
Hari telah berganti, sore ini seluruh keluarga Herlambang sedang di sibukkan untuk mengatur acara pertunangan Irene dan Daniyal yang akan di adakan besok pagi dengan tema garden party.
Awalnya empat bersaudara itu terkejut mengetahui kalau kakak mereka akan bertunangan dengan Daniyal yang ternyata adalah seorang pemimpin sebuah perusahaan yang besar.
Ke empat saudara Irene ikut serta membantu mengatur dekorasi pertunangan sang kakak, sedangkan para bodyguard mereka mereka suruh pulang lebih cepat hari ini untuk beristirahat karena besok mereka akan bekerja dua kali lipat karena ada banyak sekali tamu undangan yang akan datang.
“Aku benar-benar tidak menyangka kalau kak Iren akan segera bertunangan sekarang.” Ucap Nancy kepada Aleena.
“Semuanya juga tidak akan menyangka tentang hal ini Nancy, apa lagi kak Iren tidak pernah mengenalkan seorang laki-laki kepada kami.” Ucap Aleena.
“Haah, kalau kak Iren menikah dia akan tinggal bersama kluarga barunya dan kita akan sangat merindukannya..” ucap Queen.
“Jangan lebay Queen, selama kak Iren bahagia kita sebagai adik harus mendukung penuh apa yang sudah menjadi keputusannya.” Ucap Ratu.
“Anak-anak, kalian di sini mau mengganggu para pekerja yang sedang menata halaman kita?” tanya Gilang kepada keempat anaknya.
“Tidak, tentu saja tidak papi, kami hanya ingin membantu pekerjaan mereka.” Ucap Nancy.
“Lalu kenapa kalian malah banyak bicara? Sudahlah kalian lebih baik menemani kakak kalian di kamarnya, temani kakakmu karena papi yakin dia pasti sedang gugup saat ini.” Ucap Gilang.
Tentu saja Irene sangat gugup saat itu karena besok pagi dia akan segera bertunangan dengan seseorang yang baru saja dia kenal namun sudah membuatnya nyaman.
“Hai kak..” sapa Aleena, Nancy, Ratu dan Queen saat mereka membuka pintu kamar kakaknya.
“Hai kalian,, masuklah.” Ucap Irene.
Akhirnya keempat adiknya masuk ke dalam dan duduk di pinggiran tempat tidur Irene, karena saat itu Irene sedang berbaring sambil menyalakan laptopnya.
“Kak, kak Iren lagi ngapain?” tanya Queen.
“Yaampun Queen, kamu ga liat kak Iren lagi liat laptop? Berarti dia sedang bekerja!” ketus Ratu.
“Kakak masih bekerja di saat seperti ini?” tanya Aleena.
“Kenapa memangnya? Aku harus tetap bekerja dong time is money!” ucap Irene.
“Wah, sepertinya kita tidak perlu mengkhawatirkan kak Iren, dan sepertinya papi juga harus kita beritahu.” Ucap Nancy.
“Kenapa emangnya? Ada masalah?” tanya Irene.
“Tidak kak, papi menyuruh kita menemanimu karena besok kakak akan bertunangan, hari ini pasti kakak sangat gugup.” Jelas Aleena.
“Yaampun seriusan? Haah, papi memang selalu berlebihan! Aku baik-baik saja kok ga gugup sama sekali karena hal ini sudah biasa untukku.” Ucap Irene.
“Hah? Sudah biasa apa maksudnya kak? Kak Iren sudah biasa gimana maksudnya? Udah biasa bertunangan maksudnya?” tanya Queen dengan terkejut.
“Ih bukan begitu maksudnya! Aku sudah terbiasa berdiri di depan orang banyak, jadi aku tidak akan gugup besok.” Ucap Irene.
“Ah elah kak, sekarang iya bisa ngomong kayak gitu, tapi besok ga akan bisa ngomong gitu lagi soalnya yang ini berdiri di depan orang banyaknya tuh beda.” Ucap Nancy.
“Beda apa sih? Cuma berdiri berdampingan lalu bertukar cincin bukankah selesai?” tanya Irene.
“Sudahlah Nancy, jangan membuat kak Iren jadi bertanya-tanya dan menjadi gugup! Biarkan saja dia menganggap besok sama seperti persentasi di depan karyawannya.” Sahut Aleena.
“Kalau memang kalian mau menemaniku hari ini, bagaimana kalau kalian tidur bersamaku di sini malam ini.” Ucap Irene.
“Hah? Seriusan kak? Kami boleh menemanimu tidur di sini?” tanya Queen dengan bersemangat.
“Tentu saja, hanya dua kali kalian boleh tidur bersamaku, hari ini dan malam sebelum pernikahanku nanti.” Ucap Irene.
“Yess!!” teriak semua adik-adiknya membuat Irene tersenyum bahagia.
Ke empat adiknya menganggukkan kepala mendengar ucapan Irene dan segera berjalan keluar dari kamar Irene menuju kamar mereka masing-masing.
Sedangkan di sisi lain, Daniyal mendapat telfon dari Roy untuk berkumpul bersama dengan Tommy di tempat biasa mereka berkumpul.
Awalnya Daniyal tidak ingin berkumpul malam itu karena besok dia harus bertunangan dan pasti sangat melelahkan, namun ini adalah kesempatanuntuknya memberitahu kedua sahabatnya kalau dirinya akan segera bertunangan dengan Irene.
“Kakak mau kemana?” tanya Adyatma saat melihat Daniyal berjalan menuruni tangga.
“Aku mau keluar sama Roy dan Tom.” Jawab Daniyal.
“Apa kakak akan memberitahu mereka?” tanya Abizar.
“Hm, mereka akan tau karena orang tuan Tom adalah rekan bisnis om Gilang dan mereka pasti akan di undang ke pertunangan kami.” Ucap Daniyal.
“Apa perlu aku temani kak? Aku takut kalau kak Tom akan melakukan hal yang nekat dan kak Roy berada di pihaknya.” Ucap Abizar.
“Tidak perlu karena aku baik-baik saja.” Ucap Daniyal yang langsung berjalan ke arah pintu depan.
Daniyal yang sudah berada di mobil sportnya segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sampai akhirnya beberapa menit kemudian Daniyal sampai di tempat tujuan.
“Hai Dan!” sapa Roy yang sedang menunggu Daniyal dan Tom di depan club.
“Hai, Tom belum datang?” tanya Daniyal.
“Hm, belum dia sedang berada di jalan.” Ucap Roy.
Belum saja Roy selesai bicara, Tommy sudah datang dan menghampiri mereka berdua.
“Hai, kenapa kalian masih di luar?” tanya Tommy.
“Kami menunggumu, ayo cepat masuk!” ucap Roy.
Tempat yang biasa mereka datangi saat berkumpul adalah club malam milik Roy, mereka selalu menempati ruangan VVIP di sana dan tidak ada lagi ruangan yang bisa menyamai tempat berkumpul mereka.
“Jadi ada apa kalian menghubungiku?” tanya Daniyal kepada kedua sahabatnya.
“Ah kamu ini bagaimana sih, si Tom tuh dia lagi patah hati karena dia mendapat kabar daro orang tuanya kalau Irene akan bertunangan besok.” Jelas Roy.
“Apa kamu benar-benar menyukainya?” tanya Daniyal.
“Aku belum menyukainya sebesar itu, tapi dia benar-benar tipe idealku.” Jawab Tommy.
“Aku juga ingin jujur kepada kalian berdua, aku ga tau setelah ini kalian akan tetap menjadi sahabatku atau tidak, tapi aku harus memberitahu kalian daripada aku menyesal.” Ucap Daniyal.
Kedua sahabatnya itu benar-benar tegang saat Daniyal mengatakan hal itu, keduanya penasaran dengan apa yang akan di ucapkan oleh Daniyal.
“Apa yang mau kamu katakan kepada kami? Kenapa wajahmu berubah jadi serius begitu?” tanya Tommy.
“Apa kamu mendapat masalah? Kami akan membantumu, kamu tau kan kalau kami adalah sahabatmu.” ucap Roy.
Daniyal hanya diam belum mengatakan apapun, dia juga bingung harus bicara apa kepada kedua sahabatnya itu karena setelah ini kemungkinan besar mereka berdua akan membencinya seumur hidupnya.
“Kok kamu malah diem sih? Jangan bikin kami penasaran deh Dan! Ada apa?” tanya Roy yang merasa tidak sabaran.
“Besok aku akan bertunangan dengan Irene Herlambang.” Ucap Daniyal yang membuat kedua sahabatnya terkejut bukan main.
“Apa!!!?” teriak Tom dan Roy secara bersamaan.~~~~