MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 103 (TIDAK SABAR)



“Ayo sayang nanti kita terambat dan di dahului orang lain.” Ucap Daniyal yang sudah terburu-buru.


Sejak tadi Daniyal memang sudah mengajak Irene untuk segera berangkat padahal waktunya masih sangat panjang.


“Yaampun sayang kita ga akan terlambat dan di dahuli orang kok tenang saja.” Ucap Irene.


“Kamu ini selalu saja mengentengkan, kamu sih pake mau mengantri segala, padahal aku bisa untuk memberikan dokter pribadi untukmu.” Ucap Daniyal.


“Itu ga perlu sayang, kenapa sih kamu ini selalu saja membuat hal menjadi sulit? Lagian kan mengantri juga sudah ada nomernya, walaupun kita datang lebih dulu juga kita ga mungkin bisa jadi nomer satu.” Jelas Irene.


“Kenapa begitu? Kalau mengantri berarti kan siapa cepat dia dapat.” Ucap Daniyal tidak mengerti.


“Yaampun, apa dalam hidupmu kamu tidak pernah mengantri sampai tidak tau bagaimana cara kerja mengantri?” tanya Irene tidak percaya.


“Engga, aku memang tidak pernah mengantri.” Ucap Daniyal.


“Yaampun enak sekali hidupmu, walaupun aku tinggal dengan kemewahan tapi aku selalu mengantri untuk melakukan apapun.” Ucap Irene.


“Aku tidak ingin anakku menjadi manja sepertimu sayang, dia harus memiliki sikap sepertiku.” Lanjut Irene.


“Apa?! Bukankah kemarin kamu juga bilang kalau ingin anak kita mirip denganmu? Bagaimana bisa kamu menginginkan semuanya menurun darimu?” ketus Daniyal.


“Hahaha, aku tidak perduli wlee..” ejek Irene.


Setelah selesai bersiap, akhirnya Irene langsung merangkul lengan suaminya dengan mesra dan mengajaknya untuk segera berangkat ke rumah sakit.


Di sepanjang perjalanan, keduanya terus mengobrol satu sama lain, mereka berdua benar-benar sangat bersemangat untuk melihat keadaan anak yang ada di dalam perut Irene.


“Aku tidak sabar ingin mengetahui apakah anak kita laki-laki atau perempuan.” Ucap Daniyal.


“Emang kamu ingin anak kita laki-laki atau perempuan?” tanya Irene.


“Aku ingin memiliki anak laki-laki lebih dulu karena aku ingin anak laki-laki kita bisa menjaga adiknya nanti.” Ucap Daniyal.


“Tapi kalau perempuan juga tidak masalah, dia pasti akan menjadi perempuan hebat sama sepertimu.” Lanjut Daniyal.


Irene tersenyum mendengar ucapan Daniyal, dia merasa senang karena Daniyal sekarang sudah berubah menjadi Daniyal yang hangat seperti dulu.


“Kalau nanti setelah melahirkan aku jadi gendut kamu jangan meninggalkanku ya,..” ucap Irene.


“Apa aku gila? Tentu saja aku tidak akan pernah meninggalkanmu sampai kapanpun! Kamu menjadi gendut karena kamu sudah melahirkan darah dagingku, jadi bagaimana aku tega untuk melepasmu begitu saja setelah kamu melahirkan bayi mungil untukku.” Tegas Daniyal.


“Terimakasih sayang…” seru Irene dengan bahagia.


Padahal usia kandungan Irene masih 10 minggu, tetapi Irene terus saja mengatakan kalau dia tidak ingin Daniyal meninggalkannya jika dia gendut setelah melahirkan dan itu membuat Daniyal sampai bosan membalas ucapan


istrinya itu.


Sebenarnya yang di inginkan oleh Irene hanyalah kata-kata manis dari suaminya saja, dia ingin suaminya terus mengatakan kalau dia tidak akan meninggalkan Irene untuk membuatnya tenang, dan hal sekecil itu sudah membuat Irene sangat bahagia mendengarnya.


Sesampainya di rumah sakit, Daniyal membantu Irene untuk turun dari mobil dengan hati-hati, bahkan Irene sudah menghubungi pihak rumah sakit untuk menyiapkan kursi roda yang akan di gunakan Irene.


Irene benar-benar tidak percaya dengan sikap berlebihan yang di tunjukkan suaminya, bahkan semua orang yang ada di sana menatap ke arah Irene dengan tatapan aneh.


Tentu saja mereka menatap Irene dengan aneh, itu karena Irene terlihat sangat sehat namun dia harus di dorong menggunakan kursi roda membuat orang yang melihatnya bertanya-tanya tentang penyakit apa yang di derita Irene sampai harus di dorong menggunakan kursi roda.


“Kenapa harus pake kursi roda sih sayang? Kamu tau ga sih semua orang dari tadi ngeliatin tau..” ucap Irene kesal.


“Kenapa? Aku ga mau kamu kecapekan jalan jadi aku menyuruh orang rumah sakit untuk menyiapkan kursi roda.” Jelas Daniyal.


“Yaampun aku benar-benar sulit untuk menang darimu.” Gumam Irene sambil menggelengkan kepalanya.


Yap! Orang itu adalah Bram yang sudah pindah ke Indonesia beberapa hari yang lalu dan ini adalah pertemuan pertama Irene dengan Brams.


“Kak Bram? Kakak beneran pindah ke Indonesia ya?” tanya Irene.


“Iya Iren, karena aku ingin merebutmu dari laki-laki ini.” Ucap Brams berbisik namun masih bisa di dengar oleh Daniyal.


“Hei beraninya kamu mengatakan hal itu di saat suaminya sedang berada di sini!” ketus Daniyal.


“Hahaha, ah ternyata suaminya ada di sini ya,, karena tidak terlihat jadi aku tidak mengenalinya.” Balas Brams.


“Dia sedang hamil anakku tau! Kamu tidak akan bisa merebutnya dariku!” ketus Daniyal.


“Aku tidak masalah kalau harus merawat anak dari orang lain.” Balas Brams dengan santainya.


“Apa?! Beraninya!!” teriak Daniyal.


Irene dan Brams tertawa dengan kencang mendengar Daniyal yang sudah kesal karena Brams mengejeknya.


“Minggir! Jauh-jauh dari istriku!” ketus Daniyal.


“Sayang, kamu kenapa jadi marah sih? Kak Brams kan hanya bercanda..” rayu Irene.


“Tidak! Aku tidak mau sampai anakku menjadi anaknya!”


“Yaampun sayang, anak ini adalah anakmu tidak akan menjadi anak orang lain tenang saja..” ucap Irene.


Daniyal hanya diam dan segera mendorong kursi roda Irene melewati Brams begitu saja.


“Bye kak Brams!! Sampai bertemu kembali…” teriak Irene sambil menoleh ke belakang dan melambaikan tangannya.


“Jangan melambaikan tanganmu!” ketus Daniyal sambil menurunkan tangan Irene secara paksa.


“Lagipula tidak aka nada pertemuan dengannya lagi! Aku akan mengurungmu di kamar!” lanjut Daniyal.


“Apa!? Kamu mau aku jadi Rapunzel yang di kurung di menara tinggi ya?!” ketus Irene.


“Biarkan saja! Dia adalah orang yang berbahaya!” ucap Daniyal.


Irene hanya menggelengkan kepala sambil menghela nafas panjang mendengar ucapan suaminya yang semakin mengekang.


Tentu saja, Irene sudah merasa wajar melihat suaminya yang seperti itu, karena kemungkinan itu juga bawaan bayi yang mengakibatkan papanya menjadi semakin was-was dan merasa ingin melindungi bayinya dengan serius.


Sesampainya di depan ruangan, Irene dan Daniyal harus menunggu beberaa nomer lagi sebelum nomernya dan itu membuat Daniyal semakin kesal.


“Kenapa banyak sekali orangnya!?” ketus Daniyal.


“Sayang, aku masih nomer 10 dan sepertinya sekarang sudah nomer 5 jadi sabar ya..” ucap Irene mencoba untuk membuat Daniyal lebih tenang.


“Aku kan pengen cepet-cepet melihat anakku.”


“Ya sabar dong, semuanya juga pengen melihat anaknya kok, sabar oke?” ucap Irene sambil mengelus punggung suaminya dengan perlahan.


“Huh!!” keluh Daniyal.


“Kalau begitu lain kali aku periksa sama bi Sumi aja ya, dari pada kamu harus menunggu begini.” Ucap Irene.


“Kenapa harus sama bi Sumi!? Aku yang akan mengantarmu!” ucap Daniyal.


“Hihihi, iya baiklah kamu yang akan terus mengantarku.” Ucap Irene sambil tertawa kecil.