MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 130 (RAHASIA 2)



Sepanjang perjalanan di dalam mobil, Daniyal terus menggenggam tangan Irene dengan erat.


“Terimakasih ya sayang..” ucap Daniyal.


“Terimakasih untuk apa kak?” tanya Irene.


“Karena kamu ga marah saat mengetahui kebenaran yang selama ini aku tutupi.” Ucap Daniyal.


“Kenapa aku harus marah? Justru aku bersyukur karena kakak mau jujur dan aku akhirnya mengetahui siapa keluarga mami Sella.” Ucap Irene.


“Ada rahasia yang belum kamu ketahui juga Iren, dan aku akan menyerahkan keputusan kepadamu setelah ini, aku tidak tau apakah setelah ini kamu akan menerima semuanya atau tidak.” Ucap Daniyal.


“Hah? Maksudnya apa kak?” tanya Irene.


Daniyal mulai menceritakan semuanya kepada Irene, dia juga mengatakan kalau Bram adalah papinya dan dia juga menceritakan kalau Daniyal sebenarnya datang untuk membalas dendam karena mereka sudah menjadi alasan dari kematian Sella, namun Daniyal tidak bisa mengatakan apapun tentang abizar dan Adyatma karena dia ingin adik-adiknya menyelesaikan masalahnya sendiri.


Tentu saja mendengar hal itu membuat Irene terkejut, dia menangis mendengar semua penjelasan dari Daniyal, dia tidak menyangka kalau awal pernikahannya karena Daniyal ingin membalas dendam.


“Maaf sayang maaf, waktu itu saat aku mabuk parah itu karena keluargaku menuntut untuk meninggalkanmu sedangkan hatiku sudah terlanjur mencintaimu.” Ucap Daniyal.


“Hentikan mobilnya kak!” teriak Irene yang membuat Daniyal terkejut dan langsung menepi di tempat yang aman.


“Sayang, kamu ga apa-apa kan?” tanya Daniyal dengan ragu.


“Aku tau kamu pasti merasa sakit hati, tapi jujur aku sangat mencintaimu saat ini, aku sudah melupakan semua tentang pembalasan dendam itu.” Ucap Daniyal sambil mengeratkan genggaman tangannya.


Namun, tanpa menjawab apapun Irene justru memeluk tubuh Daniyal dengan erat dan membuat Daniyal terkejut mendapatkan pelukan secara tiba-tiba.


“S-sayang?” ucap Daniyal.


“Maaf, maaf, karena aku kakak dan papi Bram jadi kehilangan sosok yang sangat berharga, aku tau betul bagaimana perasaan papi kakak saat itu, aku tidak masalah di benci karena memang mereka pantas membenciku.” Ucap Irene.


“Kenapa kamu mengatakan itu Irene? Kamu tidak pantas di benci sayang…” ucap Daniyal yang saat ini sudah menatap wajah Irene dalam-dalam.


“Bisakah aku bertemu dengan papi Bram?” tanya Irene.


“No! Tidak sekarang ya sayang, aku akan menjelaskan semua kesalah pahaman kepada papi dulu baru aku akan mengajakmu bertemu dengan papi setelah dia tenang.” Ucap Daniyal.


“Baiklah, aku akan sabar untuk menunggu waktu itu.” Ucap Irene.


“Sudah ya sayang jangan menangis lagi, hatiku sakit kalau melihatmu menangis.” Ucap Daniyal sambil mencium kening Irene dengan lembut.


“Ayo kita cepat pulang, kamu harus segera mandi karena kamu habis dari makam.” Ucap Daniyal.


“Kita pulang ke rumah kamu ya kak, aku sudah bosan di rumah papi.” Ucap Irene.


“Iya sayangku, ayo kita pulang ke rumah kita sayang bukan ke rumahku tapi rumah kita.” Ucap Daniyal.


Irene hanya mengangguk dan tersenyum mendengar ucapan Daniyal, lalu mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke rumah mereka sendiri.


“Sudah dua hari kita tidak kemari ya sayang, bi Sumi pasti merindukan aku.” Ucap Irene.


“Iya sayang dia pasti sangat merindukanmu karena kamu adalah orang yang menggemaskan.” Ucap Daniyal yang di balas tawa oleh Irene.


Akhirnya setelah beberapa menit mereka melakukan perjalanan, Daniyal dan Irene sampai di rumah mereka.


Daniyal menoleh ke arah Irene dan dia melihat istrinya sedang tertidur pulas membuat Daniyal mengurungkan niatnya untuk membangunkan Irene.


Akhirnya Daniyal memutuskan untuk bersandar di kursi mobil dengan memiringkan tubuhnya agar dia bisa menatap wajah istrinya dengan leluasa.


Sampai hampir satu jam Irene tertidur dan dia membuka kedua matanya perlahan dan langsung tersenyum saat melihat suaminya sedang tertidur di hadapannya.


Dengan lembut Irene mengelus pipi Daniyal sambil bersyukur di dalam hatinya karena dia di temukan oleh orang yang tepat.


“Hemmm,, kamu sudah bangun sayang?” tanya Daniyal yang sudah membuka kedua matanya.


“Apa aku membangunkanmu?” tanya Irene.


“Kenapa kamu tidak membangunkanku?” tanya Irene.


“Kamu kelihatan capek sekali makanya aku ga membangunkanmu.” Ucap Daniyal.


“Sekarang aku sudah bangun, ayo kita turun.” Ajak Irene yang di balas anggukan oleh Daniyal.


Keduanya sudah di sambut oleh bi Sumi yang dari tadi ikut menunggu kedua majikannya ini keluar dari mobil.


“Bibi menunggu di sini dari tadi?” tanya Irene.


“Iya nyonya, saya sebenernya penasaran kok tuan dan nyonya lama, eh ternyata ketiduran ya.” Ucap bi Sumi.


“Bagaimana keadaan di rumah selama kami pergi bi?” tanya Daniyal.


“Baik-baik saja tuan, kemarin para pelayan tidur di sini dan tadi pagi-pagi sekali mereka sudah pulang ke pavilion.” Jawab bi Sumi.


“Kalau begitu bi Sumi sekarang istirahat aja ya, aku sama kak Daniyal juga mau istirahat jadi bibi bisa tenang.” Ucap Irene.


“Beneran ga butuh apa-apa nyonya Iren?” tanya bi Sumi.


“Iya bi, hari ini bibi bisa istirahat sepuasnya.” Ucap Irene.


“Terimakasih ya nyonya, kalau begitu bibi tidur sama yang lain di pavilion saja ya, bibi juga udah masak kalo tuan dan nyonya mau makan.” Ucap bi Sumi.


“Iya bi terimakasih banyak ya.” Ucap Irene.


Bi Sumi hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, lalu dia segera keluar dari rumah dan berjalan menuju pavilion yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah utama.


“Ayo ke atas, kita mandi dan istirahat.” Ucap Daniyal.


“Tapi aku kan udah tidur tadi sayang, kita ngobrol-ngobrol aja ya?” ucap Irene.


“Baiklah kalau begitu, ayo.” Ajak Daniyal sambil menggandeng tangan istrinya.


Keduanya segera menuju ke kamar dan segera mandi bersama, dan tentu saja mandi hanyalah wacana karena mereka menikmati aktifitas panas di dalam kamar mandi sampai berjam-jam.


Dan akhirnya setelah Irene merasa kelelahan, barulah Daniya membantu Irene membersihkan tubuhnya dan segera menggendongnya keluar dari kamar mandi.


“Maaf sayang, kamu terlalu enak untuk di lewatkan.” Ucap Daniyal menggoda Irene.


“Apa kamu fikir aku ini makanan?” protes Irene.


“Hehehe, rasa tubuhmu sangat manis sayang..” bisik Daniyal.


“Udah deh aku mau tidur capek banget,” ucap Irene.


Akhirnya Daniyal tersenyum dan menganggukkan kepala, dia membantu istrinya untuk menggunakan piyama tidur berbahan satinnya.


“Apa kamu tidak kedinginan?” tanya Daniyal.


“Engga sayang, aku baik-baik saja.” Ucap Irene.


Keduanya berbaring di atas tempat tidur berukuran king size, dan saling berpelukan satu sama lain dengan penuh cinta.


“Jadi, apa yang membuat kamu menyukaiku kak?” tanya Irene yang sudah melepaskan pelukan suaminya.


“Kenapa kamu jadi bertanya hal seperti itu? Aku juga ga tau jawabannya, karena rasanya sakit saat di suruh menjauh darimu, rasanya sakit saat melihatmu menangis, rasanya takut saat kamu berada di dalam bahaya, rasanya takut kalau memikirkan kamu akan meninggalkanku.” Ucap Daniyal dengan wajah seriusnya.


“Aku sangat-sangat mencintaimu kak, apa lagi setelah mengetahui kalau kamu adalah anak dari wanita yang sudah menolongku dan Aleena, aku rela di perlakukan seperti apa dan aku akan terus menemanimu di dalam keadaan susah dan senang.” Ucap Irene.


“Terimakasih sayang, terimakasih karena sudah memberikan begitu banyak untukku.” Ucap Daniyal sambil mengecup kening Irene dan memeluknya.


“Terimakasih kembali sayang..” balas Irene yang ikut memeluk tubuh suaminya.