
Cekrek! Cekrek! Cekrek!
“Bagus! Lanjutkan, lebih mesra lagi!” teriak photographer yang sedang memotret Aleena dan Delon.
Namun di sisi lain ada seseorang yang menatap keduanya dengan tajam, yap! Abizar yang berada di pojok ruangan sedang menatap tajam ke arah Aleena dan Delon yang sedang saling merangkul dengan mesranya.
“Cih aku benar-benar tidak menyukai wanita sepertinya!” ketus Abizar.
Abizar tidak pernah berpacaran dengan serius, dia seringkali bergonta-ganti pacar sampai tidak tau berapa mantan Abizar sebenarnya.
Intinya, di mata Abizar semua wanita cantik itu sama saja kecuali maminya, semua wanita di mata Abizar hanya mengandalkan wajah cantik mereka dan hanya membutuhkan uang di hidupnya.
Cinta? Abizar sama sekali tidak percaya dengan cinta, dia sangat membenci kata cinta terutama saat melihat perubahan sikap kakaknya Daniyal.
Dia semakin membenci cinta karena cinta bisa mengubah dendam menjadi rasa sayang, cinta bisa mengubah sikap seseorang dan itu adalah hal yang paling di benci Abizar.
“Aku tidak akan pernah melakukan hal bodoh seperti kak Daniyal!” gumam Abizar yang masih menatap tajam ke arah Aleena dan Delon.
Sedangkan sejak tadi Aleena sudah merasa kalau ada seseorang yang sejak tadi menatapnya dengan tajam setajam silet! Namun Aleena mengira kalau Abizar menatapnya seperti itu karena cemburu jika dia berdekatan dengan laki-laki lain, namun kenyataannya Abizar sama sekali tidak perduli akan hal itu.
“Oke sudah selesai! Kalian berdua sangat bagus, terimakasih atas kerja keras kalian.” Ucap photographer dan juga para staff yang ada di sana.
Aleena dan Delon juga mengucapkan terimakasih kepada semua staff pemotretan dan segera berganti pakaian.
“Leen, mau makan siang bareng ga?” tanya Delon sambil merangkul pundah Aleena dengan santainya.
Sebenarnya Delon dan Aleena sudah sangat dekat sebelum Abizar menjadi bodyguardnya, hanya saja semakin tenar Delon semakin sering berganti wanita dan itu yang membuat image Delon menjadi pakboy, dan tentu saja
itu membuat Irene sangat was-was dengan Delon dan Irene menyuruh Abizar lebih waspada saat Aleena sedang bersama Delon.
“Jangan pegang-pegang selain pemotretan!” ketus Abizar yang sudah memelintir tangan Delon hingga membuat Delon meringis kesakitan.
“Aw! Sakit tau kak! Biasa aja kali kita juga biasa begini kok sebelum kakak ada!” ketus Delon.
“Delon jangan bikin masalah deh! Siang ini aku udah ada janji makan di luar jadi kapan-kapan aja makan siang barengnya oke?” ucap Aleena.
“Hem, baiklah kalau begitu, bye Aleena jangan lupa hubungi aku nanti.” Ucap Delon sambil melambaikan tangannya dan menaiki lift bersama manager pribadinya.
Sedangkan Abizar masih tetap memasang wajah datarnya, sedangkan Aleena yang melihat ekspresi wajah Abizar hanya bisa tersenyum sambil menatap wajah Abizar terus menerus.
“Ada apa?” tanya Abizar dengan cuek.
“Ih cuek amat sih!” ketus Aleena sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
“Apa lagi jadwal hari ini?” tanya Abizar.
“Aku mau makan!” jawab Aleena singkat.
Sebenarnya Aleena tidak terlalu berpikir macam-macam dengan sikap cuek Abizar karena sejak awal Abizar memang selalu seperti itu.
“Oh iya, aku mau ke kak Iren dulu mau ngajak dia makan siang bareng.” Ucap Aleena.
“Baiklah kita ke lantai atas saja kalau begitu.” Ucap Abizar yang di balas anggukan oleh Aleena.
Di dalam lift keduanya hanya bisa diam tidak ada yang memulai pembicaraan sampai akhirnya Aleena kesal dan segera membuka pembicaraan.
“Kamu ini kenapa sih kak? Kamu dari tadi deh kayaknya natap aku tajem banget.” Ucap Aleena kesal.
“Ga apa-apa.” Balas Abizar.
“Mungkin.” Ucap Abizar cuek.
“Kamu cemburu ya? Ah iya aku lupa kalo kamu baru kemarin pertama kalinya liat aku pemotretan sama Delon ya? Aku udah biasa kok sama Delon begitu jadi jangan marah lagi ya.” Ucap Aleena.
“Lagian aku juga masih bersikap professional kok dan dia juga begitu.” Lanjutnya.
“Udahlah ga usah di bahas lagi, kita sudah sampai.” Ucap Abizar tepat saat pintu lift baru terbuka.
Aleena dan Abizar seger berjalan ke ruangan Irene dan mengetuk pintunya.
“Masuk.” Teriak Irene dari dalam ruangannya.
“Hai kak, aku sama kak Abizar mau makan siang bareng, kakak juga mau makan siang bareng kita?” tanya Aleena.
“Hem engga deh, aku masih banyak kerjaan nanti aku makan siang di luar sendiri aja.” Ucap Irene.
“Yakin? Ga enak loh makan sendirian kak…” bujuk Aleena.
“Kata siapa ga enak? Ya enak aja kalo niatnya emang buat makan, udah sana kalian makan duluan aja.” Ucap Irene.
“Baiklah kalau begitu kak, jangan teralu maksa kak jangan lupa makan.” Ucap Aleena yang di balas anggukan oleh Irene.
Aleena dan Abizar segera kembali turun ke bawah setelah bertanya kepada Irene, sekarang gantian Aleena yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
“Kamu kenapa Aleena?” tanya Abizar.
“Kamu ngerasa ga sih kalo kak Irene kayaknya ga semangat kayak biasanya?” ucap Aleena yang malah bealik bertanya.
“Masa sih? Entahlah aku ga terlalu memperhatikan.” Ucap Abizar.
“Haah, kamu ini kapan pernah memperhatikan emang?” ucap Aleena sambil memutar bola matanya.
Sesampianya di lantai dasar, Aleena dan Abizar segera pergi untuk makan di luar sesuai dengan rencananya.
Sedangkan di dalam ruangannya, Irene sedang melihat ke luar jendela untuk memastikan kalau Aleena sudah pergi dari perusahaan.
Setelah memastikan hal itu, Irene segera bersiap untuk pergi ke supermarket karena dia ingin membeli susu hamil untuk dirinya.
Namun saat di perjalanan dia membelokkan mobilnya ke sebuah salon&spa yang terkenal, dia ingin memanjakan tubuhnya yang sudah lama bekerja keras, dia juga ingin mewarnai rambutnya karena dia ingin tau bagaimana reaksi Daniyal saat melihat perubahan pada dirinya.
“Selamat siang, selamat datang, ada yang bisa saya bantu?” tanya pelayan yang berdiri di meja kasir.
“Selamat siang mbak, saya mau pijat spa dan juga perawatan rambut ya.” Ucap Irene.
“Ah baiklah silahkan tulis nama anda di sini dan silahkan duduk dulu, setelah ini kami akan memanggil anda.” Ucap pelayan tersebut.
Irene menganggukkan kepala lalu menuruti ucapan pelayan tersebut untuk duduk di kursi tunggu.
Irene menunggu sambil sesekali mengelus perutnya, dia baru sadar kalau orang hamil tidak boleh cat rambut bukan? Dan akhirnya Irene mengurungkan niatnya untuk mengecat rambut dan dia memutuskan hanya melakukan
perawatan dan mengeriting rambutnya agar terlihat lebih muda.
Akhirnya tibalah waktunya Irene di panggil karena sudah gilirannya, Irene segera berbaring di atas tempat tidur yang sudah di sediakan, dia mulai merasakan pijitan lembut yang menjalar di tubuhnya.
Rasanya benar-benar relax mengingat selama ini dia hanya memikirkan tentang pekerjaan saja, dan dia juga berpikir kalau Daniyal mulai bosan dengannya karena dia tidak pandai merawat diri? Mungkin saja…