
Setelah masuk ke dalam restaurant, Daniyal dan Irene melihat seorang wanita yang duduk seorang diri di meja yang memiliki empat kursi.
“Itu orangnya, ayo ke sana.” Ajak Daniyal.
Irene menoleh ke arah Daniyal, dia merasa aneh karena Daniyal bisa mengenali wanita itu padahal hanya melihat dari belakang.
“Selamat malam.” Ucap Daniyal membuat wanita yang sedang duduk itu menoleh ke arahnya.
“Hai Daniyal..” balas Sherly dengan senyum ramahnya.
Mendengar sapaan Sherly dan Daniyal sangat akrab membuat Irene semakin merasa aneh karena Daniyal tidak pernah mengatakan kalau dia mengenal wanita itu.
Namun Irene sengaja tidak bertanya apapun karena dia ingin menunggu Daniyal yang mengenalkan wanita yang ada di hadapannya itu kepadanya.
Sherly mempersilahkan Daniyal dan Irene duduk di hadapannya, dan tidak lama kemudian Brams datang dengan penampilan yang santai dan membuatnya semakin terlihat gagah.
“Hai.” Sapa Brams dengan ramah lalu dia duduk di hadapan Irene.
“Brams? Kamu di sini?” tanya Sherly.
“Iya tadi aku mengundangnya, tidak apa-apa kan?” tanya Daniyal.
“Engga kok ga apa-apa.” Jawab Sherly dengan lembut.
Mendengar interaksi Daniyal dan Sherly yang sangat dekat itu membuat Irene sedikit tidak suka dengan Sherly.
“Kalian bertiga saling mengenal?” tanya Irene tiba-tiba karena merasa kehadirannya tidak di perdulikan.
“Ah nona Irene, anda sangat cantik di lihat seperti ini.” Puji Brams yang sudah duduk di hadapan Irene.
“Kamu mengenal istri Daniyal?” tanya Sherly.
“Kamu ga kenal dia siapa? Kamu kerjaannya ngapain aja Sher?” tanya Brams.
“Emang aku harus mengenalnya? Ada apa sih?” tanya Sherly yang semakin kebingungan.
Brams menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu akhirnya dia menemukan tumpukan-tumpukan majalah dan langsung mengambil salah satunya.
“Nih baca.” Ucap Brams yang langsung memberikan majalah yang tadi dia baca di dalam villa Daniyal.
Setelah membaca cover majalah tersebut Sherly benar-benar terkejut tidak percaya kalau istri mantan kekasihnya itu adalah seorang CEO muda yang sukses.
“Ah kamu ternyata CEO terkenal ya..” ucap Sherly.
Jujur saja, ada rasa tidak suka di hati Sherly saat mengetahui kalau Irene adalah orang yang sangat terkenal.
“Ah iya aku lupa, kenalkan aku adalah Brams pekerjaanku sebagai dokter.” Sapa Brams dengan ramah.
“Dia Sherly, mantan kekasih Daniyal!” sambung Brams.
Mendengar ucapan Brams yang blak-blakan membuat Daniyal dan juga Sherly terkejut dan langsung menoleh ke arah Brams.
Namun Sherly hanya tersenyum tipis bahkan senyumannya hampir tidak terlihat oleh orang lain, sedangkan Irene hanya bisa melihat ke arah Sherly dan Daniyal secara bergantian.
“Brams hanya asal bicara sayang tidak perlu di pikirkan, mereka berdua adalah temanku saat sekolah dan keduanya seorang dokter.” Jelas Daniyal.
Daniyal juga menjelaskan tentang kejadian tadi kenapa sampai yang memeriksa Irene malah Sherly bukannya Brams yang notabene adalah dokter pribadinya di Korea.
“Sudahlah ayo makan, setelah makan malam baru kita melanjutkan mengobrol.” Ucap Daniyal yang langsung memanggil pelayan yang ada di sana.
Sherly yang duduk di hadapan Daniyal terus saja menatap wajah Daniyal yang sedang memesan makanan.
Irene tau betul kalau Sherly sedang menatap suaminya, Irene benar-benar tidak suka akan hal itu namun dia mencoba untuk menenangkan dirinya.
Bahkan Irene sampai lupa kalau dia mau mengucapkan terimakasih kepada Sherly.
Sambil menunggu makanan datang, mereka ber empat saling mengobrol, lebih tepatnya mereka bertiga yang mengobrol, sedangkan Irene hanya mendengarkan mereka mengobrol.
“Perlu aku temani?” tanya Daniyal.
“Ga usah aku bisa sendiri kok.” Ucap Irene yang langsung beranjak dari kursinya.
Irene sebenarnya tidak mau ke toilet, hanya saja dia ingin mencari udara segar di balkon belakang karena dia merasa seperti orang asing di antara Daniyal dan teman-temannya.
“Mantan ya? Hem,, pantas saja interaksi mereka sangat berbeda.” Gumam Irene sambil duduk di kursi yang ada di sana.
Setelah Irene pergi, justru saat ini Brams lah yang menjadi kacang garing, karena Daniyal dan Sherly asik bercanda dan itu membuatnya mulai bosan.
Akhirnya Brams langsung berdiri tanpa aba-aba lalu segera meninggalkan meja tersebut hingga membuat Daniyal dan Sherly menatapnya dengan aneh.
“Dia kenapa?” tanya Daniyal.
“Sudahlah ga usah di perdulikan, dia kalo udah bosen kan emang begitu.” Balas Sherly yang akhirnya keduanya kembali berbincang.
Brams berkeliling restaurant tersebut sampai akhirnya dia melihat Irene sedang duduk sendirian di balkon dan akhirnya Brams memutuskan untuk menghampirinya.
“Katanya tadi ke toilet, kok malah di sini?” tanya Brams membuat Irene terkejut.
“Yaampun, ah kamu ternyata kak.” Ucap Irene.
“Ngapain kamu di sini?” tanya Brams.
“Ga ada lagi melihat pemandangan aja.” Jawab Irene.
“Kamu ngerasa ga nyaman ya tadi di sana? Kita kalo udah ketemu emang suka lupa sama sekitar.” Jelas Brams.
“Tidak apa-apa, karena sibuk kak Daniyal juga ga pernah ketemu sama temen-temennya jadi ini hal yang bagus karena kalian bisa ketemu.” Ucap Irene.
“Maaf juga ya tadi ngenalin Sherly sebagai mantannya Daniyal.”
“Ga apa-apa kok, cuma mantan kan? Sedangkan aku istrinya.” Balas Irene sambil melebarkan senyumnya.
Obrolan mereka berdua terganggu saat mendengar hp Irene berdering dan terpampang nama ‘My Bodyguard’ di sana.
“Bodyguard?” tanya Brams.
“Ah, kak Daniyal selalu menjagaku sampai aku namai dia my bodyguard.” Jawab Irene berbohong.
“Sudahlah ayo kak kita ke sana, sepertinya makanannya sudah datang.” Ajak Irene yang langsung berjalan melewati Brams begitu saja.
Sedangkan Brams hanya mengangguk dan berjalan mengikuti Irene dari belakang.
“Brams, kita kan belum ngabarin kamu kok udah dateng sih?” tanya Sherly.
“Kebetulan tadi ketemu Irene dan dia bilang kalo makanannya sudah datang jadi aku ikut deh.” Jelas Brams.
“Ah begitu, ayo duduklah… Aku akan memanggilmu Iren aja ya, kamu panggil aku Sherly aja biar kita lebih akrab.” Jelas Sherly.
Irene hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala mendengar ucapan Sherly, lalu dia segera membantu Daniyal mengambilkan makanan seperti biasanya.
Namun saat Irene mau mengambil saus kacang yang ada di sana tiba-tiba saja Sherly berteriak dan membuat Irene terkejut bahkan sampai menjatuhkan sendoknya.
“Jangan kacang! Daniyal alergi kacang Iren.” Ucap Sherly.
Mendengar hal itu Irene langsung menoleh ke arah suaminya dan berharap mendapatkan penjelasan dari Daniyal.
“Kamu ga pernah bilang kalo kamu alergi kacang.” Ucap Irene.
“Karena selama ini kamu ga pernah masakin aku kacang-kacangan jadi aku ga pernah bilang sayang.” Jawab Daniyal.
“Maaf aku ga tau..” ucap Irene yang merasa bersalah.
Kalau bukan karena Sherly mungkin dia akan membuat Daniyal celaka, tapi ada perasaan kesal di hatinya karena Sherly lebih mengetahui tentang kehidupan Daniyal di bandingkan dirinya.