
Daniyal masuk ke dalam kamar dan segera mencuci wajah, tangan dan kakinya sebelum naik ke atas tempat tidur.
“Kamu kok belum tidur sayang?” tanya Daniyal saat melihat Irene masih membuka kedua matanya dan membaca buku panduan ibu hamil.
“Aku belum ngantuk mas.” Jawab Irene.
Mendengar kata ‘mas’ dari mulut Irene membuat Daniyal tersenyum lebar dan membuat Irene mengerutkan keningnya.
“Kenapa kamu senyum begitu?” tanya Irene.
Daniyal tidak menjawab ucapan Irene, dia langsung naik ke atas tempat tidur dan masuk ke dalam selimut tebal yang sama dengan Irene, lalu memeluk tubuh Irene dengan erat.
“Yaampun kamu ini kenapa sih mas?” tanya Irene.
“Aku senang mendengar kamu memanggilku ‘mas’.” Ucap Daniyal.
“Hahaha, jadi karena itu kamu senyum-senyum begitu?” tanya Irene yang di balas anggukan oleh Daniyal.
“Kamu sudah mengantar dokter Gunawan ke bawah?” tanya Irene.
“Dia ga mau di antar, tadi juga ada masalah sedikit di bawah, dokter Gunawan tidak di ijinkan masuk karena bukan tamu undangan.” Jelas Daniyal.
“Pasti kamu tadi marah-marah ya?” tanya Irene.
“Ya jelas sayang, aku kesel banget gimana engga kesel coba, aku lagi khawatir karena kamu keram perut mereka malah ngulur waktu!” ketus Daniyal.
“Kamu ini gimana, harusnya kamu berterimakasih kepada mereka, coba kalo mereka asal membiarkan orang masuk dan ternyata orang itu jahat hayo?” ucap Irene.
“Iya juga sih, tapi tetep aja aku kesel! Untung aja tadi ada dokter Gunawan.” Ucap Daniyal.
“Dokter Gunawan benar-benar orang yang baik ya sayang, padahal aku rencananya mau mengenalkan dia sama Nancy.” Lanjut Daniyal.
“Hah? Mau kamu kenalin sama Nancy? Yaampun mas kamu ini ada-ada aja deh!” ucap Irene.
“Loh apa salahnya? Dia laki-laki yang baik kok, bertanggung jawab lagi.” Ucap Daniyal.
“Aku tau, dan kamu memang benar kalau dia sangat baik dan bertanggung jawab, tapi aku kasihan sama dia kalau sampe dia sama Nancy, kamu tau kan Nancy bar-bar banget.” Jelas Irene.
“Justru itu, harus ada orang yang dewasa yang membimbing dia menjadi lebih baik, dan dokter Gunawan pilihan yang tepat.” Ucap Daniyal.
“Iya sih kamu bener mas, tapi tetap saja itu permintaan yang terlalu berat untuk dokter Gunawan, dia pantas mendapatkan wanita yang baik dan tidak bar-bar seperti adikku itu.” Ucap Irene.
“Kamu ini bagaimana, harusnya berusaha mencarikan yang terbak untuk adikmu sayang.”
“Kalau jodoh mereka pasti bertemu lagi mas, atau nanti waktu aku periksa aku akan mengajak Nancy dan biarkan mereka bertemu, kalau cocok mereka pasti akan bertemu lagi.” Ucap Irene yang di balas anggukan oleh Daniyal.
“Sudahlah sekarang ayo kita tidur, kasihan anak kita ini dia juga pasti sudah lelah.” Ajak Daniyal sambil mengelus perut Irene dengan lembut.
Akhirnya keduanya memutuskan untuk tidur karena hari ini sudah sangat lelah dan besok mereka harus kembali ke mansion.
***
Di sisi lain, Aleena dan Abizar masih duduk di tepi tempat tidur, entah kenapa walaupun Abizar sudah sangat berpengalaman tidur dengan wanita-wanita di masa lalunya, namun saat ini dia malah gugup seperti tidak jmemiliki pengalaman apapun.
“K-kak, k-kamu mau tidur?” tanya Aleena.
Keduanya sudah mengganti pakaiannya dan sekarang sudah memakai piyama tidur couple yang sudah di sediakan di hotel tersebut.
“Kamu sudah mengantuk?” tanya Abizar.
“Sial! Kenapa aku jadi seperti ini? Tidak bisa aku harus segera memulainya!” gumam Abizar yang langsung berdiri di hadapan Aleena.
“Bukankah kita harus melakukan malam pertama yang panas? Aku akan memulainya sayang…” ucap Abizar dengan nada menggoda.
Mendengar kata malam pertama membuat Aleena terdiam, dia seketika mematung dan menjadi gugup akan hal itu, bahkan Aleena memundurkan wajahnya sampai dia terbaring di atas tempat tidur dengan kedua kaki yang masih
menginjak lantai.
Saat itu Abizar sudah menindih tubuh Aleena dan mulai mencium bibir tipis Aleena dan mulai turun ke leher dan semakin ke bawah.
Aleena hanya pasrah menerima semua yang di lakukan Abizar saat itu karena mau bagaimanapun Abizar sudah menjadi suaminya saat itu.
“Apa aku boleh memulainya?” tanya Abizar meminta ijin kepada Aleena.
Aleena hanya tersipu malu dan menganggukkan kepala menyetujui permintaan Abizar. Setelah mendapatkan ijin, Abizar langsung memulai malam pertama yang panas dengan Aleena.
Kedua orang itu menikmati malam pertama panas mereka, walaupun awalnya Aleena merasa kesakitan tapi Abizar sangat pintar membuat Aleena melupakan rasa sakitnya dan menjadi merasa kenikmatan.
Abizar tersenyum puas melihat betapa Aleena menikmati permainannya malam itu, dia akan membuat Aleena di mabuk kepayang saat bersamanya.
“Terimakasih sayang…” bisik Abizar saat dia berhasil menanamkan benih di dalam perut Aleena.
“Kenapa kamu berterimakasih kak? Memang sudah seharusnya aku memberikan semuanya kepadamu karena kamu adalah suamiku.” Ucap Aleena.
Abizar hanya tersenyum lalu mencium kening Aleena dengan lembut berkali-kali lalu akhirnya keduanya tertidur karena kelelahan setelah pertempuran mereka beberapa kali.
***
Pagi pun datang, semua orang sedang berkemas untuk kepulangan mereka dan melakukan atifitas seperti biasanya.
“Sini biar aku saja yang mengemasi barangmu sayang.” Ucap Daniyal yang mengambil alih koper istrinya setelah dia selesai mengemasi pakaiannya.
“Aku bisa sendiri mas, kamu ini terlalu khawatir.” Ucap Irene.
“Aku harus khawatir karena ini tentang orang yang aku sayang, jangan bilang aku berlebihan karena semua laki-laki juga akan melakukan hal yang sama denganku jika istrinya sedang hamil.” Ucap Daniyal.
Akhirnya Irene hanya bisa pasrah dan menuruti ucapan suaminya, dia memutuskan untuk duduk di sofa yang ada di kamar hotelnya sambil menunggu Daniyal selesa mengemasi barangnya.
“Sudah, ayo kita berangkat, aku sudah menyuruh supir di mansion untuk menjemput kita.” Ucap Daniyal.
Irene hanya mengangguk mengiyakan ucapan Daniyal, lalu mereka berdua bergandengan tangan keluar dari kamar karena Daniyal memasukkan barang milik istrinya di kopernya karena mereka tidak membawa banyak barang.
Saat keluar dari kamar, Irene melihat Aleena dan Abizar juga ikut keluar dari kamarnya membawa dua koper yang di pegang Abizar.
“Eh pengantin baru, kok udah mau pulang sih? Harusya kalian tetap di sini seminggu baru kembali.” Ucap Irene.
Aleena tersenyum ke arah Irene begitu juga sebaliknya, sedangkan Daniyal dan Abizar saling menatap tajam satu sama lain seperti orang yang memiliki dendam pribadi.
“Kami memutuskan untuk berbulan madu kak.” Ucap Aleena.
“Hah? Bulan madu? Kemana? Apa papi sudah tau?” tanya Irene.
“Kami mau ke Korea kak sama seperti kakak dan kak Daniyal dulu, ini kami mau ke kamar papi untuk berpamitan.” Jelas Aleena.
“Kenapa mendadak sekali? Papi ga pernah bilang kalau kalian berdua akan langsung berbulan madu.” Ucap Irene.
“Memang sangat mendadak kak, ternyata kak Abizar yang menyiapkan semuanya secara diam-diam untuk kejutan.” Ucap Aleena.
“Apa yang sedang kamu rencanakan sebenarnya Abizar…” batin Daniyal sambil menatap ke arah adiknya itu.