
Irene sedang bersiap di kamarnya, dia harus segera ke perusahaan karena ada kerja sama yang harus dia tanda tangani dengan salah satu brand ternama.
Namun tiba-tiba dia mengingat Daniyal yang ada di club malam saat dia mau menjemput adiknya.
“Apa aku hanya salah lihat saja?” gumam Irene sambil menggelengkan kepala untuk menghapus semua prasangka buruknya terhadap Daniyal.
“Sudahlah jangan di pikirkan, sekarang sebaiknya aku ke Nancy karena semalam dia masih mabuk dan tidak sadar.” Ucap Irene yang langsung keluar dari kamarnya.
Sesampainya di depan kamar adiknya, Irene segera membuka pintu kamar tanpa mengetuk. Di dalam Irene melihat Nancy yang masih tertidur lelap.
“Nancy!” ucap Irene dengan nada tinggi.
Namun Nancy sama sekali tidak menggubris ucapan kakaknya, dia hanya menggeliat dengan kedua mata yang masih tertutup.
Irene yang kesal langsung menarik selimut yang menutupi tubuh Nancy lalu menarik kakinya hingga membuat Nancy terkejut dan langsung terbangun dari tidurnya.
“Yaampun kak Iren apaan sih!?” ketus Nancy yang sudah duduk sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing.
“Apaan kamu bilang? Semalam aku diam saja karena kamu sedang tidak sadar dan aku juga ga mau membangunkan papi yang sudah tertidur.” Ucap Irene.
“Kakak marah karena aku tidak sadar?” tanya Nancy.
“Bukan! Bukan hanya itu, kamu ini baru mengalami kejadian yang tidak baik, bagaimana bisa kamu masih santai dan tidak waspada menjaga dirimu sendiri?” tanya Irene.
“Kamu harusnya bisa lebih waspada dengan dirimu sendiri setelah kejadian itu!” lanjutnya.
“Buktinya aku baik-baik saja kan kak? Lagian ada Aiden juga yang menjagaku!” ucap Nancy.
“Ya memang Aiden menjagamu, terus mau sampai kapan dia akan menjagamu? Bagaimana kalau laki-laki itu membawa lebih banyak teman? Aiden sibuk membopongmu yang tidak sadarkan diri, lalu bagaiana dia akan melawan seseorang yang akan melukaimu hah!?” ketus Irene.
“Apa kamu bahkan ingat di mana ponselmu?” tanya Irene kembali.
Nancy yang mendengar pertanyaan kakaknya tentang hpnya, dia segera mencari hp miliknya di dalam tas namun dia panik saat tidak menemukan hpnya.
Irene yang mengetahui adiknya sedang kebingungan mencari hpnya langsung mengeluarkan hp dari kantung jasnya dan menunjukkannya kepada Nancy.
“Kamu nyari ini?” tanya Irene.
Nancy heran karena hpnya ada pada kakaknya, entah apa yang terjadi semalam sampai hpnya ada di tangan sang kakak.
“Hpku? Bagaimana bisa hpku ada di kak Iren?” tanya Nancy.
“Bagaimana bisa? Tentu saja bisa kalau si pemilik hp tidak sadar dan meninggalkan hpnya di club malam.” Ketus Irene sambil melempar hp Nancy ke atas kasur.
Dengan segera Nancy kembali mengambil hpnya di atas kasur dan membuka hpnya untuk melihat chat yang masuk di hpnya.
“Bisakah kamu berubah Nancy? Kamu sudah dewasa sekarang, sebentar lagi kamu lulus dan harus siap untuk memegang perusahaan.” Ucap Irene.
“Perusahaan? Aku mengambil jurusan hukum karena aku tidak ingin memegang perusahaan kak!” ucap Nancy.
“Aku tau, lalu apa yang mau kamu lakukan? Apa kamu ga mau membuat firma hukummu sendiri? Apa kamu fikir tidak membutuhkan usaha? Apa dengan cara kamu bermain terus-terusan?” tanya Irene.
“Aku hanya ingin bersenang-senang meluapkan semua rasa penatku kak!” ketus Nancy.
“Apa harus dengan cara mabuk-mabukan sampai malam hah?! Kamu harus dewasa Nancy, kalau aku mati siapa yang akan mengurusmu!? Papi sudah terlau tua untuk mengurus anak nakal sepertimu!” teriak Irene.
Mendengar teriakan Irene membuat Nancy terkejut, selama ini dia selalu pergi ke club dan pulang malam namun Irene tidak pernah marah sekalipun dan hanya menasehatinya, namun kali ini dia benar-benar tidak menyangka akan membuat kakak sulungnya marah.
Di sisi lain, Abizar dan Aleena yang sedang di mabuk asmara hanya salingg berpelukan tanpa mengatakan apapun, Aleena sangat bahagia karena akhirnya dia menemukan orang yang bisa membuatnya nyaman karena selama ini
banyak laki-laki yang mendekatinya namun Aleena sama sekali tidak ada yang bisa membuat Aleena nyaman berada di dekatnya.
“Apa kamu tidak akan bekerja dan terus memelukku?” tanya Abizar dengan lembut.
“Aku harus bekerja, karena nanti akan ada rapat untuk kerja sama, aku harus menemani kak Iren.” Jelas Aleena sambil melepaskan pelukannya dari Abizar.
Abizar memegang kedua pipi Aleena dan mencium keningnya dengan lembut, lalu perlahan Abizar mulai mel*mat bibir mungil Aleena dengan panas dan di balas oleh Aleena.
Namun di tengah-tengah adegan panas mereka, keduanya di kejutkan dengan teriakan Irene yang terdengar sangat kencang.
Aleena segera mendorong Abizar agar menjauh darinya, Aleena hanya melihat Abizar dengan tatapan panik dan segera berjalan cepat menuju pintu kamar.
“Kak Iren!” ucap Aleena sambil berjalan menghampiri suara teriakan tersebut.
Aleena membuka pintu kamar Nancy dan melihat Irene dan Nancy sedang berdiri berhadap-hadapan dengan situasi yang canggung.
“A-ada apa ini? Kenapa kalian berteriak seperti orang gila?” tanya Aleena.
Irene hanya diam sambil menahan amarahnya, sedangkan Nancy sedang menundukkan kepalanya setelah teriakan Irene barusan.
Gilang, Ratu dan Queen yang mendengar teriakan Irene juga segera berjalan ke kamar Nancy untuk melihat apa yang terjadi.
Saat melewati kamar Aleena, Queen berhenti sebentar karena merasa melihat seseorang di dalam sana, dan benar saja Queen melihat Abizar yang sedang mengancingkan kemejanya dan merapihkan rambutnya membuat Queen
mengerutkan keningnya.
“Kenapa kak Abizar ada di sini? Terus benerin baju sama rambut lagi, kayak habis ngapain aja.” Gumam Queen dengan tatapan curiga.
“Heh! Ngapain bengong sih, ayo ke kamar kak Nancy.” Ucap Ratu sambil menyenggol bahu kembarannya.
“Ah iya bentar, kamu ngerasa aneh ga sih kenapa kak Abizar ada di kamar kak Aleen? Sambil benerin baju lagi kayak habis ngapain aja.” Ucap Queen kepada kembarannya.
“Yaelah, kali aja dia numpang benerin baju di sini, lagian kak Aleen juga ga ada di sini kan jadi ga usah mikir macem-macem deh.” Ucap Ratu yang langsung menarik lengan Queen.
Sedangkan Queen masih curiga dengan hal itu dan dia tidak bisa melepaskan pandangannya dari kamar Aleena yang kebetulan Abizar tidak melihat ke arah mereka.
Sesampainya di dalam kamar, semua orang hanya menatap Irene yang terlihat masih menahan kesal kepada Nancy.
“Ada apa ini? Kenapa kamu harus teriak-teriak Irene?” tanya Gilang saat sampai di dalam kamar Nancy.
“Ga ada apa-apa pi, hanya perdebatan kecil aja kok papi jangan khawatir.” Jawab Irene berbohong.
“Papi tau kamu sedang berbohong Irene! Ada apa ini? Apa Nancy berulah lagi? Apa dia pulang malam lagi?” tanya Gilang.
Nancy yang merasa bersalah akhirnya mendekati papinya sambil menundukkan kepalanya.
“Maaf papi, Nancy yang ngebuat kak Iren marah, semalam Nancy pulang larut dan tidak sadar karena mabuk…” jelas Nancy dengan nada yang lemah hampir tidak bisa di dengar.
Namun karena keadaan di sana sangat sepi, tentu saja semua orang mendengar ucapan Nancy dengan jelas.
“Mabuk? Kamu mabuk sampai tidak sadar diri?! Apa begini caramu menghilangkan stress? Selama ini papi tidak tau bagaimana keadaanmu saat pulang malam karena papi tertidur.” Jelas Gilang.
“Jadi begini sikapmu, dan kakakmu selama ini menyembunyikannya dari papi?” lanjutnya.
“Papi,, jangan mengkhawatirkan hal ini, selama ini Nancy tidak pernah mabuk dan hanya bersenang-senang, mungkin kali ini dia benar-benar stress makanya dia minum banyak.” Jelas Irene yang tidak mau papinya terlalu
khawatir.
“Mau sampai kapan kamu melindungi adik-adikmu Irene? Papi juga harus mengetahui semuanya.” Ucap Gilang.
“Papi, Iren ga mau membebani papi, Iren bisa mengurus semuanya jadi papi hanya bisa tenang sekarang.” Ucap Irene.
“Stop Iren! Kali ini papi mau mengetahui semua yang di lakukan adik-adikmu tanpa terkecuali!” tegas Gilang.
Semua putri Gilang yang ada di sana hanya bisa menelan savilanya mendengar ucapannya, karena selama ini mereka hanya mengandalkan Irene agar bisa terbebas dari amarah Gilang, lalu sekarang Gilang ingin mengetahui semua yang mereka lakukan, pasti mereka akan sering mendengar omelan dari Gilang.