
Cinta tidak pernah menuntut, cinta selalu memberi. Cinta selalu menderita, tanpa pernah meratap, tanpa pernah mendendam.
...****************...
Daniyal yang baru saja mau masuk ke dalam rumah di kejutkan dengan teriakan Adyatma yang tiba-tiba datang bersama dengan Abizar.
“Yaampun kak Dani! Kamu tampan sekali!!” seru Adyatma berakting.
Abizar yang mendengar ucapan adiknya hanya bisa bergidik ngeri dan menggelengkan kepalanya.
“Dia pintar sekali berakting!” gumam Abizar yang berjalan melewati Daniyal dan Adyatma begitu saja.
Melihat kakaknya yang meremehkannya segera berjalan menyusul sang kakak dan lompat untuk merangkul bahu Abizar.
“Tapi karena aktingku ini aku bisa mendapat banyak sekali tawaran syuting kak!” bisik Adyatma lalu melepaskan rangkulannya dan menjulurkan lidahnya mengejek Abizar.
Adyatma memanglah sangat tampan, bahkan tanpa mengikuti audisi apapun dia terus saja mendapat undangan untuk syuting, sayangnya dia tidak tertarik di bidang entertainment, papinya juga tidak suka jika anak laki-lakinya berakting di televisi.
Adyatma yang berjalan mundur karena masih ingin mengejek Abizar tidak sadar jika seseorang sedang berdiri di belakangnya dan tanpa sengaja dia menabrak orang tersebut.
“Aakhh!!” teriak Irene yang berada di belakang Adyatma.
“Hah! Maaf kak Iren aku tidak melihat kakak.” Ucap Adyatma merasa bersalah.
“Bagaimana kamu bisa melihat kalau kamu jalan mundur seperti itu.” Ucap Irene sambil menggelengkan kepalanya.
Adyatma hanya memamerkan gigi putihnya mendengar ucapan Irene, setelah itu Daniyal segera menghampiri Irene dan membuat Irene yang tidak menyadari kehadiran Daniyal terkejut bukan main melihat penampilan Daniyal yang berubah.
“Kamu ga apa-apa Iren? Dia memang suka ceroboh begitu!” ucap Daniyal sambil memeriksa tubuh Irene dari atas ke bawah dan memberi tatapan tajam kepada Adyatma.
“Lah kan aku ga sengaja kak Dani, aku juga udah minta maaf ya kan kak Iren? Aku ga ngelukain kakak kan?” tanya Adyatma kepada Irene.
“Hmm aku baik-baik saja kok, tapi sepertinya yang sedang sakit itu kamu deh kak! Tumben sekali kamu memakai pakaian rapih begini.” Ucap Irene yang menatap Daniyal dari atas ke bawah.
Benar-benar berbeda dari biasanya, kalau biasanya Daniyal memang tampan tetapi hari itu aura ke tampanannya lebih terlihat dan terlihat bijaksana juga, Irene sangat menyukai penampilan Daniyal yang rapih seperti itu.
“Kak Iren kamu kenapa melongo begitu sih?” tanya Aleena yang baru saja menuruni tangga.
“Waw! Siapa laki-laki tampan ini?” tanya Aleena dengan polosnya.
“Ehemm!!” tiba-tiba saja Abizar berdehem dan membuat Aleena tersadar.
“Hehe, kak Dani kamu kok berbeda dari biasanya sih? Kak Dani mau kemana?” tanya Aleena mengalihkan ucapannya yang salah.
“Aku mau bertemu dengan papi kalian, di mana om Gilang?” tanya Daniyal.
“Kenapa? Kenapa kamu mau bertemu papi kak? Apa kamu menemukan pekerjaan lain dan mau pindah kerja?” tanya Irene.
“Kenapa kamu banyak tanya begitu? Hari ini bisakah kamu berangkat kerja lebih siang hari ini? Aku mau bicara denganmu dan om Gilang.” Ucap Daniyal yang di balas anggukan oleh Irene.
Irene benar-benar khawatir karena dirinya sudah merasa nyaman dan aman di dekat Daniyal, terutama dia termasuk orang yang sulit sekali dekat dengan seseorang.
“Baiklah aku akan memanggil papi ke sini.” Ucap Irene yang segera menaiki tangga untuk memanggil papinya.
Tok,,tok,,tok..
“Papi, ini Iren, Iren masuk ya..” ucap Irene sambil terus mengetuk pintu kamar papinya.
“Masuklah..” jawab Gilang dari dalam kamar.
Mendengar jawaban dari papinya membuat Irene membuka pintu kamar dan tersenyum saat melihat sang papi sedang duduk di sofa sambil membaja korannya.
“Hai papi, kenapa papi selalu di dalam kamar sih? Harusnya papi itu berolah raga atau berjemur di halaman rumah.” Ucap Irene sambil mengambil koran yang ada di tangan sang papi.
“Kak Dani mau bicara sesuatu sama papi.” Ucap Irene.
“Dani? Bicara apa? Kenapa wajahmu sepertinya sedih begitu?” tanya Gilang.
Irene hanya mengangkat kedua bahunya menandakan dia tidak tau apa yang akan di bicarakan oleh Daniyal.
Akhirnya Gilang segera keluar dari kamar di gandeng oleh Irene menuruni tangga dan melihat semua anak dan bodyguard mereka masing-masing sedang berdiri melihat ke arahnya.
“Kenapa kalian semua seperti sedang menyambut presiden saja?” tanya Gilang kepada semuanya.
Para putri Gilang satu per satu menciumi punggung tangan papi mereka, sedangkan para bodyguard hanya menunduk sedikit menyapa Gilang.
Setelah menerima semua salam dari anak dan para bodyguard, perhatian Gilang teralih kepada Daniyal yang sedang berdiri di belakang terhalang oleh yang lainnya.
“Dani? Ini beneran kamu? kamu tampan sekali memakai setelan seperti ini.” Puji Gilang dengan bangganya.
“Katanya ada yang ingin kamu bicarakan, ada apa Dani?” tanya Gilang.
Namun Daniyal tidak mengatakan apapun, dia hanya menoleh ke semua orang yang ada di sana dengan ragu.
Irene paham betul kalau Daniyal tidak ingin berbicara di depan banyak orang dan akhirnya Irene menyuruh semua orang untuk segera berangkat ke tempat tujuan masing-masing.
“Kalian semua berangkatlah dulu, cepat-cepat sana hus hus berangkat sana.” Ucap Irene seperti mengusir anak kucing.
“Dih kak, kamu ini kayak ngusir anak kucing aja deh, iya-iya kami pergi..” protes Nancy.
Akhirnya semua orang sudah pergi dengan mobil mereka masing-masing. Setelah semua orang pergi, barulah Daniyal bisa bernafas lega.
“Dudukla Dani, kita bicara dengan santai.” Ucap Gilang mempersilahkan Daniyal untuk duduk.
“Irene minta bibi siapkan minuman dulu ya pi.” Ucap Irene yang di balas anggukan oleh Gilang.
“Jadi ada apa nak Dani? Apa ada hal penting yang ingin di bicarakan?” tanya Gilang yang sudah mulai serius.
“Emm,, sebenarnya saya di sini mau meminta maaf kepada om Gilang..” ucap Daniyal.
“Minta maaf untuk apa? Apa kamu mau berhenti bekerja di sini?” tanya Gilang.
“Bukan begitu om, saya mau minta maaf karena sudah berbohong kepada om Gilang, Irene dan juga yang lainnya.”
“Berbohong tentang apa?”
“Sebenarnya Nama saya bukan hanya Dani, tetap Daniyal, saya bukanlah lulusan SMA, saya lulusan S2 dari universitas yang cukup terkenal di London, saya juga sebenarnya memiliki bisnis sendiri dan perusahaan saya sudah mulai maju beberapa tahun belakangan.” Jelas Daniyal.
Mendengar penjelasan Daniyal membuat Gilang terkejut tentu saja, bagaimana tidak, Daniyal mengaku kalau dirinya sudah mulai bekerja setelah lulus SMA dan sejak awal sebenarnya Gilang sedikit ragu dengan kemampuan Daniyal yang hanya lulusan SMA, tapi siapa sangka kalau ternyata putri sulungnya cocok dengannya selama ini.
“Dani tau kalau om Gilang pasti terkejut dengan apa yang Dani jelaskan, tapi ada satu hal yang akan membuat om Gilang semakin terkejut.” Ucap Daniyal.
“Apa itu?” tanya Gilang.
“Saya ingin melamar Irene dan menjadikannya istri saya.” Ucap Daniyal yang membuat Gilang terkejut bukan main.
Begitu juga dengan Irene yang baru saja kembali dari dapur, dia menjatuhkan hp yang sedang di pegangnya karena terkejut dengan apa yang dia dengar barusan.
“A-apa? Apa maksudnya ini Dani? Kenapa kamu tiba-tiba mengakui semua kebohonganmu dan lalu dengan beraninya kamu melamar putriku!?” tanya Gilang dengan tegas.
“Om, saya serius dengan apa yang saya ucapkan, saya menyukai putri anda, tidak! Saya sepertinya sangat mencintainya.” Tegas Daniyal dengan yakin.
Mendengar ucapan Daniyal membuat Gilang dan Irene mematung tidak percaya, tentu saja mereka terkejut dengan apa yang di ucapkan Daniyal yang membuat mereka terkejut dua kali.