
Irene sudah mengendarai mobilnya menuju perusahaan karena dia harus menghadiri rapat penting.
Di sepanjang perjalanan Irene hanya bisa merenung memikirkan nasib adik-adiknya saat ini.
"Bagaimana ini? Apa papi akan semakin ketat kepada mereka?" gumam Irene yang masih menyetir mobil.
Sampai akhirnya dia sampai di perusahaannya dan terkejut saat melihat Daniyal yang sudah ada di depan perusahaannya.
"Selamat pagi nona Iren..." sapa Daniyal dengan sopan.
"Jangan panggil aku nona, bukankah papi sudah pernah bilang?" ucap Irene.
"Iya sudah pernah bilang memang, dan aku juga sudah pernah memanggilmu Iren." ucap Daniyal.
"Terus kenapa kamu sekarang memanggilku nona? Apa kamu begitu karena melakukan kesalahan?" tanya Irene.
"Hemm, aku dengar kamu sedang tidak baik-baik saja ya?" tanya Daniyal.
"Terus?"
"Aku mau menghiburmu, ayo kita keluar." ajak Daniyal.
"Keluar kemana? Aku ada rapat dan harus menandatangani kerjasama penting." ucap Irene.
"Aku sudah mengurusnya untukmu, aku sudah menghubungi mereka dan meminta mereka untuk bertemu di cafe yang ada di taman kota." jelas Daniyal.
"Apa!? Bagaimana bisa kamu melakukan hal itu Dani? Bagaimana jika mereka tersinggung dan membatalkan kerjasama kita?" tanya Irene dengan wajah khawatirnya.
Karena kerja sama ini sangat penting bukan hanya untuk Irene dan perusahaannya, tapi ini juga sangat penting untuk karir Aleena karena dia yang akan mewakili perusahaannya menuju ke jenjang yang lebih tinggi lagi.
"Kamu meragukanku? Aku ini laki-laki serba bisa, makanya kamu harus mencari kekasih yang serba bisa sepertiku nantinya." ucap Daniyal dengan percaya diri.
"Cih! Kalau begitu kamu saja jadi kekasihku!" ketus Irene bercanda.
"Bukan ide yang buruk! Ayo kita menjadi kekasih!" sahut Daniyal dengan yakin membuat Irene terkejut.
"A-apa?!" ucap Irene sambil menatap wajah Daniyal.
"Bagaimana ini? Kenapa jantungku berdetak kencang seperti ini di hadapannya!?" batin Irene di dalam hatinya.
"A-aku cuma bercanda tau! Menyebalkan!" ketus Irene yang langsung memalingkan wajahnya.
"Tapi aku serius Iren..." ucap Daniyal yang membuat Irene mematung di tempatnya.
Irene segera memalingkan wajahnya dan menatap kedua mata Daniyal dalam-dalam.
"Apa ucapan papi yang menyuruhmu berbicara santai membuat kamu semakin tidak tau diri?!" ketus Irene dengan serius.
Walaupun jantungnya berdetak kencang, tapi kepalanya mengingat dengan jelas ucapan papinya tentang hubungan Aleena dan Abizar.
Menurutnya waktunya akan sia-sia jika berhubungan dengan laki-laki yang tidak akan di restui papinya.
Terutama dirinya yang harus memilih laki-laki yang memiliki kemampuan untuk membantunya mengurus perusahaan.
"Biar aku yang menanggung semuanya, biar aku yang berkorban untuk menikah dengan laki-laki pilihan papi agar adik-adikku bisa bebas dari perjodohan dan memilih laki-laki pilihannya sendiri." Batin Irene.
Daniyal yang mendengar ucapan Irene langsung tertegun karena merasa bersalah atas ucapannya.
"M-maaf, aku tidak tau kalau kamu segitunya membenciku, maaf karena aku sudah lupa akan statusku." ucap Daniyal.
Irene yang merasa sedikit bersalah hanya bisa diam memalingkan wajahnya dari Daniyal.
"Tapi masalah rapat aku bisa memberi kompensasi, jadi ayo kita rapat di tempat yang sudah kamu tentukan." ucap Irene.
Mendengar persetujuan Irene setidaknya membuat perasaan Daniyal kembali sedikit senang dan kembali bersemangat.
Sedangkan Irene hanya bisa menaikkan kedua alisnya karena melihat Daniyal yang terus tersenyum setelah mendengar ucapannya.
"Apa kamu tidak mau menyiapkan semuanya dan senyum-senyum di sini?" tanya Irene.
Mendengar ucapan Irene membuat Daniyal sadar dan segera berlari untuk menyiapkan semuanya.