MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 57 (KEPUTUSAN 2)



Setelah selesai dengan pembicaraan mereka, Gilang dan Irene memutuskan untuk segera pergi ke perusahaan karena mereka memang harus segera bekerja.


“Kalo gitu om pulang dulu ya Dani, om harus segera ke perusahaan karena ada rapat untuk membahas kualitas produk.” Ucap Gilang.


“Papi mau langsung ke perusahaan? Terus Irene gimana pi? Kan perusahaan papi sama perusahaanku lumayan jauh.” Ucap Irene.


“Kalo gitu aku akan mengantarmu.” Ucap Daniyal.


“Jangan Dani, biarkan saja dia menunggu di sini dan meminta jemput sekretarisnya.” Ucap Gilang.


“Apa? Papi, tapi Elif sedang menemani Aleena pemotretan hari ini, dia tidak bisa menjemputku.” Ucap Irene.


“Kalau begitu tunggulah di sini sampai dia punya waktu untuk menjemputmu.” Ucap Gilang yang segera beranjak dari tempat duduknya.


Sebenarnya Gilang sengaja meninggalkan Irene di ruangan Daniyal karena Gilang ingin Daniyal dan Irene memiliki waktu untuk berbicara tentang hubungan mereka.


“Sudah jangan ikuti papi karena papi akan pergi ke suatu tempat.” Ucap Gilang yang langsung berjalan ke arah pintu.


“Papi, papi mau kemana? Jangan macam-macam papi! Jangan dekat-dekat dengan wanita lain!” teriak Irene.


Namun Gilang hanya melambaikan tangannya kepada putri sulungnya dan keluar dari ruangan Daniyal begitu saja.


“Ish papi tuh emang nyebelin banget sih!” ketus Irene yang kesal dengan sang papi.


“Om Gilang itu lagi memberi waktu untuk kita bicara tau..” ucap Daniyal.


“Bicara untuk apa? Emang ada yang harus kita bicarakan?” tanya Irene.


Daniyal hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan dari Irene, Daniyal berdiri dan mendekati Irene yang duduk tidak jauh darinya.


“A-apa yang mau kamu lakukan?!” tanya Irene yang memundurkan tubuhnya perlahan.


“Aku? Aku mau membicarakan tentang pernikahan kita sayang…” ucap Daniyal dengan berbisik membuat Irene merinding.


Irene mematung mendengar bisikan dari Daniyal, sedangkan Daniyal semakin memajukan wajahnya ke wajah Irene dan bibirnya hampir mendekati bibir Irene yang membuat wanita cantik itu memejamkan kedua matanya.


Melihat Irene yang memejamkan kedua matanya membuat Daniyal berfikir kalau dirinya memiliki kesempatan untuk mencium Irene, namun salah! Tiba-tiba saja Irene menendang adik kecil Daniyal dan membuatnya merintih kesakitan.


“Arrgghh!!” teriak Daniyal yang sudah berdiri dan memegang adik kecilnya yang tadi di tendang oleh Irene.


“Irenn!!” teriak Daniyal sambil menahan rasa sakitnya.


“Sorry! Tapi sebenarnya aku tidak perlu meminta maaf karena kamu yang membuatku menendang adik kecilmu itu!” ucap Irene dengan dingin.


Irene segera beranjak dari tempat duduknya menjauhi Daniyal yang masih menahan rasa sakitnya. Irene merasa kasihan saat melihat Daniyal sepertinya benar-benar kesakitan.


“Apa benar-benar terasa sakit?” tanya Irene sambil mendekati Daniyal untuk melihat keadaannya.


Lalu tiba-tiba saja Daniyal menarik tubuh Irene dan memeluk tubuh Irene sambil berbaring di sofa sehingga posisi Irene berada di atas Daniyal.


Irene terus saja memberontak, namun Daniyal tetap memeluk tubuh Irene dengan erat.


"Tenanglah, aku tidak akan melakukan apapun kepadamu sebelum kita menikah." ucap Daniyal.


mendengar ucapan Daniyal membuat Irene akhirnya merasa tenang dan tidak memberontak lagi.


Irene memutuskan untuk membiarkan Daniyal memeluknya dan mendengarkan apa yang ingin di katakan oleh Daniyal kepadanya.


"Aku tau kamu masih belum menyukai dan mencintaiku, tapi selama kamu tidak menolak keberadaanku itu sudah lebih dari cukup untukku." ucap Daniyal dengan lembut.


"Apa kamu sudah menyukai aku? Kita baru saja saling mengenal." ucap Irene.


"Cinta itu datang tiba-tiba, aku juga tidak tau kalau aku bisa jatuh cinta kepadamu, wanita yang terkenal jutek dan sombong." ucap Daniyal.


"Apa seperti itu aku di matamu!?" tanya Irene dengan nada kesal.


"Cih! Dasar gombal!" ketus Irene.


"Apa kamu mau membuka hati untukku?" tanya Daniyal.


"Hmm, aku akan berusaha untuk membuka hatiku pada laki-laki manapun kok, hanya saja tidak satu pun dari mereka yang cocok denganku." jawab Irene.


"Tommy juga tidak cocok?"


"Tommy orang yang baik, dia memperlakukan aku dengan baik juga, tapi entah kenapa aku merasa tidak cocok."


"Itu tandanya kamu hanya cocok denganku.."


"Belum tentu! Jangan ke pedean dulu karena kita belum tentu cocok!" tegas Irene.


"Makanya aku sedang berusaha untuk mencocokkan diri denganmu, ingatlah kamu hanya untukku seorang!" tegas Daniyal.


"Cih! Bagaimana bisa mengatakan hal itu dengan percaya diri, sedangkan kita masih belum terikat apapun." gumam Irene yang masih bisa di dengar oleh Daniyal.


Lalu di saat mereka saling bertukar pikiran dalam keadaan Irene yang masih menindih tubuh Daniyal, tiba-tiba saja pintu ruangan Daniyal terbuka dan membuat dua insan yang sedang berada di posisi ambigu itu terkejut.


"Tikoo!!!" teriak Daniyal saat melihat ternyata asisten pribadinya yang sudah membuka pintu tanpa mengetuk.


"M-maaf tuan, kata receptions di bawah, tamu tuan sudah pulang jadi aku tidak mengetuk lebih dulu." ucap Tiko yang segera menutup kembali pintu ruangan atasannya itu.


Sedangkan Irene berusaha untuk berdiri dan melepaskan diri dari pelukan Daniyal.


"Kenapa kamu berdiri?" tanya Daniyal yang masih terlentang di atas sofa.


"Kamu gila ya!? Asistenmu sudah melihat kita berdua sedang... Sedang.." Irene tidak bisa melanjutkan ucapannya karena menurutnya hal itu sangat memalukan.


"Sedang? Sedang apa?" tanya Daniyal menggoda Irene.


"Ya pokoknya sedang berada di posisi yang tidak pantas! Tapi kamu masih dengan santai memelukku bukannya di lepaskan saja!" ucap Irene kesal.


"Kenapa kamu jadi marah begitu? Memangnya kenapa kalau dia melihat kita?" tanya Daniyal.


"Apa kamu tidak malu?"


"Tidak!"


"Cih! Menyebalkan! Aku pulang, bye!" ucap Irene yang langsung berjalan keluar dari ruangan Daniyal.


"Hei, apa kamu marah? Iren!!" teriak Daniyal namun tidak di gubris oleh Irene.


Namun Daniyal memilih untuk tidak mengejar Irene karena dia tau kalau Irene sudah keluar berarti Elif sudah menjemputnya.


"Nona Iren.." ucap Tiko yang masih berdiri di luar ruangan Daniyal.


"Tiko, kamu masih di sini ternyata, maaf tentang apa yang kamu lihat tadi ya, dan tolong kalo kak Daniyal mau mengejarku kamu halangi ya." ucap Irene yang di balas anggukan oleh Tiko.


Irene segera berjalan menuju lift dan masuk ke dalam lift tersebut.


Sedangkan Tiko yang melihat Irene sudah masuk ke dalam lift segera membuka pintu ruangan Daniyal dan berjalan masuk ke dalam.


"Tuan, anda memang benar-benar jago sekali ber akting, bahkan anda bisa memenangkan tropi artis terbaik." ucap Tiko.


"Haah,, diamlah..." ucap Daniyal dengan santai sambil berbaring dan memejamkan kedua matanya.


"Apa selelah itu tuan?" tanya Tiko.


"Yaa, ternyata lebih lelah saat berbohong di bandingkan bekerja seharian membaca setumpuk laporan." ucap Daniyal.


Tiko hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat atasannya yang sedang stress karena kebohongan yang akan dia ciptakan sendiri.