MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 121 (MENGAMBIL ANAKNYA)



Keesokan harinya, Daniyal menepati janjinya untuk datang ke perusahaan papinya untuk membicarakan tentang apa yang mau mereka bahas semalam.


Di sana Daniyal segera pergi ke ruangan papinya yang berada di lantai paling atas, di dalam sana papinya memang sudah menunggu kehadirang putra sulungnya itu.


“Pagi pi.” Sapa Daniyal yang baru masuk ke dalam ruangan papinya.


“Jadi, jelaskan secara detail kepada papi yang sebenarnya terjadi.” Ucap Bramantio dengan tegas.


“Apa papi ga niat nyuruh aku duduk dulu gitu?” tanya Daniyal.


“Apa perlu? Kamu juga ga pernah bicara tentang apapun yang sudah kamu lakukan kepada papi.” Balas Bramantio.


Daniyal tau betul kalau sifat papinya sama sepertinya sama-sama tidak mau mengalah selama menurut mereka benar.


“Lalu bagaimana? Apa aku tidak boleh menyentuhnya di saat kita menikah?” tanya Daniyal.


“Bodoh! Kamu bisa pakai pengaman!” tegas Bramantio.


“Pengaman? Mana ada suami istri yang berhubungan memakai pengaman papi? Ga enak lah! Aku ga suami istri aja ga pake pengaman.” Ucap Daniyal.


“Gila! Ini hasilnya dari kegilaan kamu!” ketus Bramantio.


“Tapi anak itu ga salah apa-apa pi, dia juga bukan anak haram karena aku dan Iren sudah menikah.” Ucap Daniyal.


“Daniyal!” teriak Bramantio sambil menggebrak meja kerjanya.


Daniyal terkejut mendengar teriakan sang papi karena itu sangat tiba-tiba, bahkan Daniyal sampai lompat karena terkejutnya.


Bramantio yang melihat anaknya yang terkejut sampai loncat hanya bisa menahan tawanya karena menurutnya ekspresi Daniyal saat itu benar-benar lucu.


Namun sebisa mungkin Bramantio menutupi rasa keinginan tawanya dan segera menarik nafas panjang untuk menetralkan.


“Oke anggap saja kalau kamu sangat ingin anak itu, papi akan memberimu saran, lebih baik setelah anak itu lahir kamu ambil anak itu dan kalian berdua cerai.” Ucap Bramantio yang membuat Daniyal semakin terkejut.


“Apa!? Papi udah gila ya? Udah cerai dan di pisahkan dari anaknya? Itu sama aja kayak udah jatuh ketiban tangga!” ucap Daniyal yang tidak habis fikir.


“Bukannya seharusnya seperti itu? Bukankah seharusnya kita membuatnya tersiksa? Itu adalah cara yang bagus saat ini.” Ucap Bramantio.


Daniyal benar-benar tidak bisa melakukan apapun saat ini, dia tidak tau harus beralasan apa lagi untuk membuat papinya mengalah dan membiarkannya bersama Irene.


“Pi, kenapa harus seperti ini sih? Lebih baik kita teliti lagi semua insiden yang terjadi kepada mami, aku yakin kalau itu hanya salah paham saja.” Ucap Daniyal.


“Apa kamu bilang!? Salah paham? Kamu tau? Mami kamu tidak akan mati semudah itu!” teriak Bramantio.


Cinta Bramantio kepada sang istri memang sangat besar dan membuatnya sangat kehilangan dan terpukul saat istrinya meninggal, bahkan sampai saat ini Bram belum bisa mengikhlaskan istrinya yang sudah tidak ada dan dia juga menghasut ketiga anaknya untuk membenci keluarga herlambang.


Walaupun ketiga putranya memiliki sifat yang sama-sama arogan dan dingin, namun Daniyal dan Adyatma masih memiliki hati yang hangat saat melihat ketulusan atau kebaikan seseorang.


Sedangkan Abizar tidak, walaupun sudah melakukan kebaikan berkali-kali kepadanya, jika memiliki kesalahan dia akan tetap membenci orang itu, apa lagi Bram terus memberi minyak kepada api yang ada di dalam tubuh Abizar yang membuatnya semakin dingin dan membenci keluarga Herlambang.


“Daniyal!” teriak Bram namun di acuhkan oleh Daniyal.


Daniyal yang sudah berada di luar sama sekali tidak memperdulikan sang papi yang berteriak memanggilnya, dia hanya ingin segera keluar dari perusahaan papinya itu karena dia sudah sangat kesal dengan ucapan papinya yang menyuruhnya untuk meninggalkan Irene dan membawa anak mereka.


“Papi kehilangan istrinya, apa aku juga harus merasakan hal yang sama seperti papi, kehilangan istri? Tidak akan!” gumam Daniyal dengan yakin.


“Aku benar-benar lelah dengan semua ini, aku ingin menyudahi semuanya, aku akan pastikan kalau aku akan menyelidiki kasus ini dari awal dengan teliti!” tegas Daniyal dengan yakin.


Daniyal segera masuk ke dalam mobilnya dan memutuskan untuk tidak kembali ke perusahaannya melainkan dia ingin pergi ke perusahaan istrinya sambil mengajaknya makan siang bersama.


Sesampainya di sana, Daniyal di perlakukan dengan hormat oleh para karyawan Irene karena dia sudah mengenal Daniyal sebagai suami dari atasan mereka.


“Kak Daniyal? Kakak mau ke kak Iren ya?” tanya Elif yang kebetulan sedang berjalan di lobby.


“Iya, dia di ruangannya kan?” tanya Daniyal.


“Engga kak, kak Iren lagi ada meeting sama para modelnya, kak Daniyal bisa tunggu di ruangan kak Iren aja.” Ucap Elif.


“Baiklah kalau begitu aku akan menunggunya di ruangannya, dan Elif? Apa setelah meeting akan ada jadwal Iren yang lain?” tanya Daniyal.


“Sepertinya ga ada kak, setelah jam makan siang juga kak Iren ga ada jadwal apapun karena aku sengaja mengatur ulang jadwal kak Iren kemarin waktu kak Iren mengumumkan kehamilannya dan memamerkan perut buncitnya.” Jelas Elif.


“Hahaha, baguslah kalau begitu, karena aku ingin mengajaknya makan siang di luar setelah ini.” Ucap Daniyal yang di balas anggukan oleh Elif.


Setelah mengatakan hal itu kepada Elif, Daniyal segera naik lift dan menekan tombol paling atas ke ruangan Irene.


Sesampainya di ruangan Irene, Daniyal segera duduk di tempat duduk yang biasa istrinya duduki sambil melihat-lihat berkas dan juga bingkai foto yang ada di mejanya.


Daniyal terkejut saat melihat foto Irene dengan seorang wanita yang sangat mirip dengan mami istrinya itu, dan sepertinya foto itu baru saja di ambil karena Irene sudah dewasa di dalam foto itu sedangkan maminya meninggal di saat usia istrinya masih belasan tahun.


“Aku harus bertanya tentang wanita ini kepada Irene, aku harus mengatasi masalah ini lebih dulu sebelum kandungan Iren semakin membesar.” Gumam Daniyal yang terus menatap foto tersebut.


Sudah hampir satu setengah jam Daniyal menunggu istrinya datang, namun dia tidak kunjung datang dan mulai membuat Daniyal bosan di sana.


Akhirnya Daniyal memutuskan untuk membaringkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di ruangan istrinya dan memejamkan kedua matanya karena dia bosan melihat-lihat.


Cukup lama Daniyal memejamkan mata sampai tanpa sadar dia benar-benar tertidur sampai Irene datang dan melihatnya sedang tertidur.


“Sayang…” ucap Irene yang awalnya berteriak namun tiba-tiba dia menutup mulutnya rapat-rapat saat melihat suaminya sedang tertidur di atas sofa.


Irene hanya tersenyum sambil berjalan mendekati suaminya yang sedang tertidur, dia tidak ingin membangunkan Daniyal, dia hanya ingin duduk di sampingnya dan menatap wajah suaminya dalam-dalam.


“Ternyata suamiku tampan juga ya..” gumam Irene sambil berpangku tangan dan tersenyum melihat wajah suaminya.


“Semoga anakku akan setampan dirinya, bahkan kalo bisa melebihi ketampanannya.” Gumam Irene kembali sambil tertawa kecil membayangkan wajah anak mereka nantinya.


Tanpa Irene sadari kalau Daniyal saat itu sudah terbangun dan mendengar semua yang di gumamkan oleh Irene, hanya saja dia sengaja tidak membuka kedua matanya karena dia ingin mendengar lebih banyak ucapan istrinya itu.