal.
“Shit! Bagaimana bisa aku berhenti karena melihat wajah seorang wanita merintih kesakitan! Ah tidak, biasanya aku tidak pernah melihat wanita yang ada di bawah kungkunganku merintih kesakitan, mereka hanya menikmati
permainanku karena mereka sudah kotor!” batin Daniyal.
“Aku tidak menyangka kalau merasakan tubuh wanita yang masih
suci ternyata lebih menyenangkan!” batin Daniyal lagi.
“Aku tidak apa-apa kak, lanjutkanlah aku bisa menahannya.” Ucap Irene sambil tersenyum tipis.
Senyuman Irene malam itu benar-benar membuat Daniyal semakin panas dan membuatnya melanjutkan dorongannya dengan kencang hingga membuat Irene tersentak dan berteriak sedikit.
“Maaf Iren, kita berhenti dulu, punyaku sudah masuk.” Bisik Daniyal.
“Hm kak, rasanya sakit sekali.” Balas Irene.
Benar-benar sensasi yang berbeda, Daniyal benar-benar bisa merasakan bagaimana rasanya memasuki lubang yang masih sangat sempit.
Setelah beberapa detik beristirahat, akhirnya Daniyal terus me maju mundurkan tubuhnya dan perlahan rasa sakit itu menghilang sampai akhirnya yang awalnya hanya rintihan kesakitan, sekarang sudah menjadi ******* yang semakin panas.
Daniyal terus melakukannya berkali-kali malam itu sampai Irene merasa tidak bertenaga sama sekali dan Daniyal akhirnya menghentikan aktifitasnya.
“Sudah lelah ya? Baiklah ayo kita tidur saja.” Bisik Daniyal.
“T-tapi badanku lengket sekali, kakak ga mau mandi dulu?” tanya Irene.
“Baiklah kita mandi dulu aja ya habis itu kita segera tidur.” Jawab Daniyal.
Daniyal menggendong Irene ke kamar mandi tanpa sehelai benangpun, hingga Daniyal bisa tersenyum saat melihat tanda merah yang dia tinggalkan di seluruh tubuh Irene.
Dan yang terjad di kamar mandi bukanlah mandi, mereka melakukan hal panas kembali sampai tiga kali barulah mereka benar-benar mandi dan akhirnya Daniyal kembali menggendong Irene yang benar-benar lemas ke atas tempat tidur.
“Terimakasih karena sudah menjaga kesucianmu sayang..” ucap Daniyal sambil mencium kening Irene dengan lembut.
Irene hanya tersenyum sambil memejamkan kedua matanya karena matanya sama sekali tidak bisa terbuka sangking lemas dan mengantuknya.
Daniyal memeluk tubuh Irene dengan erat dan akhirnya dia ikut tertidur di hadapan Irene.
***
Tok,,tok,,tok..
“Kakak! Kakak!” teriak seseorang dari depan pintu kamar Irene dan Daniyal sambil mengetuk pintu beberapa kali.
“Yaampun kenapa berisik sekali pagi-pagi..” ucap Irene yang akhirnya membuka kedua matanya dan melihat Daniyal yang masih terlelap.
Dengan perlahan Irene menyingkirkan tangan Daniyal dari pinggangnya dan dia segera memakai kembali pakaiannya lalu menyelimuti Daniyal dengan benar sampai menutup lehernya dan segera membuka pintu kamar.
“Ada apa? Kenapa kalian berisik sekali?” tanya Irene.
“Wah! Kak Iren apakah kakak memakai pakaian yang sudah aku siapkan? Apakah itu mujarab?” tanya Nancy dengan semangat.
“Nancy! Kamu ini masih kecil, jangan bertanya seperti itu.” Ucap Aleena.
“Oh jadi kamu yang merubah semua pakaianku menjadi pakaian kurang bahan semua?! Kamu ini belajar dari mana hah!?” ketus Irene.
“Sudahlah jangan berdebat lagi! Aku sudah tidak punya tenaga.. Kalian pulang kapan? Aku akan mandi dan segera bersiap untuk mengantar kalian pulang.” Ucap Irene.
“Kak Daniyal masih tidur ya kak? Kalau masih tidur ga usah di bangunkan ga apa-apa yang penting papi bisa lihat kakak pasti dia akan mengerti.” Ucap Aleena.
“Hmm, aku akan mencoba untuk membangunkannya dulu.” Ucap Irene yang di balas anggukan oleh Aleena.
Setelah memberitahu sang kakak akhirnya Aleena menarik Nancy untuk meninggalkan kamar Irene dan Daniyal.
Setelah menutup pintu kamar, Irene melihat ke arah Daniyal yang masih tertidur, dia segera masuk ke dalam kamar mandi karena tidak ingin kejadian semalam berulang di waktu yang mepet ini.
Setelah selesai mandi dan bersiap, Irene segera menghampiri Daniyal dan mencoba untuk membangunkannya.
“Kak,, bangunlah..” ucap Irene dengan lembut.
Namun Daniyal sama sekali tidak membuka kedua matanya dan akhirnya Irene mencoba untuk sedikit menggoda Daniyal.
“Sayang..” bisik Irene di telinga Daniyal membuat Daniyal menggeliat.
“Sayang bangun,, papi dan adik-adikku mau pulang hari ini.” Ucap Irene kembali.
Dan akhirnya Daniyal membuka kedua matanya dan menatap wajah cantik Irene yang polos tanpa make up sedikit pun.
“Selamat pagi sayang..” ucap Irene dengan ceria saat melihat suaminya yang sudah membuka kedua matanya.
“Hemm,, kamu memanggilku sayang aku sangat menyukainya..” ucap Daniyal sambil memeluk tubuh Irene dengan erat.
“Apa kamu tidak lelah? Kenapa kamu sudah bangun dan sepertinya kamu sudah mandi.” Ucap Daniyal.
“Aku harus mengantar papi dan adik-adik, setidaknya papi bisa melihatku agar dia tenang.” Jelas Irene.
“Kamu mau ikut turun ke bawah juga?” tanya Irene.
“Tentu saja, aku ingin mengantar mereka juga, setelah itu kita juga harus pindah ke rumah kita sendiri bukan?” tanya Daniyal.
“Aku ikut kamu aja kak, aku akan mengemas pakaian kita kalau memang mau langsung pulang.” Jawab Irene.
“Iya selagi aku mandi, kamu segera bereskan pakaian kita dan kita akan ikut pulang bersama mereka untuk mengambil beberapa barangmu yang akan kamu bawa.” Ucap Daniyal yang di balas anggukan oleh Irene.
Akhirnya setelah Daniyal masuk ke dalam kamar mandi, Irene segera mengemasi pakaiannya dan juga Daniyal, tidak butuh waktu lama bagi Irene karena pakaian yang mereka bawa memang hanya sedikit.
“Sudah siap?” tanya Daniyal yang sudah memakai kemejanya.
Irene hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, lalu perhatiannya teralihkan ke arah dasi Daniyal yang miring.
“Lihatlah, bagaimana kamu menjadi seorang CEO kalau pakai dasi saja miring begini.” Ucap Irene sambil membenarkan dasi Daniyal.
“Kan sudah ada kamu yang akan membenarkan dasiku.” Jawab Daniyal.
“Selama ini siapa yang membenarkan dasimu? Apa ada wanita lain?” tanya Irene dengan santai.
Daniyal terkejut mendengar pertanyaan Irene yang terlihat sangat santai, dia tidak percaya Irene bisa bertanya dengan santai seperti itu.
“Ya ada banyak wanita lain di sekelilingku yang mau membenarkan dasiku, bagaimana jika itu terjadi?” tanya Daniyal.
“Jika memang itu terjadi tidak masalah, karena cinta tau kemana dia akan pulang.. Jika memang kamu mencintaiku kamu akan kembali padaku walaupun ada banyak wanita yang menggodamu.” Ucap Irene dengan santai.
Daniyal tidak menyangka kalau Irene akan menjawab dengan bijak seperti itu, apa karena Irene memang memiliki pikiran yang dewasa dan itu yang membuatnya jadi seperti sekarang ini.