MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 83 (PERTAMA KALI MEMASAK)



“Kak, kakak beneran mau bulan madu? Kakak mau aku mengurus perusahaan?” tanya Aleena lewat sebrang telfon.


“Iya, aku mau kamu dewasa dan mempelajari tentang perusahaan, inilah saatnya.” Ucap Irene.


“Kak, bagaimana bisa kamu tiba-tiba melepasku bertanggung jawab begitu? Kalau aku membuat kesalahan bagaimana?” tanya Aleena.


“Tidak akan, kak Daniyal bilang kalo Abizar memiliki kemampuan di bidang ini jadi aku akan menyuruh Abizar untuk membuatmu mampu!” tegas Irene.


“Kak Abizar? Baiklah kalau begitu kak.” Ucap Aleena yang langsung mematikan telfonnya.


Setelah mematikan telfon, Irene segera menaruh hpnya kembali dan menoleh ke belakang melihat Daniyal yang sedang berbaring di atas tempat tidur.


“Apa kamu yakin kalau Abizar bisa membimbing Aleena?” tanya Irene.


“Ya dia bisa jangan khawatir, kamu terlalu mengkhawatirkan mereka, mereka sudah besar.” Ucap Daniyal.


“Aku hanya takut karena mereka sering bersama aku takut kalau ada setan di antara mereka.” Ucap Irene.


“Aku tau kamu khawatir tentang hal itu, tapi kamu percaya adikmu bukan? Dia bisa memilik yang baik dan tidak.”


“Aku percaya dia, tapi dia tidak pernah berkencan sama sekali dia terlalu polos.” Ucap Irene.


“Kamu berkencan juga tidak memiliki pengalaman apapun, apa kalian semua seperti ini?” tanya Daniyal.


“Tidak, Nancy tidak seperti itu, dia lebih bebas dan dia yang paling sering berganti pacar sebelum bersama Joey, dan akhirnya dia di sakiti oleh laki-laki kurang ajar itu!” ketus Irene yang tiba-tiba kembali emosi mengingat bagaimana Joey menyakiti adiknya.


“Sudahlah jangan di pikirkan lagi, bukankah kita sudah membereskannya? Ayo sebaiknya kita tidur karena besok kita akan pergi berbulan madu.” Ucap Daniyal sambil merentangkan kedua tangannya.


Irene yang melihat kedua tangan Daniyal terbuka lebar itu segera tersenyum sambil berjalan ke arah tempat tidur dan memeluk tubuh Daniyal dengan erat.


“Ah sayang, apa aku boleh melakukan beberapa ronde malam ini? Karena aku benar-benar sudah tidak tahan.” Bisik Daniyal.


“Katanya mau istirahat, tapi kalau kamu mau silahkan, apapun untukmu sayang..” balas Irene.


Mendengar persetujuan dari Irene membuat Daniyal semakin bringas, dia sangat menyukai ekspresi wajah Irene saat bercinta dan juga desahannya yang sangat sexy menurut Daniyal.


“Gawat! Aku sudah mulai kecanduan dengan tubuhnya, bagaimana ini?” batin Daniyal sambil menciumi setiap inci tubuh istrinya tersebut.


Sampai hampir ber jam-jam mereka melakukannya, dan keduanya benar-benar lelah dan tertidur dengan lelap tanpa memperdulikan tubuhnya yang lengket akibat pertempuran panas mereka.


Sampai pagi pun datang dan sinar matahari menembus jendela besar yang tertutup tirai berwarna putih, dan jam sudah menunjukkan jam setengah tujuh pagi.


“Ah yaampun aku kesiangan!” ucap Irene yang segera berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sedangkan Daniyal masih terlelap karena kelelahan, Irene sengaja tidak membangunkan Daniyal karena dia tidak ingin Daniyal bangun sedangkan dia belum menyiapkan kebutuhan untuk Daniyal.


Irene yang sudah mandi dan berganti pakaian segera berjalan menuju walk in closetnya dan memilihkan beberapa pakaian yang akan mereka bawa liburan.


“Aku tau pasti kak Daniyal akan menyuruhku membeli pakaian di sana, tapi itu sangat pemborosan!” gumam Irene.


Setelah selesai mengemasih pakaian suaminya dan juga dirinya, Irene segera keluar dari kamar untuk menyiapkan sarapan.


“Selamat pagi bi Sumi..” sapa Irene.


“Selamat pagi nyonya, bibi sudah mengosongkan meja makan, nyonya bisa mengeceknya lagi karena tuan Daniyal sudah pernah bilang kalau nyonya memiliki OCD mengenai meja makan.” Jelas bi Sumi.


Irene mengecek setiap inci meja makan karena bi Sumi memaksa, dan tidak ada debu sedikitpun di meja makan tersebut.


“Semuanya sudah bersih bi, bolehkah aku memasak?” tanya Irene.


“Jangan nyonya, tuan sudah mempekerjakan koki terbaik untuk anda dan tuan Daniyal.” Jelas bi Sumi.


“Aku tau bi, dia pasti akan melakukan hal itu, tapi karena ini adalah hari pertama aku tinggal di sini, aku ingin memasak untuk suamiku pertama kalinya, aku juga ingin memasak untuk semua orang yang ada di sini sebagai bentuk terimakasih dariku karena mereka sudah menerimaku.” Jelas Irene.


“Yaampun nyonya jangan begitu, siapapun yang di bawa tuan Daniyal ke rumah ini pasti akan kami sambut dengan baik karena hanya orang yang paling di cintai tuan Daniyal yang di ijinkan masuk ke dalam rumah ini.” Jelas bi


Sumi.


“Dan bi Sumi salah satunya, bibi adalah orang yang paling dia cintai dan percaya setelah keluarganya, itulah kenapa hanya bi Sumi yang di ijinkan berlama-lama di rumah ini.” Sahut Irene.


Bi Sumi hanya tersenyum medengar ucapan Irene, lalu bi Sumi akhirnya mengijinkan Irene untuk memasak.


“Chef, anda pergilah.” Ucap bi Sumi.


“Apa? Pergi? Kenapa? Apa tuan memecatku? Aku bahkan belum memasak apapun.” Ucap koki tersebut.


“Bukan begitu, tapi nyonya ingin memasak untuk suaminya karena ini adalah hari pertamanya menjadi seorang istri dan hari pertamanya datang ke rumah ini.” Jelas bi Sumi.


“Chef, anda tidak perlu pergi kalau anda mau anda bisa melihatku memasak.” Ucap Irene.


“T-tidak perlu nyonya, saya akan pergi ke pavilion, kalau ada apa-apa anda bisa segera menghubungiku.” Ucap koki tersebut yang langsung undur diri.


“Silahkan nyonya, bibi akan menunggu di sini untuk memastikan anda tidak akan terluka.” Ucap bi Sumi.


“Bibi tenang saja, aku ini sudah handal dan seringkali memasak di rumah.” Ucap Irene sambil tersenyum.


Irene segera menurunkan peralatan yang akan dia gunakan, Irene juga memotong bahan makanan dengan sangat handal sampai membuat bi Sumi tidak percaya.


“Awalnya aku kira dia hanya berusaha untuk mencari muka kepada tuan Daniyal, tapi ternyata dia memang benar-benar handal.” Gumam bi Sumi.


Yap! Daniyal meminta bi Sumi untuk memperhatikan gerak-gerik Irene, apapun yang Irene lakukan akan di pantau oleh bi Sumi dan di laporkan kepada Daniyal.


Irene terus fokus dengan masakannya, dia membuat beberapa hidangan dengan porsi yang banyak karena dia juga ingin memberikan makanannya kepada para pekerja di rumah ini.


Sampai akhirnya Irene selesai dengan tugasnya, dan dia segera meminta bi Sumi untuk mencicipi rasa masakannya.


“Bagaimana bi? Apa masakanku enak?” tanya Irene.


Bi Sumi hanya bisa diam setelah mencoba rasa masakan Irene, melihat wajah bi Sumi yang tanpa ekspresi membuat Irene ketakutan karena dia kira masakannya akan enak.


“Ga enak ya bi?” tanya Irene.


“Ini,, ini enak banget nyonya! Bahkan masakan anda lebih enak di bandingkan dengan koki di rumah ini.” Seru bi Sumi.


“Benarkah bi? Jangan membuatku takut, bibi tadi diam saja.” Ucap Irene dengan jantung yang masih deg-degan.


“Anda tenang saja nyonya, tuan Daniyal pasti sangat menyukai masakan anda.” Ucap bi Sumi.


Irene tersenyum lega mendengar pujian dari bi Sumi, akhirnya dia membereskan bekas masakannya dan menyajikan makanan di meja makan di bantu bi Sumi.