MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 56 (KEPUTUSAN)



Mungkin ketidak sempurnaan kita yang membuat kita begitu sempurna saat bersama satu sama lain.


...****************...


“Jadi bagaimana?” tanya Gilang kepada putrinya.


“Emm,, aku…” ucap Irene dengan ragu.


“Apa kamu tidak menyukai Dani?” tanya Gilang.


“Dia sangat menyukaiku om, hanya saja dia sedang merasa malu saat ini.” Sahut Daniyal yang mendapat tatapan tajam oleh Irene.


Sebenarnya Irene memang memiliki ketertarikan kepada Daniyal setelah Daniyal membantunya keluar dari kebakaran waktu itu, hanya saja dia masih belum yakin dengan hatinya.


“Apa aku tidak bisa memikirkannya dulu papi?” tanya Irene.


“Lebih cepat lebih baik Iren, jadi papi bisa membicarakan hal ini baik-baik dengan orang tua Tommy.” Ucap Gilang.


“Baiklah, aku akan menerima lamaran Daniyal tapi aku ingin kita tunangan dulu.” Ucap Irene.


Mendengar jawaban Irene membuat Daniyal senang karena rencananya berhasil, namun dia teringat kalau dia harus meminta Gilang mengadakan acara yang sederhana.


“Ah iya om Gilang, aku ada permintaan kepada om dan Iren.” Ucap Daniyal tiba-tiba menjadi serius.


“Ada apa Dani?” tanya Gilang.


“Sebenarnya, aku ingin mengadakan pernikahan yang sederhana nanti, apa tidak masalah?” tanya Daniyal.


“Kenapa harus sederhana? Kalian berdua adalah pebisnis terkenal, tentu saja kalian harus mengadakan pernikahan yang megah.” Ucap Gilang.


“Om, sebenarnya aku juga memiliki banyak musuh yang mampu melakukan apapun kepada orang-orang yang aku sayangi, dan di lihat dari kebakaran waktu itu om juga pasti memiliki musuh bukan?” ucap Daniyal kepada Gilang.


Mendengar ucapan Daniyal membuat Gilang tersadar dan menganggukkan kepalanya karena mengerti apa yang di bicarakan oleh Daniyal.


“Kak Dani benar pi, aku juga tidak terlalu suka jika kehidupan pribadiku terlalu di umbar.” Sahut Irene.


“Baiklah sebaiknya kalian pikirkan lagi baik-baik, toh kalian akan bertunangan lebih dulu sebelum akhirnya menikah.” Ucap Gilang yang di balas anggukan oleh Irene dan Daniyal.


Tidak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu ruangan Daniyal dan membuat semua mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu.


“Tuan, ini minuman yang anda pesan.” Ucap Tiko dari luar.


“Masuklah.” Jawab Daniyal.


Tiko segera membuka pintu ruangan Daniyal dan menyuruh OB yang sedang membawa nampan berisi gelas minuman masuk ke dalam dan menata gelas tersebut di atas meja.


“Terimakasih.” Ucap Irene kepada OB tersebut sehingga membuat OB itu terkejut.


Karena selama ini tidak pernah ada atasan yang berterimakasih kepadanya setelah dia melakukan apa yang di suruh, dan sekarang seorang wanita yang sangat cantik berterimakasih kepadanya dengan tulus.


“Kenapa kamu melihat nona Irene seperti itu? Kamu tidak akan keluar?” tanya Tiko dengan nada tegasnya.


“Eh, m-maaf tuan saya akan segera pergi, silahkan di minum.” Ucap OB tersebut lalu segera meninggalkan ruangan atasannya itu.


“Silahkan di minum tuan Gilang, nona Irene, saya tidak tau apa yang kalian sukai jadi saya menyuruh mereka membuat segala macam minuman.” Ucap Tiko.


“Yaampun, air putih saja sudah cukup untuk kami nak Tiko, kamu ini selalu berada di sisi Daniyal sejak dulu apa tidak pernah terbesit untuk berhenti atau bosan dengan tingkah Daniyal?” tanya Gilang kepada Tiko.


Mendengar pertanyaan itu membuat Tiko terdiam sejenak, sedangkan Daniyal menoleh ke arah Tiko dengan penuh rasa penasaran karena selama ini dia tidak pernah mengetahui isi hati asisten pribadinya itu.


“Papi, kenapa pai bertanya seperti itu? Ga sopan tau..” ucap Irene sambil memegang lengan papinya.


Irene yang melihat ekspresi wajah Daniyal membuatnya tertawa sampai semua orang menatapnya dengan aneh.


“Kenapa kamu tertawa Iren?” tanya Gilang.


“Yaampun maaf papi, tapi Iren benar-benar tidak bisa menahan tawa.. Lihatlah ekspresi wajah Dani, dia mengatakan kalau dia ingin mendengar jawaban asistennya tapi matanya kelihatan sekali kalau dia sedang gugup mendengar jawaban asistennya.” Jelas Irene yang berusaha menghentikan tawanya.


Daniyal memberikan tatapan tajam kepada Irene yang sudah mengejeknya, namun dia tidak berani mengatakan apapun karena ada Gilang saat itu dan dia tidak ingin di anggap tidak sopan.


“Iren kamu tidak boleh mengejek Daniyal begitu, ayo biarkan Tiko menjawab pertanyaan papi.” Ucap Gilang yang kembali melihat Tiko yang masih berdiri di tempatnya.


“Silahkan Tiko, berikan jawabanmu, apa kamu sama sekali tidak bosan atau kesal berada di samping Dani selama ini?” tanya Gilang kembali.


“Sebelumnya saya mau meminta maaf untuk tuan Daniyal dan juga anda tuan dan nona, selama ini tuan Daniyal selalu memperlakukan saya dengan sangat baik jadi saya tidak pernah merasa bosan berada di sampinya.” Jelas Tiko yang membuat Daniyal lega.


“Tapi…” ucap Tiko yang membuat Daniyal kembali menoleh ke arah asisten pribadinya itu dengan penuh tanda tanya.


“Tapi? Apa yang mau dia katakan lagi?” batin Daniyal di dalam hatinya.


“Tapia pa nak Tiko?” tanya Gilang.


“Kalau kesal, tentu saja saya beberapa kali kesal dengan sikap tuan Daniyal karena jika tuan sudah marah dia akan memarahi siapapun dan itu sangat menyebalkan.” Ucap Tiko.


“Tiko…” panggil Daniyal dengan nada dingin.


“Iya tuan?”


“Silahkan keluar dari ruangan ini, dan terimakasih karena sudah jujur kepadaku, kepada om Gilang dan Irene.” Ucap Daniyal yang masih dengan nada dinginnya.


“Tuan, apa anda akan memotong gaji saya?” tanya Tiko dengan ragu.


“Tiko…!” ucap Daniyal dengan nada yang lebih tegas.


“Baik tuan..” ucap Tiko yang segera berpamitan untuk keluar dari ruangan Daniyal.


Irene terus menahan senyumnya sejak tadi, sampai akhirnya tawanya pun lepas dan membuat Daniyal tidak percaya karena mendengar suara tawa Irene yang lepas begitu.


“Kamu bisa tertawa lepas begitu karena Tiko?” tanya Daniyal.


“Aku tertawa lepas karena melihat wajahmu bukan karena Tiko.” Ucap Irene yang masih tertawa.


Sedangkan Gilang hanya tersenyum melihat Daniyal yang bisa membuat putri kesayangannya tertawa sampai seperti itu.


“Karena semuanya sudah sepakat maka kita harus bergegas untuk mengadakan pesta pertunangan kalian, papi akan mengundang rekan terdekat dan keluarga terdekat saja, begitu juga dengan dirimu Dani.” Ucap Gilang.


“Baiklah om aku akan menyuruh Tiko untuk mengatur semuanya, bagaimana kalau pertunangan ini di adakan di hotelku saja?” tanya Daniyal.


“Kamu punya hotel? Apa saja usaha yang kamu miliki Dani?” tanya Gilang.


“Tidak terlalu banyak om, aku memiliki dua hotel berbintang di setiap kota besar, aku juga memiliki beberapa restauran, terlebih perusahaanku berkembang di bidang property.” Jelas Daniyal.


“Tidak banyak kamu bilang? Untuk anak muda sepertimu kamu bisa memiliki segitu banyak usaha itu sudah sangat bagus Dani, aku benar-benar tidak menyangka pengusaha yang cukup berbakat sepertimu mau menjadi bodyguard putriku.” Ucap Gilang tidak percaya.


“Jangan terlalu memujiku om, aku yang beruntung bisa bekerja di tempat om Gilang dan di perlakukan sangat baik, aku benar-benar tidak menyangka kalau om Gilang mendidik anak-anak om Gilang dengan baik, mungkin aku juga akan mendidik anak-anakku seperti om juga nantinya.” Ucap Daniyal dengan santai.


Mendengar ucapan Daniyal membuat Irene menelan salvilanya, Irene mulai memikirkan maksud dari ucapan Daniyal.


“Anak? Apa maksudnya dia akan memiliki anak denganku?” gumam Irene yang langsung menundukkan kepalanya agar Daniyal dan papinya tidak bisa melihat wajahnya yang tersipu malu.