
“Nona...apa anda sudah siap?"
Catla membuka pintu dan tersenyum.” Yup...”
Calvin mengiringi Catla disetiap pertemuan untuk memastikannya tidak membuat keputusan yang salah dalam rapat. Ayah Catla tahu betul putrinya itu tidak banyak tahu soal manajemen hotel. Karena itulah dia meminta Calvin menjadi penjaga sekaligus penasehat Catla. Walaupun seorang bodyguard tapi Calvin juga adalah seorang Master Management.
“Ah...benar-benar melelahkan.”Gerutu Catla.
“Kerja anda hari ini bagus sekali. Saatnya beristirahat.”
“Apa kau akan ke kamarmu? Kau benar-benar tidak sabar untuk bertemu Kath?” Calvin tak menjawab. Dan Catla pun tak butuh jawaban.
“Pergilah.”
Calvin mengangguk dan melangkah pergi. Langkahnya terasa ringan dan tak sabar ingin melihat sesorang yang menunggu di kamarnya. Dia membayangkan wajah manyun Kath dan tertawa kecil.
“ Kath.....kau benar-benar membuatku gila!!!?” Catla memukul bantal,melampiaskan kemarahannya
Calvin menemukan Kath tertidur.
“Kath....”
“Uhm.....”
“Selamat malam tuan putri.” Kath memandang Calvin dan refleks menarik selimut menutup tubuhnya hingga ke dagu.
“Kau belum makan kan? Cuci mukamu dan kita keluar mencari makan.” Kath ingin menolak tapi perutnya berkata lain. Gadis itupun mengangguk. Calvin tersenyum dan memberinya jalan.
“Aku sudah siap.” Calvin mengalihkan perhatiannya dari Tv pada Kath yang terlihat segar.
“what???”
“Lama tak melihatmu keluar dari kamar mandi dengan wajah segar dan terlihat cantik bahkan tanpa make up.”
“Aku bukan kak Catla.” Jawab Kath ketus untuk menutupi rasa malunya. Calvin tersenyum.
“Katanya mau mencari makan? Aku benar-benar kelaparan.”
“Baik tuan putri dan aku minta maaf karena membuat anda kelaparan.” Kath hanya membuang muka dan berjalan keluar. Di depan pintu dia bertemu Catla.
“Kakak?”
“ah...hai. kalian mau kemana?”
“Kami ingin mencari makan,kakak mau ikut?”
Catla tak menjawab. Kath mentapnya bingung. Catla terlihat tegang.
“Calvin,apa kau benar-benar mencintai Kath?” Keduanya terkejut dengan pertanyaan itu.
“Kakak kenapa? Kok bertanya seperti itu?”
“Calvin jawab pertanyaanku!” Suara Catla mulai meninggi
“Anda pasti sudah tahu jawabannya.” Catla terdiam dan sesaat kemudian tertawa.
“Kau memang hebat Kath....tanpa usaha kau bisa mendapatkan apa yang kau mau.”
“Apa maksud kakak?”
“Ya itulah kau,kau terlalu naif untuk melihat sekelilingmu. Disaat aku harus berusaha keras untuk mendapatkan apa yang kumau tapi kau..... tanpa harus berusaha...sim salabim...... semua datang padamu.”
“kakak ini bicara apa sih?”
“Tapi takkan kubiarkan kalian bahagia.” Catla memperlihatkan pisau yang disembunyikannya.
“Catla...apa yang akan kau lakukan?” Calvin menarik Kath kebelakang tubuhnya.
“aku benar-benar mencintaimu. Semua cara kulakukan agar kau dan Kath tak bersatu tapi takdir selalu saja kejam padaku. Kath selalu saja mendapatkan apa yang kumau.”
“kakak...tenanglah. Mari kita bicara baik-baik.” Kath berusaha mendekati Catla. Calvin menggenggam lengan Kath dan memaksanya kembali menjauh dari Catla.
“Dia kakakku. Dan takkan kubiarkan dia terluka. Dan aku tak percaya dia akan melukaiku” Kath menatap Calvin tegas.
“Jangan ada yang mendekat!!!” Catla mengangkat tangannya dan mendekatkan pisau itu ke pergelangan tangannya. Dengan sigap Kath mendekat dan berusaha merebut pisau itu.
“Lepaskan...!”
“Jangan bertindak bodoh. Kakak fikir nyawa itu hal yang bisa diperjualbelikan? Uagh.....” Kath merasa sesuatu menusuk perutnya. Catla pun terkejut dan menjauh dari Kath. Kath memegang perutnya yang seolah terbakar. Darah perlahan mengalir dari sela-sela jarinya. Calvin Menangkap tubuh kath sebelum jatuh ke lantai dan
bergegas membawanya ke rumah sakit.
Calvin tak perduli berapa kecepatan mobilnya. “Kath...bertahanlah.” Di antara kesadarnnya yang timbul tenggelam
Kath melihat wajah Calvin yang begitu khawatir. Hatinya merasa hangat. Kesadarannya pun hilang begitu mereka tiba di rumah sakit.
“Kath...kita sudah sampai. Kumohon bertahanlah....jangan biarkan aku kehilanganmu lagi.”
Calvin terus menggenggam tangannya hingga keruang IGD tapi hanya sampai depan pintu karena tak ada yang boleh masuk selain dokter dan perawat.
“Ya Tuhan,kumohon jangan ambil Kath. Jangan ambil lagi orang yang kusayangi.” Untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal 10 tahun yang lalu sesulit apapun keadaan yang dilewatinya untuk bertahan hidup.
Calvin menenangkan diri sebelum meraih handphonenya. Ditekannya nomor yang dihafalnya diluar kepala.
“Tuan,nona Kath sudah ditemukan.”
“Benarkah? Terima kasih Tuhan. Dia dimana? Aku benar-benar merindukannya.” Hardy terdengar
antusias. Pekerjaan dihadapannya tak diperdulikan lagi. Wajar saja bila hal itu terjadi. Calvin memberinya kabar yang sudah ditunggunya setahun ini.
“Dia saat ini ada di IGD.” Calvin mendengar nafas Hardy tercekat. Dia pasti terguncang.
Setahun menunggu kabar putri kesayangannya tapi kabar yang muncul bukan kabar bahagia melainkan kabar buruk.
“Kenapa dia bisa ada disana?”
“Aku akan menjelaskannya begitu anda disini. Kami dirumah sakit yang tak jauh dari resort di Bali.”
“Aku akan segera kesana. Tolong jaga putriku dan terus kabari aku.”
“Baik tuan!”
Calvin menunggu dan terus berdoa. Catla datang beberapa 1 jam kemudian. Dia tak berani bicara,hanya duduk tak
jauh dari Calvin dan memandang Keruang IGD yang masih tertutup. Catla masih syok tapi berusaha terlihat tegar. Tak ada yang bisa diharapkannya untuk tempat bersandar.
“Dia akan baik-baik saja. Sebaiknya anda pulang dan beristirahat.” Catla memandang Calvin. Pria itu bicara tanpa menatapnya. Hatinya bagai teriris sembilu. Catla sadar Calvin kini benar-benar membencinya.
“Ini salahku. Aku akan menunggu.” Calvin tak membalas,hanya berdiri dan pergi entah kemana. Catla menutup wajah dengan kedua tangannya,berusaha menahan tangis. Entah berapa lama dia seperti itu. Sesuatu menyentuh tangannya. Catla menengadah dan melihat Calvin menyodorkan minuman. “Terima kasih.” Calvin
mengangguk dan kembali ke kursinya.
Sudah 2 jam lebih tapi belum ada kabar. Catla terlonjak kaget saat Ayahnya muncul bersama istrinya.
“Bagaimana keadaan Kath?”
“Dokter masih berusaha menolongnya.” Jawab Calvin sambil mempersilahkan Tuannya duduk.
“apa yang sebenarnya terjadi?” Calvin menatap catla yang terlihat tegang. Catla meremas kedua tangannya. Dia benar-benar takut pada kemurkaan Ayahnya.
“Catla,apa yang terjadi? Kenapa kalian berdua diam?”
Catla bersimpuh dihadapan Ayahnya.
“Maafkan aku. Ini semua salahku.”
“Apa yang kau lakukan? Berdiri dan jelaskan semuanya padaku!”
“Itu semua hanya kecelakaan. Ini salahku karena tak bisa mencegah itu terjadi.”
Hardy menatap keduanya bingung.
“Jelaskan padaku sekarang juga!!!!”
“Aku...aku tak ingin Kath merebut Calvin.”
“Lalu?”
“Lalu aku berusaha bunuh diri untuk mempertahankan Calvin tapi Kath berusaha merebut pisau itu dan akhirnya dia yang tertusuk.” Hardy tak mampu bicara. Dia benar-benar syok. Istrinya menggenggam tangannya,berusaha menenangkan. Catla bersiap menerima kemarahan Ayahnya tapi semua itu tertunda saat lampu IGD mati dan pintu terbuka. Para Dokter dan Perawat keluar.
“Bagaimana keadaan putri saya Dok?”
“ Dia selamat. Pisau itu tak mengenai organ vitalnya. Dia masih dalam pengaruh bius dan sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan.” Semua yang tadinya tegang menarik nafas lega.
“Terima kasih,Dokter.” Dokter itu mengangguk. Entah kenapa di dalam diri Catla ada pertentangan. Di satu sisi dia lega Kath selamat tapi di sisi lain dia kecewa Kath tak mati.
“Kau kembali ke Jakarta. Kita akan membahas ini begitu Kath sehat dan kembali ke rumah.” Catla mengangguk pasrah.
“Calvin,kau temani Kath ke ruang perawatan. Aku akan mengurus administrasinya.” Calvin mengangguk dan masuk ke ruang IGD untuk memberitahu perawat yang bertugas membawa Kath.