MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 105 (MENGAMBIL ALIH)



“Kalian ini selalu repot-repot, untuk apa kalian membawa hal seperti ini? Cukup kalian saja yang datang papi sangat senang melihatnya, jadi lain kali kalau mau ke sini ya ke sini aja ga usah membawa oleh-oleh untuk papi!” tegas Gilang.


“Iya papi iya janganmarah-marah mulu nanti cepat tua.” Ucap Irene.


“Memang papi sudah tua tau!” balas Gilang yang di balas tawa oleh Irene dan yang lainnya.


“Oh iya, Daniyal papi ingin mengatakan sesuatu kepadamu.” Ucap Gilang kepada Daniyal.


“Ada apa pi? Apa ada masalah?” tanya Daniyal.


“Papi ingin kamu memegang alih perusahaan papi sampai Aleena bisa menguasai tentang perusahaan.” Ucap Gilang.


Mendengar hal itu semua orang sangat terkejut, begitu juga dengan Irene dan Daniyal.


“Apa? Maksud papi gimana?” tanya Daniyal.


“Karena papi sudah tua sekarang, papi sering kali tidak datang ke perusahaan dan tidak memantau bagaimana perkembangannya, itulah kenapa aku ingin kamu membantuku mengurus perusahaan.” Jelas Gilang.


“Tapi bukankah papi memiliki asisten pribadi?” tanya Daniyal.


“Ah Bian? Ya papi memang memilikinya dan dia sangat bisa di andalkan, hanya saja dia adalah orang lain dan bukankah lebih baik jika menantu papi sendiri yang memegang perusahaan?” ucap Gilang.


Irene dan Daniyal hanya diam setelah mendengar ucapan papinya, keduanya saling menatap satu sama lain lalu Irene menganggukkan kepala memberi tanda kepada Daniyal untuk menuruti ucapan sang papi.


“Baiklah kalau begitu pi, Daniyal akan berusaha dengan keras untuk membuat perusahaan papi lebih besar lagi.” Ucap Daniyal.


“Bagus! Karena perusahaan itu adalah pusat dari semua cabang perusahaanku, perusahaan itu yang sudah aku bangun dari nol bersama dengan istriku.” Ucap Gilang.


“Papi…” ucap Irene, Nancy, Ratu dan Queen.


Sedangkan Daniyal yang mendengar kata istri membuatnya mengepalkan kedua tangannya karena kembali teringat dengan wanita yang berada di rumah sakit jiwa.


“Bagaimana mereka semua berakting dengan sempurna? Bukankah ibu kalian masih hidup? Lalu kenapa kalian semua berekspresi seolah-olah semuanya sudah berakhir?” batin Daniyal di dalam hatinya.


“Kalian jangan langsung pulang, lebih baik kalian naik ke kamar Irene dan istirahat dulu di sini dan nanti kalian makan malam bersama di sini aja.” Ucap Gilang.


Irene menoleh ke arah Daniyal untuk meminta persetujuan, lalu Daniyal hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


“Baiklah kita istirahat di sini dan akan makan malam bersama di sini pi.” Ucap Daniyal.


“Asik! Ayo kita ngobrol-ngobrol bareng kak!” seru Nancy.


“Jangan membuat kakakmu lelah! Ayo Irene ajak suami kamu ke kamarmu.” Tegas Gilang kepada Nancy dan juga yang lainnya.


Irene hanya menganggukkan kepala dan Gilang segera berjalan menaiki tangga menuju kamarnya untuk kembali beristirahat.


“Nanti sore aja ngobrolnya, sekarang aku sudah lelah sekali.” Ucap Irene kepada ketiga adiknya dan langsung mengajak Daniyal ke kamarnya.


“Tidurlah kak, aku mau ke papi dulu ya..” ucap Irene setelah memastikan suaminya berbaring di tempat tidur dan menyelimutinya.


“Tunggu Iren!” panggil Daniyal.


“Hem? Ada apa sayang?” tanya Irene.


“Kenapa kamu ga ngasih tau mereka tentang kehamilanmu? Bukankah itu adalah tujuan kita kemari?” tanya Daniyal.


“Pasti kamu udah penasaran dari tadi ya?” tanya Irene sambil tersenyum.


Daniyal mengangguk setelah mendengar pertanyaan dari Irene, lalu dia segera duduk kembali di atas tempat tidur untuk mendekar jawaban dari istrinya.


Irene hanya tersenyum lalu dia duduk di tepi tempat tidur.


“Aku tadi liat kamu bener-bener gugup waktu kita masuk ke dalam rumah, bahkan tangan kamu basah banget loh dan itu bener-bener buat aku mikir kalau kamu pasti punya alasan sendiri untuk takut.” Ucap Irene.


“Jadi aku memutuskan untuk tidak memberitahu mereka dulu, aku juga ga membutuhkan jawaban kamu jadi aku akan diam sampai kamu siap memberitahu semuanya.” Lanjut Irene.


Mendengar ucapan Irene membuat Daniyal tersenyum senang, dia bersyukur karena memiliki istri yang bisa mengerti dengan dirinya.


“Apaan sih lebay deh ah! Udah sana tidur, aku mau ngobrol-ngobrol dulu sama papi.” Ucap Irene.


"Oh iya, aku juga mau jujur sama papi tentang kehamilanku, hanya papi yang aku beritahu dan aku yakin papi akan mengerti ketakutan kamu." ucap Irene.


Akhirnya Daniyal segera menganggukkan kepalanya dan kembali membaringkan tubuhnya sambil melihat hpnya.


Sedangkan Irene segera keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar sang papi.


“Papi..” panggil Irene sambil mengetuk pintu kamar papinya.


“Masuklah..” jawab Gilang dari dalam kamar.


Dengan segera Irene membuka pintu kamar papinya dan berjalan masuk ke dalam.


Irene melihat papinya sedang duduk di balkon kamar sambil melihat pemandangan luar.


"Papi, papi lagi ngapain?" tanya Irene.


"Ga ada Iren, papi hanya ingin melihat pemandangan saja." jawab Gilang.


"Pi, boleh Irene mengatakan sesuatu?" tanya Irene.


"Tentu saja, tidak perlu bertanya kamu juga akan tetap mengatakannya kan?" ucap Gilang yang di balas tawa oleh Irene.


"Papi memang selalu mengerti aku." puji Irene.


"Kamu masih tetap sama seperti waktu kecil dulu." ucap Gilang.


"Jadi, ada apa?" tanya Gilang.


"Pi, papi yakin untuk menyuruh kak Daniyal mengurus perusahaan?" tanya Irene.


"Kenapa kamu bicara seperti itu? Tentu saja aku yakin dengan keputusanku!" tegas Gilang.


"Terimakasih karena sudah percaya dengan kak Daniyal ya pi." ucap Irene.


"Kenapa kamu berterima kasih?" tanya Gilang.


"Ya karena papi percaya sama kak


Daniyal." jawab Ireng.


"Sini Irene bantuin pijitin papi." ucap Irene.


"Papi pasti capek banget ya? Aleena pasti bisa meneruskan perusahaan kok, nanti Irene yang akan mengatakan kepada Aleena." ucap Irene.


"Apa kamu yakin dia mau? Karena papi lihat dia sepertinya sangat menyukai karirnya." ucap Gilang.


"Yah tapi mau sampe kapan? Dia akan menjadi tua dan ada saatnya dia tidak akan di pakai lagi karena sudah tidak menarik lagi." ucap Irene.


"Jadi Irene yakin kalau Aleena pasti mau memegang alih perusahaan, karena tidak mungkin kak Daniyal lama memegang perusahaan papi, dia juga punya perusahaannya sendiri pi." ucap Irene.


"Ya kamu benar juga, kalau begitu papi harap kamu bisa memberitahu Aleena dengan hati-hati ya.." ucap Gilang.


Irene hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya lalu dia kembali memijat kepada papinya.


"Oh iya pi, ada satu hal lagi yang ingin Irene katakan kepada papi." ucap Irene.


"Ada apa? Kamu banyak sekali yang mau di katakan sih?" tanya Gilang.


"Hemm, tapi ini benar-benar rahasia pi, kak Daniyal melarang ku memberi tahu siapapun." ucap Irene yang membuat Gilang merasa penasaran.


"Ada apa sih? Kamu malah bikin papi semakin penasaran tau!" ketus Gilang.


"Aku hamil pi..." ucap Irene.