MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 49 (MAMI!!)



“Mami!!” teriak Ratu dan Queen secara bersamaan membuat semuanya terkejut segera menutup mulut kedua adiknya itu.


Irene menutup mulut Ratu dan Aleena menutup mulut Queen, sedangkan Nancy segera menutup pintu ruangan tersebut.


“Jangan berisik kalian berdua! Dia bukanlah mami.” Ucap Nancy.


“A-apa? Bukan mami? Terus dia siapa? Kenapa wajahnya mirip sekali dengan mami?” tanya Ratu.


“Dia adalah saudara kembar mami, kalau mami namanya Rindi, dia adalah tante Rinda.” Jawab Aleena.


“Mami punya saudara kembar? Bagaimana bisa kita kita mengetahui apapun? Lalu kenapa kakak-kakak semua tau tentang tante Rinda?” tanya Queen.


“Kami sudah tau karena dulu tante Rinda sering ke rumah, setelah kepergian mami, tante Rinda seperti orang yang kehilangan arah karena tidak bisa menerima kematian mami sampai akhirnya dia berada di sini sekarang karena kami takut kalau sesuatu terjadi kepada tante Rinda juga.” Jelas Irene.


“Ah jadi begitu, kalian selalu pergi akhir pekan itu karena kalian kemari menjenguk tante Rinda?” tanya Queen kepada kakak-kakaknya.


“Hmm, kami kemari setiap akhir pekan atau saat libur kerja, dan karena kalian berdua sudah besar jadi kami memutuskan untuk memberitahu kalian agar kalian juga sering menjenguknya.” Ucap Irene.


“Tentu saja! Kalau saja aku tau tentang tante Rinda dari awal, aku pasti sudah sering menjenguknya sejak dulu.” Ucap Queen dengan bersemangat.


“Tante, Iren ke sini lagi liatin tante, Iren juga ajak adik-adik Iren ke sini, ini Ratu dan Queen, si kembar yang selalu tante gendong dulu.” Ucap Irene mengenalkan Ratu dan Queen kepada tante Rinda.


Namun Rinda hanya diam melihat mereka semua, entah apa yang ada di pikirannya tapi memang Rinda selalu memasang wajah datar seperti itu.


“Tante Rinda ga kenal siapapun kak?” tanya Queen.


“Hm, dia kadang ingat tentang kematian mami, tapi kadang juga dia lupa akan dirinya sendiri.” Ucap Irene.


Semuanya hanya bisa menatap Rinda prihatin sambil menghela nafas panjang, sedangkan Gilang sejak awal masuk sama sekali tidak menatap Rinda terlalu lama karena mengingatkannya dengan sang istri.


“Papi, sebaiknya papi tunggu di luar saja.” Ucap Aleena.


“Hm, Aleena benar pi, papi tunggu di luar saja ya.” Ucap Irene.


“Tidak, sebaiknya kita pulang dan membiarkan tante kalian untuk istirahat.” Ucap Gilang.


“Iya benar kak, sebaiknya jangan menekannya untuk mengenal kita secepat itu.” Sahut Nancy.


Mendengar ucapan papi dan adiknya membuat Irene menganggukkan kepala dan segera mengajak yang lain untuk pulang ke rumah mereka.


                                                                               **********


Setelah mengetahui yang sebenarnya, Ratu dan Queen sedikit senang karena dia bisa melihat wajah tantenya kapanpun ketika mereka merindukan mami mereka.


“Irene, bisakah kamu duduk di sini dan mengobrol dengan papi?” tanya Gilang kepada anak sulungnya yang sedang berjalan mau menaiki tangga.


Mendengar panggilan papinya membuat Irene menghentikan langkahnya dan Aleena yang ada di sebelah Irene hanya menatapnya sejenak lalu segera melanjutkan jalannya menaiki tangga.


“Iya, ada apa pi?” tanya Irene yang sudah berjalan ke arah papinya dan duduk di sebelah Gilang.


“Kamu pulang jam berapa semalam? Papi ga dapet kabar apapun dari kamu ataupun dari rekan kerja papi.” Ucap Gilang.


Irene hanya tersenyum paksa sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal itu.


“Kenapa? Kenapa kamu tersenyum seperti itu? Ada sesuatu yang terjadi?” tanya Gilang.


“Ga ada kok pi, ga ada apa-apa.” Jawab Irene.


FLASHBACK


Malam itu, setelah mendapat banyak pujian dari papi dan adik-adiknya, Irene teringat kalau dia harus segera pergi bertemu dengan calon suaminya yang sudah di jodohkan oleh sang papi.


“Kamu akan selalu menolak kalau di beri pilihan seperti itu Iren, yang ini harus berhasil karena papi tau sendiri bagaimana anaknya, dia laki-laki yang bertanggung jawab dan sangat bisa di andalkan.” Ucap Gilang.


“Kalau begitu biarkan aku mengajak kak Dani, untuk berjaga-jaga kalau dia akan macam-macam.” Ucap Irene.


“No Iren! Papi tau kamu akan membuat rencana bersama Dani agar perjodohan ini tidak lancar bukan? Lagi pula papi bisa menjamin kalau dia tidak akan melakukan apapun padamu.” Ucap Gilang dengan yakin.


Mendengar ucapan papinya membuat Irene terdiam sambil menelan salvilanya karena papinya berhasil mengetahui niat jahatnya.


“Baiklah kalau begitu Irene berangkat dulu.” Pamit Irene.


“Kamu harus pergi bersama supir, dia sudah tau di mana tempat pertemuan kalian berdua.” Ucap Gilang.


“Ya ya ya, baiklah pi.” Ucap Irene.


Dengan malas Irene berjalan menuju pintu depan rumahnya menuju mobil yang sudah menunggunya di depan rumah.


“Semangat kak Iren!” teriak semua adik-adiknya yang di balas tatapan tajam oleh Irene.


“Oke semangat Irene, semua ini demi papi demi adik-adik, demi perusahaan.” Gumam Irene menyemangati dirinya sendiri sambil masuk ke dalam mobil.


Setelah beberapa menit perjalanan, Irene sampai di restausrant bintang 5 yang terlihat sangat mewah dari luar.


“Terimakasih pak.” Ucap Irene kepada supirnya.


“Sama-sama nona, saya akan menunggu di sini nona.” Ucap supirnya yang di balas anggukan oleh Irene.


Irene menghela nafas panjang untuk memantapkan hati, lalu dia segera berjalan masuk ke dalam restaurant dan menoleh ke kanan dan ke kiri.


“Kenapa tidak ada siapapun di sini? Jangan bilang dia menyewa semua tempat ini agar berdua saja denganku? Cih, kekanakan sekali!” gumam Irene sambil tertawa tipis.


Akhirnya Irene melihat seorang laki-laki tinggi dan tampan yang sedang berdiri di meja yang ada di sudut ruangan.


Seperti dirinya, laki-laki tersebut sama sekali tidak tersenyum sedikitpun, mungkin dirinya juga terpaksa sama seperti Irene pikirnya.


Namun laki-laki itu diam tanpa senyum karena terpukau akan kecantikan Irene yang sama sekali tidak pernah dia temui secara langsung.


“Tuan Tommy?” tanya Irene yang sudah berada tepat di hadapan Tom.


Yap, Tommy adalah sahabat Daniyal, dia adalah pengusaha sukses di bidang kuliner, keluarganya memiliki beberapa bisnis lain yang terbilang sukses juga.


“Ah iya, nona Irene? Aku baru tau kalau ternyata anda benar-benar cantik seperti yang di bicarakan.” Ucap Tommy dengan senyum ramahnya.


“Anda terlalu memuji tuan Tommy.” Balas Irene.


“Silahkan duduk nona, aku sudah memesan makanan dan minuman yang paling enak di sini.” Ucap Tommy.


“Sepertinya anda sering kemari tuan Tommy.”


“Tentu saja! Aku lah yang membuat menu makanan di restaurant ini.” Ucap Tommy yang membuat Irene bertanya-tanya.


“Em,, maksudnya anda seorang koki?” tanya Irene.


“Hahaha, bukan aku adalah pemilik restaurant ini, hanya saja sejak kecil aku sangat menyukai rasa makanan yang enak, mungkin karena orang tuaku yang bergelut di bisnis kuliner jadi aku memiliki bakat di bidang itu.” Jelas Tommy.


“Ah, maaf aku lupa kalo papi pernah mengatakan kalau keluarga anda memiliki usaha kuliner yang sangat sukses.” Ucap Irene.


“Jangan memakai bahasa formal nona, bagaimana kalau kita memulai pertemuan pertama kita ini dengan pertemanan?” tanya Tommy.


Tommy dengan senyum lebarnya segera mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Irene, Irene yang melihat niat baik Tommy segera membalas uluran tangan tersebut dan membalas senyumnya.