MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
Chapter 2



"Apa kau tinggal di apartemen sekarang? "


Yasha mendudukan dirinya di sofa ruang tamu.


"Iya, setelah seminggu lalu ayah berangkat aku jadi malas kalau harus tinggal di mansion sendiri, terlalu besar..  Membosankan"


Rachel menyusul sahabatnya mendudukan dirinya di samping wanita tomboy itu.


"Kau tinggal berdua dengan Seokjin?"


Tanyanya melirik Seokjin yang duduk di kursi samping.


Seokjin duduk setelah di beri ijin tentunya.


Rachel mengangguk mengiyakan.


"Yak! Apa-apaan kalian.. Satu atap?! " Yasha memelototkan matanya tak percaya.


"Aish.. Kau ini, tentu saja kami beda kamar, beda kamar mandi lagipula ayah juga memberi ijin" ucap Rachel santai.


"Ya.. tetap saja, kalian tinggal bersama namanya"


"Lalu aku harus menyuruh Seokjin tinggal di mansion begitu? Itu sama saja aku sendirian bodoh.. Lagipula itu akan merepotkan jika tiba-tiba aku butuh bantuanya"


"Bantuan apa? Memangnya selama ini apa yang kau kerjakan? Kerjaan mu kan hanya makan dan tidur.."


"Yak!! menyebalkan sekali kau.."


Rachel melemparkan bantal sofa pada sahabatnya itu.


Seokjin hanya tersenyum melihatnya.





"Ku lihat kau mulai sedikit bersahabat dengan Seokjin"


Kini Mereka berdua sedang berada di kamar Yasha.


"Yaa.. Begitulah, aku hanya mencoba membiasakan diri dengannya, aku juga tak ingin terlalu formal jika kita hanya berdua Sepertinya menjadikannya seorang teman tak buruk juga, justru memudahkan ku.. Jadi kesan nya tak seperti seorang nona dan bodyguardnya"


Rachel berucap sembari mengacak-acak isi lemari baju sahabatnya.


"Tapi dia tetap memanggil mu nona kan? ku lihat dia orangnya kaku.. "


Yasha membenarkan tatanan kalung di lehernya.


"Iya jika sedang diluar, jika sedang berdua dia tidak se-kaku yang kau pikirkan, karna tuntutan pekerjaannya saja dia jadi begitu"


Yasha menggangukan kepalanya mengerti.


"lalu tadi kau memanggilnya dengan sebutan Jin, padahal dia lebih tua darimu.. sangat tak sopan"


Yasha berkacak pinggang dan menggelengkan kepalanya mendramatisir.


"Yaa.. Sesuka ku lah, kau juga sama saja! lagipula dia itu hanya seorang bodyguard dia mengikuti semua ucapan ku.. "


Ucap nya mendongakkan kepala.


"Cih... sombong sekali, lagipula apa kau yakin hanya bodyguard? "


Yasha menurun-naikkan alisnya menggoda.


Rachel memicingkan matanya, "maksud mu?"


"Yaa.. Aku tau kau kan jomblo, bagaimana jika kau jadikan Seokjin sebagai kandidat pacarmu?"


ucap Yasha sembari tersenyum menggoda.


"Enak saja kau mengataiku jomblo, tak lihat di depan mu itu kaca? Huh... Mengaca sana"


ucap Rachel dengan nada kesal. 


Namun setelahnya mereka berdua tertawa bersama.





"Tae.. "


Seseorang memanggil Taehyung yang baru saja masuk kedalam mension megahnya.


"Dad?.. Mom?"


ucap Taehyung saat melihat Ayah dan Ibunya yang sedang berduduk santai di sofa ruang keluarga.


"Kemari taehyung.. "


sang Mommy menepuk-nepuk sofa disampingnya, mengisyaratkan Taehyung untuk duduk disana.


"Sejak kapan, Mom dan Dad datang?"


tanya Taehyung sembari berjalan menghampiri keduanya.


"Baru saja, Ada hal yang harus kita bicarakan.. "


ucap Ayah nya dengan nada serius.


"Apakah hal penting?"


"Menyangkut masa depan mu"


Taehyung terdiam, mencerna perkataan Daddynya.


Sang Ibu mengelus-elus rambut anak semata wayangnya dengan lembut.


"Tae, apa kau sudah memiliki kekasih? "


"M-Maksud mommy? "


Tanya Taehyung sedikit terkejut dengan pertanyaan sang ibu.


"Tae, Daddy ingin kau mulai memikirkan masa depan mu, mulai serius menata perusahaan keluarga kita, aku sudah semakin tua Tae.. Kau satu-satunya pewaris keluarga kim.. "


Perkataan Tuan Kim membuat Taehyung semakin bingung, kemana sebenarnya arah pembicaraan kedua orangtuanya itu.


"Tae, Mommy tanya sekali lagi.. Apa kau sudah memiliki kekasih? "


Nyonya Kim kembali mengulang pertanyaannya.


"Aku... Aku belum, Mom"


ucap Taehyung ragu.


"Benarkah..? "


Nyonya Kim terlihat bahagia mendengar anak tunggalnya belum memiliki kekasih hati.


"Memangnya kenapa Mom? Lagipula, Sebenarnya aku memiliki cal-- "


"Karna Daddy akan menjodohkan mu dengan anaknya teman Dad.. "


"Apaaa..! " kaget Taehyung.


"Dad, aku tidak ingin di jodohkan! "


Ucap Taehyung dengan nada suara yang lebih tinggi dari sebelumnya.


"Ini yang terbaik tae.. "


kini Nyonya Kim yang bersuara.


"Tapi Mom sebenarnya Tae sudah punya calo-- Ah, tidak pacar Mom, Iya pacar"


"Benarkah..? " tanya Nyonya Kim ragu.


"Kau tidak berbohong kan? "


tambah Tuan Kim dengan nada mengintrogasi.


"Daddy dan Mommy tak percaya? Tadi itu Tae baru saja mau bilang, tapi ucapan Tae sudah di potong oleh Daddy.. Lagipula aku tak pernah membohongi kalian kan? Kalian tau aku. "


ucap Taehyung berusaha meyakinkan.


"Baiklah, kalau begitu Daddy ingin bertemu dengan kekasih mu.. Siapa namanya? "


Oke --Kim Taehyung merasa sangat bodoh sekarang. Tentu saja, bagaimana bisa dia bertindak seolah-olah begitu meyakinkan orangtuanya padahal kenyataannya palsu..


Bunuh saja ia sekarang kalau ketahuan berbohong oleh orangtua nya ---tidak, itu terlalu lebay.


Taehyung berdehem sebelum menjawab.


"Tentu saja dad, aku akan membawa kekasihku tapi tidak sekarang, karna dia sedang berada di luar negri bersama keluarganya... "


Setidaknya cara itu ampuh untuk sekarang. Agar Ayahnya tak memaksa terus untuk secepatnya bertemu 'Sang kekasih'. Pikir Taehyung.


Nyonya Kim dan Tuan Kim saling melempar pandangannya,


Haruskah percaya pada perkataan anaknya tadi itu?


"Sudahlah, Dad aku berjanji akan membawanya bertemu kalian. Dan seharusnya kalian membatalkan perjodohan itu secepatnya "


Setelahnya Taehyung berlalu meninggalkan kedua orangtuanya.


Tapi langkah Taehyung terhenti, saat mendengar ucapan sang Ayah.


"Satu minggu tae, Daddy beri kau waktu satu minggu untuk membawa kekasihmu, Jika tidak perjodohan akan tetap dilaksanakan.. "


Mutlak Tuan Kim.


Taehyung terpaku, langkahnya menjadi sangat berat 'sialan'.





Park Jimin dan Jung Hoseok sedang saling pandang, mencoba menyampaikan isi pikiran mereka masing-masing.


Keduanya terlihat kebingungan, pasalnya semenjak masuk kelas Taehyung sahabatnya itu hanya diam, pandangannya kosong, di tanya pun tak menjawab.


"kau itu kenapa sih tae, tak biasanya seperti ini"


tanya Hoseok.


Taehyung menghembuskan nafasnya, berat.


"iya, kau itu kenapa tae? "


Jimin, mengulangi lagi pertanyaan itu dirinya masih penasaran.


Karna baru kali ini melihat Taehyung melamun sampai lupa segalanya --iya, biasanya kan dia tebar pesona.


"Kalian tau--"


Kedua sahabatnya menggeleng.


Taehyung menatap Jimin dan Hoseok bergantian.


"-Aku dijodohkan oleh Mom dan Dad"


lanjutnya.


"What!! "


Teriak keduanya kompak. Dan lagi, mereka jadi pusat perhatian di kelas.


Hoseok terlihat begitu antusias. "Kau serius tae? Siapa calon istrimu? Cantik tidak? "


Taehyung menatap Hoseok sinis.


"Mana ku tau! Bertemu saja belum"


"Lalu kau menerima nya? "


Itu Park Jimin yang bertanya.


"Tentu saja aku tolak jim.. Yang benar saja, aku masih mengharapkan rachel, kau tau itu"


Taehyung kembali menghembuskan nafasnya


'Kenapa semua terasa berat'.


"Kalau kau tidak mau, kenalkan saja wanita itu padaku" lagi-lagi itu Hoseok.


"Dengan senang hati! "


Taehyung mulai geram pada sahabatnya yang satu ini.


"Lalu sekarang bagaimana..?"


Taehyung menatap Jimin.


"Aku diberi waktu satu minggu untuk membawa calon ku sendiri, jika tidak perjodohan akan tetap di lakukan "


Taehyung berucap lesu.


"Menjadikan Rachel pacar mu dalam seminggu? Itu mustahil tae.. Kau tau itukan? " Jimin menatap Taehyung iba.


Merasa kasihan pada sahabatnya itu dia sedang pusing sekali, Dia harus menaklukan wanita pujaan hatinya dalam waktu 1 minggu atau menikah dengan orang yang tidak ia cintai -selamanya.


Taehyung melipat kedua tangannya diatas meja, menyembunyikan wajahnya disana.


"Tenang saja tae, kami pasti membantu mu iyakan jim? "


Hoseok melirik Jimin seakan meminta persetujuan nya.


"Ya.. Tentu saja"





TO BE CONTINUED