MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 23 (TERLUKA)



Di rumah keluarga Herlambang, Queen yang masih memikirkan tentang sikap kakak pertamanya yang seperti sedang memikirkan sesuatu segera pergi ke kamar kakak keduanya untuk bercerita tentang kecurigaannya.


Tok,,tok,,tok.. Queen mengetuk pintu kamar Aleena beberapa kali sampai akhirnya Aleena membukakan pintu kamarnya.


“Queen? Ada apa?” tanya Aleena.


“Kak, bolehkah aku masuk ke dalam, aku mau membicarakan sesuatu.” Ucap Queen.


“Hm, masuklah.” Ucap Aleena yang mempersilahkan Queen masuk ke dalam kamarnya.


Queen segera berjalan masuk ke dalam kamar Aleena dan duduk di tepi tempat tidur milik Aleena. Sedangkan Aleena ikut duduk di sebelah adik bungsunya untuk mendengarkan keluhan sang adik.


“Baiklah, ada apa Queen? Apa ada masalah yang mengganggumu?” tanya Aleena.


“Hm, apa kak Aleen ga penasaran sama sikap kak Iren yang tiba-tiba gugup? Kayaknya kak Iren sedang menyembunyikan sesuatu.” Ucap Queen.


“Apaan sih Queen, kak Iren sering kali seperti itu kan mungkin saja masalah pekerjaan.” Ucap Aleena yang masih berfikir positif.


“Engga kak, ada yang berbeda dari kak Irene, dia seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu dan aku curiga kalau ini ada hubungannya dengan kak Nancy.” Ucap Queen.


“Nancy? Kenapa kamu jadi membawa Nancy?” tanya Aleena.


“Sekarang kak Nancy dan kak Irene ga pulang kan? Pasti ada sesuatu.”


“Sebenernya kenapa kamu ngomong kayak gitu? Pasti ada sesuatu yang mengganggumu kan?” tanya Aleena.


“Kak, sebenernya aku sedikit curiga sama kak Nancy.” Ucap Queen.


“Queen plis! Jangan berbelit-belit, sebenernya apa yang kamu curigai?” tanya Aleena yang sudah tidak sabar dengan apa yang mau di ucapkan oleh adiknya.


“Waktu aku dan kak Nancy pergi ke butik temannya, tiba-tiba kak Nancy ijin untuk pergi ke suatu tempat dan dia bilang kalau pacarnya sakit jadi dia harus mengurus pacarnya dulu.” Jelas Queen.


“Tapi pas kak Nancy kembali, aku jelas sekali melihat kalau pipi kak Nancy merah tapi di tutupin bedak gitu.” Lanjutnya.


“Pipi Nancy merah? Menurutmu, kenapa pipinya merah?” tanya Aleena.


“Merah karena bekas tamparan menurutku kak, apa mungkin kak Nancy mengalami kekerasan fisik dari pacarnya?” tanya Queen.


“Hus! Jangan asal ngomong, bisa aja Nancy jatuh atau tertabrak sesuatu.” Ucap Aleena.


“Tapi bener kak, coba bayangin aja, kita ga pernah tau siapa pacar kak Nancy sampai saat ini.” Ucap Queen.


Mendengar ucapan Queen membuat Aleena berfikir sejenak, memang benar ucapan adiknya itu, tidak ada salah satu dari keluarganya yang tau siapa kekasih Nancy karena selama ini Nancy selalu di jemput oleh teman


perempuannya.


“Jangan asal menyimpulkan dulu, lebih baik sekarang kamu kembali ke kamarmu dan beristirahat.” Ucap Aleena.


“Tapi kak…”


“Jangan kayak anak kecil Queen, lebih baik kamu istirahat.” Tegas Aleena.


Queen hanya menghela nafas panjang lalu segera menganggukkan kepala dengan terpaksa karena Aleena tidak mempercayai ucapannya.


“Kenapa kak Aleen ga percaya sih? Padahal kan aku udah lama curiga.” Gumam Queen sambil berjalan keluar dari kamar Aleena.


Saat itu Queen berpapasan dengan Ratu yang sedang membawa segelas air dan keduanya bertabrakan tanpa sengaja hingga membuat air yang ada di dalam gelas tersebut tumpah.


“Ah! Queen! Kamu ini ga bisa kalo jalan nyantai aja?!” ketus Ratu yang saat itu sudah basah karena tumpahan airnya.


“Ratu! Sorry, aku bener-bener ga liat kalo kamu lewat depan pintu kak Aleen.” Ucap Queen.


“Kamu selalu seperti ini, ceroboh!” ketus Ratu yang langsung berjalan melewati Queen dengan wajah yang kesal.


Queen kesal karena Ratu memasang wajah menyebalkan hanya karena dirinya tidak sengaja menabraknya dan menumpahkan air ke pakaiannya.


Queen yang tidak terimak segera berjalan cepat menyusul Ratu yang baru saja membuka pintu kamarnya.


“Apa-apaan sih Queen, sakit tau!” balas Ratu.


“Makanya jadi orang jangan suka sewot!”


“Apanya yang sewot, aku salah kalo marahin kamu karena sudah ceroboh?” tanya Ratu.


“Ceroboh katamu? Aku ga sengaja! Emang aku tau kalo kamu bakalan lewat depan pintu kamar kak Aleen hah?!” balas Queen.


“Ceroboh sama ga sengaja itu beda tipis! Kalo kamu habis buka pintu liat-liat keluar dulu hal ini ga akan terjadi.”


“Cuma karena pakaian kamu basah kamu sampai seperti ini? Harusnya sekalian aja aku numpahin minyak panas biar kamu makin kebakaran jenggot!” ketus Queen.


“Apa!? Kamu berani ngomong kayak gitu, ga sopan!” ketus Ratu sambil mendorong tubu Queen.


“Kamu mendorongku? Menyebalkan!” balas Queen sambil menjambak rambut Ratu.


Adegan jambak menjambak pun akhirnya tidak bisa di cegah lagi di antara keduanya di depan pintu kamar Ratu hingga membuat Aleena dan juga Gilang mendengar suara mereka dan keluar dari kamarnya masing-masing.


“Yaampun, Ratu, Queen!” teriak Aleena sambil berlari berusaha untuk melerai kedua adiknya.


“Ratu, Queen! Berhenti! Apa-apaan kalian berdua ini kayak anak kecil!” bentak Gilang yang membuat Ratu dan Queen berhenti dan melepaskan rambut masing-masing.


“Haah,, yaampun kalian berdua ini kenapa sih sebenernya?!” tanya Aleena dengan kedua tangan di silangkan ke depan.


“Ratu duluan kak, dia langsung marah terus ngatain aku ceroboh cuma karena aku ga sengaja nyenggol dia dan menumpahkan air yang dia bawa.” Ucap Queen.


“Tapi emang dia ceroboh kak, kalo dia mau keluar kamar liat-liat dulu kan ga akan nyenggol aku.” Balas Ratu.


“Yaampun kalian berdua jambak-jambakan karena itu?” tanya Gilang.


Ratu dan Queen hanya diam dan saling memalingkan wajah satu sama lain, keduanya tidak menjawab pertanyaan sang papi.


“Kalian berdua ini benar-benar seperti anak kecil ya! Bagaimana bisa kalian jambak-jambakan hanya karena ketumpahan air?” ucap Aleena.


“Ayo kalian berdua segera meminta maaf satu sama lain!” ucap Aleena.


“Hah? Dia dulu yang harus minta maaf.” Ucap Queen.


“Aku? Kamu duluan yang harus meminta maaf.” Balas Ratu.


“Kamu duluan yang ngatain aku tadi, jadi kamu yang harus minta maaf duluan!” ketus Queen sambil mendorong Ratu untuk kedua kalinya.


Lalu tiba-tiba Ratu terjatuh karena dorongan Queen dan menangis hingga membuat semua orang termasuk Queen yang mendorongnya.


“Ratu? Kamu kenapa menangis? Apa aku mendorongmu terlalu kencang?” tanya Queen yang menjadi khawatir dengan keadaan kembarannya.


“Ratu? Kamu kenapa?” tanya Aleena dan juga Gilang secara bersamaan.


Namun Ratu masih menangis kencang tanpa mengatakan apapun sehingga membuat semua orang semakin bingung.


Namun tidak sengaja Queen melihat warna merah seperti luka bakar di punggung Ratu yang saat itu terlihat karena rambutnya jatuh ke samping.


Dengan segera Queen melihat punggung Ratu dan terkejut saat ada luka bakar yang cukup besar di punggung Ratu.


“Yaampun Ratu! Kenapa kamu ga bilang kalo punggung kamu terluka?! Ini luka bakar, kenapa kamu bisa mendapatkan luka ini?” tanya Queen dengan nada yang khawatir.


Mendengar ucapan Queen membuat Aleena dan Gilang terkejut dan langsung engalihkan pandangan ke punggung Ratu.


“Ini pasti luka yang di dapat waktu pesta kemarin, kenapa kamu ga bilang kalo kamu terluka Ratu!” ketua Aleena.


Tanpa pikir panjang Gilang langsung membopong tubuh anaknya itu dan langsung berlari membawa sang putri ke halaman.


“Cepat panggil supir!” teriak Gilang yang membuat para pelayan yang ada di sana terkejut dan langsung memanggil supir pribadi Gilang.


Setelah mobil siap, Gilang segera memasukkan Ratu ke dalam mobil begitu juga dengan dirinya, Aleena dan juga Queen yang ikut masuk ke dalam mobil.