MY BODYGUARD

MY BODYGUARD
BAB 86 (SHERLY)



Tentu saja orang-orang yang mendapatkan telfon dari Daniyal benar-benar terkejut dengan ucapan Daniyal dari sebrang telfon yang terlihat sangat panik itu.


Yap! Orang yang di hubungi oleh Daniyal adalah bodyguardnya yang sedang menunggu di depan pintu villa yang di tempati oleh Daniyal dan Irene.


“Ada apa ini? Tuan Daniyal sangat panik! Bahkan sampai menghubungi lewat telfon!” seru penjaga yang mendengar perintah dari Daniyal.


“Cepat telfon dokter Brams! Sekarang!” teriak yang lain.


Akhirnya mereka segera menghubungi dokter Brams, bahkan beberapa orang segera pergi menjemput dokter Brams di rumah sakit tempatnya bekerja.


Daniyal yang ada di dalam kamar bingung apa yang harus di lakukan, bahkan saat itu Daniyal masih polos tanpa sehelai benangpun karena rencananya dia dan Irene akan mandi bersama dan ternyata terjadilah hal seperti ini.


Dengan cepat Daniyal mengambil handuk dan melilitkannya di pinggangnya, sedangkan dia juga mengambilkan baju handuk milik Irene dan memakaikannya sebelum dokter atau orang lain melihat semuanya.


“Kenpa lama sekai!” teriak Daniyal yang akhirnya membuka pintu villanya dan menatap para bodyguardnya dengan


tajam.


“Anu tuan maaf, kami sudah menghubungi dokter Brams tapi sepertinya dia sedang ada operasi dan sebagian dari kami juga sudah pergi menjemput dokter Brams di rumah sakit.” Jelas salah satu bodyguarnya.


“Cih sebenarnya apa saja kerjaannya di ruang operasi sampai selama itu!” ketus Daniyal yang kembali masuk ke dalam villa.


Sedangkan bodyguard yang ada di depan hanya saling menatap satu sama lain lalu membatin sendiri.


“Lah di ruang operasi lagi mempertaruhkan nyawa orang tentu saja lama.” Batin kedua bodyguard yang tersisa di sana.


“Yah namanya juga tuan Daniyal, bukan Daniyal namanya kalo tidak marah jika tidak ada saat dia membutuhkan.” Gumam yang lain.


Daniyal menggigit bibir bawahnya sambil melirik ke arah Irene yang sedang memejamkan kedua matanya.


“Padahal selama ini dia selalu tidur di sebelahku, tapi karena dia selalu bangun lebih pagi dariku jadi aku tidak pernah melihat wajahnya saat terpejam begitu.” Gumam Daniyal.


Daniyal yang semakin tertarik dengan wajah Irene perlahan berjalan mendekati Irene yang ada di tempat tidur, lalu dia duduk di tepi tempat tidur sambil menggenggam tangan Irene dengan erat.


“Kenapa kamu bisa sampai pingsan? Apa kamu benar-benar sudah lelah sampai kamu selemas ini?” gumam Daniyal sambil mencium punggung tangan Irene dengan lembut.


Dan akhirnya seseorang mengetuk pintu villa, awalnya Daniyal bernafas lega karena dokter sudah sampai, namun


saat pintu terbuka lebar tidak ada dokter Brams di sana, masih dua bodyguard yang menjaga pintu villa tersebut.


“Mana dokter Brams?!” tanya Daniyal.


“Belum datang tuan..” balas salah satu bodyguard.


“Lalu untuk apa kamu mengetuk pintu kalau dokter Brams belum datang!?” teriak Daniyal.


“Anu tuan..”


“Jangan anu anu! Ada apa?!” tanya Daniyal.


“Ada seorang wanita yang menyewa villa sebelah, katanya tadi dia denger tuan teriak jadi dia ke sini buat tanya, pas saya jelasih dia menawarkan diri untuk membantu tuan karena dia seorang dokter juga.” Jelas bodyguard tersebut.


“Benarkah?! Baiklah segera panggil orang itu, setidaknya aku ga perlu menunggu Brams yang lama sekali itu!” ketus Daniyal.


Akhirnya dengan segera para bodyguard Daniyal segera pergi ke villa sebelah untuk memanggil wanita tadi, sedangkan Daniyal kembali masuk ke dalam villa.


“Silahkan nona, sebenarnya kami juga ga tau apa yang terjadi di dalam, tapi sepertinya hal yang sangat serius sampai membuat tuan saya seperti itu.” Ucap bodyguard tersebut.


Wanita tersebut hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala, dia segera berjalan masuk ke dalam villa yang lebih luas di bandingkan villa yang dia tempati.


“Permisi tuan, kebetulan saya adalah dokter ada yang bisa saya bantu?” ucap wanita tersebut dengan membawa


tas yang biasanya di bawa dokter kebanyakan.


“Istriku tiba-tiba lemas dan pingsan, tolong periksa dia.” Ucap Daniyal yang langsung membalikkan badannya untuk melihat orang yang sedang bicara.


“Hah!” ucap dokter wanita tersebut saat melihat Daniyal.


Begitu juga dengan Daniyal yang terkejut saat melihat dokter wanita tersebut, karena wanita itu…


“Daniyal, kamu sudah menikah?” tanya Sherly.


“Jangan banyak bicara! Tugasmu di sini untuk memeriksa keadaannya!” tegas Daniyal.


“Baiklah…” ucap Sherly yang langsung mendekati Irene untuk memeriksa keadaannya.


Setelah di periksa Sherly segera mengemasi barang-barangnya lagi ke dalam tas lalu menghampiri Daniyal.


“Bagaimana?” tanya Daniyal.


“Dia hanya kelelahan, kamu terlalu memaksa tubuhnya untuk bercinta jadi jangan sampai memaksa.” Jelas Sherly.


“Tapi tidak ada yang serius kan?” tanya Daniyal.


“Tidak ada tenang saja, dia akan kembali sehat setelah beristirhat.” Ucap Sherly.


“Kita bisa bicara di balkon sana.” Ajak Daniyal.


Sherly hanya menganggukkan kepala lalu mengikuti Daniyal yang berjalan ke arah balkon yang mengarah langsung ke arah laut.


“Jelaskanlah…” ucap Sherly.


“Sepertinya tidak perlu di jelaskan lagi, bukankah kamu sudah tau kalau aku sudah menikah?” ucap Daniyal.


“Kenapa kamu menikah Daniyal? Bukankah kamu bilang kamu akan menungguku untuk mengejar mimpiku menjadi dokter? Kenapa kamu memberiku harapan kalau akhirnya kamu akan menikah dengan wanita lain!?” ucap Sherly.


“Semuanya tidak terduga, awalnya aku juga tidak memiliki niatan untuk menikah secepat ini, namun banyak hal terjadi sebelum kamu menyelesaikan studymu.” Jelas Daniyal.


Daniyal akhirnya menjelaskan semuanya kepada Sherly, dia menceritakan kalau mereka berdua menikah bukan di


dasari oleh cinta.


“Kamu bahkan tidak mengirim aku pesan sama sekali, aku pikir kamu sengaja membiarkan aku fokus untuk mengejar mimpiku, tapi ternyata itu karena kamu memiliki wanita lain?” tanya Sherly.


“Hal ini sangat rumit Sherly, suatu saat nanti aku akan menjelaskan semuanya kepadamu.” Ucap Daniyal.


“Tidak perlu, bahagialah dengan istrimu Daniyal, dia sangat cantik bahkan tanpa memakai make up, suatu saat nanti kamu akan sangat mencintai istrimu.” Ucap Sherly.


“Tidak tau kedepannya akan seperti apa, tapi kita bisa terus berhubungan baik bukan?” ucap Daniyal.


“Ah tentu saja bisa, kita bisa menjadi teman yang baik.” Ucap Sherly dengan lembut.


Sherly sama sekali tidak berniat untuk menjadi orang ketiga di antara keduanya, namun dia tidak pernah menutup


kemungkinan jika Daniyal merasa sudah tidak cocok lagi dengan istrinya dia akan datang untuk mengisi kekosongan di hatinya lagi.


“Kalau begitu aku kembali dulu, kalau nanti istrimu sudah sadar ajaklah dia makan malam bersamaku.” Ucap Sherly.


“Baiklah, aku akan mengajaknya untuk makan malam bersamamu nanti.” Balas Daniyal.


“Terimakasih karena sudah memeriksa istriku Sherly.” Ucap Daniyal.


“Sama-sama Daniyal, jangan sungkan denganku.” Balas Sherly.


Daniyal mengantar Sherly menuju pintu depan.


“Sekali lagi terimakasih.” Ucap Daniyal kembali.


“Iya,, ah satu lagi Daniyal!” ucap Sherly.


“Ada apa?” tanya Daniyal.


“Jangan lupa memakai baju!” sahut Sherly.


Daniyal yang mendengar ucapan Sherly baru sadar kalau sejak tadi dia hanya memakai handuk yang terlilit di


pinggangnya, dia sama sekali tidak sadar kalau tubuh atletisnya dari tadi terbuka begitu saja.