
Seminggu sudah berlalu, setelah banyak sekali hal yang perlu di persiapan secara mendadak dan juga penuh dengan keribetan dan perdebatan akhirnya tiba lah hari di mana acara pernikahan Irene dan Daniyal akan segera di mulai.
Acara di adakan di hotel berbintang milik Daniyal yang sengaja dia kosongkan untuk keluarganya dan keluarga Herlambang.
Bahkan para tamu undangan yang berasal dari luar kota pun boleh menginap di sana.
“Wah, kak Iren cantik sekali!!” seru Queen yang saat itu di suruh untuk melihat sampai di mana persiapan Irene yang sedang di make up oleh MUA terkenal di sana.
Saat itu Queen benar-benar terpukau dengan kecantikan sang kakak yang berdandan seperti pengantin jawa yang sangat anggun.
“Wah kakak cantik sekali..” seru Queen untuk kedua kalinya.
“Queen, kamu ngapain di sini?” tanya Irene.
“Aku di suruh papi lihat kak Iren udah selesai dandan apa belum.” Jawab Queen.
“Kenapa kamu belum apa-apa?” tanya Irene.
“Kakak tau kan, kalo aku sama Ratu cuma punya satu MUA dan saat ini dia sedang di dandani.” Jawab Queen.
“Kalo gitu kamu sekarang bilang ke papi kalo aku masih di make up dan kamu segera ke kamarmu karena aku yakin Ratu sudah selesai.” Ucap Irene.
“Siap kak! Bye kakak..” ucap Queen sambil melambaikan tangannya dan segera meninggalkan kamar sang kakak.
Irene hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat sang adik yang menggemaskan itu.
“Adikmu sangat menggemaskan Iren, bagaimana bisa kamu tidak pingsan melihat kelucuannya?” ucap MUA yang merias Irene.
“Menggemaskan? Lucu? Yaampun kak, dia itu lucu kalo ada orang aja, aslinya menyebalkan, dia juga banyak tanya sampe capek loh aku yang jawab semua rasa penasarannya.” Jelas Irene.
“Masa sih Ren? Aku ga punya adik sih jadi aku ga tau gimana rasanya punya adik yang menyebalkan hehehe.” Balas MUA tersebut.
“Kakak ga punya adik, aku malah kebanyakan adik kak, kalo kakak mau ambil aja deh salah satu atau semua ga apa-apa ikhlas aku hahaha.” Canda Irene.
“Kamu ini ada-ada aja deh! Nanti kamu bakalan ngerasa kehilangan mereka kalo aku ambil.” Balasnya.
“Hahaha, sudahlah kak jangan ngomongin adikku lagi, mendingan kakak cepetan selesaikan make up ini karena aku sudah lelah duduk terus menerus seperti ini.” Ucap Irene.
“Sabar dong, emang kayak gitu tau, malah biasanya banyak yang tidur.” Ucap MUA tersebut.
“Yaampun, bisa-bisa tepos ini bok*ngku!” ucap Irene yang membuat MUA tersebut tertawa.
Setelah satu jam lebih akhirnya make up Irene pun selesai dan sudah memakai gaunnya. Kebetulan saat itu juga Aleena masuk ke dalam kamar Irene dan terpukau melihat kecantikan sang kakak.
“Yaampun kak, kak Iren cantik banget serius!! Pasti semua orang terpukau melihat kak Iren nanti.” Puji Aleena.
“Apaan sih Aleena ga usah lebay! Lihat kan kak, adik-adikku lebay semuanya.” Ucap Irene.
“Kakak kenapa bilang begitu?” ucap Aleena yang kesal dengan ucapan kakaknya.
“Hahaha iya maaf kamu cantik sekali adikku!” puji Irene dan membuat Aleena tersenyum senang.
“Ah sudahlah ayo kak kita ke bawah karena semuanya sudah menunggu kakak dan para tamu di bawah.” Ajak Aleena.
“Aku tiba-tiba mules loh.” Ucap Irene sambil memegangi dadanya sambil mengatur nafasnya.
“Kak yang bener aja jangan mules nanti riasannya rusak.” Ucap Aleena.
“Apa hubungannya? Kamu kira aku pup dari wajah sampe ngerusak riasan?” tanya Irene dengan ketus.
“Udah ah ayo kita turun, kasihan semuanya sudah menunggu.” Ajak Irene yang di balas anggukan oleh Aleena.
Sepanjang jalan sampai mereka masuk ke dalam lift Aleena terus saja diam seketika, padahal baru saja dia bersemangat dan hal itu membuat Irene merasa aneh.
“Aleena, kamu perasaan tadi semangat banget kenapa sekarang jadi diem aja begini?” tanya Irene.
“Aku rasanya ingin menangis kak.” Jawab Aleena yang menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.
“Apa? Menangis? Kenapa Aleena? Kamu hanya akan membuat riasanmu luntur.” Ucap Irene.
“Aku sedih karena nanti aku tidak akan berangkat kerja bareng sama kakak lagi.” Ucap Aleena.
“Jangan bilang begitu, aku bisa menjemputmu atau kamu bisa menjemputku.” Ucap Irene.
“Kak, apa kakak sudah pernah melihat rumah yang akan kakak tempati dengan kak Daniyal?” tanya Aleena.
“Sudah, rumahnya sangat indah dan megah Aleena, aku harus membawa kalian semua melihat-lihat rumah itu nanti, kak Daniyal benar-benar menyiapkan semuanya untukku.” Ucap Irene dengan senyuman di wajahnya.
“Kakak sudah mulai menyukai kak Daniyal ya? Kalian sudah saling menyukai karena kak Daniyal sangat memanjakan kakak, bahkan dia mengosongkan jadwal kapanpun kakak membutuhkannya.” Ucap Aleena.
“Hem, kamu benar..”
“Walaupun aku tidak menyukainya karena dia sudah merebut kakak dariku, tapi selama kakak bahagia aku juga akan bahagia.” Ucap Aleena.
“Apaan sih, kamu juga akan segera di rebut oleh Abizar!” sahut Irene.
“Ih kakak apaan sih… Aku rasa papi tidak akan menyetujui hubungan kita.” Ucap Aleena dengan lemas.
“Kenapa tidak? Aku sudah menikah dengan seorang pengusaha hebat yang bisa di percaya, jadi sekarang kamu yang adik-adik yang lain bisa memilih laki-laki yang kalian sukai.” Jelas Irene.
Mendengar penjelasan Irene membuat Aleena menoleh ke arah kakaknya dengan serius.
“Apa kakak menikah hanya karena alasan itu? Hanya karena kakak ingin kami menikah dengan laki-laki pilihan kami sendiri?” tanya Aleena.
“Hah? Bukan gitu kok, tapi awalnya aku memang tidak memiliki niatan untuk menikah dan papi mengenalkanku dengan bebrapa anak temannya, akhirnya aku berfikir ‘ah sudah saatnya aku menikah’ begitulah.” Jelas Irene.
“Yah, papi benar-benar khawatir dengan masa depan kita terutama saat ini darahnya terus-terusan tinggi, mungkin itu yang membuat papi ingin sekali kita menikah.” Jelas Aleena yang di balas anggukan oleh Irene.
Sampai akhirnya mereka tiba di lobby dan pintu lift terbuka dan Irene sudah bisa melihat dengan jelas para tamu yang sudah duduk di kursi yang sudah di sediakan.
Sedangkan Gilang, Nancy, Ratu dan Queen sudah berada di depan pintu lift untuk menjemput Irene.
Saat pintu lift terbuka, tiba-tiba saja air mata jatuh di pipi Gilang tanpa sadar.
“Papi, kenapa papi menangis?” tanya Irene.
“Papi bahagia, papi sangat bahagia melihat kamu yang akan segera menikah, kamu sudah dewasa sekarang nak..” ucap Gilang sambil menghapus air matanya.
“Yaampun papi jangan menangis seperti itu, aku juga akan menangis nanti.” Ucap Irene.
Gilang hanya tersenyum sambil mengulurkan tangannya kepada sang putri.
“Ayo sayang, kita temui calon suamimu.” Ucap Gilang dengan lembut.
Irene tersenyum sambil menahan air matanya, lalu dia membalas uluran tangan sang papi dan merangkul lengannya sambil berjalan bersama.
Sedangkan Aleena, Nancy, Ratu dan Queen berjalan di belakang Gilang dan Irene dengan mata yang sudah berkaca-kaca karena merasakan kesedihan yang sama dengan papi mereka.