
Irene sedang menikmati makan malam sendirian di meja makan karena keempat adiknya sudah selesai makan semuanya.
“Non, mau tambah lauknya? Bibi ambilin ya?” ucap pelayan di rumahnya.
“Tidak usah bi, Iren udah kenyang kok… Dan kenapa bibi panggil non? Kan Iren sama papi pernah bilang jangan ada kata non, bibi sudah bekerja lama sama papi dan mami, bibi juga seperti ibu untuk Iren dan adik-adik.” Ucap Irene.
“Hehe, maaf Iren bibi suka lupa soalnya dulu biasa panggil non kan.” Jawab pelayan tersebut.
“Yaudah deh kalo gitu bibi ke dapur lagi ya non, eh Iren,, kalo butuh apa-apa panggil bibi aja.” Lanjutnya yang di balas anggukan oleh Irene.
Tidak lama kemudian Irene melihat Nancy menuruni tangga dengan pakaian yang sudah rapih, Aiden pun juga berjalan di belakang Nancy membuat Irene bertanya-tanya.
“Nancy, kamu mau kemana?” tanya Irene.
“Aku mau keluar sama teman-temanku kak, aku mau melepas stress karena laki-laki kurang ajar itu!” jawab Nancy.
“Apa kamu baik-baik saja? Baru beberapa hari setelah kejadian itu terjadi.” Ucap Irene.
“Tidak apa-apa kak, aku baik-baik saja sekarang dan aku ingin melepaskan penat bersama teman-temanku.” Ucap Nancy.
“Baiklah kalau begitu, kamu harus hati-hati jangan pulang terlalu malam, Aiden tolong jaga Nancy dengan baik jangan sampai lengah.” Ucap Irene yang di balas anggukan oleh Nancy dan juga Aiden.
Setelah mendapatkan ijin dari Irene, Nancy dan Aiden segera berangkat menggunakan mobil Nancy ke sebuah club malam yang biasa dia datangi bersama teman-temannya.
“Di sini no,, Nancy?” tanya Aiden yang hampir lupa kalau Gilang menyuruhnya memanggil nama kepada anak-anaknya yang lebih muda.
“Iya aku biasa melepaskan stress di sini bersama teman-temanku, ayo turun.” Ajak Nancy yang sudah memegang gagang pintu mobil, namun dia kembali menoleh ke arah Aiden.
“Tapi bisakah kamu duduk rada jauh dari kami? Mereka semua wanita kurang belaian, ga pernah liat laki-laki ganteng dikit, bahaya kalo sampe kamu dan mereka bertemu.” Ucap Nancy.
“Baiklah Nancy, aku akan duduk di tempat yang sedikit jauh agar tidak mengganggumu dan juga teman-temanmu." ucap Aiden.
Nancy tersenyum mendengar jawaban dari Aiden, lalu dia segera keluar dan masuk ke dalam club untuk mencari teman-temannya.
"Nancy!!" teriak teman-teman Nancy yang berada tidak jauh dari pintu masuk.
Nancy yang merasa namanya di panggil langsung menoleh ke asal suara dan berjalan mendekati teman-temannya.
Sedangkan Aiden hanya melihat Nancy dari jauh dan duduk di tempat yang tidak terlalu jauh agar tetap bisa memantau Nancy dan teman-temannya.
"Tuan, anda mau aku temani?" tanya salah satu seorang perempuan yang memakai pakaian serba mini.
"Tidak perlu, aku hanya ingin duduk sebentar di sini." tolak Aiden secara sopan.
"Cih jangan munafik tuan, aku tau betul kalau kamu pasti menyukai wanita seperti aku." goda perempuan itu lagi.
"Maaf nona, tapi aku kemari untuk memantau kekasihku yang ada di sana." ucap Aiden sambil menunjuk ke arah Nancy.
"Jangan berbohong tuan, mana ada kekasih yang melihat kekasihnya dari jauh."
"Kenapa? Aku tidak ingin mengganggunya bersenang-senang dengan teman-temannya jadi aku mempertahankannya dari jauh saja." jelas Aiden.
Mendengar ucapan Aiden membuat wanita tersebut akhirnya pasrah dan pergi meninggalkan Aiden.
Aiden terus memperhatikan Nancy yang sedang tertawa bersama teman-temannya, Aiden tidak tau kalau Nancy bisa tertawa lepas jika bersama teman-temannya.
"Cantik..." gumam Aiden tanpa sadar.
"Hah? Apaan sih Aiden gila kamu! Dia itu majikan kamu!" ucap Aiden sambil memukul pipinya sendiri agar sadar dari khayalannya.
"Cih, dia populer sekali!" gumam Nancy dengan kesal.
"Nancy, lo ga apa-apa kan?" tanya salah satu teman Nancy.
"Hm, ga papa kok.. Oh iya kalo gue tambah satu orang lagi kalian baik-baik aja kan?" tanya Nancy.
"Satu orang lagi? Siapa? Kamu datang sama seseorang?" tanya temannya yang lain.
"Hmm, aku ke sini sama saudara jauhku, aku nyuruh dia seneng-seneng sendiri, tapi aku lupa kalo dia baru di sini dan belum punya temen." jelas Nancy.
"Ah begitu, baiklah panggil saja dia." ucap semua teman Nancy yang setuju dengan tambahan orang tersebut.
Nancy segera berjalan menghampiri Aiden yang terkejut melihat Nancy semakin mendekatinya.
"Nancy kamu ngapain? Temen-temen kamu liat ke sini semua tau!" bisik Aiden.
"Biarin aja, aku udah bilang ke mereka kalo aku mau mengajakmu bergabung, mereka taunya kamu adalah saudara jauhku kok." jelas Nancy.
"Aku gabung dengan mereka? Tapi kata kamu..." ucap Aiden.
"Jangan banyak ngomong, ayo ikut gabung aja aku kasian liat kamu sendirian kayak anak ilang haha.." canda Nancy.
Aiden hanya membalas candaan Nancy dengan tawa dan gelengan kepala lalu akhirnya dia mengikuti Nancy yang berjalan ke arah teman-temannya.
"Uwahhh,,, ini saudaramu Nancy? Kenapa ga bilang dari dulu kalo kamu punya sodara ganteng begini?" tanya teman-temannya.
Nancy sudah tau betul bagaimana reaksi para temannya jika melihat lelaki tampan, dia hanya menghela nafas sambil memutar bola matanya.
"Ijo matanya kalo liat yang cakep!" ketus Nancy.
"Ya iyalah, gila lo sama yang begini ya pasti ijo matanya!" sahut temannya.
"Kenalin dulu kek Nan, lo punya sodara ganteng ga mau di kenalin ke temennya, padahal temennya jomblo." ucap yang lain.
"Namanya Aiden, gue sengaja ngajak dia biar ga dekem di rumah aja takut bertelur, dan kalian jangan ganggu kasian dia ga tenang gara-gara kalian!" ketus Nancy.
"Yaelah lu jahat banget deh Nan!" ketus teman-temannya.
Akhirnya mereka semua memesan lebih banyak minuman untuk berpesta sampai malam di sana, namun Nancy tidak mengijinkan Aiden untuk minum.
"Yaelah Nancy lo kenapa ngelarang dia minum sih?"
"Dia harus nyetir jadi gue ga ngijinin dia minum!"
"Nancy come on! Kalian bisa pulang naik taxi atau lo bisa panggil supir pribadi bokap lo."
"No! Gue ga mau sampe bokap tau gue dan dia sama-sama mabuk!"
Semua teman-teman Nancy merasa kecewa karena Aiden tidak di bolehkan untuk minum, namun akhirnya semuanya mengerti dan memesankan jus jeruk untuk Aiden.
Sedangkan Aiden di sana hanya bisa diam sambil mendengarkan cerita mereka tentang masalahnya terutama masalah percintaan.
Namun tidak seperti biasanya, Nancy yang biasanya selalu mengeluh tiba-tiba memberikan banyak sekali ceramah dan menasehati teman-temannya membuat Aiden tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Wah, ternyata dia punya sisi lain yang seperti ini ya.." batin Aiden.