MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 81 (RUMAH BARU)



Daniyal dan Irene sudah sampai di rumah baru mereka, keduanya di sambut oleh banyak sekali pelayan yang berbaris di depan rumah.


“Yaampun kamu punya berapa pelayan di rumah ini kak?” tanya Irene.


“Banyak sekali, tapi kamu tenang saja mereka tidak akan mengganggu aktifitasmu kok, mereka akan menjadi seperti bayangan di rumah ini, kamu juga tidak perlu menyapa mereka satu per satu atau pun mengingat namanya.” Jelas Daniyal.


“Apa boleh begitu? Sepertinya kurang sopan.” Ucap Irene.


“Kamu hanya perlu mengingat satu pelayan, dia sudah sangat lama bekerja denganku dan dia sangat mengetahui rumah ini dan dia juga mengetahui semua apa yang aku suka dan tidak, namanya bi Sumi.” Jelas Daniyal.


“Pasti dia yang berdiri di depan bukan? Dia memang terlihat sangat berwibawa.” Ucap Irene yang sudah bisa menebak.


“Yap kamu benar! Ayo kita turun.” Ajak Daniyal yang di balas anggukan oleh Irene.


Daniyal turun dari mobil lebih dulu, setelah itu barulah Irene yang turun dan melihat betapa ramahnya Daniyal kepada semua pelayannya, dan juga dia melihat betapa sayangnya bi Sumi dengan Daniyal.


“Pasti bi Sumi adalah orang yang sangat spesial.” Gumam Irene sambil tersenyum.


Setelah melihat bi Sumi sudah melepaskan pelukannya dari Daniyal, barulah Irene berjalan mendekat dan langsung di beri hormat kepada semua pelayan yang ada di sana.


“Selamat datang nyonya Daniyal!!” teriak semuanya secara serempak hingga membuat Irene terkejut.


“Ah yaampun kalian membuatku terkejut, tidak perlu melakukan hal itu lagi padaku, kalian semua hanya perlu menyapa dengan ramah jika berpapasan denganku.” Ucap Irene dengan lembut.


Semua orang termasuk bi Sumi terkejut melihat kebaikan hati Irene, padahal dia sudah mencari banyak sekali informasi dan semuanya tentang kesombongan dan keangkuhan, tapi ternyata Irene memiliki hati yang sama


cantiknya dengan wajahnya.


“Selamat datang di rumah ini nyonya Irene…” sapa bi Sumi.


“Terimakasih atas sambutannya bi Sumi, semoga kedepannya anda bisa membantuku kalau aku salah.” Ucap Irene.


“Ayo masuk, kalian pasti sangat lelah, barang-barang kalian biarkan para pelayan yang membawanya masuk.” Ucap bi Sumi.


Keduanya masuk ke dalam rumah, di ruang tamu sudah terpampang bingkai foto berukuran besar, foto pernikahannya dengan Daniyal membuat Irene senang karena Daniyal langsung menaruh foto pernikahan mereka


tanpa dia minta.


“Bi, bibi temenin Iren jalan-jalan dulu ya, aku mau membersihkan diri dan beristirahat di kamar.” Ucap Daniyal.


“Baiklah tuan..” ucap bi Sumi.


“Ayo nyonya, biarkan bibi yang mengantar nyonya Iren berkeliling rumah ini, pasti nyonya hanya pernah masuk saja kan bukan melihat-lihat.” Ucap bi Sumi.


“Iya bi terimakasih.” Ucap Irene.


Bi Sumi mengajak Irene berkeliling sambil menunjukkan semua ruangan yang ada agar Irene mudah untuk mencari ruangan saat pelayan sudah tidak ada.


“Para pelayan akan pergi saat malam tiba nyonya, termasuk bibi jadi kami hanya bekerja setelah subuh sampai sore hari.” Jelas bi Sumi.


“Lalu apa mereka pulang ke rumah masing-masing?” tanya Irene.


“Tidak nona, tuan Daniyal membuat pavilion untuk para pelayan dan di sanalah kami tinggal, tempatnya sangat bagus dan juga luas.” Ucap bi Sumi.


“Benarkah? Ternyata kak Daniyal baik sekali ya..” ucap Irene.


“Apa bibi boleh ceritakan tentang masa lalu kak Daniyal yang tidak pernah di ketahui orang luar?” tanya Irene.


“Tentang ibunya, dia tidak pernah bercerita tentang ibunya kepada siapapun.” Ucap bi Sumi.


“Ah iya bibi benar, dia memang tidak pernah bercerita bagaimana ibunya meninggal.” Sahut Irene.


“Nyonya besar adalah wanita yang sangat baik hati dan juga cantik, dia selalu melindungi siapapun yang membutuhkan pertolongan.” Jelas bi Sumi.


“Sampai akhirnya ada kejadian naas yang membuat nyonya besar meninggal, ada seorang anak kecil yang di culik waktu itu, nyonya besar yang memiliki hati yang baik itu segera menolong anak itu walaupun nyawa taruhannya,


tanpa di sadari dia meninggal di tempat.” Jelas bi Sumi secara singkat.


Mendengar penjelasan bi Sumi membuat Irene sedikit terkejut, tiba-tiba dia mengingat kejadian sepuluh tahun yang lalu saat dia dan adiknya di culik, ada seorang wanita baik hati yang menolong mereka walaupun nyawanya akhirnya menjadi taruhan.


Dan sampai detik ini dia dan keluarganya tidak mengetahui identitas keluarga wanita itu dan mereka tidak bisa membalas kebaikannya dan tidak bisa berterimakasih dan meminta maaf kepada keluarganya.


“Apa jangan-jangan… Tidak mungkin! Iya tidak mungkin ada kebetulan seperti itu!” gumam Irene.


“Nyonya, anda baik-baik saja?” tanya bi Sumi.


“Hah? Eh iya bi aku baik-baik saja kok tidak apa.” Ucap Irene.


“Baiklah kalau begitu ayo kita kembali masuk.” Ajak bi Sumi yang di balas anggukan oleh Irene.


“Oh iya bi, apa aku boleh melihat foto ibu kak Daniyal?” tanya Irene.


“Ah maaf nyonya, tapi setelah pemakaman selesai semua foto di simpan di tempat rahasia dan siapapun tidak boleh mengambilnya.” Jelas bi Sumi.


“Ah begitu, baiklah aku juga tidak bisa memaksanya karena itu adalah luka yang di pendam kak Daniyal selama ini.” Ucap Irene.


Setelah lama berjalan-jalan akhirnya bi Sumi mengantar Irene ke kamarnya dan membiarkannya untuk istirahat.


“Silahkan masuk nyonya, tuan Daniyal pasti sudah tertidur.” Ucap bi Sumi yang langsung undur diri.


Irene tersenyum mendengar ucapan bi Sumi, lalu dia masuk ke dalam kamar pelan-pelan agar tidak mengganggu Daniyal yang sedang beristirahat.


Irene melihat Daniyal yang sedang tertidur dengan lelap, mungkin dia benar-benar lelah pikir Irene, dia juga melihat barang-barang yang masih berantakan dan Irene mulai mengemasi barang-barangnya satu per satu.


Kamar itu benar-benar masih kosong, Daniyal belum melakukan apapun dengan kamar itu, dan akhirnya Irene yang akan merapihkan semuanya.


Irene terus merapihkan semuanya satu per satu sampai benar-benar lelah karena kamar itu memang benar-benar lebih besar dua kali lipat di bandingkan dengan kamarnya.


“Haah, itu pasti walk in closet nya, aku akan melihat pakaian apa yang di siapkan oleh kak Daniyal.” Gumam Irene yang langsung melangkahkan kakinya ke walk in closet.


Irene terkejut melihat banyak sekali pakaian yang ada di sana, pakian yang benar-benar sesuai dengan seleranya dan juga sangat mahal tentu saja.


“Kenapa dia menyiapkan banyak sekali? Berapa yang dia habiskan untuk membeli semua ini?” gumam Irene sambil menggelengkan kepalanya.


Setelah melihat walk in closet nya, Irene memutuskan untuk berendam karena tubuhnya terasa sangat kaku semua dan kakinya mulai terasa sakit mungkin karena berdiri saat acara pernikahan.


“Haah lelah sekali, aroma kamar mandi ini juga sangat segar dan membuatku bisa relax dan menikmati waktu berendamku.” Gumam Irene sambil memejamkan kedua matanya.